alexametrics
23.6 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Melihat Kiprah Ikatan Santri dan Alumni Darul Ulum Gersempal

Pesantren besar bisa dilihat dari para alumninya. Semakin banyak alumni yang berkontribusi terhadap umat, maka semakin dirasakan pula manfaatnya. Seperti alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Gersempal yang telah menyebar di berbagai daerah di tanah air.

IMAM S. ARIZAL, Sampang

PONDOK Pesantren Darul Ulum Gersempal Omben berdiri 1959 oleh KH Abd. Wahid Khudzaifah (alm). Awal-awal berdiri, santri yang bermukim bisa dihitung dengan jari. Lambat laun pesantren ini terus berkembang dan jumlah santri mencapai ratusan orang.

Terlebih nama pengasuh pesantren ini memang masyhur saat itu. Selain alim, Abd. Wahid Khudzaifah juga sering mengisi pengajian dan juga mengarang kitab. Hingga 1990-an, alumni Darul Ulum Gersempal sudah tersebar di berbagai daerah. Tapi domisili dan jumlah alumni belum terdata.

Dampak tidak adanya organisasi alumni mulai dirasakan oleh alumni dan pesantren. Saat pesantren membutuhkan swadaya untuk pembangunan, pengurus kesulitan untuk menemui alumni. Menemui satu per satu alumni juga dinilai kurang efektif.

Barulah pada 2000 dibentuk organisasi alumni. Diberi nama IS’AD singkatan dari Ikatan Santri dan Alumni Darul Ulum. Pendirian organisasi ini diinisiasi oleh KH Hambali, KH Baihaqi, H. Mustofa Amin, dan Ustad Abd. Rohim.

”Sebelum IS’AD berdiri, setiap ada kegiatan penambahan asrama atau gedung sekolah, kesulitan yang mau cari masing-masing rumah alunni,” kata Wakil Ketua Pengurus Pusat IS’AD Ustad Abd. Rohim di kantor Pondok Pesantren Darul Ulum Gersempal, Rabu (29/5).

Dia mengenang saat menjadi petugas penggalangan dana pembangunan pesantren. Pada 2000-an, Rohim menjadi ketua pengurus pondok. Dia bersama KH Hambali dan KH Baihaqi mengumpulkan dana pembangunan dari para alumni.

Baca Juga :  WFH? Yuk, Banyak Bergerak untuk Tingkatkan Imun

”Tiga orang ini kemudian berembuk bagaimana seandainya membentuk kegiatan organisasi alumni. Saat itu saya masih santri aktif, menjadi ketua pengurus pesantren,” jelas Rohim.

Tidak adanya organisasi alumni membuat ketiganya sulit mengumpulkan dana dari alumni. Komunikasi dengan para alumni juga tidak maksimal. Sebab, para alumni itu sudah tersebar di berbagai daerah dan sulit terdeteksi.

”Setelah tiga orang berembuk, sowan ke pengasuh KH Syafiuddin. Saat itu direstui, cuma diminta untuk belajar ke pesantren yang organisasi alumninya sudah kuat,” tambahnya.

Tujuan berdirinya IS’AD tidaklah terlalu muluk. Ada tiga yang paling diharapkan. Pertama, mempermudah jalinan silaturahmi antar alumni dengan pengasuh pesantren. Kedua, mempererat jalinan silaturahmi antar alumni dengan alumni. Ketiga, mempermudah pengawasan paham keagamaan masing-masing alumni.

”Ustad H. Rido’i ditunjuk menjadi ketua IS’AD pertama,” jelasnya. ”Ketua IS’AD saat ini RH Amin Syafiuddin,” imbuhnya.

Kepengurusan IS’AD saat ini terbentuk dari pusat hingga tingkat kecamatan. Pengurus pusat berkantor langsung di pesantren. Sementara pengurus cabang berada di daerah masing-masing tempat alumni bermukim.

Hingga saat ini sudah ada tujuh cabang IS’AD. Yakni, di Sampang, Pamekasan, Sumenep, Surabaya, DKI Jakarta, Pasuruan, dan Sidoarjo. Sementara untuk pengurus tingkat kecamatan baru berdiri di Sampang. ”Di kabupaten lain belum terbentuk, masih menyatu ke cabang,” urainya.

Baca Juga :  Meski Kuliah di Malang, Tetap Peduli Pendidikan Warga

Banyak kegiatan yang digelar oleh IS’AD. Ada koloman bulanan di tiap daerah. Isinya mulai dari ngaji, tahlil, salawat, hingga penguatan di bidang keagamaan. Ada pula kegiatan tiga bulanan, seperti digelar Pengurus Cabang IS’AD Surabaya dengan menghadirkan pengasuh pesantren.

Selain itu, IS’AD juga menggelar pertemuan tahunan rutin sekaligus peringatan berdirinya organisasi ini. Acara tersebut dilaksanakan di maqbarah KH Abd. Wahid Khudzaifah. Ribuan alumni dan simpatisan biasanya hadir dalam acara tersebut.

Ada pula kegiatan bahtsul masail seputar keagamaan, khususnya fiqh. Bahtsul masail ini diampu alumni senior yang memiliki kemampuan baca kitab. Pengampu meteri ini harus memiliki nasab dengan Pesantren Darul Ulum Gersempal.

Dari sisi penguatan ekonomi, IS’AD terus berupaya mandiri. Saat ini organisasi ini memiliki usaha kedai kopi di Surabaya. Juga memiliki kelompok seni hadrah. ”Jumlah anggota IS’AD yang terdata saat ini sekitar 3 ribu orang,” paparnya.

Selain penguatan alumni, IS’AD juga berkontribusi terhadap pesantren. IS’AD telah mampu memprakarsai pembangunan asrama santri yang kini menjadi Blok A. Bangunan seluas 7×40 meter persegi dengan 10 kamar itu dibangun dengan swadaya alumni dan simpatisan.

Saat ini Pondok Pesantren Darul Ulum Gersempal diasuh oleh KH Syafiuddin Abd. Wahid. Jumlah santri yang bermukim sekitar 1.500 orang. ”Pembangunan gedung madrasah diniyah dua lantai dengan ukuran 10×24 meter persegi yang terdiri dari enam ruang kelas juga diprakarsai oleh IS’AD,” tukasnya. 

Pesantren besar bisa dilihat dari para alumninya. Semakin banyak alumni yang berkontribusi terhadap umat, maka semakin dirasakan pula manfaatnya. Seperti alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Gersempal yang telah menyebar di berbagai daerah di tanah air.

IMAM S. ARIZAL, Sampang

PONDOK Pesantren Darul Ulum Gersempal Omben berdiri 1959 oleh KH Abd. Wahid Khudzaifah (alm). Awal-awal berdiri, santri yang bermukim bisa dihitung dengan jari. Lambat laun pesantren ini terus berkembang dan jumlah santri mencapai ratusan orang.


Terlebih nama pengasuh pesantren ini memang masyhur saat itu. Selain alim, Abd. Wahid Khudzaifah juga sering mengisi pengajian dan juga mengarang kitab. Hingga 1990-an, alumni Darul Ulum Gersempal sudah tersebar di berbagai daerah. Tapi domisili dan jumlah alumni belum terdata.

Dampak tidak adanya organisasi alumni mulai dirasakan oleh alumni dan pesantren. Saat pesantren membutuhkan swadaya untuk pembangunan, pengurus kesulitan untuk menemui alumni. Menemui satu per satu alumni juga dinilai kurang efektif.

Barulah pada 2000 dibentuk organisasi alumni. Diberi nama IS’AD singkatan dari Ikatan Santri dan Alumni Darul Ulum. Pendirian organisasi ini diinisiasi oleh KH Hambali, KH Baihaqi, H. Mustofa Amin, dan Ustad Abd. Rohim.

”Sebelum IS’AD berdiri, setiap ada kegiatan penambahan asrama atau gedung sekolah, kesulitan yang mau cari masing-masing rumah alunni,” kata Wakil Ketua Pengurus Pusat IS’AD Ustad Abd. Rohim di kantor Pondok Pesantren Darul Ulum Gersempal, Rabu (29/5).

Dia mengenang saat menjadi petugas penggalangan dana pembangunan pesantren. Pada 2000-an, Rohim menjadi ketua pengurus pondok. Dia bersama KH Hambali dan KH Baihaqi mengumpulkan dana pembangunan dari para alumni.

Baca Juga :  Panitia Pemilihan Kalebun Sentol Laok Gelar Debat Kandidat

”Tiga orang ini kemudian berembuk bagaimana seandainya membentuk kegiatan organisasi alumni. Saat itu saya masih santri aktif, menjadi ketua pengurus pesantren,” jelas Rohim.

Tidak adanya organisasi alumni membuat ketiganya sulit mengumpulkan dana dari alumni. Komunikasi dengan para alumni juga tidak maksimal. Sebab, para alumni itu sudah tersebar di berbagai daerah dan sulit terdeteksi.

”Setelah tiga orang berembuk, sowan ke pengasuh KH Syafiuddin. Saat itu direstui, cuma diminta untuk belajar ke pesantren yang organisasi alumninya sudah kuat,” tambahnya.

Tujuan berdirinya IS’AD tidaklah terlalu muluk. Ada tiga yang paling diharapkan. Pertama, mempermudah jalinan silaturahmi antar alumni dengan pengasuh pesantren. Kedua, mempererat jalinan silaturahmi antar alumni dengan alumni. Ketiga, mempermudah pengawasan paham keagamaan masing-masing alumni.

”Ustad H. Rido’i ditunjuk menjadi ketua IS’AD pertama,” jelasnya. ”Ketua IS’AD saat ini RH Amin Syafiuddin,” imbuhnya.

Kepengurusan IS’AD saat ini terbentuk dari pusat hingga tingkat kecamatan. Pengurus pusat berkantor langsung di pesantren. Sementara pengurus cabang berada di daerah masing-masing tempat alumni bermukim.

Hingga saat ini sudah ada tujuh cabang IS’AD. Yakni, di Sampang, Pamekasan, Sumenep, Surabaya, DKI Jakarta, Pasuruan, dan Sidoarjo. Sementara untuk pengurus tingkat kecamatan baru berdiri di Sampang. ”Di kabupaten lain belum terbentuk, masih menyatu ke cabang,” urainya.

Baca Juga :  Penyelenggara Pilkada Sumenep Urung Bekerja setelah Diambil Sumpah

Banyak kegiatan yang digelar oleh IS’AD. Ada koloman bulanan di tiap daerah. Isinya mulai dari ngaji, tahlil, salawat, hingga penguatan di bidang keagamaan. Ada pula kegiatan tiga bulanan, seperti digelar Pengurus Cabang IS’AD Surabaya dengan menghadirkan pengasuh pesantren.

Selain itu, IS’AD juga menggelar pertemuan tahunan rutin sekaligus peringatan berdirinya organisasi ini. Acara tersebut dilaksanakan di maqbarah KH Abd. Wahid Khudzaifah. Ribuan alumni dan simpatisan biasanya hadir dalam acara tersebut.

Ada pula kegiatan bahtsul masail seputar keagamaan, khususnya fiqh. Bahtsul masail ini diampu alumni senior yang memiliki kemampuan baca kitab. Pengampu meteri ini harus memiliki nasab dengan Pesantren Darul Ulum Gersempal.

Dari sisi penguatan ekonomi, IS’AD terus berupaya mandiri. Saat ini organisasi ini memiliki usaha kedai kopi di Surabaya. Juga memiliki kelompok seni hadrah. ”Jumlah anggota IS’AD yang terdata saat ini sekitar 3 ribu orang,” paparnya.

Selain penguatan alumni, IS’AD juga berkontribusi terhadap pesantren. IS’AD telah mampu memprakarsai pembangunan asrama santri yang kini menjadi Blok A. Bangunan seluas 7×40 meter persegi dengan 10 kamar itu dibangun dengan swadaya alumni dan simpatisan.

Saat ini Pondok Pesantren Darul Ulum Gersempal diasuh oleh KH Syafiuddin Abd. Wahid. Jumlah santri yang bermukim sekitar 1.500 orang. ”Pembangunan gedung madrasah diniyah dua lantai dengan ukuran 10×24 meter persegi yang terdiri dari enam ruang kelas juga diprakarsai oleh IS’AD,” tukasnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/