alexametrics
24.3 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

Tim Sukses Merasa Janggal Penahanan Taufadi

PAMEKASAN – Kasus dugaan korupsi di PT Wira Usaha Sumekar (WUS) yang menyeret Kepala Divisi Keuangan dan Administrasi Taufadi dinilai janggal. Indikasinya, kasus tersebut mencuat menjelang Pilkada Pamekasan 2018.

Nadi Mulyadi, tim sukses Tretan Taufadi, mengatakan, sejak awal kasus itu mencuat, pihaknya sudah merasa janggal. Salah satunya karena kasus itu diusut menjelang pilkada. Lebih tepatnya pasca Taufadi mendeklarasikan diri sebagai bacawabup Pamekasan.

Apalagi, hasil survei terakhir, tersangka kasus dugaan korupsi itu tingkat elektabilitasnya tinggi. Disandingkan dengan bacabup mana pun, kemungkinan keterpilihan Taufadi tinggi. ”Disandingkan dengan siapa saja, Taufadi akan menang,” klaim Nadi Selasa (5/12).

Dia menyampaikan, setelah Taufadi menjadi tersangka dan ditahan oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, belum dipastikan apakah tetap akan maju atau mundur dari kontestasi Pilkada Pamekasan 2018.

Sebab, sampai sekarang belum ada komunikasi. Misalnya, Tretan Taufadi belum berkoordinasi dengan partai yang sedari awal berada dalam barisan pengusung. Dalam waktu dekat, koordinasi akan dilaksanakan untuk menentukan langkah yang bakal dilakukan.

Untuk sementara, Taufadi akan fokus pada proses hukum. Pihak Taufadi sudah berkomunikasi dengan salah satu advokat untuk mendampingi pria yang menjabat komisaris PT Garam (Persero) tersebut.

Baca Juga :  Uang Suap untuk Kajari Hasil Jual Mobil Mini Cooper

Penasihat hukum akan mempelajari dan menelaah kasus yang menjerat Taufadi. Jika ada celah untuk mengajukan praperadilan, akan dilakukan untuk menggugurkan status tersangka yang disandang Taufadi. ”Mas Taufadi masih menjalani proses pemeriksaan di kejati,” ujar Nadi.

Jebolan GMNI itu menyatakan, kejanggalan lain kasus yang menyeret Taufadi yaitu pokok materi kasus. Menurut dia, beberapa waktu lalu Taufadi diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Sitrul Arsy Musa’ie terkait kasus dugaan korupsi dana participating interest (PI) di PT WUS.

Namun, penetapan tersangka Taufadi bukan berhubungan dana PI. Bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan tersangka Sitrul. ”Memang dari awal kami merasa janggal terhadap kasus ini,” katanya.

Kejanggalan lain yang dirasakan yakni tahun audit yang dilakukan aparat penegak hukum. Menurut Nadi, Taufadi menjabat kepala divisi hukum menggantikan pejabat sebelumnya. Kemudian, pada 2013 dia mundur dan pejabat sebelumnya kembali duduk di posisi Taufadi.

Namun, kejati hanya mengusut keuangan pada tahun Taufadi menjabat kepala divisi keuangan PT WUS. Sementara sebelum tahun itu dan setelah Taufadi mundur, tidak dilakukan audit keuangan.

Baca Juga :  Hendak Edarkan 7.800 Rokok Ilegal, Warga Sumenep Disergap Polisi

Nadi menyampaikan, Taufadi tidak merasa melakukan tindak pidana korupsi. Uang yang keluar dari PT WUS sesuai prosedur. ”Saya tidak tahu tentang uang itu, saya tidak pernah korupsi uang itu,” ucap Nadi menirukan perkataan Taufadi.

Sebelumnya, Aspidsus Kejati Jatim Didik Farkhan Alisyahdi mengatakan, Taufadi diduga mengeluarkan dana PT WUS ke rekening pribadi. Nilainya mencapai Rp 510 juta. Sayangnya, Taufadi tidak dapat mempertanggungjawabkan uang yang diambilnya itu.

”Kami akan terus telusuri ke mana aliran uang yang didapat tersangka. Sejauh ini kami belum dapat memastikan apakah ada tersangka baru atau tidak. Semua masih kami selidiki,” ujar mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya tersebut.

Sebagaimana diketahui, Kejati Jawa Timur menetapkan Taufadi sebagai tersangka dan langsung dilakukan penahanan. Diduga, Taufadi tidak melaporkan dana Rp 510.658.500 saat menjabat kepala divisi keuangan PT WUS.

PT WUS merupakan BUMD Pemkab Sumenep yang mengelola sejumlah usaha. Di antaranya, SPBU dan bengkel. PT WUS juga ditunjuk oleh Pemkab Sumenep sebagai BUMD yang mengelola dana PI pengelolaan minyak dan gas bumi (migas).

- Advertisement -

PAMEKASAN – Kasus dugaan korupsi di PT Wira Usaha Sumekar (WUS) yang menyeret Kepala Divisi Keuangan dan Administrasi Taufadi dinilai janggal. Indikasinya, kasus tersebut mencuat menjelang Pilkada Pamekasan 2018.

Nadi Mulyadi, tim sukses Tretan Taufadi, mengatakan, sejak awal kasus itu mencuat, pihaknya sudah merasa janggal. Salah satunya karena kasus itu diusut menjelang pilkada. Lebih tepatnya pasca Taufadi mendeklarasikan diri sebagai bacawabup Pamekasan.

Apalagi, hasil survei terakhir, tersangka kasus dugaan korupsi itu tingkat elektabilitasnya tinggi. Disandingkan dengan bacabup mana pun, kemungkinan keterpilihan Taufadi tinggi. ”Disandingkan dengan siapa saja, Taufadi akan menang,” klaim Nadi Selasa (5/12).


Dia menyampaikan, setelah Taufadi menjadi tersangka dan ditahan oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, belum dipastikan apakah tetap akan maju atau mundur dari kontestasi Pilkada Pamekasan 2018.

Sebab, sampai sekarang belum ada komunikasi. Misalnya, Tretan Taufadi belum berkoordinasi dengan partai yang sedari awal berada dalam barisan pengusung. Dalam waktu dekat, koordinasi akan dilaksanakan untuk menentukan langkah yang bakal dilakukan.

Untuk sementara, Taufadi akan fokus pada proses hukum. Pihak Taufadi sudah berkomunikasi dengan salah satu advokat untuk mendampingi pria yang menjabat komisaris PT Garam (Persero) tersebut.

Baca Juga :  Tiga Hari Puasa, Tujuh Motor Disita

Penasihat hukum akan mempelajari dan menelaah kasus yang menjerat Taufadi. Jika ada celah untuk mengajukan praperadilan, akan dilakukan untuk menggugurkan status tersangka yang disandang Taufadi. ”Mas Taufadi masih menjalani proses pemeriksaan di kejati,” ujar Nadi.

Jebolan GMNI itu menyatakan, kejanggalan lain kasus yang menyeret Taufadi yaitu pokok materi kasus. Menurut dia, beberapa waktu lalu Taufadi diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Sitrul Arsy Musa’ie terkait kasus dugaan korupsi dana participating interest (PI) di PT WUS.

Namun, penetapan tersangka Taufadi bukan berhubungan dana PI. Bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan tersangka Sitrul. ”Memang dari awal kami merasa janggal terhadap kasus ini,” katanya.

Kejanggalan lain yang dirasakan yakni tahun audit yang dilakukan aparat penegak hukum. Menurut Nadi, Taufadi menjabat kepala divisi hukum menggantikan pejabat sebelumnya. Kemudian, pada 2013 dia mundur dan pejabat sebelumnya kembali duduk di posisi Taufadi.

Namun, kejati hanya mengusut keuangan pada tahun Taufadi menjabat kepala divisi keuangan PT WUS. Sementara sebelum tahun itu dan setelah Taufadi mundur, tidak dilakukan audit keuangan.

Baca Juga :  Polres Sumenep Mulai Incar Disperindag

Nadi menyampaikan, Taufadi tidak merasa melakukan tindak pidana korupsi. Uang yang keluar dari PT WUS sesuai prosedur. ”Saya tidak tahu tentang uang itu, saya tidak pernah korupsi uang itu,” ucap Nadi menirukan perkataan Taufadi.

Sebelumnya, Aspidsus Kejati Jatim Didik Farkhan Alisyahdi mengatakan, Taufadi diduga mengeluarkan dana PT WUS ke rekening pribadi. Nilainya mencapai Rp 510 juta. Sayangnya, Taufadi tidak dapat mempertanggungjawabkan uang yang diambilnya itu.

”Kami akan terus telusuri ke mana aliran uang yang didapat tersangka. Sejauh ini kami belum dapat memastikan apakah ada tersangka baru atau tidak. Semua masih kami selidiki,” ujar mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya tersebut.

Sebagaimana diketahui, Kejati Jawa Timur menetapkan Taufadi sebagai tersangka dan langsung dilakukan penahanan. Diduga, Taufadi tidak melaporkan dana Rp 510.658.500 saat menjabat kepala divisi keuangan PT WUS.

PT WUS merupakan BUMD Pemkab Sumenep yang mengelola sejumlah usaha. Di antaranya, SPBU dan bengkel. PT WUS juga ditunjuk oleh Pemkab Sumenep sebagai BUMD yang mengelola dana PI pengelolaan minyak dan gas bumi (migas).

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/