PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kemarin masa lalu, besok masa depan. Kalimat itu cocok menggambarkan harapan besar umat Tionghoa yang baru merayakan Imlek.
Deretan lampion menghiasi Vihara Avalokitesvara yang terletak di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, Rabu (29/1).
Nuansa Imlek sangat terasa di rumah peribadatan yang sudah berusia ratusan tahun tersebut.
Bangunan beserta tiang-tiang wihara itu didominasi warna merah. Puluhan lilin raksasa terlihat menyala di pintu utama, tepatnya di sekitar altar Thian Kong.
Yaitu, tuhan utama sebelum menyembah Dewi Kwan Im.
Di tempat ibadah itu, koran ini disambut Kosala Mahinda yang juga menjadi ketua Vihara Avalokitesvara.
Pria berkaus merah itu merupakan generasi ke-11 pengelola wihara.
Kini, Kosala berdomisili di Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu.
”Tidak ada (rententan) acara yang digelar untuk Imlek saat ini. Kami hanya sembahyang khusus tadi malam (Selasa, 28/1),” ujarnya Rabu (29/1).
Sembahyang dimulai Selasa (28/1) tengah malam hingga Rabu (29/1) dini hari. Yakni, saat pergantian malam Tahun Baru Imlek.
Tujuannya, meminta keberkatan sebagai wujud syukur atas satu tahun sudah dilewati sebelumnya.
”Doanya pasti bersyukur untuk tahun lalu, dan sekarang tahun depan harus memiliki harapan baru,” ujarnya.
Bagi umat Tionghoa, Imlek bukan sekadar memperingati pergantian tahun baru dan menyambut keberuntungan.
Melainkan, momentum untuk berkumpul dengan keluarga, menonton pertunjukan barongsai, berbagi angpao, dan membersihkan patung-patung wihara.
”Pertunjukan barongsai maknanya mengusir roh jahat. Tapi, itu hanya ada di kota dengan jumlah umat terbanyak, sementara di sini kami hanya beribadah saja,” sambungnya.
Imlek juga bermakna menyambut masa tanam baru. Tema Imlek tahun ini adalah menjaga perdamaian dunia.
Artinya, semua umat Tionghoa ingin keberkahan hidup dan terwujudnya perdamaian dunia.
”Kalau saya hanya berharap selalu tercipta kedamaian, kondusivitas, dan diberikan kesehatan,” tuturnya.
Kosala Mahinda menambahkan, di Vihara Avalokitesvara ada patung Dewi Kwan Im yang dipenuhi dupa dan lilin.
Umat Tionghoa percaya, lilin yang menyala melambangkan penerangan dan dapat memperlancar rezeki.
”Sementara nuansa warna merah artinya kebahagiaan dan keberuntungan,” ungkapnya.
Sembari berkeliling wihara, Kosala menceritakan keunikan dalam perayaan Imlek. Yakni membaca 12 shio.
Di antaranya shio naga, ular, tikus, kerbau, macan, kelinci, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Sedangkan Imlek 2576 atau pada 2025 ini merupakan tahun ular kayu.
”Tiap tahun shionya berganti. Cuma kalau maknanya saya kurang memahami dan mendalami. Hanya suhu yang tahu,” tukasnya. (ay/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti