alexametrics
21.7 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Kisah Kiki Amelia, Siswi Lumpuh yang Ingin Jadi Penulis Novel

PAMEKASAN – Ibarat hendak naik ke puncak gunung, Kiki Amelia Agustin harus berjalan merangkak. Dia merangkak dengan tegar. Sebab jika berdiam diri, dia akan tetap berada di kaki bukit dan tidak bisa mengejar cita-cita.

Kulit Kiki Amelia Agustin kuning langsat. Anak berusia 14 tahun itu memiliki senyum yang khas. Dia akrab dengan anak seusianya yang kini sama-sama duduk di kelas VIII SMPN 5 Pamekasan. Kiki memiliki keterbatasan fisik dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.

Saat hendak sekolah, dia tidak bisa berjalan sendiri. Di ruang kelas Kiki menggunakan kursi roda. Dia mengalami lumpuh sejak sekitar enam tahun lalu akibat kecelakaan di Surabaya. Saat itu, dia bersama keluarganya tinggal di Surabaya.

Sebab, ibu dan ayah Kiki bekerja di Kota Pahlawan. ”Waktu itu saya masih duduk di kelas III SD,” ujar Kiki menceritakan kapan dia kali pertama lumpuh.

Berbagai upaya telah dilakukan agar Kiki bisa kembali sembuh dan berjalan normal. Namun, upaya keluarganya belum menemukan hasil. Kiki lumpuh dan belum sembuh hingga saat ini.

Akibat lumpuh, Suprapti, 41, ibu kandung Kiki, sempat memintanya untuk berhenti sekolah. Dia tidak tega melihat anaknya harus pakai kursi roda di sekolah. Dia takut anaknya menjadi bahan olok-olok ketika bersama teman-temannya.

Baca Juga :  Gelorakan Islam sebagai Agama Ramah Budaya

Tetapi, Kiki berhati tegar. Dia meminta orang tuanya tetap mengantarnya ke sekolah. Kala itu dia setiap hari diantar dengan sepeda ontel oleh ibunya ke SDN Bulak Rukem II, Surabaya, tempat Kiki menempuh pendidikan dasar.

Rutinitas itu terus dilakukan hingga dia menempuh pendidikan lanjutan di SMPN 31 Surabaya. ”Kalau tidak sekolah, tinggal di rumah tidak ada gunanya. Saya ingin sekolah supaya pintar,” kata Kiki.

Ketika memasuki kelas VIII, keluarga Kiki pindah domisili ke Kelurahan Barurambat Kota, Kecamatan Kota Pamekasan, tepatnya di Jalan Niaga, Gang I. Ibu kandung Kiki memang berasal dari daerah tersebut. Dia resmi pindah ke SMPN 5 Pamekasan sejak 8 Juli 2017.

”Saya pernah minder. Soalnya banyak teman-teman yang ngelihatin, kok digendong, gitu,” curhatnya.

Yang paling membuatnya terasa sesak yaitu ketika ada kegiatan ekstrakurikuler. Terutama saat kegiatan seni tari. Dia sendiri yang tidak bisa mengikuti kegiatan yang menuntut orang bisa berdiri tersebut. ”Saya tidak bisa ikut. Bisanya lihat saja dari jauh,” kata putri Mashadi ini.

Meski mengalami keterbatasan fisik, Kiki tetap berprestasi. Dalam daftar nilai terakhir di SMPN 31 Surabaya, nilainya cukup bagus. Dari semua pelajaran, rata-rata dia meraih nilai 85–90, atau nilai A dan B. Tidak ada satu pun mata pelajaran yang mendapat nilai C. Bahkan dia masuk kelas favorit ketika di Surabaya.

Baca Juga :  Pekerja Legal Lebih Leluasa

Kepada Jawa Pos Radar Madura, Kiki mengaku bercita-cita menjadi penulis novel. Raditya Dika merupakan salah seorang penulis favoritnya. Aktor film dan komedian itu dinilai memiliki pribadi yang komplet. ”Selain banyak menulis, Raditya Dika aktor film yang top,” katanya.

Kiki berharap kelak pendidikannya bisa berjalan lancar. Dia ingin menjadi orang yang sukses dan bisa membanggakan keluarga. Dia berharap ketika dia sukses, ibunya bisa ikut bangga.

Saat ini ibu Kiki menjadi pedagang kaki lima di area Arek Lancor Pamekasan. Saat pulang sekolah atau hari libur, Kiki sering membantu ibunya berjualan. Meski dengan keterbatasan fisik, dia menjalaninya dengan ikhlas. ”Saya ingin mengangkat derajat keluarga saya,” tuturnya.

Kepala Disdik Pamekasan Moch. Tarsun mengaku terharu dengan kisah Kiki Amelia Agustin. Karena itulah, dia menemui langsung pelajar inspiratif itu di sekolah. Sebelum ke sekolah, Tarsun juga sempat mampir ke rumah orang tua Kiki di Jalan Niaga, Gang I.

”Kami bangga ada anak seperti Kiki. Segala kebutuhan pendidikannya akan kami tanggung,” tegasnya.

PAMEKASAN – Ibarat hendak naik ke puncak gunung, Kiki Amelia Agustin harus berjalan merangkak. Dia merangkak dengan tegar. Sebab jika berdiam diri, dia akan tetap berada di kaki bukit dan tidak bisa mengejar cita-cita.

Kulit Kiki Amelia Agustin kuning langsat. Anak berusia 14 tahun itu memiliki senyum yang khas. Dia akrab dengan anak seusianya yang kini sama-sama duduk di kelas VIII SMPN 5 Pamekasan. Kiki memiliki keterbatasan fisik dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.

Saat hendak sekolah, dia tidak bisa berjalan sendiri. Di ruang kelas Kiki menggunakan kursi roda. Dia mengalami lumpuh sejak sekitar enam tahun lalu akibat kecelakaan di Surabaya. Saat itu, dia bersama keluarganya tinggal di Surabaya.

Sebab, ibu dan ayah Kiki bekerja di Kota Pahlawan. ”Waktu itu saya masih duduk di kelas III SD,” ujar Kiki menceritakan kapan dia kali pertama lumpuh.

Berbagai upaya telah dilakukan agar Kiki bisa kembali sembuh dan berjalan normal. Namun, upaya keluarganya belum menemukan hasil. Kiki lumpuh dan belum sembuh hingga saat ini.

Akibat lumpuh, Suprapti, 41, ibu kandung Kiki, sempat memintanya untuk berhenti sekolah. Dia tidak tega melihat anaknya harus pakai kursi roda di sekolah. Dia takut anaknya menjadi bahan olok-olok ketika bersama teman-temannya.

Baca Juga :  Gelorakan Islam sebagai Agama Ramah Budaya

Tetapi, Kiki berhati tegar. Dia meminta orang tuanya tetap mengantarnya ke sekolah. Kala itu dia setiap hari diantar dengan sepeda ontel oleh ibunya ke SDN Bulak Rukem II, Surabaya, tempat Kiki menempuh pendidikan dasar.

Rutinitas itu terus dilakukan hingga dia menempuh pendidikan lanjutan di SMPN 31 Surabaya. ”Kalau tidak sekolah, tinggal di rumah tidak ada gunanya. Saya ingin sekolah supaya pintar,” kata Kiki.

Ketika memasuki kelas VIII, keluarga Kiki pindah domisili ke Kelurahan Barurambat Kota, Kecamatan Kota Pamekasan, tepatnya di Jalan Niaga, Gang I. Ibu kandung Kiki memang berasal dari daerah tersebut. Dia resmi pindah ke SMPN 5 Pamekasan sejak 8 Juli 2017.

”Saya pernah minder. Soalnya banyak teman-teman yang ngelihatin, kok digendong, gitu,” curhatnya.

Yang paling membuatnya terasa sesak yaitu ketika ada kegiatan ekstrakurikuler. Terutama saat kegiatan seni tari. Dia sendiri yang tidak bisa mengikuti kegiatan yang menuntut orang bisa berdiri tersebut. ”Saya tidak bisa ikut. Bisanya lihat saja dari jauh,” kata putri Mashadi ini.

Meski mengalami keterbatasan fisik, Kiki tetap berprestasi. Dalam daftar nilai terakhir di SMPN 31 Surabaya, nilainya cukup bagus. Dari semua pelajaran, rata-rata dia meraih nilai 85–90, atau nilai A dan B. Tidak ada satu pun mata pelajaran yang mendapat nilai C. Bahkan dia masuk kelas favorit ketika di Surabaya.

Baca Juga :  Semula Konsumsi Keluarga, Kini Sebulan Raup Omzet Rp 30 Juta

Kepada Jawa Pos Radar Madura, Kiki mengaku bercita-cita menjadi penulis novel. Raditya Dika merupakan salah seorang penulis favoritnya. Aktor film dan komedian itu dinilai memiliki pribadi yang komplet. ”Selain banyak menulis, Raditya Dika aktor film yang top,” katanya.

Kiki berharap kelak pendidikannya bisa berjalan lancar. Dia ingin menjadi orang yang sukses dan bisa membanggakan keluarga. Dia berharap ketika dia sukses, ibunya bisa ikut bangga.

Saat ini ibu Kiki menjadi pedagang kaki lima di area Arek Lancor Pamekasan. Saat pulang sekolah atau hari libur, Kiki sering membantu ibunya berjualan. Meski dengan keterbatasan fisik, dia menjalaninya dengan ikhlas. ”Saya ingin mengangkat derajat keluarga saya,” tuturnya.

Kepala Disdik Pamekasan Moch. Tarsun mengaku terharu dengan kisah Kiki Amelia Agustin. Karena itulah, dia menemui langsung pelajar inspiratif itu di sekolah. Sebelum ke sekolah, Tarsun juga sempat mampir ke rumah orang tua Kiki di Jalan Niaga, Gang I.

”Kami bangga ada anak seperti Kiki. Segala kebutuhan pendidikannya akan kami tanggung,” tegasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/