alexametrics
20.7 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Pilkades Juruan Laok Seret Dua Tersangka

Kerusuhan saat pencoblosan di Desa Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, menggelinding ke ranah hukum. Polres Sumenep telah menetapkan dua orang sebagai tersangka. Warga meminta korps baju cokelat mengusut semua yang terlibat.

DUA orang yang ditetapkan tersangka itu ialah Surato, 31, dan Tolak Ahmad, 25. Mereka merupakan warga desa setempat. Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Widiarti menyampaikan, dari hasil pemeriksaan, mereka mengakui telah merusak properti pemilihan kepala desa (pilkades).

Saat itu polisi mendatangi lokasi setelah mendengar informasi kerusuhan. Kedua pelaku diamankan polisi saat terjadi kerusuhan. Tindakan itu juga didasari laporan warga nomor LP/190/XI/2019/JATIM/RES SMP tanggal 7 November 2019.

Barang bukti yang diamankan dari peristiwa tersebut di antaranya, rekaman video, potongan kursi plastik, potongan kursi kayu, meja kayu, sobekan kertas suara, bilik suara, dan kotak suara. ”Sedang diamankan dalam rangka pengembangan,” jelasnya.

Baca Juga :  Pencurian Kotak Amal Sisakan Satu DPO

Pilkades serentak di Sumenep belum seluruhnya selesai. Masyarakat diimbau menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran supaya kejadian serupa tidak terulang kembali saat pilkades di kepulauan.

Pihaknya akan terus melakukan pengembangan dari dua tersangka tersebut. Pastinya, penyidik akan terus mengembangkan. Bukan tidak mungkin apabila ada tersangka berikutnya. ”Kalau dari hasil pengembangan terbukti ada tersangka lain, pasti juga kami amankan,” tegasnya.

Ms (inisial), warga Desa Juruan Laok, mendukung langkah polisi untuk mengusut kasus tersebut. Kericuhan saat pemilihan kalebun itu tidak hanya dilakukan dua orang. Dia yakin ada yang memobilisasi massa.

Karena itu, dalang atau aktor utama peristiwa tersebut. Kericuhan tersebut diduga ada peran warga masing-masing berinisial Sm, Mr, Hn, Ss, Ms, dan It. Dua orang terakhir ini merupakan saudara kandung Sm. ”Polisi harus bekerja profesional mengusut semua yang terlibat. Termasuk yang memprovokasi warga hingga melakukan perusakan di TPS,” kata Ms.

Baca Juga :  Kemenkum HAM Bakal Jadikan Lapas Arjasa Tempat Napi Berisiko Tinggi

Kericuhan berawal saat massa mendatangi TPS. Mereka diduga sebagai pendukung salah satu bakal calon kepala desa (bacakades) yang tidak lolos tahap pencalonan. Massa meminta pilkades ditunda.

Namun, panitia pemilihan kepala desa (P2KD) tetap kukuh melanjutkan tahapan tersebut. Sebab, tidak ada perintah dari tim kabupaten untuk melakukan penundaan. Massa yang tidak terima kemudian langsung merusak fasilitas pemilihan. (c3)

Kerusuhan saat pencoblosan di Desa Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, menggelinding ke ranah hukum. Polres Sumenep telah menetapkan dua orang sebagai tersangka. Warga meminta korps baju cokelat mengusut semua yang terlibat.

DUA orang yang ditetapkan tersangka itu ialah Surato, 31, dan Tolak Ahmad, 25. Mereka merupakan warga desa setempat. Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Widiarti menyampaikan, dari hasil pemeriksaan, mereka mengakui telah merusak properti pemilihan kepala desa (pilkades).

Saat itu polisi mendatangi lokasi setelah mendengar informasi kerusuhan. Kedua pelaku diamankan polisi saat terjadi kerusuhan. Tindakan itu juga didasari laporan warga nomor LP/190/XI/2019/JATIM/RES SMP tanggal 7 November 2019.


Barang bukti yang diamankan dari peristiwa tersebut di antaranya, rekaman video, potongan kursi plastik, potongan kursi kayu, meja kayu, sobekan kertas suara, bilik suara, dan kotak suara. ”Sedang diamankan dalam rangka pengembangan,” jelasnya.

Baca Juga :  Polres Limpahkan Dua Tersangka Terkait Kasus RKB SMPN 2 Ketapang

Pilkades serentak di Sumenep belum seluruhnya selesai. Masyarakat diimbau menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran supaya kejadian serupa tidak terulang kembali saat pilkades di kepulauan.

Pihaknya akan terus melakukan pengembangan dari dua tersangka tersebut. Pastinya, penyidik akan terus mengembangkan. Bukan tidak mungkin apabila ada tersangka berikutnya. ”Kalau dari hasil pengembangan terbukti ada tersangka lain, pasti juga kami amankan,” tegasnya.

Ms (inisial), warga Desa Juruan Laok, mendukung langkah polisi untuk mengusut kasus tersebut. Kericuhan saat pemilihan kalebun itu tidak hanya dilakukan dua orang. Dia yakin ada yang memobilisasi massa.

Karena itu, dalang atau aktor utama peristiwa tersebut. Kericuhan tersebut diduga ada peran warga masing-masing berinisial Sm, Mr, Hn, Ss, Ms, dan It. Dua orang terakhir ini merupakan saudara kandung Sm. ”Polisi harus bekerja profesional mengusut semua yang terlibat. Termasuk yang memprovokasi warga hingga melakukan perusakan di TPS,” kata Ms.

Baca Juga :  Dua Tersangka Kasus Dugaan Korupsi SDN Samaran 2

Kericuhan berawal saat massa mendatangi TPS. Mereka diduga sebagai pendukung salah satu bakal calon kepala desa (bacakades) yang tidak lolos tahap pencalonan. Massa meminta pilkades ditunda.

Namun, panitia pemilihan kepala desa (P2KD) tetap kukuh melanjutkan tahapan tersebut. Sebab, tidak ada perintah dari tim kabupaten untuk melakukan penundaan. Massa yang tidak terima kemudian langsung merusak fasilitas pemilihan. (c3)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/