alexametrics
28.5 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Lagi, Kejari Tahan Kontraktor

SUMENEP – Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep kembali menahan dua tersangka dugaan tindak pidana korupsi (tipikor). Rabu (5/12), Korps Adhyaksa menjebloskan kontraktor dan konsultan pengawas proyek Pasar Pragaan. Dua tersangka kasus pemeliharaan jalan menyusul Kamis (6/12).

Mereka adalah Direktur CV 3 Putri Hazmi Asyari (HA) alias Miming. Seorang tersangka yang lain adalah Rian (FAH) selaku penerima kuasa direktur CV 3 Putri. Mereka ditetapkan tersangka atas dugaan korupsi proyek pemeliharaan Jalan Sonok, Kecamatan Gayam, Sumenep. Proyek ini dibiayai APBD Sumenep 2018.

Kasi Intel Kejari Sumenep Rahadian Wisnu Whardana menjelaskan, keduanya ditahan setelah sebelumnya menjadi saksi. Kedua tersangka ini bertindak sebagai pelaksana pekerja fisik dalam proyek senilai Rp 925.420.000 tersebut. ”Dua tersangka ini sudah mengambil uang muka 30 persen dari total nilai tender. Tapi, pekerjaan tidak dilakukan dan uangnya dipakai untuk keperluan pribadi,” jelas Wisnu.

Sebelum dinyatakan sebagai tersangka, keduanya diperiksa selama tiga jam sejak pukul 10.00–13.00. Saat diperiksa, kedua tersangka mengaku telah menerima uang muka Rp 247.400.000 dari proyek yang mereka menangkan. ”Dalam penyelidikan umum, kami berhasil menemukan dua alat bukti yang cukup untuk menjadikan keduanya tersangka,” ungkapnya.

Baca Juga :  2 Jam Tampil di Taman Adipura, Irwan DA2 Reunian Bareng Vertical Band

Perbuatan kedua tersangka telah melanggar pasal 2 juncto pasal 18 UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU 20/2001 tentang Perubahan atas UU 31/1999. ”Ancaman hukumannya sampai 5 tahun. Untuk kepentingan penyidikan, jaksa penyidik memandang perlu untuk dilakukan penahanan terhadap kedua tersangka selama 20 hari,” jelas Wisnu.

Usai diperiksa, kedua tersangka langsung digelandang ke Rutan Kelas II-B Sumenep. Dengan mengenakan rompi tahanan, dia digelandang keluar. Sesekali mereka menundukkan kepala dan menutup kepala dengan telapak tangannya.

Seperti diberitakan, Rabu (5/12) Kejari Sumenep menahan kontraktor proyek Pasar Pragaan Babur Rahman dan Koko Andriyanto selaku konsultan pengawas.

Pelaksanaan pekerjaan fisik tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi teknis, volume, dan RAB yang tercantum dalam kontrak/CCO. Selaku konsultan pengawas, Koko menyebut jika pekerjaan proyek fisik itu sudah sesuai dengan spesifikasi teknis, volume, dan rencana anggaran biaya (RAB) yang tercantum dalam kontrak/CCO. Padahal faktanya berbanding terbalik dengan yang disampaikan Koko.

Baca Juga :  Madura Bukan Daerah Penghasil Migas

Perkara korupsi Pasar Pragaan ini mencuat sejak 2015. Babur bukanlah pemenang kontrak dalam tender proyek tersebut. Berdasarkan informasi di laman layanan pengadaan secara elektronik (LPSE), pemenang kontrak yakni PT Bukidalam Barisani. Perusahaan tersebut beralamat di Jalan Kedung Asem Nomor 104 Surabaya.

Klik dan Download Aplikasi Radar Madura Disini..!!

Sementara Babur merupakan Direktur CV Bayu Jaya Abadi Sumenep. Dalam tender tersebut, perusahaan milik Babur ikut menjadi peserta lelang. Tetapi di titik akhir, CV Bayu Jaya Abadi dicoret karena tidak melampirkan jaminan penawaran.

Meskipun PT Bukidalam Barisani yang memenangkan tender, proyek pasar itu disubkontrakkan kepada Babur Rahman. Nilai subkontrak ini ditengarai tidak lagi Rp 2,4 miliar, melainkan hanya Rp 1,6 miliar. Akibatnya, banyak pengurangan spek dan pengurangan volume proyek yang pada akhirnya berbuntut tindak pidana korupsi.

SUMENEP – Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep kembali menahan dua tersangka dugaan tindak pidana korupsi (tipikor). Rabu (5/12), Korps Adhyaksa menjebloskan kontraktor dan konsultan pengawas proyek Pasar Pragaan. Dua tersangka kasus pemeliharaan jalan menyusul Kamis (6/12).

Mereka adalah Direktur CV 3 Putri Hazmi Asyari (HA) alias Miming. Seorang tersangka yang lain adalah Rian (FAH) selaku penerima kuasa direktur CV 3 Putri. Mereka ditetapkan tersangka atas dugaan korupsi proyek pemeliharaan Jalan Sonok, Kecamatan Gayam, Sumenep. Proyek ini dibiayai APBD Sumenep 2018.

Kasi Intel Kejari Sumenep Rahadian Wisnu Whardana menjelaskan, keduanya ditahan setelah sebelumnya menjadi saksi. Kedua tersangka ini bertindak sebagai pelaksana pekerja fisik dalam proyek senilai Rp 925.420.000 tersebut. ”Dua tersangka ini sudah mengambil uang muka 30 persen dari total nilai tender. Tapi, pekerjaan tidak dilakukan dan uangnya dipakai untuk keperluan pribadi,” jelas Wisnu.


Sebelum dinyatakan sebagai tersangka, keduanya diperiksa selama tiga jam sejak pukul 10.00–13.00. Saat diperiksa, kedua tersangka mengaku telah menerima uang muka Rp 247.400.000 dari proyek yang mereka menangkan. ”Dalam penyelidikan umum, kami berhasil menemukan dua alat bukti yang cukup untuk menjadikan keduanya tersangka,” ungkapnya.

Baca Juga :  Peluang Emas! Mau Tampil di CFD JPRM? Caranya Tinggal Lakukan Ini

Perbuatan kedua tersangka telah melanggar pasal 2 juncto pasal 18 UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU 20/2001 tentang Perubahan atas UU 31/1999. ”Ancaman hukumannya sampai 5 tahun. Untuk kepentingan penyidikan, jaksa penyidik memandang perlu untuk dilakukan penahanan terhadap kedua tersangka selama 20 hari,” jelas Wisnu.

Usai diperiksa, kedua tersangka langsung digelandang ke Rutan Kelas II-B Sumenep. Dengan mengenakan rompi tahanan, dia digelandang keluar. Sesekali mereka menundukkan kepala dan menutup kepala dengan telapak tangannya.

Seperti diberitakan, Rabu (5/12) Kejari Sumenep menahan kontraktor proyek Pasar Pragaan Babur Rahman dan Koko Andriyanto selaku konsultan pengawas.

Pelaksanaan pekerjaan fisik tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi teknis, volume, dan RAB yang tercantum dalam kontrak/CCO. Selaku konsultan pengawas, Koko menyebut jika pekerjaan proyek fisik itu sudah sesuai dengan spesifikasi teknis, volume, dan rencana anggaran biaya (RAB) yang tercantum dalam kontrak/CCO. Padahal faktanya berbanding terbalik dengan yang disampaikan Koko.

Baca Juga :  Penumpang Membeludak di Pelabuhan Batu Guluk

Perkara korupsi Pasar Pragaan ini mencuat sejak 2015. Babur bukanlah pemenang kontrak dalam tender proyek tersebut. Berdasarkan informasi di laman layanan pengadaan secara elektronik (LPSE), pemenang kontrak yakni PT Bukidalam Barisani. Perusahaan tersebut beralamat di Jalan Kedung Asem Nomor 104 Surabaya.

Klik dan Download Aplikasi Radar Madura Disini..!!

Sementara Babur merupakan Direktur CV Bayu Jaya Abadi Sumenep. Dalam tender tersebut, perusahaan milik Babur ikut menjadi peserta lelang. Tetapi di titik akhir, CV Bayu Jaya Abadi dicoret karena tidak melampirkan jaminan penawaran.

Meskipun PT Bukidalam Barisani yang memenangkan tender, proyek pasar itu disubkontrakkan kepada Babur Rahman. Nilai subkontrak ini ditengarai tidak lagi Rp 2,4 miliar, melainkan hanya Rp 1,6 miliar. Akibatnya, banyak pengurangan spek dan pengurangan volume proyek yang pada akhirnya berbuntut tindak pidana korupsi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/