Judul Film: Budi Pekerti
Pemain: Prilly Latuconsina, Dwi Sasono, Sha Ine Febriyanti, Angga Yunanda, dll.
Produser: Wregas Bhanuteja
Durasi: 1 jam 51 menit
Tanggal tayang: 2 November 2023
Genre: Drama
RadarMadura.id – Budi Pekerti merupakan film Indonesia terbaru yang tayang di bioskop pada 2 November 2023. Baru seminggu tayang, film yang disutradarai Wregas Bhanuteja ini sudah tembus 410.585 penonton. Hal tersebut menjadi pencapaian menakjubkan di dunia perfilman Indonesia.
Sebelum tayang serentak di seluruh bioskop, film Budi Pekerti tayang perdana di Festival Film Internasional Toronto pada 9 September 2023. Film yang dibintangi Prilly Latuconsina, Dwi Sasono, Sha Ine Febriyanti, Angga Yunanda, dll. ini masuk 17 Nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia 2023.
Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dari film Budi Pekerti. Secara keseluruhan, baik penjiwaan aktor, alur, maupun isi cerita, sangat bagus. Relate dengan kehidupan sekarang yang serba "menghamba" pada dunia maya (media sosial).
Berikut sinopsis singkat Film Budi Pekerti yang RadarMadura.id rangkum dari penayangan di bioskop.
Ada beberapa hal yang menjadi topik film ini. Yaitu, pendidikan moral, refleksi (penyadaran), media sosial, dan netizen.
Kisah ini berawal dari Bu Prani, guru bimbingan konseling (BK) di salah satu SMA di Jogjakarta. Bu Prani digambarkan dengan sosok guru disiplin dan tegas pada muridnya di sekolah.
Ketika muridnya melakukan kesalahan, Bu Prani selalu menerapkan pola refleksi (penyebutan kata ganti hukuman). Tujuan refleksi ini adalah memberikan penyadaran kepada murid untuk memahami dampak buruk atau akibat dari kesalahan yang telah dilakukan sehingga berefek jera.
Refleksi yang diterapkan Bu Prani kepada anak didik saat melakukan kesalahan di sekolah penuh pesan moral. Seorang murid mampu menjalaninya dengan penuh kesadaran, bukan paksaan, atau beban hukuman.
Suatu hari, atas rekomendasi Gora, murid Bu Prani yang sudah lulus dan jadi kreator konten di salah satu media online, Bu Prani membeli putu di pasar untuk suaminya yang mengalami depresi. Putu itu sangat legendaris. Bahkan, pembeli rela antre berjam-jam untuk menikmati makanan tradisional yang legit tersebut.
Di tengah antrean panjang itu, Bu Prani terlibat perselisihan dengan pembeli lain hingga menyulut amarah. Niat Bu Prani ingin mengingatkan agar membudayakan antre. Namun, pembeli tersebut tidak terima hingga terjadi adu mulut.
Salah sorang pembeli yang lain merekam video kejadian itu, lalu mengunggahnya di media sosial. video tersebut pun viral dan timbul beragam komentar negatif. Bahkan, Bu Prani mendapat hujatan dari netizen atas video yang dinilai tidak mencerminkan budi pekerti sebagai seorang guru.
Kenyataan memang tidak selalu berpihak pada kebenaran. Terkadang kebenaran terbungkam. Bahkan termanipulasi dengan anggapan-anggapan miring yang dinilai mewakili suatu kebenaran.
Namun, sebenarnya yang bergerak adalah subjektivitas. Semua bergantung pada apa yang kita lihat dan kita alami serta dari sudut pandang mana kita melihat dan menilainya.
Kisah kesalahpahaman Bu Prani dengan salah seorang pembeli putu bisa mengubah kehidupan seseorang dalam sekejap. Keluarga Bu Prani yang awalnya baik-baik saja menjadi terpuruk karena perundungan dan hujatan netizen di media sosial.
Selain berdampak terhadap psikologis keluarga Bu Prani, perundungan netizen di media sosial itu berpengaruh terhadap ekonomi keduanya. Baik keluarga Bu Prani maupun si penjual putu legendaris tersebut. Putu yang laris manis itu tutup. Salah satu asumsi penyebabnya adalah konflik Bu Prani yang viral di media sosial tersebut.
Di zaman yang serbadaring ini, netizen harus mampu menyaring dan mempergunakan media sosial dengan bijak. Tidak serta-merta ikut-ikutan suara terbanyak.
Film ini menggambarkan dampak buruk media sosial bila netizen bila tidak bijak menggunakannya. Mengajarkan publik begitu pentingnya menelaah kejadian, tidak turut menyebarkan jika belum tentu benar, dan tidak menghujat semena-mena tanpa mengalisis dari berbagai sudut pandang.
Film ini juga merefleksikan kinerja insan media untuk lebih independen, berhati-hati mengungkap, dan menyuarakan fakta. Mengembalikan fungsi media sebagaimana kode etik jurnalistik. Yakni, memberikan informasi sekaligus mengedukasi.
Selain itu, film ini mengajarkan keteguhan untuk mempertahankan kebenaran. Berani jujur di tengah ketidakpercayaan publik. Walau pada akhirnya, kebenaran sering kali tersisihkan di atas banyak kepentingan.
"Kalau dunia terlalu berisik, tutup telinga, tutup mata, lalu dengarkan detak jantung kita. Berterima kasihlah atas hari ini, " ucap Bu Prani sembari menyatu dengan keheningan.
Selamat menonton film Budi Pekerti di bioskop kesayangan Anda. Jangan lupa, berterima kasihlah pada Bu Prani atas integritas dan pengabdiannya. (ina)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana