alexametrics
22.3 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

Ika Arista, Perajin Keris Perempuan Satu-satunya di Indonesia

Istilah perempuan cukup di kasur, dapur, dan sumur tak berlaku bagi Ika. Pekerjaan yang biasa ditangani kaum adam digeluti. Besi dan kayu menjadi teman profesi perempuan asli Desa Aeng Tongtong ini setiap hari.

SORE itu Ika mengenakan kaus hitam. Perempuan yang memiliki nama belakang Arista ini melempar senyum menyambut Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Bising gerinda dan dentingan besi akrab terdengar di sepanjang jalan kawasan Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi. Rumah Ika tak jauh dari balai desa setempat. Sekitar 50 meter ke arah barat.

Di kanan kiri jalan terlihat banyak perajin keris. Inilah Desa Wisata Keris yang ditetapkan Pemkab Sumenep pada 2018. Jarak tempuh dari pusat perkotaan ke desa ini sekitar 30 menit dengan kecepatan sedang.

Berbicara keris, Ika menjadi sosok yang menonjol di antara para perajin yang  lain. Perempuan kelahiran Sumenep, 11 Mei 1990 itu merupakan satu-satunya kaum hawa yang eksis bergelut dengan produk warisan budaya ini. Memang banyak perempuan di Desa Aeng Tongtong yang terlibat dalam pembuatan keris. Namun, tak sedalam penyelaman Ika dalam dunia perkerisan. Selain masih muda, juga energik, plus lajang.

Rambut panjangnya diikat saat menjamu JPRM di ruang tamu. Puluhan keris karya tangan dinginnya berjejer berdampingan dengan rak penuh buku. Ada juga yang tergeletak di meja dan lantai. Keris, keris, keris, begitu banyak buku berjudul keris yang dimiliki.

”Sebagai referensi. Tapi kebanyakan buku itu tentang keris Jawa. Karena di Sumenep sendiri sulit menemukan referensi. Nanti saya buat (buku keris),” ucapnya tertawa kecil.

Satu keris membuat mata ini tertarik melihatnya. Ika memberinya nama keris Trunojoyo. Nama itu tidak asal disematkan pada pusaka tersebut. Keris karyanya itu dibuat berdasarkan hasil riset yang dilakukan atas dua versi cerita tentang sosok tersebut di Madura dan Jogjakarta.

Di Madura, Trunojoyo dianggap sebagai pahlawan. Sementara di negeri Mataram, pangeran tersebut dianggap tidak setia pada negara. Maka dari itu, dua sisi keris memiliki corak berbeda. Satu sisi, pamor keris lebih terlihat dibandingkan sisi lain yang hitam polos. Keris tersebut juga dipamerkan pada salah satu event yang digelar di Jogjakarta awal 2019.

Keterlibatannya dalam kerajinan keris dimulai sejak duduk di bangku kelas 4 di SDN Aeng Tongtong. Sekitar 20 tahun lalu. Saat itu, dia mulai belajar membuat sarung keris. Awalnya karena iseng. Ingin mencoba pekerjaan yang dilakukan sang ayah. Masa belajarnya saat itu tergolong sulit. Sebab, pembuatan keris masih menggunakan cara tradisional. Berbeda dengan saat ini yang sudah serba modern dengan hadirnya gerinda dan bor listrik.

Baca Juga :  Kiprah Ikatan Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar

”Dikasih uang Rp 5 ribu sebagai upah. Uang segitu waktu SD sudah cukup banyak buat jajan. Dari uang itu semakin tertarik untuk belajar biar dikasih uang,” ungkap perempuan yang menuntaskan pendidikan menengahnya di MTs dan MA At-Taufiqiyah itu.

Lulus SD, Ika berhenti belajar membuat keris selama enam tahun. Semasa sekolah di pesantren hingga lulus MA. Namun ketertarikannya pada pembuatan keris kembali mencuat saat Ika melanjutkan pendidikan strata satu di STKIP PGRI Sumenep. Ika tergolong mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Karena usai kuliah, dia kembali ke rumah untuk mengais pundi rupiah dari pembuatan sarung keris.

Materi jadi target utamanya saat itu. Untuk menopang ekonomi keluarga dan biaya kuliah. Di akhir-akhir masa menempa ilmu di perguruan tinggi, Ika mulai belajar membuat keris. Membentuk besi menjadi pusaka yang bernilai. Namun, saat itu dia masih belajar menggunakan kayu. Mulai dari mengukir dan membentuk keris sebelum benar-benar menggunakan media besi.

Keahlian itu pun berhasil dikuasai. Seiring berjalannya waktu, gelar sarjana disandang putri sulung pasangan Misbah dan Lutmiyati itu pada 2013. Sempat sirna untuk kembali berprofesi sebagai perajin keris. Dia mencoba peruntungan ke Jakarta setahun setelah lulus kuliah.

”Dua tahun. Jadi admin salah satu restoran. Dari situ ketemu banyak orang. Dari berbagai suku dengan ragam kebudayaan. Saat itu jadi ingat dengan aktivitas di rumah,” cerita Ika sembari menyodorkan kopi hitam hangat.

Tahun 2016, dia memutuskan berhenti dari pekerjaan sebagai administrator restoran. Namun Ika tak langsung kembali ke Madura, dia pulang ke rumah ibunya di Blitar. Perempuan berdarah Jawa-Madura ini kemudian semakin banyak bertemu orang yang suka dengan kebudayaan di kota kelahiran sang proklamator Kemerdekaan Indonesia ini. Terlebih dia juga mengenal salah seorang kolektor keris keturunan Tionghoa, namun sangat kental kecintaannya kepada budaya nusantara.

Dari situlah, kakak Dafid Dwi Cahyono dan Nurizzatin Nabila ini semakin rindu dengan Desa Aeng Tongtong. Mulai berpikir untuk kembali ambil bagian dalam pelestarian kebudayaan di tanah kelahirannya. Lambat laun dasar materi yang dulu dikejarnya dalam membuat keris itu bergeser. Mulai paham jika membuat keris itu tidak sebatas untuk tujuan ekonomi. Tapi, sebagai bentuk pelestarian warisan budaya. Apalagi Sumenep mendapat julukan Kota Keris pada 2014 karena memiliki perajin terbanyak di dunia. Dari uang berubah menjadi kecintaan.

Baca Juga :  Cedera, Tetap Berlatih Bersama Timnas U-19

Pada 2017 dia kembali ke Sumenep. Ika mulai menyisir keberadaan para sesepuh perajin di desanya. Mencari kitab-kitab keris kuno. Keinginannya untuk benar-benar mengetahui sejarah, teknik pembuatan, dan segala hal tentang keris tak terbendung lagi. Saat ini, perempuan berkulit sawo matang ini sudah menguasai teknik pembuatan keris. Mulai dari penempaan, pembentukan pola, mengukir, membuat sarung, hingga siap dipasarkan.

Aktivitasnya saat ini tidak hanya di bengkel pembuatan keris. Sejumlah event pameran keris diikuti. Untuk menambah pengalaman dan saling berbagi antar pencinta pusaka khas Nusantara. Termasuk diundang dalam beberapa forum kajian kebudayaan. Keris hasil karyanya sudah banyak dipesan orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya Lombok, Sumatera, dan Kalimantan.

Perempuan yang juga tergabung dalam kelompok Pelar Agung Aeng Tongtong ini berharap masih banyak generasi muda yang peduli dan cinta dengan kebudayaan khas daerahnya. Dia mengajak pemuda agar ikut terlibat sekecil apa pun dalam pelestarian warisan leluhur yang menjadi identitas bangsa.

”Busur jika ingin melesat jauh, harus ditarik ke belakang. Jika kita ingin menjadi bangsa yang besar di masa yang akan datang, jangan pernah lupakan sejarah,” pesan perempuan 29 ini.

Keris di Sumenep mendapat pengakuan dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Organisasi yang bergerak di bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mencatat, perajin keris terbanyak di dunia ada di Sumenep. Jumlah perajin pusaka warisan leluhur ini di Sumenep mencapai 652 orang pada 2018.

Bupati A. Busyro Karim menyampaikan, selain memiliki perajin terbanyak di dunia, Sumenep juga memiliki satu-satunya perajin keris perempuan di Indonesia. Dia berharap generasi muda bisa ikut mengembangkan dan melestarikan kebudayaan nenek moyang agar identitas sebagai bangsa yang besar tidak luntur.

”Tentu membanggakan. Satu-satunya perajin perempuan di Indonesia. Mungkin bahkan di dunia. Patut ditiru oleh generasi muda,” katanya.

- Advertisement -

Istilah perempuan cukup di kasur, dapur, dan sumur tak berlaku bagi Ika. Pekerjaan yang biasa ditangani kaum adam digeluti. Besi dan kayu menjadi teman profesi perempuan asli Desa Aeng Tongtong ini setiap hari.

SORE itu Ika mengenakan kaus hitam. Perempuan yang memiliki nama belakang Arista ini melempar senyum menyambut Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Bising gerinda dan dentingan besi akrab terdengar di sepanjang jalan kawasan Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi. Rumah Ika tak jauh dari balai desa setempat. Sekitar 50 meter ke arah barat.

Di kanan kiri jalan terlihat banyak perajin keris. Inilah Desa Wisata Keris yang ditetapkan Pemkab Sumenep pada 2018. Jarak tempuh dari pusat perkotaan ke desa ini sekitar 30 menit dengan kecepatan sedang.


Berbicara keris, Ika menjadi sosok yang menonjol di antara para perajin yang  lain. Perempuan kelahiran Sumenep, 11 Mei 1990 itu merupakan satu-satunya kaum hawa yang eksis bergelut dengan produk warisan budaya ini. Memang banyak perempuan di Desa Aeng Tongtong yang terlibat dalam pembuatan keris. Namun, tak sedalam penyelaman Ika dalam dunia perkerisan. Selain masih muda, juga energik, plus lajang.

Rambut panjangnya diikat saat menjamu JPRM di ruang tamu. Puluhan keris karya tangan dinginnya berjejer berdampingan dengan rak penuh buku. Ada juga yang tergeletak di meja dan lantai. Keris, keris, keris, begitu banyak buku berjudul keris yang dimiliki.

”Sebagai referensi. Tapi kebanyakan buku itu tentang keris Jawa. Karena di Sumenep sendiri sulit menemukan referensi. Nanti saya buat (buku keris),” ucapnya tertawa kecil.

Satu keris membuat mata ini tertarik melihatnya. Ika memberinya nama keris Trunojoyo. Nama itu tidak asal disematkan pada pusaka tersebut. Keris karyanya itu dibuat berdasarkan hasil riset yang dilakukan atas dua versi cerita tentang sosok tersebut di Madura dan Jogjakarta.

Di Madura, Trunojoyo dianggap sebagai pahlawan. Sementara di negeri Mataram, pangeran tersebut dianggap tidak setia pada negara. Maka dari itu, dua sisi keris memiliki corak berbeda. Satu sisi, pamor keris lebih terlihat dibandingkan sisi lain yang hitam polos. Keris tersebut juga dipamerkan pada salah satu event yang digelar di Jogjakarta awal 2019.

Keterlibatannya dalam kerajinan keris dimulai sejak duduk di bangku kelas 4 di SDN Aeng Tongtong. Sekitar 20 tahun lalu. Saat itu, dia mulai belajar membuat sarung keris. Awalnya karena iseng. Ingin mencoba pekerjaan yang dilakukan sang ayah. Masa belajarnya saat itu tergolong sulit. Sebab, pembuatan keris masih menggunakan cara tradisional. Berbeda dengan saat ini yang sudah serba modern dengan hadirnya gerinda dan bor listrik.

Baca Juga :  Empu Ika Arista Usung Pameran Bertajuk Sekep di Biennale Jogja XVI

”Dikasih uang Rp 5 ribu sebagai upah. Uang segitu waktu SD sudah cukup banyak buat jajan. Dari uang itu semakin tertarik untuk belajar biar dikasih uang,” ungkap perempuan yang menuntaskan pendidikan menengahnya di MTs dan MA At-Taufiqiyah itu.

Lulus SD, Ika berhenti belajar membuat keris selama enam tahun. Semasa sekolah di pesantren hingga lulus MA. Namun ketertarikannya pada pembuatan keris kembali mencuat saat Ika melanjutkan pendidikan strata satu di STKIP PGRI Sumenep. Ika tergolong mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Karena usai kuliah, dia kembali ke rumah untuk mengais pundi rupiah dari pembuatan sarung keris.

Materi jadi target utamanya saat itu. Untuk menopang ekonomi keluarga dan biaya kuliah. Di akhir-akhir masa menempa ilmu di perguruan tinggi, Ika mulai belajar membuat keris. Membentuk besi menjadi pusaka yang bernilai. Namun, saat itu dia masih belajar menggunakan kayu. Mulai dari mengukir dan membentuk keris sebelum benar-benar menggunakan media besi.

Keahlian itu pun berhasil dikuasai. Seiring berjalannya waktu, gelar sarjana disandang putri sulung pasangan Misbah dan Lutmiyati itu pada 2013. Sempat sirna untuk kembali berprofesi sebagai perajin keris. Dia mencoba peruntungan ke Jakarta setahun setelah lulus kuliah.

”Dua tahun. Jadi admin salah satu restoran. Dari situ ketemu banyak orang. Dari berbagai suku dengan ragam kebudayaan. Saat itu jadi ingat dengan aktivitas di rumah,” cerita Ika sembari menyodorkan kopi hitam hangat.

Tahun 2016, dia memutuskan berhenti dari pekerjaan sebagai administrator restoran. Namun Ika tak langsung kembali ke Madura, dia pulang ke rumah ibunya di Blitar. Perempuan berdarah Jawa-Madura ini kemudian semakin banyak bertemu orang yang suka dengan kebudayaan di kota kelahiran sang proklamator Kemerdekaan Indonesia ini. Terlebih dia juga mengenal salah seorang kolektor keris keturunan Tionghoa, namun sangat kental kecintaannya kepada budaya nusantara.

Dari situlah, kakak Dafid Dwi Cahyono dan Nurizzatin Nabila ini semakin rindu dengan Desa Aeng Tongtong. Mulai berpikir untuk kembali ambil bagian dalam pelestarian kebudayaan di tanah kelahirannya. Lambat laun dasar materi yang dulu dikejarnya dalam membuat keris itu bergeser. Mulai paham jika membuat keris itu tidak sebatas untuk tujuan ekonomi. Tapi, sebagai bentuk pelestarian warisan budaya. Apalagi Sumenep mendapat julukan Kota Keris pada 2014 karena memiliki perajin terbanyak di dunia. Dari uang berubah menjadi kecintaan.

Baca Juga :  Cedera, Tetap Berlatih Bersama Timnas U-19

Pada 2017 dia kembali ke Sumenep. Ika mulai menyisir keberadaan para sesepuh perajin di desanya. Mencari kitab-kitab keris kuno. Keinginannya untuk benar-benar mengetahui sejarah, teknik pembuatan, dan segala hal tentang keris tak terbendung lagi. Saat ini, perempuan berkulit sawo matang ini sudah menguasai teknik pembuatan keris. Mulai dari penempaan, pembentukan pola, mengukir, membuat sarung, hingga siap dipasarkan.

Aktivitasnya saat ini tidak hanya di bengkel pembuatan keris. Sejumlah event pameran keris diikuti. Untuk menambah pengalaman dan saling berbagi antar pencinta pusaka khas Nusantara. Termasuk diundang dalam beberapa forum kajian kebudayaan. Keris hasil karyanya sudah banyak dipesan orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya Lombok, Sumatera, dan Kalimantan.

Perempuan yang juga tergabung dalam kelompok Pelar Agung Aeng Tongtong ini berharap masih banyak generasi muda yang peduli dan cinta dengan kebudayaan khas daerahnya. Dia mengajak pemuda agar ikut terlibat sekecil apa pun dalam pelestarian warisan leluhur yang menjadi identitas bangsa.

”Busur jika ingin melesat jauh, harus ditarik ke belakang. Jika kita ingin menjadi bangsa yang besar di masa yang akan datang, jangan pernah lupakan sejarah,” pesan perempuan 29 ini.

Keris di Sumenep mendapat pengakuan dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Organisasi yang bergerak di bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mencatat, perajin keris terbanyak di dunia ada di Sumenep. Jumlah perajin pusaka warisan leluhur ini di Sumenep mencapai 652 orang pada 2018.

Bupati A. Busyro Karim menyampaikan, selain memiliki perajin terbanyak di dunia, Sumenep juga memiliki satu-satunya perajin keris perempuan di Indonesia. Dia berharap generasi muda bisa ikut mengembangkan dan melestarikan kebudayaan nenek moyang agar identitas sebagai bangsa yang besar tidak luntur.

”Tentu membanggakan. Satu-satunya perajin perempuan di Indonesia. Mungkin bahkan di dunia. Patut ditiru oleh generasi muda,” katanya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Pengembang Lalai, Pemerintah Abai

Izin Perumahan Dipersoalkan

Tahapan PAW 3 Desa Ditunda

Dokter Dibyo Itu Teladan

Artikel Terbaru

/