alexametrics
28.7 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Ngaku Kapolres, Penipu Peras Orang Tua Kades Tersangka

PAMEKASAN – Penetapan tersangka sekaligus penahanan terhadap Fauzan, Kades Candi Burung, Kecamatan Proppo, dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab. Orang tua Fauzan nyaris menjadi korban penipuan oleh orang yang mengaku sebagai Kapolres Pamekasan.

M. Alfian, kuasa hukum Fauzan menceritakan kronologi upaya penipuan itu. Menurut dia, pasca polisi menahan Fauzan pada Selasa lalu (8/11), ada orang mengaku polisi menghubungi orang tua kliennya melalui telepon.

Tidak tanggung-tanggung, orang tersebut mengaku Kapolres Pamekasan. Dalam sambungan telepon, pria itu menawarkan jasa untuk membebaskan Fauzan dari tahanan. Dengan syarat, orang tua Kades membayar Rp 100 juta.

Namun, orang tua Fauzan menolak. Alasannya, nominal yang diminta terlalu tinggi. ”Kalau Rp 100 juta, dapat dari mana,” kata Alfian menirukan jawaban ortu Kades kepada pria itu, Sabtu (12/8).

Akhirnya, pria tersebut menurunkan harga menjadi Rp 35 juta. Lalu disepakati harga jasa untuk mengeluarkan Kades yang tersangkut kasus dugaan penyimpangan bantuan beras untuk keluarga miskin (raskin) jatah 2016 itu.

Baca Juga :  Sembunyi di Bawah Kasur, Budak Narkoba Arosbaya Keok

Kemudian, kedua belah pihak sepakat janjian di Mapolres Pamekasan untuk barter uang dengan tahanan itu. Pria yang mengaku Kapolres itu meminta agar transaksi tersebut tanpa sepengetahuan Alfian selaku kuasa hukum.

Tiba pada waktu yang ditentukan, lanjut Alfian, ortu Fauzan tiba di mapolres. Pria yang berjanji mengeluarkan tahanan itu meminta agar uang tersebut ditahan dulu. Alasannya, kondisinya belum aman lantaran banyak wartawan dan LSM serta polisi lainnya.

Orang tua Fauzan sepakat atas permintaan oknum tersebut. Beberapa saat kemudian, orang yang diduga pemeras tersebut menghubungi kembali ortu Fauzan via telepon. Dalam sambungan itu, kopi darat dibatalkan. Pria tersebut meminta uang Rp 35 juta ditransfer melalui rekening bank.

Ortu Fauzan mengurungkan niatnya memberi upeti yang diminta. Sebab, dari gelagat pria yang mengaku Kapolres itu tercium aroma penipuan. ”Beruntung tidak sampai terjadi transaksi,” ucap Ketua LBH Pusara itu.

Baca Juga :  Rutan Sampang Digeledah, Petugas Temukan Sederet Barang Terlarang

Alfian meyampaikan, upaya penipuan kepada orang yang sedang tersandung hukum kerap terjadi. Tidak menutup kemungkinan banyak korban. Tapi untuk mengakui merasa tidak nyaman. Sebab, tindakan memberi upeti untuk membebaskan tahanan, salah.

Dia meminta polisi menelusuri oknum yang kerap melakukan upaya penipuan. Jika dibiarkan, institusi polres akan rusak di mata masyarakat. ”Kami tidak melapor ke polisi karena penipuan belum terjadi. Tapi kami berharap polisi mengusut praktik kotor ini,” harapnya.

Kapolres Pamekasan AKBP Nowo Hadi Nugroho mengaku tidak mengetahui ada upaya penipuan itu. Dia meminta, jika ada orang menelepon dan meminta sejumlah uang untuk mengeluarkan tahanan, laporkan ke polisi.

”Kalau ada lagi seperti itu, suruh konfirmasi ke polsek, polres, atau bhabinkamtibmas. Kalau ada telepon lagi, laporkan segera,” tegas perwira yang hobi olahraga itu.

- Advertisement -

PAMEKASAN – Penetapan tersangka sekaligus penahanan terhadap Fauzan, Kades Candi Burung, Kecamatan Proppo, dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab. Orang tua Fauzan nyaris menjadi korban penipuan oleh orang yang mengaku sebagai Kapolres Pamekasan.

M. Alfian, kuasa hukum Fauzan menceritakan kronologi upaya penipuan itu. Menurut dia, pasca polisi menahan Fauzan pada Selasa lalu (8/11), ada orang mengaku polisi menghubungi orang tua kliennya melalui telepon.

Tidak tanggung-tanggung, orang tersebut mengaku Kapolres Pamekasan. Dalam sambungan telepon, pria itu menawarkan jasa untuk membebaskan Fauzan dari tahanan. Dengan syarat, orang tua Kades membayar Rp 100 juta.


Namun, orang tua Fauzan menolak. Alasannya, nominal yang diminta terlalu tinggi. ”Kalau Rp 100 juta, dapat dari mana,” kata Alfian menirukan jawaban ortu Kades kepada pria itu, Sabtu (12/8).

Akhirnya, pria tersebut menurunkan harga menjadi Rp 35 juta. Lalu disepakati harga jasa untuk mengeluarkan Kades yang tersangkut kasus dugaan penyimpangan bantuan beras untuk keluarga miskin (raskin) jatah 2016 itu.

Baca Juga :  Satgas DD Kemendes Ingatkan Perangkat Desa Tidak Egois

Kemudian, kedua belah pihak sepakat janjian di Mapolres Pamekasan untuk barter uang dengan tahanan itu. Pria yang mengaku Kapolres itu meminta agar transaksi tersebut tanpa sepengetahuan Alfian selaku kuasa hukum.

Tiba pada waktu yang ditentukan, lanjut Alfian, ortu Fauzan tiba di mapolres. Pria yang berjanji mengeluarkan tahanan itu meminta agar uang tersebut ditahan dulu. Alasannya, kondisinya belum aman lantaran banyak wartawan dan LSM serta polisi lainnya.

Orang tua Fauzan sepakat atas permintaan oknum tersebut. Beberapa saat kemudian, orang yang diduga pemeras tersebut menghubungi kembali ortu Fauzan via telepon. Dalam sambungan itu, kopi darat dibatalkan. Pria tersebut meminta uang Rp 35 juta ditransfer melalui rekening bank.

Ortu Fauzan mengurungkan niatnya memberi upeti yang diminta. Sebab, dari gelagat pria yang mengaku Kapolres itu tercium aroma penipuan. ”Beruntung tidak sampai terjadi transaksi,” ucap Ketua LBH Pusara itu.

Baca Juga :  Rutan Sampang Digeledah, Petugas Temukan Sederet Barang Terlarang

Alfian meyampaikan, upaya penipuan kepada orang yang sedang tersandung hukum kerap terjadi. Tidak menutup kemungkinan banyak korban. Tapi untuk mengakui merasa tidak nyaman. Sebab, tindakan memberi upeti untuk membebaskan tahanan, salah.

Dia meminta polisi menelusuri oknum yang kerap melakukan upaya penipuan. Jika dibiarkan, institusi polres akan rusak di mata masyarakat. ”Kami tidak melapor ke polisi karena penipuan belum terjadi. Tapi kami berharap polisi mengusut praktik kotor ini,” harapnya.

Kapolres Pamekasan AKBP Nowo Hadi Nugroho mengaku tidak mengetahui ada upaya penipuan itu. Dia meminta, jika ada orang menelepon dan meminta sejumlah uang untuk mengeluarkan tahanan, laporkan ke polisi.

”Kalau ada lagi seperti itu, suruh konfirmasi ke polsek, polres, atau bhabinkamtibmas. Kalau ada telepon lagi, laporkan segera,” tegas perwira yang hobi olahraga itu.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/