alexametrics
28.7 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Ajak Warganet Bijak dan Cerdas Gunakan Medsos

SAMPANG – Hoaks membahayakan bagi ketenteraman masyarakat. Selain membuat warga resah, hoaks bisa memicu konflik. Lebih baik mengkaji sebelum membagikan informasi yang belum jelas.

Hoks yang bertebaran di jagad media sosial (medsos) meresahkan masyarakat. Tidak sedikit kasus bermula dari hoaks. Kemudian berubah menjadi sebab musabab munculnya konflik.

Kebanyakan warganet tidak terbiasa mempelajari informasi yang diterima. Tanpa menganalisis, warganet langsung membagikan informasi sebelum bertabayyun dan mencari referensi valid.

Karena itu, Polres Sampang mengadakan Temu Netizen dalam rangka Penguatan Opini Positif di salah satu rumah makan di Jalan Jamaluddin, Jumat malam (28/12). Kegiatan yang dilakukan secara nonformal itu dihadiri perwakilan lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kepemudaan, (OKP), dan sejumlah netizen atau admin yang mengelola akun medsos di Sampang.

Acara itu menjadi magnet bagi netizen dari kalangan remaja untuk ambil bagian menangkal dan memerangi hoaks. Mereka mendeklarasikan sebagai partner polisi dalam memerangi hoaks dan SARA dengan membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk sikap bahwa Sampang antihoaks dan SARA.

Sebagai pemateri, Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman menyampaikan dampak negatif yang ditimbulkan hoaks yang disebar melalui medsos. Termasuk ancaman pidana bagi pihak yang sengaja menyebarkan informasi bohong itu. 

Baca Juga :  Tingkatkan Pembangunan, Pacu Ekonomi

Warga yang terbukti melakukannya bisa dijerat enam tahun kurungan penjara dan denda Rp 1 miliar. Hal itu berdasarkan Pasal 28 ayat 1 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). ”Kami ingin Sampang bersih dari informasi-informasi itu,” tuturnya.

Pihaknya berupaya mengajak masyarakat menjadi pengguna media yang baik, bijak, dan cerdas. Salah satunya, mempelajari terlebih dahulu semua informasi yang diterima sebelum dibagikan. Sebab, hoaks dan SARA dapat menganggu dan menimbulkan dampak yang macam-macam di tengah masyarakat.

Menurut Budi, informasi hoaks sering kali memicu karesahan, kegaduhan, dan konflik sosial. Terburuk memicu konflik agama. Karena itu, pihaknya tidak ingin Sampang tertular virus melalui sebaran hoaks di jagad medsos.

”Masyarakat harus melek media. Jangan mudah membagikan informasi sebelum disaring. Agar tidak disebut sumbu pendek, jangan mudah mengambil kesimpulan,” kata perwira dengan dua melati emas di pundaknya itu.

Apabila masyarakat menerima informasi yang mengaburkan dan membuat bingung, lebih baik melakukan klarifikasi dan mencari perbandingan dari sumber atau referensi lain. Banyaknya informasi yang masuk memang sulit dibendung. Jika masyarakat bijak dan cerdas menggunakan medsos, dirinya yakin propaganda dari berita hoaks tidak akan berpengaruh apa pun terhadap kepribadian dan pendirian warga.

Baca Juga :  Kiprah Alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kebun Baru

Hoaks yang sempat menghebohkan warga Sampang yaitu video pendek ada gelombang tinggi atau banjir rob di Desa Taddan, Kecamatan Camplong. Setelah anggota terjun ke lokasi, ternyata kabar itu tidak benar dan di lokasi tidak terjadi seperti di video itu.

”Kami harap bagi warga yang suka, biasa atau sekedar iseng mengirimkan kabar bohong untuk berhenti supaya tidak berurusan dengan hukum,” sarannya.

Dia menyarankan warganet menggunakan medsos dengan sehat. Jangan mudah memberikan sikap apalagi bertindak sebelum mengetahui betul letak kebenaran sesungguhnya. Berselancar di medsos juga harus bisa menjaga dan menunjukkan perilaku baik. ”Cara menangkalnya, harus dimulai dari pribadi kita sendiri,” katanya. 

Pihaknya juga tidak hanya sebatas menggelar pertemuan dengan netizen untuk memerangi hoaks. Tetapi, akan bergerak dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya hoaks. Juga melibatkan siswa di lembaga pendidikan agar bisa mana menilai berita hoaks dan bukan.

”Kami sudah berkoordinasi dengan Diskominfo Sampang untuk sama-sama bergerak melawan hoaks. Kami harap upaya ini bisa mendapat dukungan dari masyarakat. Yakni, dengan lebih bijak menggunakan medsos,” kata Budi.

Kegiatan itu juga dihadiri Dandim 0828 Letkol Czi Ary Syahrial, Wakapolres Kompol Suhartono beserta jajaran.

- Advertisement -

SAMPANG – Hoaks membahayakan bagi ketenteraman masyarakat. Selain membuat warga resah, hoaks bisa memicu konflik. Lebih baik mengkaji sebelum membagikan informasi yang belum jelas.

Hoks yang bertebaran di jagad media sosial (medsos) meresahkan masyarakat. Tidak sedikit kasus bermula dari hoaks. Kemudian berubah menjadi sebab musabab munculnya konflik.

Kebanyakan warganet tidak terbiasa mempelajari informasi yang diterima. Tanpa menganalisis, warganet langsung membagikan informasi sebelum bertabayyun dan mencari referensi valid.


Karena itu, Polres Sampang mengadakan Temu Netizen dalam rangka Penguatan Opini Positif di salah satu rumah makan di Jalan Jamaluddin, Jumat malam (28/12). Kegiatan yang dilakukan secara nonformal itu dihadiri perwakilan lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kepemudaan, (OKP), dan sejumlah netizen atau admin yang mengelola akun medsos di Sampang.

Acara itu menjadi magnet bagi netizen dari kalangan remaja untuk ambil bagian menangkal dan memerangi hoaks. Mereka mendeklarasikan sebagai partner polisi dalam memerangi hoaks dan SARA dengan membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk sikap bahwa Sampang antihoaks dan SARA.

Sebagai pemateri, Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman menyampaikan dampak negatif yang ditimbulkan hoaks yang disebar melalui medsos. Termasuk ancaman pidana bagi pihak yang sengaja menyebarkan informasi bohong itu. 

Baca Juga :  Pembangunan Sampang Sport Center Molor

Warga yang terbukti melakukannya bisa dijerat enam tahun kurungan penjara dan denda Rp 1 miliar. Hal itu berdasarkan Pasal 28 ayat 1 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). ”Kami ingin Sampang bersih dari informasi-informasi itu,” tuturnya.

Pihaknya berupaya mengajak masyarakat menjadi pengguna media yang baik, bijak, dan cerdas. Salah satunya, mempelajari terlebih dahulu semua informasi yang diterima sebelum dibagikan. Sebab, hoaks dan SARA dapat menganggu dan menimbulkan dampak yang macam-macam di tengah masyarakat.

Menurut Budi, informasi hoaks sering kali memicu karesahan, kegaduhan, dan konflik sosial. Terburuk memicu konflik agama. Karena itu, pihaknya tidak ingin Sampang tertular virus melalui sebaran hoaks di jagad medsos.

”Masyarakat harus melek media. Jangan mudah membagikan informasi sebelum disaring. Agar tidak disebut sumbu pendek, jangan mudah mengambil kesimpulan,” kata perwira dengan dua melati emas di pundaknya itu.

Apabila masyarakat menerima informasi yang mengaburkan dan membuat bingung, lebih baik melakukan klarifikasi dan mencari perbandingan dari sumber atau referensi lain. Banyaknya informasi yang masuk memang sulit dibendung. Jika masyarakat bijak dan cerdas menggunakan medsos, dirinya yakin propaganda dari berita hoaks tidak akan berpengaruh apa pun terhadap kepribadian dan pendirian warga.

Baca Juga :  Berprestasi Tingkat Nasional, Minim Apresiasi Pemerintah

Hoaks yang sempat menghebohkan warga Sampang yaitu video pendek ada gelombang tinggi atau banjir rob di Desa Taddan, Kecamatan Camplong. Setelah anggota terjun ke lokasi, ternyata kabar itu tidak benar dan di lokasi tidak terjadi seperti di video itu.

”Kami harap bagi warga yang suka, biasa atau sekedar iseng mengirimkan kabar bohong untuk berhenti supaya tidak berurusan dengan hukum,” sarannya.

Dia menyarankan warganet menggunakan medsos dengan sehat. Jangan mudah memberikan sikap apalagi bertindak sebelum mengetahui betul letak kebenaran sesungguhnya. Berselancar di medsos juga harus bisa menjaga dan menunjukkan perilaku baik. ”Cara menangkalnya, harus dimulai dari pribadi kita sendiri,” katanya. 

Pihaknya juga tidak hanya sebatas menggelar pertemuan dengan netizen untuk memerangi hoaks. Tetapi, akan bergerak dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya hoaks. Juga melibatkan siswa di lembaga pendidikan agar bisa mana menilai berita hoaks dan bukan.

”Kami sudah berkoordinasi dengan Diskominfo Sampang untuk sama-sama bergerak melawan hoaks. Kami harap upaya ini bisa mendapat dukungan dari masyarakat. Yakni, dengan lebih bijak menggunakan medsos,” kata Budi.

Kegiatan itu juga dihadiri Dandim 0828 Letkol Czi Ary Syahrial, Wakapolres Kompol Suhartono beserta jajaran.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/