alexametrics
21 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Tepergok Ketemuan dengan Pacar, Diwajibkan Hatam Alquran

Sudah sebelas hari Maftuh Najahi berada di Asta Batu Ampar. Pemuda 19 tahun ini boleh balik ke Kediri setelah menghafalkan Alquran tujuh kali.

TERIK matahari seperti menyengat kulit pada Sabtu siang (26/10) di Jalan Raya Proppo. Sepeda motor dan mobil bersalip-salipan. Kendaraan melambat saat tiba di pertigaan pasar Desa Panagguan, Kecamatan Proppo.

Bus-bus pariwisata juga memadati pertigaan tersebut. Setelah cukup lengang, bus menjurus ke utara. Lalu, bus berbelok ke barat mengikuti penunjuk menuju Asta Batu Ampar seperti terpampang di plang.

Penumpang bus berduyun-duyun turun dari bus. Mereka tiba di area Asta Batu Ampar di Dusun Batu Ampar, Desa Pangbatok, Kecamatan Proppo. Mereka ingin berziarah ke Asta Syekh Abu Syamsuddin atau yang masyhur dikenal dengan nama Buju’ Lattong.

Di antara para peziarah yang mengaji di area asta, ada seorang pemuda dari Kediri. Namanya Maftuh Najahi. Dia datang seorang diri ke Asta Batu Ampar untuk mengkhatamkan Alquran hingga tujuh kali.

Maftuh adalah seorang santri di Pondok Pesantren Al Huda di Dusun Brambang, Desa Sumberduren, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Dia mengkhatamkan Alquran karena menjalani hukuman dari Gus Syamsul, pimpinan pesantren tersebut.

Baca Juga :  Kesaksian Kipratun, Korban Hidup Laka Maut di Pekandangan Barat

Pemuda asal Desa Cangaan, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, ini dihukum karena ketahuan sedang berduaan dengan santri putri di sawah belakang pesantrennya sekitar pukul 23.00.

”Saya baru melanggar larangan, terus saya dihukum di sini,” ungkap Maftuh kepada Jawa Pos Radar Madura Sabtu siang (26/10). ”Pelanggarannya ketemuan sama cewek saya,” kata dia mencoba terus terang sembari meraut muka mengakui kesalahan.

Maftuh sudah sembilan hari berada di Asta Batu Ampar untuk menjalani hukuman tersebut. Dia kadang tidak kerasan di lokasi itu. Namun, dia tetap harus menjalani hukuman tersebut.

”Satu minggu baru bisa mengkhatamkan tiga kali,” ujarnya. ”Kebanyakan yang melanggar langsung disuruh boyong, tapi saya enggak, digundul dan dihukum, diminta mengkhatamkan Alquran di sini,” ucapnya polos.

Maftuh tidak tahu hukuman apa yang dijatuhkan kepada santriwati yang tertangkap bertemu dengannya. Dia dipergogi sebagian santri saat berduaan dengan pacarnnya. Lalu, mereka dilaporkan pada pimpinan pesantren.

”Kiai saya tidak marah. Hanya, saya diminta membersihkan diri di sini dan diminta mencopot kesenangan nafsu dalam diri saya,” tuturnya.

Maftuh sangat mengakui kesalahannya. Pertemuan haram tersebut digerakkan hawa nafsunya. Karena itu, dia berupaya menyucikan diri di asta tersebut sebagaimana perintah kiainya. ”Saya langsung diminta ke Asta Batu Ampar, bukan ke asta yang lain,” sambungnya.

Baca Juga :  Inilah Bukti Pemuda Madura Gemar Menulis Sastra Budaya

Maftuh diberikan uang Rp 100 ribu oleh pengasuh pesantrennya. Dia juga belum sempat pamit kepada orang tuanya. Sebab, handphone (HP)-nya diamankan pihak pesantren dan dua hari setelah melanggar dia langsung diminta berangkat ke Pamekasan.

Dia baru kali pertama menginjakkan kaki di Madura. ”Ini baru pertama dan uang yang diberikan bersisa Rp 15 ribu ketika sampai di sini. Tidak tahu pulangnya bagaimana nanti, saya tidak mikir ke situ. Yang penting, hukumannya selesai,” katanya.

Di Asta Batu Ampar itu dia dititipkan kepada lelaki yang dipanggil Gus Rusdi. Di rumah Gus Rusdi di sekitar Bujuk Lattong tersebut Maftuh bersih-bersih dan membantu segala keperluan pagi hari dan sore. ”Setelah bantu-bantu di sana, saya dipersilakan makan oleh beliau,” ceritanya.

Dia berharap, hukuman tersebut tidak sekadar membuatnya jera, tapi juga bisa memberikan suntikan berkah. Mau tidak mau Maftuh harus berupaya kuat menjalani hukuman itu dengan ikhlas hingga selesai.

”Kiai saya itu sabar, santai, dan saya disuruh berangkat. Saya mengakui kesalahan saya dan ke depannya ingin memperbaiki,” pungkasnya. (c2)

Sudah sebelas hari Maftuh Najahi berada di Asta Batu Ampar. Pemuda 19 tahun ini boleh balik ke Kediri setelah menghafalkan Alquran tujuh kali.

TERIK matahari seperti menyengat kulit pada Sabtu siang (26/10) di Jalan Raya Proppo. Sepeda motor dan mobil bersalip-salipan. Kendaraan melambat saat tiba di pertigaan pasar Desa Panagguan, Kecamatan Proppo.

Bus-bus pariwisata juga memadati pertigaan tersebut. Setelah cukup lengang, bus menjurus ke utara. Lalu, bus berbelok ke barat mengikuti penunjuk menuju Asta Batu Ampar seperti terpampang di plang.

Penumpang bus berduyun-duyun turun dari bus. Mereka tiba di area Asta Batu Ampar di Dusun Batu Ampar, Desa Pangbatok, Kecamatan Proppo. Mereka ingin berziarah ke Asta Syekh Abu Syamsuddin atau yang masyhur dikenal dengan nama Buju’ Lattong.

Di antara para peziarah yang mengaji di area asta, ada seorang pemuda dari Kediri. Namanya Maftuh Najahi. Dia datang seorang diri ke Asta Batu Ampar untuk mengkhatamkan Alquran hingga tujuh kali.

Maftuh adalah seorang santri di Pondok Pesantren Al Huda di Dusun Brambang, Desa Sumberduren, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Dia mengkhatamkan Alquran karena menjalani hukuman dari Gus Syamsul, pimpinan pesantren tersebut.

Baca Juga :  Sulap¬†Budi Daya Buah dan Sayur¬†Menjadi Objek Wisata

Pemuda asal Desa Cangaan, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, ini dihukum karena ketahuan sedang berduaan dengan santri putri di sawah belakang pesantrennya sekitar pukul 23.00.

”Saya baru melanggar larangan, terus saya dihukum di sini,” ungkap Maftuh kepada Jawa Pos Radar Madura Sabtu siang (26/10). ”Pelanggarannya ketemuan sama cewek saya,” kata dia mencoba terus terang sembari meraut muka mengakui kesalahan.

Maftuh sudah sembilan hari berada di Asta Batu Ampar untuk menjalani hukuman tersebut. Dia kadang tidak kerasan di lokasi itu. Namun, dia tetap harus menjalani hukuman tersebut.

”Satu minggu baru bisa mengkhatamkan tiga kali,” ujarnya. ”Kebanyakan yang melanggar langsung disuruh boyong, tapi saya enggak, digundul dan dihukum, diminta mengkhatamkan Alquran di sini,” ucapnya polos.

Maftuh tidak tahu hukuman apa yang dijatuhkan kepada santriwati yang tertangkap bertemu dengannya. Dia dipergogi sebagian santri saat berduaan dengan pacarnnya. Lalu, mereka dilaporkan pada pimpinan pesantren.

”Kiai saya tidak marah. Hanya, saya diminta membersihkan diri di sini dan diminta mencopot kesenangan nafsu dalam diri saya,” tuturnya.

Maftuh sangat mengakui kesalahannya. Pertemuan haram tersebut digerakkan hawa nafsunya. Karena itu, dia berupaya menyucikan diri di asta tersebut sebagaimana perintah kiainya. ”Saya langsung diminta ke Asta Batu Ampar, bukan ke asta yang lain,” sambungnya.

Baca Juga :  Kesaksian Kipratun, Korban Hidup Laka Maut di Pekandangan Barat

Maftuh diberikan uang Rp 100 ribu oleh pengasuh pesantrennya. Dia juga belum sempat pamit kepada orang tuanya. Sebab, handphone (HP)-nya diamankan pihak pesantren dan dua hari setelah melanggar dia langsung diminta berangkat ke Pamekasan.

Dia baru kali pertama menginjakkan kaki di Madura. ”Ini baru pertama dan uang yang diberikan bersisa Rp 15 ribu ketika sampai di sini. Tidak tahu pulangnya bagaimana nanti, saya tidak mikir ke situ. Yang penting, hukumannya selesai,” katanya.

Di Asta Batu Ampar itu dia dititipkan kepada lelaki yang dipanggil Gus Rusdi. Di rumah Gus Rusdi di sekitar Bujuk Lattong tersebut Maftuh bersih-bersih dan membantu segala keperluan pagi hari dan sore. ”Setelah bantu-bantu di sana, saya dipersilakan makan oleh beliau,” ceritanya.

Dia berharap, hukuman tersebut tidak sekadar membuatnya jera, tapi juga bisa memberikan suntikan berkah. Mau tidak mau Maftuh harus berupaya kuat menjalani hukuman itu dengan ikhlas hingga selesai.

”Kiai saya itu sabar, santai, dan saya disuruh berangkat. Saya mengakui kesalahan saya dan ke depannya ingin memperbaiki,” pungkasnya. (c2)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/