alexametrics
21.5 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Tertipu Asisten, Hampir Rp 100 Juta Raib

SAMPANG – Memiliki perasaan spesial membuat seseorang rela berkorban. Termasuk uang hingga puluhan juta rupiah. Namun, kesabaran Slamet Mulyono berakhir ketika merasa ditipu oleh orang dekatnya sendiri.

Pria 35 tahun asal Jalan KH Hasyim Asy’ari, Kelurahan Demangan, Bangkalan, itu bertandang ke kantor JPRM Biro Sampang kemarin (8/3). Pria berprofesi sebagai perias pengantin itu mengaku tertipu hingga hampir seratus juta rupiah. Dugaan penipuan itu kini ditangani Polres Sampang.

Awalnya, Slamet Mulyono berkomentar ke akun Facebook (FB) bernama Rehan Jhubek. Lalu, Slamet Mulyono mengajak berteman Rehan Jhubek. Saat itu langsung diterima. Pada waktu itu Rehan Jhubek langsung kirim pesan di inbox FB. ”Sejak itu ada komunikasi. Kejadian itu pada Juli 2016,” ujarnya.

Seringnya ada komunikasi membuat mereka menjalin ”hubungan spesial”. Selama itu mereka hanya berkomunikasi melalui FB, BBM, dan telepon. Namun, ketika teleponan tidak bicara karena alasan memiliki penyakit amandel. Parah pula. 

Selama punya hubungan dekat, komunikasinya hanya sebatas chat di FB dan WA. Tidak pernah video call. Ketika diajak video call banyak alasan. ”Biasanya kalau saya telepon, jawabnya via SMS. Tidak bicara,” ungkapnya.

Rehan Jhubek yang dimaksud bernama asli Moh. Syarif Maulana. Dia ngaku tinggal di Malang. Juga memiliki teman dekat bernama Akbar. Akbar berpacaran dengan Wardatul Faroh. Selama Syarif sakit, Akbar yang merawat. Syarif mengaku ibunya ada di Malaysia. Sedangkan ayahnya menikah lagi di Surabaya. ”Bilangnya tidak pernah peduli,” jelasnya.

Selama Syarif sakit, butuh pengobatan intensif. Slamet merasa iba. Karena itu, ketika meminta pertolongan untuk membeli obat langsung ditransfer. Kali pertama transfer pada 29 September 2016 sebesar Rp 300 ribu. ”Ngakunya itu muntah darah karena penyakit amandelnya. Saya sering transfer. Sejak 2016–2019,” ceritanya.

Pihaknya transfer ke rekening atas nama Susmiyati. Ketika ditanya siapa Susmiyati, bilangnya mantan pacar Akbar. ”Ketika bilang butuh pengobatan, saya minta bukti foto ternyata memang ada. Dikirim semua foto-fotonya. Foto yang dikirim ternyata berbeda,” ungkapnya.

Kendati demikian, Slamet tidak terlalu menghiraukan. Karena ingin lebih dekat dengan Syarif, Slamet mencoba mendekati Warda, 32, warga Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang, Sampang. Warda merupakan sepupu Syarif. ”Saya jadikan Warda asisten pada 2017 akhir. Saya kan perias,” ucapnya.

Baca Juga :  Kerugian Investasi Sembako Murah Capai Rp 1 Miliar

Slamet juga dekat dengan keluarga Warda. Mereka juga welcome. Bahkan, sering bermalam di rumah Warda. Slamet mendapatkan informasi bahwa Syarif memiliki saudara kembar. Ketika ngerias, Akbar selalu menghubungi meminta bantuan untuk kesembuhan Syarif. Seperti membeli obat, check up, cuci darah, rontgen, dan sebagainya.

Setelah transfer Rp 300 ribu, transfer paling kecil Rp 1 juta. Bahkan sampai Rp 9 juta. ”Itu saya transfer 15 Februari 2018. Alasannya mau keluar dari rumah sakit. Sebelum masuk ke rumah sakit lagi. Katanya pada saat pengobatan pinjam kepada temannya bernama Susi,” ungkapnya lagi.

Karena penasaran, Slamet sempat menanyakan kepada Warda. Apakah benar Syarif memiliki saudara kembar? Warda membenarkan bahwa Syarif kembar. Namun ketika pihaknya bermain ke rumah Warda dan ingin bertanya kepada orang tuanya selalu dihalangi. Bahkan terus dibuntuti. Pada suatu hari, Syarif yang di Ketapang ketika bertemu dirinya selalu pasang muka cemberut. ”Saya sempat ditegur Warda, Syarif yang di Ketapang bilang disuruh hapus fotonya di FB,” tuturnya menirukan.

Suatu ketika, Slamet dihubungi temannya dari Ketapang. Dia mengaku melihat Syarif di Ketapang. Setelah itu, Slamet menanyakan langsung kepada Syarif mengaku yang sakit berobat di Bogor. Dijawablah bahwa Syarif di Ketapang merupakan saudara kembarnya. ”Saya selalu percaya,” tuturnya.

Akbar kembali memberikan informasi, selain amandel, Syarif dikatakan memiliki penyakit kanker darah atau leukimia. Sehingga butuh pengobatan intensif. Lagi-lagi Slamet tidak tega, lalu ditransfer lagi hingga jutaan. Ketika meminta bukti hasil laboratorium, ternyata Warda yang memberikan bukti tersebut. Tapi, hasil laboratorium ada di Jakarta Pusat. ”Saya sempat curiga. Tapi kecurigaan saya belum ada bukti,” ucapnya.

Kecurigaan tersebut datang karena bertahun-tahun tidak kunjung sembuh. Bahkan tidak pernah pulang ke Ketapang. Selain itu, foto-foto yang diminta ketika dirawat di rumah sakit ternyata mengambil di Google.

Slamet kemudian meminta bantuan temannya untuk menyelidiki keberadaan Syarif yang disebut Warda memiliki saudara kembar. Informasi yang didapat, Syarif memang tidak kembar. Setiap Slamet ke Ketapang selalu diikuti oleh Warda. Setiap nge-make up, Warda tidak lepas dari dua HP yang dimilikinya.

Baca Juga :  Kades Ditahan Bersama Oknum LSM

Pada 15 Februari 2019 Slamet mengajak Warda dan teman-temannya jalan-jalan ke Water Park Sumekar. Setibanya di Sumenep, hanya Warda yang tidak mandi. ”Saat asyik mandi, Warda memberi tahu jika HP teman saya bunyi terus. Ternyata yang bunyi milik saya. Setelah dilihat, panggilan tidak terjawab ada belasan panggilan dari Syarif,” terangnya.

Pihaknya mencoba menghubungi via WA. Ternyata direspons. Jarak Slamet dengan saat itu Warda dekat. Saat itu juga dia pihaknya berdiri dan mengambil HP Warda. Saat itulah orang yang menyamar bernama Syarif dan Akbar selama bertahun-tahun itu adalah Warda.

Karena tidak terima, akhirnya HP yang dirampas tidak dikembalikan untuk dijadikan barang bukti (BB). ”Saya lapor ke polisi 20 Februari. Total uang yang ditransfer melalui rekening saya pribadi Rp 75.800.000. Itu lain melalui ATM teman. Secara keseluruhan hampir Rp 100 juta,” sebutnya.

Atas laporan tersebut, pihaknya meminta kepada aparat kepolisian untuk menindaklanjuti serta diproses sebagaimana mestinya. Pihaknya tidak ingin di kemudian hari ada kasus yang sama menimpa orang lain. ”Biarlah cukup saya yang menjadi korban. Saya minta polisi tegas, transparan, dan memproses tuntas kasus ini,” harapnya.

Kasubbaghumas Polres Sampang Ipda Eko Puji Waluyo membenarkan laporan dugaan penipuan itu. Saat ini pihaknya sedang memproses laporan tersebut dengan memanggil saksi-saksi dari pihak pelapor dan terlapor. ”Jumlah dari pelapor sekitar lima orang saksinya. Kalau pihak terlapor masih proses pemanggilan,” terang Eko.

Polisi sudah mengeluarkan surat tanda terima laporan polisi (STTLP) bernomor: STTLP/B/37.a/II/2019/JATIM/RES.SAMPANG. Lalu polisi melayangkan surat pemberitahuan perkembangan hasil penelitian laporan bernomor B/78/SP2HP/II/RES.1.11/2019/Satreskrim. Rujukan pasal 3 huruf e dan pasal 10 ayat (4) huruf Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana. Atas laporan polisi nomor: LP/B/37/II/2019/JATIM/RES.SPG tentang Tindak Pidana Penipuan dan atau Penggelapan.

SAMPANG – Memiliki perasaan spesial membuat seseorang rela berkorban. Termasuk uang hingga puluhan juta rupiah. Namun, kesabaran Slamet Mulyono berakhir ketika merasa ditipu oleh orang dekatnya sendiri.

Pria 35 tahun asal Jalan KH Hasyim Asy’ari, Kelurahan Demangan, Bangkalan, itu bertandang ke kantor JPRM Biro Sampang kemarin (8/3). Pria berprofesi sebagai perias pengantin itu mengaku tertipu hingga hampir seratus juta rupiah. Dugaan penipuan itu kini ditangani Polres Sampang.

Awalnya, Slamet Mulyono berkomentar ke akun Facebook (FB) bernama Rehan Jhubek. Lalu, Slamet Mulyono mengajak berteman Rehan Jhubek. Saat itu langsung diterima. Pada waktu itu Rehan Jhubek langsung kirim pesan di inbox FB. ”Sejak itu ada komunikasi. Kejadian itu pada Juli 2016,” ujarnya.

Seringnya ada komunikasi membuat mereka menjalin ”hubungan spesial”. Selama itu mereka hanya berkomunikasi melalui FB, BBM, dan telepon. Namun, ketika teleponan tidak bicara karena alasan memiliki penyakit amandel. Parah pula. 

Selama punya hubungan dekat, komunikasinya hanya sebatas chat di FB dan WA. Tidak pernah video call. Ketika diajak video call banyak alasan. ”Biasanya kalau saya telepon, jawabnya via SMS. Tidak bicara,” ungkapnya.

Rehan Jhubek yang dimaksud bernama asli Moh. Syarif Maulana. Dia ngaku tinggal di Malang. Juga memiliki teman dekat bernama Akbar. Akbar berpacaran dengan Wardatul Faroh. Selama Syarif sakit, Akbar yang merawat. Syarif mengaku ibunya ada di Malaysia. Sedangkan ayahnya menikah lagi di Surabaya. ”Bilangnya tidak pernah peduli,” jelasnya.

Selama Syarif sakit, butuh pengobatan intensif. Slamet merasa iba. Karena itu, ketika meminta pertolongan untuk membeli obat langsung ditransfer. Kali pertama transfer pada 29 September 2016 sebesar Rp 300 ribu. ”Ngakunya itu muntah darah karena penyakit amandelnya. Saya sering transfer. Sejak 2016–2019,” ceritanya.

Pihaknya transfer ke rekening atas nama Susmiyati. Ketika ditanya siapa Susmiyati, bilangnya mantan pacar Akbar. ”Ketika bilang butuh pengobatan, saya minta bukti foto ternyata memang ada. Dikirim semua foto-fotonya. Foto yang dikirim ternyata berbeda,” ungkapnya.

Kendati demikian, Slamet tidak terlalu menghiraukan. Karena ingin lebih dekat dengan Syarif, Slamet mencoba mendekati Warda, 32, warga Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang, Sampang. Warda merupakan sepupu Syarif. ”Saya jadikan Warda asisten pada 2017 akhir. Saya kan perias,” ucapnya.

Baca Juga :  Motor Penghuni Perum Jokotole Digondol Maling

Slamet juga dekat dengan keluarga Warda. Mereka juga welcome. Bahkan, sering bermalam di rumah Warda. Slamet mendapatkan informasi bahwa Syarif memiliki saudara kembar. Ketika ngerias, Akbar selalu menghubungi meminta bantuan untuk kesembuhan Syarif. Seperti membeli obat, check up, cuci darah, rontgen, dan sebagainya.

Setelah transfer Rp 300 ribu, transfer paling kecil Rp 1 juta. Bahkan sampai Rp 9 juta. ”Itu saya transfer 15 Februari 2018. Alasannya mau keluar dari rumah sakit. Sebelum masuk ke rumah sakit lagi. Katanya pada saat pengobatan pinjam kepada temannya bernama Susi,” ungkapnya lagi.

Karena penasaran, Slamet sempat menanyakan kepada Warda. Apakah benar Syarif memiliki saudara kembar? Warda membenarkan bahwa Syarif kembar. Namun ketika pihaknya bermain ke rumah Warda dan ingin bertanya kepada orang tuanya selalu dihalangi. Bahkan terus dibuntuti. Pada suatu hari, Syarif yang di Ketapang ketika bertemu dirinya selalu pasang muka cemberut. ”Saya sempat ditegur Warda, Syarif yang di Ketapang bilang disuruh hapus fotonya di FB,” tuturnya menirukan.

Suatu ketika, Slamet dihubungi temannya dari Ketapang. Dia mengaku melihat Syarif di Ketapang. Setelah itu, Slamet menanyakan langsung kepada Syarif mengaku yang sakit berobat di Bogor. Dijawablah bahwa Syarif di Ketapang merupakan saudara kembarnya. ”Saya selalu percaya,” tuturnya.

Akbar kembali memberikan informasi, selain amandel, Syarif dikatakan memiliki penyakit kanker darah atau leukimia. Sehingga butuh pengobatan intensif. Lagi-lagi Slamet tidak tega, lalu ditransfer lagi hingga jutaan. Ketika meminta bukti hasil laboratorium, ternyata Warda yang memberikan bukti tersebut. Tapi, hasil laboratorium ada di Jakarta Pusat. ”Saya sempat curiga. Tapi kecurigaan saya belum ada bukti,” ucapnya.

Kecurigaan tersebut datang karena bertahun-tahun tidak kunjung sembuh. Bahkan tidak pernah pulang ke Ketapang. Selain itu, foto-foto yang diminta ketika dirawat di rumah sakit ternyata mengambil di Google.

Slamet kemudian meminta bantuan temannya untuk menyelidiki keberadaan Syarif yang disebut Warda memiliki saudara kembar. Informasi yang didapat, Syarif memang tidak kembar. Setiap Slamet ke Ketapang selalu diikuti oleh Warda. Setiap nge-make up, Warda tidak lepas dari dua HP yang dimilikinya.

Baca Juga :  Tembok Jebol, Burung Cinta Pak Haji Hilang

Pada 15 Februari 2019 Slamet mengajak Warda dan teman-temannya jalan-jalan ke Water Park Sumekar. Setibanya di Sumenep, hanya Warda yang tidak mandi. ”Saat asyik mandi, Warda memberi tahu jika HP teman saya bunyi terus. Ternyata yang bunyi milik saya. Setelah dilihat, panggilan tidak terjawab ada belasan panggilan dari Syarif,” terangnya.

Pihaknya mencoba menghubungi via WA. Ternyata direspons. Jarak Slamet dengan saat itu Warda dekat. Saat itu juga dia pihaknya berdiri dan mengambil HP Warda. Saat itulah orang yang menyamar bernama Syarif dan Akbar selama bertahun-tahun itu adalah Warda.

Karena tidak terima, akhirnya HP yang dirampas tidak dikembalikan untuk dijadikan barang bukti (BB). ”Saya lapor ke polisi 20 Februari. Total uang yang ditransfer melalui rekening saya pribadi Rp 75.800.000. Itu lain melalui ATM teman. Secara keseluruhan hampir Rp 100 juta,” sebutnya.

Atas laporan tersebut, pihaknya meminta kepada aparat kepolisian untuk menindaklanjuti serta diproses sebagaimana mestinya. Pihaknya tidak ingin di kemudian hari ada kasus yang sama menimpa orang lain. ”Biarlah cukup saya yang menjadi korban. Saya minta polisi tegas, transparan, dan memproses tuntas kasus ini,” harapnya.

Kasubbaghumas Polres Sampang Ipda Eko Puji Waluyo membenarkan laporan dugaan penipuan itu. Saat ini pihaknya sedang memproses laporan tersebut dengan memanggil saksi-saksi dari pihak pelapor dan terlapor. ”Jumlah dari pelapor sekitar lima orang saksinya. Kalau pihak terlapor masih proses pemanggilan,” terang Eko.

Polisi sudah mengeluarkan surat tanda terima laporan polisi (STTLP) bernomor: STTLP/B/37.a/II/2019/JATIM/RES.SAMPANG. Lalu polisi melayangkan surat pemberitahuan perkembangan hasil penelitian laporan bernomor B/78/SP2HP/II/RES.1.11/2019/Satreskrim. Rujukan pasal 3 huruf e dan pasal 10 ayat (4) huruf Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana. Atas laporan polisi nomor: LP/B/37/II/2019/JATIM/RES.SPG tentang Tindak Pidana Penipuan dan atau Penggelapan.

Artikel Terkait

Most Read

Tenaga Medis PTT Bisa Jadi CPNS

Saksi Ahli Perkuat Pembuktian Jaksa

Artikel Terbaru

/