Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jejak Budaya Indonesia di Avatar: Tari Kecak Bali Jadi Inspirasi Soundtrack Penutup Avatar The Last Airbender

Fadila An Naila • Jumat, 29 Maret 2024 | 22:40 WIB

Poster Avatar The Last Airbender Live Action
Poster Avatar The Last Airbender Live Action

RadarMadura.idDalam sorotan terbaru yang menggugah dunia hiburan, adaptasi live action dari ‘Avatar: The Last Airbender’ yang memulai debutnya pada 22 Februari 2024, terus menjadi topik hangat di kalangan netizen.

Karya yang diangkat dari serial animasi populer ini tidak hanya menarik perhatian karena narasinya yang menawan, tetapi juga karena kejutan budaya yang tersembunyi dalam harmoni musiknya.

Pertunjukan ini, yang telah menarik perhatian sejak hari pertama dengan melibatkan dua aktor berdarah Indonesia, Ruy Iskandar dan Dallas Liu, dalam peran Letnan Jee dan Pangeran Zuko, kembali membuat gelombang dengan pengungkapan yang dilakukan oleh Jeremy Zuckerman.

Komposer yang terkenal ini baru-baru ini mengungkapkan bahwa musik penutup, yang biasa mengiringi akhir sebuah episode, sebenarnya mengambil inspirasi dari salah satu warisan budaya Indonesia yang paling ikonik.

Dalam wawancara eksklusif yang diadakan di channel YouTube resmi ‘Avatar: The Last Airbender’, Zuckerman membagikan wawasan tentang proses kreatif yang mengarah pada penciptaan soundtrack yang memukau ini.

Dia mengungkapkan bahwa musik penutup tersebut terinspirasi oleh Tari Kecak Bali, tarian tradisional yang menghipnotis dari Pulau Dewata, Bali.

“Untuk (soundtrack) kredit akhir terinspirasi dari Tari Kecak (dari) Indonesia. (Di Tari Kecak) Anda bisa mendapatkan suara 'cak, cak, cak, cak', semacam itu. Dengan suara khasnya itu, lalu di-overlay dan disesuaikan lagi. Hal gila akan Anda dapatkan dan sangat terinspirasi oleh itu,” jelas Zuckerman.

Menariknya, nuansa musikal ini bukanlah tambahan baru bagi penggemar setia serial animasi ‘Avatar’, karena telah diperkenalkan sebelumnya dalam versi animasinya.

Namun, untuk adaptasi live action, komposisi ini telah disempurnakan lebih lanjut, meskipun tetap mempertahankan esensi ‘cak, cak, cak, cak’ yang menjadi ciri khasnya.

Zuckerman juga menambahkan bahwa, selain Tari Kecak, banyak instrumen dan efek khusus dalam serial animasi ‘Avatar’ diciptakan menggunakan alat musik tradisional dari China, seperti guzheng dan pipa, yang menambah kekayaan dan kedalaman pada lanskap audio yang sudah beragam.

Dengan pengakuan ini, ‘Avatar: The Last Airbender’ tidak hanya memperkaya pengalaman visual penonton tetapi juga membawa mereka dalam perjalanan auditif yang mempesona, di mana setiap nada dan irama berbicara tentang penghormatan kepada kebudayaan yang telah memberikan inspirasi. (fadila)

Editor : Ina Herdiyana
#The Last Airbender #tari kecak bali #Soundtrack Avatar #budaya indonesia