alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Puluhan Tahun Jadi Pemulung, ACT Bantu Guru Honorer di Malang

MALANG – Dwi Hariyadi sudah puluhan tahun menekuni profesinya sebagai guru honorer. Untuk menambah penghasilan, Dwi Hariyadi juga menjadi pemulung sampah.

Setiap pagi, Dwi menuju tempat pembuangan sampah sementara di samping Velodrom Malang. Penghasilannya rendah, namun rasa syukur membuatnya cukup.

Pria asal Probolinggo itu merantau ke Malang sejak tahun 1990-an. Kuliah di salah satu kampus pendidikan di Malang. Sejak semester dua, Dwi telah menjadi tukang sampah demi memenuhi kebutuhan.

“Karena jadi pemulung sampah, saya bisa lulus kuliah. Akhirnya saya teruskan sampai sekarang,” kata Dwi kepada tim Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Saat ini, Dwi menjadi guru honorer di salah satu sekolah dasar negeri di Malang. Menjadi seorang guru adalah cita-citanya. Tapi, dia tidak bisa melepaskan pekerjaan sampingan sebagai tukang sampah.

Baca Juga :  Peringati Word Cleanup Day dengan Bersi-Bersih Pantai

Setiap hari, mengumpulkan sampah di pemukiman warga dan dibawa ke TPS. Setelah itu, Dwi bergegas mengajar ke sekolah. Dwi tidak malu menjadi guru sekaligus tukang sampah.

Honor sebagai guru yang kecil membuat Dwi tetap mempertahankan pekerjaannya sebagai tukang sampah. Dwi bisa menghidupi istri dan menyekolahkan ketiga anaknya.

Menurut Dwi, menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Walau digaji rendah, Dwi tetap bersyukur. Menjadi guru dianggap sebagai tabungan amal dan ibadahnya.

“Guru dan tukang sampah memang tidak ada hubungan. Saya menjadi guru secara professional dan menjadi tukang sampah sebagai tambahan pendapatan bagi keluarga,” jelas Dwi.

Baca Juga :  Manusia Sejati Tak Menganggap Dirinya Selesai

Dwi berharap ribuan guru honorer lainnya bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. “Tidak ada orang hebat tanpa jasa guru. Kepada semua guru yang masih bergaji rendah, tetaplah berjuang di jalan pendidikan,” pungkasnya.

Dwi merupakan guru yang turut menerima bantuan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia prakarsa Global Zakat-ACT ini. Salurkan donasi anda melalui https://www.indonesiadermawan.id/campaign/70/untuk-guru-yang-tak-lelah-mengajar-meski-upah-di-bawah-standar

- Advertisement -

MALANG – Dwi Hariyadi sudah puluhan tahun menekuni profesinya sebagai guru honorer. Untuk menambah penghasilan, Dwi Hariyadi juga menjadi pemulung sampah.

Setiap pagi, Dwi menuju tempat pembuangan sampah sementara di samping Velodrom Malang. Penghasilannya rendah, namun rasa syukur membuatnya cukup.

Pria asal Probolinggo itu merantau ke Malang sejak tahun 1990-an. Kuliah di salah satu kampus pendidikan di Malang. Sejak semester dua, Dwi telah menjadi tukang sampah demi memenuhi kebutuhan.


“Karena jadi pemulung sampah, saya bisa lulus kuliah. Akhirnya saya teruskan sampai sekarang,” kata Dwi kepada tim Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Saat ini, Dwi menjadi guru honorer di salah satu sekolah dasar negeri di Malang. Menjadi seorang guru adalah cita-citanya. Tapi, dia tidak bisa melepaskan pekerjaan sampingan sebagai tukang sampah.

Baca Juga :  Atasi Krisis Air Bersih di Gunungkidul, ACT Kerahkan 500 Truk Tangki

Setiap hari, mengumpulkan sampah di pemukiman warga dan dibawa ke TPS. Setelah itu, Dwi bergegas mengajar ke sekolah. Dwi tidak malu menjadi guru sekaligus tukang sampah.

Honor sebagai guru yang kecil membuat Dwi tetap mempertahankan pekerjaannya sebagai tukang sampah. Dwi bisa menghidupi istri dan menyekolahkan ketiga anaknya.

Menurut Dwi, menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Walau digaji rendah, Dwi tetap bersyukur. Menjadi guru dianggap sebagai tabungan amal dan ibadahnya.

“Guru dan tukang sampah memang tidak ada hubungan. Saya menjadi guru secara professional dan menjadi tukang sampah sebagai tambahan pendapatan bagi keluarga,” jelas Dwi.

Baca Juga :  HWT - ACT Distribusikan Ratusan Ribu Liter Air Bagi 19.400 Warga Gaza

Dwi berharap ribuan guru honorer lainnya bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. “Tidak ada orang hebat tanpa jasa guru. Kepada semua guru yang masih bergaji rendah, tetaplah berjuang di jalan pendidikan,” pungkasnya.

Dwi merupakan guru yang turut menerima bantuan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia prakarsa Global Zakat-ACT ini. Salurkan donasi anda melalui https://www.indonesiadermawan.id/campaign/70/untuk-guru-yang-tak-lelah-mengajar-meski-upah-di-bawah-standar

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/