Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Tradisi Ziarah Buju’ saat Lebaran Ketupat di Pamekasan, Jadi Ajang Silaturahmi, Menjaga Kebersamaan, dan Kerukunan

Hera Marylia Damayanti • Selasa, 8 April 2025 | 13:15 WIB
TRADISI: Ratusan warga mengikuti rokat buju’ dengan khidmat di Dusun Tengginah, Desa Klompang Timur, Kecamatan Pakong, Pamekasan, Senin (7/4). (ISMAIL MARZUKI UNTUK JPRM)
TRADISI: Ratusan warga mengikuti rokat buju’ dengan khidmat di Dusun Tengginah, Desa Klompang Timur, Kecamatan Pakong, Pamekasan, Senin (7/4). (ISMAIL MARZUKI UNTUK JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Setiap daerah memiliki tradisi berbeda-beda saat Lebaran Ketupat. Salah satunya ziarah buju’ bersama.

Kegiatan itu tidak hanya mengandung nilai-nilai religiusitas, tetapi juga sosial.

Yakni, ajang silaturahmi, menjaga kebersamaan, dan kerukunan antar masyarakat.

Seperti warga Desa Klompang Timur, Kecamatan Pakong, Pamekasan, yang memiliki tradisi tersendiri dalam perayaan Lebaran Ketupat.

Yaitu, ziarah makam tokoh atau buju’. Kebiasaan itu dilestarikan secara turun-temurun.

Sekitar pukul 08.00 Senin (7/4), puluhan warga berbondong-bondong menuju pemakaman setempat.

Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, semuanya mengenakan pakaian bagus, rapi, dan bernuansa islami.

Kaum hawa yang hadir dalam acara itu tidak dengan tangan kosong. Karena semuanya masuk ke area pemakaman dengan menyunggi talam di kepalanya.

Di talam itu terdapat ketupat, nasi, lauk, dan air. Lalu, warga duduk melingkar menghadap makam buju’ Badruddin.

Ismail Marzukki, warga Desa Klompang Timur menyatakan, tradisi ziarah buju’ telah rutin dilaksanakan setiap tahun.

Tepatnya, hari ketujuh setelah Idul Fitri, atau saat Lebaran Ketupat.

Ziarah buju’ dilaksanakan dengan pembacaan Yasin dan tahlil yang dipimpin pemuka agama.

Doa-doa yang dipanjatkan dikhususkan untuk buju’ Badruddin beserta leluhurnya yang dianggap sebagai ulama penting di desanya.

”Sebenarnya tidak ada ritual khusus dalam tradisi ini, kecuali doa bersama dan makan yang dibawa masing-masing warga,” ujarnya.

Kegiatan rutin tersebut tidak hanya mengandung nilai-nilai religi. Tetapi, juga memiliki makna sosial dalam bermasyarakat.

Yakni, jadi ajang silaturahmi dan menjaga kebersamaan, serta kerukunan antar warga.

”Kami hanya ingin melestarikan tradisi terdahulu,” ujarnya.

Sementara Aditia Erfin Mustofa, 22, warga Dusun Nangger, Desa Klompang Barat, Kecamatan Pakong, menyatakan, tradisi ziarah itu disebut rokat buju’.

Warga yang datang membawa makanan dari rumah. Setelah kegiatan doa bersama selesai, makanan secara acak dibagikan untuk dibawa pulang.

Selain itu juga ada yang membawa beras untuk diserahkan kepada pemuka agama yang memimpin pelaksanaan rokat buju’. Pemberian tersebut bentuk bagian sedekah warga.

”Setiap desa tradisinya tidak sama, di daerah kami ada yang dilengkapi dengan pengajian atau ceramah sebelum acara dibubarkan,” imbuhnya.

Sementara masyarakat Desa Klompang Timur, Kecamatan Pakong, Muhammad Bakir menyatakan, ziarah buju’ bukan kegiatan rutinan biasa. Namun, juga untuk mengharap barokah para buju’.

”Tradisi ini terus dilestarikan agar generasi muda tidak meninggalkan kegiatan ziarah kubur,” katanya. (ay/jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#ziarah #pemakaman #klompang timur #Klompang Barat #silaturahmi #Lebaran Ketupat #makam #Ritua #kerukunan #rokat #tradisi