KH. Abdul Hannan merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsani. Lokasinya di Jalan KM. Ihsan Tahsir, Desa Sendang Dajah, Kecamatan Labang, Bangkalan. Pada 2020 lalu, kiai ini didaulat menjadi ketua panitia deklarasi Naqobah Ansab Awliya Tis’ah (NAAT). Seperti apa sepak terjang kiai yang aktif di lembaga yang bertugas meneliti silsilah Wali Sanga ini?
Oleh FERI FERDIANSYAH
TAK mudah untuk sampai ke Ponpes Al-Ihsani. Jalan yang harus dilewati lebarnya hanya cukup untuk satu mobil. Jika ada mobil dari arah berlawanan, salah satu antaranya harus mengalah dan mundur mencari bahu jalan yang lebih lebar.
Sebenarnya jika ditarik lurus dari pintu masuk yang berada di sisi barat jalur Suramadu di Kecamatan Labang, jaraknya tak begitu jauh. Namun karena jalurnya berbelok-belok, waktu yang dibutuhkan untuk sampai di ponpes tersebut menjadi lebih lama, kurang lebih 20 menit.
Setelah melewati jalanan yang cukup sulit tersebut barulah mata kita akan dimanjakan melihat bangunan model Eropa. Pilar-pilar besar menjulang di bagian depan gedung. Baik gedung sekolah maupun gedung khusus yang terdiri atas deretan kamar mandi untuk siswa dan santri.
Di depan gedung inilah KH. Abdul Hannan Ihsan sudah menunggu kedatangan tim Acabis Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Rabu (21/4). Pria kelahiran 25 Juli 1980 ini ditemani adik laki-laki, Bindara Muhammad Mas’ud. Sang kiai kemudian mengajak jalan-jalan ke setiap bagian Ponpes Al-Ihsani.
”Ponpes ini didirikan Muhammad Ihsan bin Dasir bin Ismail pada 1979. Beliau bapak saya. Istrinya banyak. Bapak itu setiap menikah membangun madrasah. Ini lembaga terakhirnya,” ungkap Kiai Abdul Hannan membuka pembicaraan dengan tim Acabis.
Santri di ponpes tersebut mayoritas dari warga sekitar. Jumlahnya 200 orang. Mereka terdiri atas beberapa jenjang pendidikan. Mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA. Menurut Kiai Abdul Hannan, gedung-gedung di ponpes tersebut bertema Eropa karena kecintaannya kepada Wali Sanga.
”Wali Sanga ini ada kaitannya juga dengan Ottoman. Susur galur silsilah akan nyambung dengan Ottoman dari sisi perempuannya,” ungkap pria yang menjabat sebagai ketua LP3SN (Lembaga Pencatat, Pemelihara, dan Penelitian Silsilah NAAT) itu.
Kecintaannya kepada Wali Sanga tak hanya diaktualisasikan dalam bentuk bangunan. Namun pada nlai-nilai yang diajarkan kepada santrinya. Menurut Kiai Abdul Hannan, Wali Sanga berjuang tidak hanya di mulut, tapi juga visual.
Kakak Bindara Muhammad Mas’ud dan Siti Hindun itu menjelaskan, orang lebih mengikuti apa yang mereka lihat. Bukan apa yang mereka dengar. Jadi Wali Sanga itu berdakwah dengan memberikan teladan atau contoh. Kalau sekarang di YouTube banyak ceramah-ceramah. Ternyata kunci sukses dakwah Wali Sanga itu adalah visual.
”Mudah-mudahan alumni Al-Ihsany ini ketika terjun di masyarakat tidak mengandalkan mulang dulu, tapi utamakan perilaku dulu di masyarakat,” harapnya.
Kiai Abdul Hannan juga berharap cita-cita tersebut memberikan keberkahan sendiri pada ponpes yang dia asuh. Menurut dia, semua pesantren memiliki kekurangan dan kelebihan. Kami hanya mengaharap barokah Wali Sanga. ”Karena pesantren ini didirkan oleh keturunan Wali Sanga,” ucapnya lantas mengajak tim Acabis ke bagian dalam ponpes.
Bincang-bincang dengan Kiai Abdul Hannan berlanjut di rumah peninggalan pendiri pertama ponpes tersebut. Kali ini membahas tentang silsilah ulama di Madura. Menurut dia, Madura ibarat pabrik ulama di nusantara.
”Kiai besar di nusantara berdarah Madura. Boleh dikatakan Madura ini hadramutnya para kiai. Kalau habaib ada di hadramut. Kalau kiai ada di Madura. Mbah Maimun (KH Maimoen Zubair) juga leluhurnya ada yang dari Madura juga. Dari Klampis, Kiai Haji Slaseh,” ungkap alumnus Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo itu.
Dari sisi pondok pesantren di Jawa misalnya. Menurut Kiai Abdul Hanan jika dirunut dari leluhurnya, silsilah pesantren-pesantren besar di Pulau Jawa bermuara ke Madura. Baik dari segi darah maupun silsilah keilmuan.
Dia menyebut Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Selain dari silsilah keilmuan nyambung ke Syaikhona Kholil, genetika nasabnya juga nyambung ke Madura. Misalkan Kiai Nurhotim Sidogiri itu dari Madura.
Selain itu, Ponpes Darul Ulum Paterongan, Jombang. Berdasar manuskrip, Kiai Arsyad berasal dari Jaddih, Kecamatan Socah, Bangkalan. Kemudian, hijrah ke Paterongan. ”Jadi yang hijrah ke Paterongan ini bukan mulai dari Kiai Tamim. Tapi, mulai dari Kiai Arsyad,” terangnya.
Contoh lain yang disampaikan Kiai Abdul Hannan adalah Ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo. Menurut dia, Kiai Zainul Hasan itu dari Pamekasan, Madura. ”Jadi Madura itu jangan dikenal dengan keras saja. Madura itu juga penyebar Islam juga,” tegas Kiai Abdul Hannan.
Ponpes lain yang disebutkan Kiai Abdul Hannan adalah Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukoerjo, Situbonto. Ponpes ini didirikan oleh ulama yang dari sisi genetika dan keilmuannya merujuk ke Madura. Yaitu, KHR As’ad Syamsul Arifin.
Selain berguru kepada Syaikhona Muhammad Kholil di Madura, Kiai As’ad Syamsul Arifin Asembagus, secara genetika juga dari Madura. ”Makanya ada gelar raden. Itu juga dari Madura,” papar suami Nyai Suryati itu.
Berkaitan dengan gelar raden, Kiai Abdul Hannan kemudian menjelaskan bagaimana para raja Islam di Nusantara merupakan keturunan Wali Sanga. Semua itu merujuk pada manuskrip yang ditelaah di LP3SN yang dia pimpin. Kiai Abdul Hanan pun menjelaskan ulama sekaligus raja di Madura memiliki jalur silsilah ke wali yang mana saja.
Raden Bukan Gelar Kebangsawanan
Baca Edisi Besok
Editor : Abdul Basri