alexametrics
23 C
Madura
Sunday, June 26, 2022

Siswa Senang Belajar Sejarah Sekaligus Dapat Hadiah

BANGKALAN – Jalan Soekarno-Hatta Bangkalan pada Selasa siang (27/3) ramai dengan pelajar merah putih. Mereka berjalan kaki menuju kantor dinas pendidikan (disdik). Di halaman kantor itu, pedagang jajanan mencoba peruntungan. Kedatangan peserta didik menjadi sumber harapan mengais rezeki.

Beberapa guru memandu siswa mengajak naik ke lantai dua. Penerima tamu mempersilakan pengunjung mengisi buku daftar hadir di pojok dekat pintu aula. Dalam ruangan, berjejer tulisan sejarah perjuangan Indonesia. Mulai kedudukan Belanda dan Jepang atas negeri ibu pertiwi. Hingga Presiden Soekarno memproklamasikan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1945.

Pada sebuah etalase tersimpan jas hitam milik Soekarni Kartodiwirjo. Salah seorang perwakilan Jawa Timur (Jatim) saat peristiwa perumusan naskah proklamasi di kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda pada 16 Agustus 1945.

Soekarni lahir di Blitar, 14 Juli 1916. Dia diutus bersama dengan Abikoesno Tjokrosoejoso dari Ponorogo. Abikoesno lahir pada 15 Juni 1897. Pada pajangan catatan sejarah masa perjuangan disebutkan ada 27 tokoh yang hadir saat perumusan naskah proklamasi selain Soekarni dan Abikoesno.

Dalam kotak kaca itu juga menyimpan satu buku kuno yang membahas sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia selama 1945 hingga 1952. Buku itu juga berisi tentang perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, keamanan, dan militer pasca kemerdekaan. Buku cokelat itu diterbitkan Kementerian Penerangan 1953.

Pameran keliling Museum Perumusan Naskah Proklamasi 2018 digelar di lima kabupaten/kota di Indonesia. Bangkalan menjadi kabupaten pertama pameran tahun ini. Empat daerah lainnya yang akan dituju yakni Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah; Ambon, Maluku; Balikpapan, Kalimantan Timur; dan Palembang, Sumatera Selatan.

Baca Juga :  Suami Wasir Stadium Akhir, Istri Kanker Kulit

”Di Jawa Timur sudah terlaksana di Surabaya dan Lumajang,” kata Kurator Museum Perumusan Naskah Proklamasi Kurniawati kepada Jawa Pos Radar Madura di sela-sela menemui pengunjung.

Pameran menampilkan beberapa koleksi museum di Jalan Imam Bonjol nomor 1 Jakarta itu mulai 1942 sampai 1950. Pameran keliling menjadi agenda tahunan. Pihaknya memiliki kewajiban memperkenalkan sejarah di museum. ”Kami memperkenalkan museum dan seputar sejarah perumusan naskah proklamasi kepala masyarakat,” tutur perempuan berkerudung itu.

Bangkalan dipilih karena kabupaten ujung barat Madura ini belum terjamah. Masyarakat Madura juga masih kesulitan berkunjung ke museum langsung. ”Maka, kami yang datang ke sini,” ujarnya.

Sasaran pameran fokus kepada pelajar SD, SMP, SMA/SMK hingga mahasiswa. Tujuannya, kembali menggalakkan dan merangsang generasi muda agar mau belajar sejarah. Sebab, keingintahuan sebagian besar mereka mulai susut di tengah perkembangan teknologi yang pesat.

”Kurang menarik membahas sejarah. Kami hadir untuk kembali mengajak agar mau belajar sejarah,” ucap Ati.

Pameran di Kota Salak sejak Senin (26/3) hingga Kamis (29/3). Pengunjung dipandu untuk belajar sejarah seputar proklamasi kemerdekaan NKRI. Ada juga siswa yang belajar dengan membaca serta melihat gambar maupun tulisan yang terpajang melingkar. Beberapa kali pengunjung juga bisa melihat tayangan pembacaan proklamasi oleh Bung Karno yang didampingi Bung Hatta.

Baca Juga :  Penerapan E-Rapor Tidak Jelas

Selama pameran berlangsung, pengunjung yang datang 5.400 lebih. Terdiri dari 4.050 siswa dan 1.350 lebih guru. Selama dua hari, dari Senin (26/3) hingga Selasa (27/3), diperkirakan 1.500 lebih. Selain belajar sejarah, pengunjung juga diajak mengikuti pertanyaan interaktif. Bagi yang menyelesaikan tantangan berhak mendapat hadiah.

”Menulis konsep naskah proklamasi tulisan Bung Karno. Ada juga yang membaca teks proklamasi dapat suvenir,” terang Ati.

Pengunjung yang datang tidak ada hentinya. Puluhan siswa dari berbagai sekolah bergantian untuk bisa masuk. Mereka mencatat beberapa peristiwa sejarah pada buku. Ada juga yang mengabadikan menggunakan kamera telepon seluler (ponsel).

Rexzy Pahlevi Zayanata, siswa kelas V SDN Demangan 2 Bangkalan senang bisa belajar sejarah. Terlebih sejarah perjuangan Indonesia melawan penjajah Belanda dan Jepang. Siapa wakil Soekarno? ”Dr. H. Mohammad Hatta,” jawabnya lantang.

Siswa 10 tahun itu mengaku sering belajar tentang sejarah Indonesia. Dia tidak menyia-nyiakan mendapat kesempatan berkunjung ke pameran Museum Perumusan Naskah Proklamasi. ”Mau belajar tentang sejarah proklamasi,” ungkapnya.

Plt Kepala Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika mengutarakan, pengunjung kebanyakan dari sekolah secara bergantian. Dengan begitu, bisa sama-sama mendapat kesempatan belajar. ”Dari SD dulu, baru SMP, SMA, dan seterusnya,” tuturnya.

Pameran Museum Perumusan Naskah Proklamasi sangat mendukung bagi pendidikan anak. Siswa bisa melihat langsung beberapa benda peninggalan sejarah. ”Bisa meningkatkan jiwa nasionalisme anak didik,” tukasnya.

BANGKALAN – Jalan Soekarno-Hatta Bangkalan pada Selasa siang (27/3) ramai dengan pelajar merah putih. Mereka berjalan kaki menuju kantor dinas pendidikan (disdik). Di halaman kantor itu, pedagang jajanan mencoba peruntungan. Kedatangan peserta didik menjadi sumber harapan mengais rezeki.

Beberapa guru memandu siswa mengajak naik ke lantai dua. Penerima tamu mempersilakan pengunjung mengisi buku daftar hadir di pojok dekat pintu aula. Dalam ruangan, berjejer tulisan sejarah perjuangan Indonesia. Mulai kedudukan Belanda dan Jepang atas negeri ibu pertiwi. Hingga Presiden Soekarno memproklamasikan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1945.

Pada sebuah etalase tersimpan jas hitam milik Soekarni Kartodiwirjo. Salah seorang perwakilan Jawa Timur (Jatim) saat peristiwa perumusan naskah proklamasi di kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda pada 16 Agustus 1945.


Soekarni lahir di Blitar, 14 Juli 1916. Dia diutus bersama dengan Abikoesno Tjokrosoejoso dari Ponorogo. Abikoesno lahir pada 15 Juni 1897. Pada pajangan catatan sejarah masa perjuangan disebutkan ada 27 tokoh yang hadir saat perumusan naskah proklamasi selain Soekarni dan Abikoesno.

Dalam kotak kaca itu juga menyimpan satu buku kuno yang membahas sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia selama 1945 hingga 1952. Buku itu juga berisi tentang perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, keamanan, dan militer pasca kemerdekaan. Buku cokelat itu diterbitkan Kementerian Penerangan 1953.

Pameran keliling Museum Perumusan Naskah Proklamasi 2018 digelar di lima kabupaten/kota di Indonesia. Bangkalan menjadi kabupaten pertama pameran tahun ini. Empat daerah lainnya yang akan dituju yakni Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah; Ambon, Maluku; Balikpapan, Kalimantan Timur; dan Palembang, Sumatera Selatan.

Baca Juga :  Terjadi Konflik Pengelola, Hanya Buka untuk Penelitian

”Di Jawa Timur sudah terlaksana di Surabaya dan Lumajang,” kata Kurator Museum Perumusan Naskah Proklamasi Kurniawati kepada Jawa Pos Radar Madura di sela-sela menemui pengunjung.

Pameran menampilkan beberapa koleksi museum di Jalan Imam Bonjol nomor 1 Jakarta itu mulai 1942 sampai 1950. Pameran keliling menjadi agenda tahunan. Pihaknya memiliki kewajiban memperkenalkan sejarah di museum. ”Kami memperkenalkan museum dan seputar sejarah perumusan naskah proklamasi kepala masyarakat,” tutur perempuan berkerudung itu.

Bangkalan dipilih karena kabupaten ujung barat Madura ini belum terjamah. Masyarakat Madura juga masih kesulitan berkunjung ke museum langsung. ”Maka, kami yang datang ke sini,” ujarnya.

Sasaran pameran fokus kepada pelajar SD, SMP, SMA/SMK hingga mahasiswa. Tujuannya, kembali menggalakkan dan merangsang generasi muda agar mau belajar sejarah. Sebab, keingintahuan sebagian besar mereka mulai susut di tengah perkembangan teknologi yang pesat.

”Kurang menarik membahas sejarah. Kami hadir untuk kembali mengajak agar mau belajar sejarah,” ucap Ati.

Pameran di Kota Salak sejak Senin (26/3) hingga Kamis (29/3). Pengunjung dipandu untuk belajar sejarah seputar proklamasi kemerdekaan NKRI. Ada juga siswa yang belajar dengan membaca serta melihat gambar maupun tulisan yang terpajang melingkar. Beberapa kali pengunjung juga bisa melihat tayangan pembacaan proklamasi oleh Bung Karno yang didampingi Bung Hatta.

Baca Juga :  Pahlawan Kesehatan Indonesia: Prof. Kusnandi Rusmil

Selama pameran berlangsung, pengunjung yang datang 5.400 lebih. Terdiri dari 4.050 siswa dan 1.350 lebih guru. Selama dua hari, dari Senin (26/3) hingga Selasa (27/3), diperkirakan 1.500 lebih. Selain belajar sejarah, pengunjung juga diajak mengikuti pertanyaan interaktif. Bagi yang menyelesaikan tantangan berhak mendapat hadiah.

”Menulis konsep naskah proklamasi tulisan Bung Karno. Ada juga yang membaca teks proklamasi dapat suvenir,” terang Ati.

Pengunjung yang datang tidak ada hentinya. Puluhan siswa dari berbagai sekolah bergantian untuk bisa masuk. Mereka mencatat beberapa peristiwa sejarah pada buku. Ada juga yang mengabadikan menggunakan kamera telepon seluler (ponsel).

Rexzy Pahlevi Zayanata, siswa kelas V SDN Demangan 2 Bangkalan senang bisa belajar sejarah. Terlebih sejarah perjuangan Indonesia melawan penjajah Belanda dan Jepang. Siapa wakil Soekarno? ”Dr. H. Mohammad Hatta,” jawabnya lantang.

Siswa 10 tahun itu mengaku sering belajar tentang sejarah Indonesia. Dia tidak menyia-nyiakan mendapat kesempatan berkunjung ke pameran Museum Perumusan Naskah Proklamasi. ”Mau belajar tentang sejarah proklamasi,” ungkapnya.

Plt Kepala Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika mengutarakan, pengunjung kebanyakan dari sekolah secara bergantian. Dengan begitu, bisa sama-sama mendapat kesempatan belajar. ”Dari SD dulu, baru SMP, SMA, dan seterusnya,” tuturnya.

Pameran Museum Perumusan Naskah Proklamasi sangat mendukung bagi pendidikan anak. Siswa bisa melihat langsung beberapa benda peninggalan sejarah. ”Bisa meningkatkan jiwa nasionalisme anak didik,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/