KH. Musleh Adnan tidak hanya dikenal di Madura. Dai yang satu ini juga kondang hingga wilayah tapal kuda. Hal itu tidak terlepas dari humor-humor segarnya saat berdakwah. Dari mana dia mendapatkan bahan untuk mengocok perut jamaah?
GAYA ceramah yang lucu menjadi ciri khas KH. Musleh Adnan. Gaya itu pula yang membuat dai asal Pamekasan ini digemari banyak kalangan. Tak hanya di Madura. Itu terbukti dari jadwal undangan yang harus antre hingga lima tahun ke depan.
Data yang dihimpun tim Acabis menunjukkan pada bulan Rabiulawal jadwal kiai kondang ini sudah antre hingga 2026. Jadwal yang antre tersebut juga terjadi pada bulan Syakban. Pada bulan tersebut antrean hingga empat tahun atau 2025.
Bulan yang juga antre terjadi pada Syawal dan Zulhijah. Dua bulan yang biasa dijadikan agenda nikah tersebut dipastikan penuh hingga 2024. ”Biasanya diundang untuk kegiatan haflatul imtihan dan PHBI (peringatan hari besar Islam),” jelas Kiai Musleh kepada tim Acabis beberapa waktu lalu.
Di tengah popularitasnya, Kiai Musleh tetap bersikap tawadu. Menurut dia, padatnya jadwal ceramah tidak terlepas dari peran kiai-kiai sebelumnya. Dulu, kata dia, kiai masih lengkap. KH Abdullah Sattar Lumajang masih ada. ”Kemudian beliau wafat. Jadi jadwal-jadwal yang sudah gagal milik Kiai Sattar lari ke saya,” tuturnya.
Alasan lain panjangnya jadwal ceramah Kiai Musleh karena pandemi Covid-19. Karena pandemi, selama bulan Rajab, Syakban, dan Syawal libur. Akhirnya ceramah ditunda. Ketika ditunda dan mau dimasukkan ke Syakban tahun depan sudah penuh. Tahun berikutnya juga sudah habis. Akhirnya melar sampai tiga tahun. ”Jadi bukan karena saking larisnya. Nggak,” ucapnya kembali merendah.
Padatnya jadwal mengisi ceramah berdampak pada intensitas dirinya berdakwah kepada warga sekitar. Karena itu, dia pun membentuk jamaah pengajian atau kompolan agar tetap bisa menyapa warga yang belum berkesempatan mendapat jadwal ceramahnya.
Di Pondok Pesantren Nahdlatut Ta’miliyah dirinya membuat tiga jenis pengajian. Pertama, pengajian subuh yang digelar setiap hari. Pengajian ini digelar di masjid dan diikuti sedikitnya 300 jamaah yang menunaikan salat Subuh di masjidnya.
Pengajian ini hanya libur ketika sang dai mengisi ceramah di luar kota. Karena harus mengisi pengajian subuh, Kiai Musleh tidak pernah lama-lama di luar kota.
Selain pengajian subuh, juga menggelar pengajian mingguan. Pengajian ini digelar setiap malam Senin dan sifatnya tematik. Jamaahnya sampai 1.200 orang. Tidak hanya dari Pamekasan. Jamaah dari luar Pamekasan juga ada.
Adapun pengajian yang ketiga dikemas dalam bentuk istighotsah. Biasa digelar setiap malam Jumat. Peserta bisa mencapai 600 orang. Seperti pengajian tematik malam Senin, peserta juga tidak hanya warga Pamekasan.
Kelompok-kelompok pengajian tersebut tidak serta merta diikuti banyak jamaah. Kiai Musleh memulai dari jumlah sedikit. Diawali dengan upaya memakmurkan masjid di lingkungan pesantren. ”Kemakmuran masjid harus dicarikan cara untuk jadi makmur. Kalau hanya diberi tahu bahwa kemakmuran masjid dengan pahalanya, sekarang kurang diminati,” ungkapnya.
Dari pemikiran itulah kemudian mengajak orang untuk mengaji di masjidnya dengan tawaran mendapat kitab gratis. Dia juga menwarkan akan mengajar langsung dalam pengajian tersebut. ”Tak hanya itu, setelah ngaji saya siapkan kopi. Saya sediakan termos. Terus ada sedikit gorengan. Ada juga rokok. Itu agak menarik ternyata,” ungkapnya.
Menurut dia, strategi tersebut bisa dilakukan seluruh takmir masjid. Sebab, dana yang ada di masjid bisa digunakan untuk kebutuhan jamaah. Hal itu merujuk pada kitab yang dia jadikan sandaran. ”Kenapa ini tidak digagas walau dimulai dari yang kecil-kecil,” kenangnya saat memulai pengajian subuh di masjidnya.
Kini dengan jumlah jamaah yang mencapai ratusan, dirinya tak lagi menggunakan dana kas masjid untuk memberikan fasilitas jamaah. Sebab, kebutuhan tersebut terpenuhi dari donatur. ”Kalau kitab yang diajarkan sudah hatam dan mau berganti ke kitab baru, sudah ada yang membiayai. Ada donatur-donaturnya. Dan donatur itu tergerak dengan sendirinya,” papar kiai kelahiran Jember, 18 Oktober 1975 itu.
Kiai Musleh pertama berceramah pada 2007. Saat itu dia memulai karirnya sebagai pendakwah dari satu kelompok pengajian ke kelompok pengajian. Ada yang digelar malam Jumat dan ada yang digelar malam Senin. Pada tahun yang sama mendapat kesempatan naik panggung sebagai penceramah.
”Itu ceritanya ada tukang las besi. Namanya Haji Suparman. Waktu itu belum haji. Beliau mengundang saya dalam acara Maulid Nabi,” kenangnya. ”Saya baru naik panggung pertama itu. Semua tidak kenal. Sepertinya mereka meragukan,” ungkapnya.
Menurut dia, wajar jika jamaah saat itu ragu. Selain karena postur tubuh dirinya yang kecil dan kurus, saat itu kopiah yang dia kenakan masih warna hitam. Keraguan mereka saya jawab dengan ceramahnya. Ketika turun dari panggung, mulai banyak yang minta nomor telepon.
Saat ditanya sumber humor untuk ceramah-ceramahnya, Kiai Musleh tersenyum. Dia kemudian mengatakan jika sikap lucu tidak bisa dibuat-buat. Namun, untuk mendapat bahan candaan perlu sikap terbuka. Kalau penceramah tertutup, tidak banyak bergaul dengan masyarakat, akan kehabisan bahan.
Selain itu, tidak menutup diri pada kemajuan zaman. Contohnya di media sosial (medsos). Di sana banyak banyolan. Kadang banyak orang cerita-cerita menarik dan itu dimasukkan ke materi dakwah.
Di akhir pertemuan tersebut, Kiai Musleh mengungkap bahwa Rasulullah pernah bersabda kepada Sayyidina Muadz bin Jabbal dan Abu Musa Al Aasyari tentang tiga prinsip dalam berdakwah. Hadis tersebut bermakna bahwa dalam berdakwah hendaknya mempermudah jangan mempersulit, memberi kabar baik atau riangkan orang jangan sampai lari dari agama, dan sesama pendakwah hendaklah jangan sampai bertengkar.
”Jadi prinsip dakwah saya itu mengikuti prinsip dakwah Rasullah,” pungkas alumnus Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, itu.
Editor : Abdul Basri