alexametrics
24.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Pria Dua Anak Nodai Siswa SMP

BANGKALAN – Polres Bangkalan kembali menangani kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur. Terbaru, polisi menangkap Erpan bin Suro, 33, warga Desa Kodak, Kecamatan Torjun, Sampang. Tersangka dijebloskan ke jeruji besi karena diduga menodai siswa SMP berinisial ZU, 15, warga Kecamatan Tragah, Bangkalan.

Kapolres Bangkalan AKBP Rama Samtama Putra mengungkapkan, tersangka menyetubuhi korban hingga tiga kali. Peristiwa pertama dilakukan di gudang LPG di Sampang. Kedua di dalam musala di Kecamatan Torjun. Lalu, peristiwa asusila itu kembali terjadi di ruang tamu rumah istri tersangka di Desa Pendabah, Kecamatan Kamal, Bangkalan. ”Motif tersangka membujuk rayu korban dengan iming-iming akan dinikahi,” ungkap Rama kemarin (12/12).

Rama menambahkan, pihaknya mengungkap kasus tersebut berawal dari laporan masyarakat. Setelah itu, pihaknya melakukan serangkaian penyelidikan bekerja sama dengan kepala desa. Penelusuran polisi, tersangka sudah memiliki istri. Hubungan korban dan tersangka hanya teman.

”Diamankan di Polsek Tanah Merah. Kami melakukan perkembangan di Sampang untuk mencari barang bukti (BB),” jelas perwira asal Sidoarjo itu. Petugas mengamankan, Honda Revo hitam L 6399 VZ milik tersangka. Juga pakaian korban dan tersangka.

Baca Juga :  Diduga Sering Cium Sekretaris, Pak Lurah Dilaporkan ke Polisi

Di hadapan wartawan, Erpan mengaku menyetubuhi korban karena senang. Dia melakukan perbuatan itu karena ada niat untuk menikahi. ”Kalau misalkan hamil, saya mau tanggung jawab,” ucapnya tanpa ada raut wajah menyesal.

Kepada ZU, pria dua anak itu mengaku bahwa istrinya mau dimadu. Tersangka setiap hari komunikasi via telepon dengan korban.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan pasal 81 ayat (1) atau ayat (2) UU 17/2016 tentang Penetapan Perpu 1/2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak menjadi UU jo pasal 76D UU 35/2014 tentang Perubahan Atas UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Tersangka terancam kurungan 5–15 tahun penjara.

Perbuatan Suhdi, warga Pulau Mandangin, Sampang tak kalah bejat dengan Erpan. Pria 50 tahun itu tega mencabuli anak belia yang masih berumur 7 tahun. ”Rabu siang kemarin ada laporan kasus pencabulan ke kami. Kami langsung menindaklanjutinya,” terang Kapolres Sampang AKBP Didit Bambang Wibowo Saputra.

Baca Juga :  Gelar Operasi 11 Hari, Polisi Jaring 2.555 Pelanggar Rambu Lalu Lintas

Pihaknya akan merilis pelaku pencabulan itu. Saat ini tersangka sudah diamankan di mapolres. ”Kasus ini juga akan kami koordinasikan dengan pemerintah daerah supaya korban mendapat pendampingan,” kata Didit.

Bidang Advokasi dan Hukum Jaka Jatim Korda Sampang Mohammad Hakim mengatakan, pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur harus dihukum berat. Menurut dia, kasus pencabulan terhadap anak di Sampang terbilang cukup tinggi. Maka dari itu, pihaknya juga mendorong supaya aparat penegak hukum berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk bisa menekan angka kasus tersebut.

”Pemerintah daerah wajib memberikan pendampingan secara psikologis terhadap korban. Karena, korban pasti mengalami trauma yang sangat tinggi. Kami akan kawal kasus ini,” tandasnya.

- Advertisement -

BANGKALAN – Polres Bangkalan kembali menangani kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur. Terbaru, polisi menangkap Erpan bin Suro, 33, warga Desa Kodak, Kecamatan Torjun, Sampang. Tersangka dijebloskan ke jeruji besi karena diduga menodai siswa SMP berinisial ZU, 15, warga Kecamatan Tragah, Bangkalan.

Kapolres Bangkalan AKBP Rama Samtama Putra mengungkapkan, tersangka menyetubuhi korban hingga tiga kali. Peristiwa pertama dilakukan di gudang LPG di Sampang. Kedua di dalam musala di Kecamatan Torjun. Lalu, peristiwa asusila itu kembali terjadi di ruang tamu rumah istri tersangka di Desa Pendabah, Kecamatan Kamal, Bangkalan. ”Motif tersangka membujuk rayu korban dengan iming-iming akan dinikahi,” ungkap Rama kemarin (12/12).

Rama menambahkan, pihaknya mengungkap kasus tersebut berawal dari laporan masyarakat. Setelah itu, pihaknya melakukan serangkaian penyelidikan bekerja sama dengan kepala desa. Penelusuran polisi, tersangka sudah memiliki istri. Hubungan korban dan tersangka hanya teman.


”Diamankan di Polsek Tanah Merah. Kami melakukan perkembangan di Sampang untuk mencari barang bukti (BB),” jelas perwira asal Sidoarjo itu. Petugas mengamankan, Honda Revo hitam L 6399 VZ milik tersangka. Juga pakaian korban dan tersangka.

Baca Juga :  Bawa Pisau, Perangkat Desa Diciduk Polisi

Di hadapan wartawan, Erpan mengaku menyetubuhi korban karena senang. Dia melakukan perbuatan itu karena ada niat untuk menikahi. ”Kalau misalkan hamil, saya mau tanggung jawab,” ucapnya tanpa ada raut wajah menyesal.

Kepada ZU, pria dua anak itu mengaku bahwa istrinya mau dimadu. Tersangka setiap hari komunikasi via telepon dengan korban.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan pasal 81 ayat (1) atau ayat (2) UU 17/2016 tentang Penetapan Perpu 1/2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak menjadi UU jo pasal 76D UU 35/2014 tentang Perubahan Atas UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Tersangka terancam kurungan 5–15 tahun penjara.

Perbuatan Suhdi, warga Pulau Mandangin, Sampang tak kalah bejat dengan Erpan. Pria 50 tahun itu tega mencabuli anak belia yang masih berumur 7 tahun. ”Rabu siang kemarin ada laporan kasus pencabulan ke kami. Kami langsung menindaklanjutinya,” terang Kapolres Sampang AKBP Didit Bambang Wibowo Saputra.

Baca Juga :  Polres Gelar Apel Latihan Gabungan Siaga Bencana

Pihaknya akan merilis pelaku pencabulan itu. Saat ini tersangka sudah diamankan di mapolres. ”Kasus ini juga akan kami koordinasikan dengan pemerintah daerah supaya korban mendapat pendampingan,” kata Didit.

Bidang Advokasi dan Hukum Jaka Jatim Korda Sampang Mohammad Hakim mengatakan, pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur harus dihukum berat. Menurut dia, kasus pencabulan terhadap anak di Sampang terbilang cukup tinggi. Maka dari itu, pihaknya juga mendorong supaya aparat penegak hukum berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk bisa menekan angka kasus tersebut.

”Pemerintah daerah wajib memberikan pendampingan secara psikologis terhadap korban. Karena, korban pasti mengalami trauma yang sangat tinggi. Kami akan kawal kasus ini,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/