alexametrics
21.8 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Salman Al Rosyidi Doengmoso Bertekad Bangun Museum Pertama di Madura

Di masa remaja, kebanyakan anak ingin mengeksplorasikan dirinya dengan lingkungan. Namun, berbeda dengan Salman Al Rosyidi Doengmoso. Dia sibuk mengumpulkan mata uang asing sejak usianya 7 tahun.

JUPRI, Sumenep, RadarMadura.id

MINGGU (25/8) sekitar pukul 10.00 Jawa Pos Radar Madura (JPRM) sampai di kediaman Yudi Ananta. Koordinator Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) Wilayah Madura ini tinggal di Jalan Jokotole, Kecamataan Batuan, Sumenep.

Seorang laki-laki tua mempersilakan JPRM masuk ke sebuah rumah. Di ruang tamu itu sudah ada dua orang menunggu. Yaitu, Yudi Ananta dan seorang pemuda 18 tahun. Namanya Salman Al Rosyidi Doengmoso, warga Kelurahan Demangan, Kecamatan Kota Bangkalan.

Salman terlihat sibuk membuka album yang dia jadikan sebagai penyimpanan uang asing. Selain album yang dia bawa, Salman juga membuka kotak kayu yang penuh dengan uang koin.

Kedatangan Salman ke Sumenep untuk memenuhi undangan Leprid Wilayah Madura. Leprid akan memberikan penghargaan kepada Salman sebagai kolektor uang asing terbanyak di Indonesia. Namun, sebelum penghargaan itu diberikan, Salman masih harus menjalani verifikasi terhadap uang yang dia kumpulkan selama ini.

Kepada JPRM Salman menceritakan, dirinya mengumpulkan uang asing sejak duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar (SD). Hal itu bermula saat dirinya menemukan uang koin Belanda keluaran 1913 saat bermain di rumah kakeknya.

Kemudian, dia juga menemukan uang kertas pecahan Rp 100 dengan gambar perahu pinisi. Sejak usia 7 tahun itulah Salman tertarik mengumpulkan mata uang asing untuk dikoleksi.

Saat ini dirinya sudah mengumpulkan 1.180 uang koin dari 107 negara. Sementara uang kertas juga ada 979 lembar dari 151 negara. Uang kertas itu dia kumpulkan sejak usia 7 tahun. ”Saya memulainya sejak 2008. Berarti sekarang sudah 11 tahun saya kumpulkan uang dari semua negara,” ucapnya.

Baca Juga :  Siswa Luapkan Kerinduan pada Hari Pertama Datang ke Sekolah

Meski ada ribuan mata uang asing yang dikumpulkan, namun Salman belum pernah datang langsung ke luar negeri demi bisa memenuhi keinginannya itu. Mata uang asing yang dikumpulkan itu dirinya dapatkan dengan cara meminta ke teman-teman. ”Juga meminta ke paman yang ada di luar negeri,” tutur siswa SMAN 2 Bangkalan itu.

Selain dari meminta, koleksi uang asing itu banyak yang Salman dapatkan dengan cara membeli di toko-toko uang antik di Surabaya. Harganya pun bervariatif. Dari puluhan ribu ada hingga ratusan ribu.

Putra pasangan Mual Farid dan Yuliana itu juga sering membeli uang asing via online. Demi mengoleksi mata uang asing itu dirinya menghabiskan pundi-pundi uang yang cukup banyak. Bahkan, nilainya puluhan juta. ”Kisaran sudah Rp 25 juta sejak 2008 saya mengumpulkan uang koin itu,” jelas Salman.

Meski menghabiskan uang cukup banyak, Salman mengaku mendapat dukungan keluarga. Dia memastikan uang yang dikumpulkan terjamin keasliannya. Karena dia selalu menguji dengan menggunakan sinar ultraviolet sehingga dipastikan tidak ada yang palsu.

Remaja yang duduk di bangku kelas XI itu mengaku mengumpulkan ratusan mata uang asing bukan perkara mudah. Salman sangat sulit mendapatkan mata uang asing yang negaranya sedang dilanda konflik. ”Yang paling sulit untuk mendapatkan mata uang negara kecil, misal di kepulauan dan yang sedang berperang, seperti Israel,” ungkapnya didampingi sang kakek, Rohamed Zeger.

Baca Juga :  Senang Sahur Bareng Istri, Ingin Tingkatkan Ibadah

Salman sudah pernah mengajukan ke Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) untuk mendapatkan penghargaan. Namun, upaya itu belum ada respons sampai saai ini. Dia hanya beranggapan, mungkin Muri tidak menggubris lantaran usia Salman yang terbilang muda. Sementara usia uang yang dirinya kumpulkan jauh lebih tua dari dirinya.

Maka dari itu, dia memilih mengajukan untuk bisa mendapatkan perhargaan dari Leprid. Jika benar-benar penghargaan itu diberikan Leprid kepada dirinya, Salman akan semakin termotivasi. Sebab, misi dirinya, ingin membuat museum mata uang asing pertama di Pulau Garam. ”Saya ingin museum ini bisa dijadikan sebagai media edukasi bagi anak muda,” harapnya.

Salman optimistis mimpinya itu akan terwujud. Terlebih, usianya masih cukup muda. Dia berharap niat baiknya itu mendapat dukungan pemerintah. ”Harapannya pemerintah tidak tutup mata,” sambungnya.

Sementara Yudi Ananta menyampaikan, Leprid masih akan memeriksa uang yang Salman kumpulkan. Dia tidak menyangka, di usia muda, Salman sudah bisa mengumpulkan ribuan mata uang asing. ”Saya kira tadi kakeknya yang menjadi kolektor karena (Salman) usianya masih sangat muda,” katanya.

Dia memastikan Leprid akan memberikan pernghargaan kepada Salman. Dia berharap, dengan penghargaan itu, Salman semakin termotivasi untuk mendirikan museum mata uang asing pertama di Pulau Garam. ”Nanti tinggal kita atur pemberian penghargaannya,” katanya.

Di masa remaja, kebanyakan anak ingin mengeksplorasikan dirinya dengan lingkungan. Namun, berbeda dengan Salman Al Rosyidi Doengmoso. Dia sibuk mengumpulkan mata uang asing sejak usianya 7 tahun.

JUPRI, Sumenep, RadarMadura.id

MINGGU (25/8) sekitar pukul 10.00 Jawa Pos Radar Madura (JPRM) sampai di kediaman Yudi Ananta. Koordinator Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) Wilayah Madura ini tinggal di Jalan Jokotole, Kecamataan Batuan, Sumenep.


Seorang laki-laki tua mempersilakan JPRM masuk ke sebuah rumah. Di ruang tamu itu sudah ada dua orang menunggu. Yaitu, Yudi Ananta dan seorang pemuda 18 tahun. Namanya Salman Al Rosyidi Doengmoso, warga Kelurahan Demangan, Kecamatan Kota Bangkalan.

Salman terlihat sibuk membuka album yang dia jadikan sebagai penyimpanan uang asing. Selain album yang dia bawa, Salman juga membuka kotak kayu yang penuh dengan uang koin.

Kedatangan Salman ke Sumenep untuk memenuhi undangan Leprid Wilayah Madura. Leprid akan memberikan penghargaan kepada Salman sebagai kolektor uang asing terbanyak di Indonesia. Namun, sebelum penghargaan itu diberikan, Salman masih harus menjalani verifikasi terhadap uang yang dia kumpulkan selama ini.

Kepada JPRM Salman menceritakan, dirinya mengumpulkan uang asing sejak duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar (SD). Hal itu bermula saat dirinya menemukan uang koin Belanda keluaran 1913 saat bermain di rumah kakeknya.

Kemudian, dia juga menemukan uang kertas pecahan Rp 100 dengan gambar perahu pinisi. Sejak usia 7 tahun itulah Salman tertarik mengumpulkan mata uang asing untuk dikoleksi.

Saat ini dirinya sudah mengumpulkan 1.180 uang koin dari 107 negara. Sementara uang kertas juga ada 979 lembar dari 151 negara. Uang kertas itu dia kumpulkan sejak usia 7 tahun. ”Saya memulainya sejak 2008. Berarti sekarang sudah 11 tahun saya kumpulkan uang dari semua negara,” ucapnya.

Baca Juga :  Pesan Damai┬áTiga Rumah Ibadah Beda Agama┬ádi Satu Desa

Meski ada ribuan mata uang asing yang dikumpulkan, namun Salman belum pernah datang langsung ke luar negeri demi bisa memenuhi keinginannya itu. Mata uang asing yang dikumpulkan itu dirinya dapatkan dengan cara meminta ke teman-teman. ”Juga meminta ke paman yang ada di luar negeri,” tutur siswa SMAN 2 Bangkalan itu.

Selain dari meminta, koleksi uang asing itu banyak yang Salman dapatkan dengan cara membeli di toko-toko uang antik di Surabaya. Harganya pun bervariatif. Dari puluhan ribu ada hingga ratusan ribu.

Putra pasangan Mual Farid dan Yuliana itu juga sering membeli uang asing via online. Demi mengoleksi mata uang asing itu dirinya menghabiskan pundi-pundi uang yang cukup banyak. Bahkan, nilainya puluhan juta. ”Kisaran sudah Rp 25 juta sejak 2008 saya mengumpulkan uang koin itu,” jelas Salman.

Meski menghabiskan uang cukup banyak, Salman mengaku mendapat dukungan keluarga. Dia memastikan uang yang dikumpulkan terjamin keasliannya. Karena dia selalu menguji dengan menggunakan sinar ultraviolet sehingga dipastikan tidak ada yang palsu.

Remaja yang duduk di bangku kelas XI itu mengaku mengumpulkan ratusan mata uang asing bukan perkara mudah. Salman sangat sulit mendapatkan mata uang asing yang negaranya sedang dilanda konflik. ”Yang paling sulit untuk mendapatkan mata uang negara kecil, misal di kepulauan dan yang sedang berperang, seperti Israel,” ungkapnya didampingi sang kakek, Rohamed Zeger.

Baca Juga :  Kiprah Atlet Perbakin Sampang di Masa Pandemi

Salman sudah pernah mengajukan ke Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) untuk mendapatkan penghargaan. Namun, upaya itu belum ada respons sampai saai ini. Dia hanya beranggapan, mungkin Muri tidak menggubris lantaran usia Salman yang terbilang muda. Sementara usia uang yang dirinya kumpulkan jauh lebih tua dari dirinya.

Maka dari itu, dia memilih mengajukan untuk bisa mendapatkan perhargaan dari Leprid. Jika benar-benar penghargaan itu diberikan Leprid kepada dirinya, Salman akan semakin termotivasi. Sebab, misi dirinya, ingin membuat museum mata uang asing pertama di Pulau Garam. ”Saya ingin museum ini bisa dijadikan sebagai media edukasi bagi anak muda,” harapnya.

Salman optimistis mimpinya itu akan terwujud. Terlebih, usianya masih cukup muda. Dia berharap niat baiknya itu mendapat dukungan pemerintah. ”Harapannya pemerintah tidak tutup mata,” sambungnya.

Sementara Yudi Ananta menyampaikan, Leprid masih akan memeriksa uang yang Salman kumpulkan. Dia tidak menyangka, di usia muda, Salman sudah bisa mengumpulkan ribuan mata uang asing. ”Saya kira tadi kakeknya yang menjadi kolektor karena (Salman) usianya masih sangat muda,” katanya.

Dia memastikan Leprid akan memberikan pernghargaan kepada Salman. Dia berharap, dengan penghargaan itu, Salman semakin termotivasi untuk mendirikan museum mata uang asing pertama di Pulau Garam. ”Nanti tinggal kita atur pemberian penghargaannya,” katanya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/