alexametrics
29.5 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

FRPB, Relawan yang 24 Jam Nonstop Tanggulangi Covid-19

Menjadi relawan penanggulangan bencana memerlukan kesiapan fisik dan mental. Utamanya relawan yang menanggulangi kasus Covid-19. Seperti para relawan Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Pamekasan, yang kadang hanya beristirahat lima menit dalam sehari.

ONGKY ARISTA UA, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

KASUS Covid-19 di Pamekasan mulai melonjak sejak pertengahan Juni 2021 lalu. Sejak saat itu, rumah sakit rujukan Covid-19 yang semula hanya berisi dua sampai tiga pasien, perlahan-lahan bertambah banyak. Pertambahan pasien pun terbilang drastis.

Satgas Covid-19 Pamekasan mencatat, sejak terjadi lonjakan, setiap hari ada tambahan tidak kurang dari sepuluh pasien. Dampaknya, rumah sakit rujukan akhirnya penuh. Masyarakat pun mulai panik. Utamanya saat kabar duka yang diumumkan lewat pengeras suara kerap terdengar.

Sejak RSUD dr Slamet Martodirdjo penuh, pemkab membangun tenda tampung yang melayani antrean pasien Covid-19. FRPB Pamekasan ikut andil di dalamnya. Bahkan, tidak hanya membangun tenda, mereka juga siaga 24 jam nonstop.

FRPB berada di bawah koordinasi Budi Cahyono. Pria berkumis lebat yang kebetulan menjabat sebagai Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan. Di bawah koordinasinya, FRPB tidak mengenal lelah.

Selama 24 jam, FRPB ikut terlibat dalam penanganan kasus Covid-19. Pertama, terlibat dalam kegiatan penyekatan lalu lintas di terminal bongkar barang. Kedua, ikut andil dalam pemulasaraan jenazah. Ketiga, terlibat dalam penyemprotan barang-barang PMI yang pulang dan diisolasi di Gedung Islamic Center (GIC). Keempat, aktif dalam pengisian tabung oksigen. Termasuk, melakukan desinfeksi ke rumah warga dan melakukan evakuasi jika terjadi bencana.

Baca Juga :  Dua Pasien RSI Garam Kalianget Terpapar Korona

”Di luar tugas itu, FRPB juga aktif mencarikan donor darah dan memantau potensi bencana non Covid-19. Motivasi FRPB terlibat aktif dalam penanggulangan bencana semata-mata untuk mengurai derita dan beban masyarakat,” terang Budi Cahyono.

Menurut dia, dalam penanggulangan Covid-19 perlu penanganan khusus. Sebab, terkategori penyakit menular. Jika masyarakat pada umumnya takut terlihat dalam kasus penanganan Covid-19, tidak demikian dengan FRPB. ”Mengapa personel FRPB berani? Karena kami selalu belajar dan diberi pemahaman baik akan Covid-19. Termasuk cara menanggulanginya,” imbuhnya.

Dijelaskan, sebagai manusia biasa, anggota FRPB juga merasa lelah. ”Karena kegiatan kami cukup padat, mustahil jika tidak lelah. Capek itu pasti kami rasakan. Tapi, setiap ada kesempatan, personel diwajibkan istirahat walau hanya lima menit. Di mana pun tempatnya, jika ada peluang harus istirahat,” terangnya.

Budi mengatakan, kerja 24 jam nonstop sudah menjadi salah satu konsekuensi relawan, orang yang rela dan mengabdikan diri pada kerja-kerja penanggulangan bencana. ”Selama 24 jam kami selalu siap membantu masyarakat dan selalu siaga dalam penanggulangan bencana,” tuturnya.

Baca Juga :  Sumenep Zona Merah, 19 Orang Madura Positif Covid-19

Ditambahkan, penanggulangan bencana merupakan urusan bersama dan menjadi kewajiban semua warga negara. Hal itu tertuang dalam UU Nomor 24 Tahun 2007. ”Kami siap memberikan edukasi serta pemahaman tentang pandemi dan bencana lainnya. Jika dibutuhkan atau mengetahui ada bencana, kami siap hadir memberi bantuan,” janjinya.

Ditegaskan, kerja 24 jam nonstop, relawan FRPB tidak berbayar alias murni untuk pengabdian. ”Kami hanya punya komitmen siap membantu siapa pun. Kami tidak pernah membeda-bedakan siapa pun yang butuh bantuan pertolongan FRPB. Anggota FRPB siap urunan menjalankan misi kemanusiaan. Tidak ada kebahagiaan sebagai relawan kecuali melihat beban masyarakat berkurang,” tegasnya.

Eksistensi FRPB mendapat apresiasi dari Bupati Pamekasan Baddrut Tamam. Sebab, selalu terlibat dalam penanggulangan Covid-19. Karena itu, pemkab memberi bantuan sembako dan suplemen kepada 25 personel FRPB. ”Ini bentuk apresiasi kami atas pengorbanan mereka. Sebab, selama ini mereka membantu secara ikhlas tanpa menerima bayaran,” kata Bupati Pamekasan Baddrut Tamam.

- Advertisement -

Menjadi relawan penanggulangan bencana memerlukan kesiapan fisik dan mental. Utamanya relawan yang menanggulangi kasus Covid-19. Seperti para relawan Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Pamekasan, yang kadang hanya beristirahat lima menit dalam sehari.

ONGKY ARISTA UA, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

KASUS Covid-19 di Pamekasan mulai melonjak sejak pertengahan Juni 2021 lalu. Sejak saat itu, rumah sakit rujukan Covid-19 yang semula hanya berisi dua sampai tiga pasien, perlahan-lahan bertambah banyak. Pertambahan pasien pun terbilang drastis.


Satgas Covid-19 Pamekasan mencatat, sejak terjadi lonjakan, setiap hari ada tambahan tidak kurang dari sepuluh pasien. Dampaknya, rumah sakit rujukan akhirnya penuh. Masyarakat pun mulai panik. Utamanya saat kabar duka yang diumumkan lewat pengeras suara kerap terdengar.

Sejak RSUD dr Slamet Martodirdjo penuh, pemkab membangun tenda tampung yang melayani antrean pasien Covid-19. FRPB Pamekasan ikut andil di dalamnya. Bahkan, tidak hanya membangun tenda, mereka juga siaga 24 jam nonstop.

FRPB berada di bawah koordinasi Budi Cahyono. Pria berkumis lebat yang kebetulan menjabat sebagai Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan. Di bawah koordinasinya, FRPB tidak mengenal lelah.

Selama 24 jam, FRPB ikut terlibat dalam penanganan kasus Covid-19. Pertama, terlibat dalam kegiatan penyekatan lalu lintas di terminal bongkar barang. Kedua, ikut andil dalam pemulasaraan jenazah. Ketiga, terlibat dalam penyemprotan barang-barang PMI yang pulang dan diisolasi di Gedung Islamic Center (GIC). Keempat, aktif dalam pengisian tabung oksigen. Termasuk, melakukan desinfeksi ke rumah warga dan melakukan evakuasi jika terjadi bencana.

Baca Juga :  Lagi, Dua Petugas Haji Positif Sembilan Kasus dari Dua Kabupaten

”Di luar tugas itu, FRPB juga aktif mencarikan donor darah dan memantau potensi bencana non Covid-19. Motivasi FRPB terlibat aktif dalam penanggulangan bencana semata-mata untuk mengurai derita dan beban masyarakat,” terang Budi Cahyono.

Menurut dia, dalam penanggulangan Covid-19 perlu penanganan khusus. Sebab, terkategori penyakit menular. Jika masyarakat pada umumnya takut terlihat dalam kasus penanganan Covid-19, tidak demikian dengan FRPB. ”Mengapa personel FRPB berani? Karena kami selalu belajar dan diberi pemahaman baik akan Covid-19. Termasuk cara menanggulanginya,” imbuhnya.

Dijelaskan, sebagai manusia biasa, anggota FRPB juga merasa lelah. ”Karena kegiatan kami cukup padat, mustahil jika tidak lelah. Capek itu pasti kami rasakan. Tapi, setiap ada kesempatan, personel diwajibkan istirahat walau hanya lima menit. Di mana pun tempatnya, jika ada peluang harus istirahat,” terangnya.

Budi mengatakan, kerja 24 jam nonstop sudah menjadi salah satu konsekuensi relawan, orang yang rela dan mengabdikan diri pada kerja-kerja penanggulangan bencana. ”Selama 24 jam kami selalu siap membantu masyarakat dan selalu siaga dalam penanggulangan bencana,” tuturnya.

Baca Juga :  Partai Golkar Bagikan Paket Sembako dan Daging Kurban

Ditambahkan, penanggulangan bencana merupakan urusan bersama dan menjadi kewajiban semua warga negara. Hal itu tertuang dalam UU Nomor 24 Tahun 2007. ”Kami siap memberikan edukasi serta pemahaman tentang pandemi dan bencana lainnya. Jika dibutuhkan atau mengetahui ada bencana, kami siap hadir memberi bantuan,” janjinya.

Ditegaskan, kerja 24 jam nonstop, relawan FRPB tidak berbayar alias murni untuk pengabdian. ”Kami hanya punya komitmen siap membantu siapa pun. Kami tidak pernah membeda-bedakan siapa pun yang butuh bantuan pertolongan FRPB. Anggota FRPB siap urunan menjalankan misi kemanusiaan. Tidak ada kebahagiaan sebagai relawan kecuali melihat beban masyarakat berkurang,” tegasnya.

Eksistensi FRPB mendapat apresiasi dari Bupati Pamekasan Baddrut Tamam. Sebab, selalu terlibat dalam penanggulangan Covid-19. Karena itu, pemkab memberi bantuan sembako dan suplemen kepada 25 personel FRPB. ”Ini bentuk apresiasi kami atas pengorbanan mereka. Sebab, selama ini mereka membantu secara ikhlas tanpa menerima bayaran,” kata Bupati Pamekasan Baddrut Tamam.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/