alexametrics
25.3 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Hormati Leluhur, Baca Yasin dan Tahlil Bersama Tiap Tahun

Rokat Sendi Agung Taman Sare digelar setiap tanggal 14 bulan Syakban  sebagai penghormatan terhadap peninggalan Sayyid Agung Ambaroh bin Agung Solehoddin. Rokat digelar di sisi timur sendi bekas langgar Sayyid Agung Ambaroh.

RUSYDI ZAIN, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

SEJAK pukul 06.30, keturunan dari Sayyid Agung Ambaroh, baik laki-laki dan perempuan di Dusun Pancor, Desa Lebeng Barat, Kecamatan Pasongsongan, mulai berdatangan ke area sendi. Sendi ini merupakan batu fondasi dari bangunan langgar kayu peninggalan Agung Ambaroh.

Satu per satu warga yang datang mulai duduk di bawah tenda, yang tiangnya terbuat dari bambu beralaskan terpal. Rokat Sendi Agung Taman Sare yang dilaksanakan setiap tahun itu cukup sederhana.

Penyembelihan seekor kambing mengawali pelaksanaan Rokat Sendi Agung Taman Sare. Kemudian, kambing tersebut dimasak dan dimakan bersama setelah kegiatan ritual rokat selesai. Bacaan dalam rokat sendi mulai surah Yasin, Tahlil, zikir, dan ditutup dengan doa Pangrokat. Tujuannya, memohon keselamatan dan keberkahan rezeki pada Tuhan yang Mahakuasa.

Rokat sendi di Dusun Pancor tersebut dilaksanakan secara turun-temurun setiap tanggal 14 di bulan Syakban. Sebab, tanggal itu diyakini sebagai tanggal wafatnya Agung Ambaroh. Karena itu, diselenggarakan rokat kampung sekaligus haul Agung Ambaroh.

Baca Juga :  Bukan Hanya soal Kopi, Pengelola Kafe Beri Wadah Membaca

Ada dua kotak sesajen atau ancak yang digantung di pohon bambu dan pohon mangga yang terletak di sisi timur utara sendi. Isinya ayam, hati kambing, bubur lima macam, air campur daun pandan, serabi, dan ketan.

Mustar bin Raksan sebagai salah satu keturunan Agung Ambaroh, yang dipercaya menjadi ketua Rokat Sendi Agung Taman Sare mengatakan, rokat hanya diikuti oleh keturunan Agung Ambaroh. Dikatakan, tidak ada paksaan untuk mengikuti rokat. Karena itu, tidak semua keturunan dari Agung Ambaroh hadir.

Mustar mengatakan, peninggalan Agung Ambaroh di Dusun Pancor saat ini hanya tinggal sendi. Sebab, bangunan langgar dikabarkan pindah ke Desa Lembung, Kecamatan Lenteng. ”Jadi ini namanya Rokat Sendi Agung Taman Sare, sekarang sudah tinggal sendinya. Menurut cerita orang tua saya, langgar pindah ke Lembung,” katanya.

Dijelaskan, hingga saat ini ada pohon jambu yang tumbuh di sisi timur laut sendi tersebut. Menurut dia, buah jambu tersebut tidak dipatuk burung meski sudah matang. ”Kami juga tidak berani memakan buah jambu yang tumbuh di area sendi itu. Burung saja tidak berani makan meski sudah matang,” ucapnya.

Baca Juga :  Komitmen Tomy Prambana, Kasatreskrim Termuda di Madura

Mustar menerangkan, posisi empat sendi sejak dulu tidak pernah berubah. Dia hanya merawat dan membersihkannya. Sendi tersebut kini diberi pagar bambu. ”Pernah ada orang naik kuda lewat di sisi barat sendi dan tidak turun. Setelah beberapa meter, jatuh dari kudanya,” tuturnya.

Menurut Mustar, jasad dari Agung Ambaroh konon dikubur di Desa Dempo Timur, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan. ”Kalau makamnya Agung ini ada di utara sungai, sudah masuk Desa Dempo Timur, Pasean, Pamekasan,” ulasnya.

Agung Ambaroh atau kesohor dengan sebutan Agung Ambar itu memiliki istri bernama Palgunah dan dikarunia keturunan sebanyak empat orang. Mereka bernama Agung Sokah, Agung Penia, Agung Sengsengan, dan Agung Gibe.

”Al-Qur’an ini adalah seratan tangan peninggalan Agung Sabenah, putranya Agung Sagereh yang merupakan putra dari Agung Sokah. Saya tidak tahu pasti siapa yang menyerat Al-Qur’an ini,” terangnya.

Mustar mengungkapkan, satu petak tanah yang ada di sisi timur sendi Agung Taman Sare memang dijadikan tempat rokat. Jika sudah waktunya rokat, sepetak tanah tersebut tidak ditanami apa pun. ”Kalau ada tanamannya, maka saya babat meski belum waktunya panen. Itu sebagai bentuk penghormatan kami kepada leluhur,” pungkasnya.

Rokat Sendi Agung Taman Sare digelar setiap tanggal 14 bulan Syakban  sebagai penghormatan terhadap peninggalan Sayyid Agung Ambaroh bin Agung Solehoddin. Rokat digelar di sisi timur sendi bekas langgar Sayyid Agung Ambaroh.

RUSYDI ZAIN, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

SEJAK pukul 06.30, keturunan dari Sayyid Agung Ambaroh, baik laki-laki dan perempuan di Dusun Pancor, Desa Lebeng Barat, Kecamatan Pasongsongan, mulai berdatangan ke area sendi. Sendi ini merupakan batu fondasi dari bangunan langgar kayu peninggalan Agung Ambaroh.


Satu per satu warga yang datang mulai duduk di bawah tenda, yang tiangnya terbuat dari bambu beralaskan terpal. Rokat Sendi Agung Taman Sare yang dilaksanakan setiap tahun itu cukup sederhana.

Penyembelihan seekor kambing mengawali pelaksanaan Rokat Sendi Agung Taman Sare. Kemudian, kambing tersebut dimasak dan dimakan bersama setelah kegiatan ritual rokat selesai. Bacaan dalam rokat sendi mulai surah Yasin, Tahlil, zikir, dan ditutup dengan doa Pangrokat. Tujuannya, memohon keselamatan dan keberkahan rezeki pada Tuhan yang Mahakuasa.

Rokat sendi di Dusun Pancor tersebut dilaksanakan secara turun-temurun setiap tanggal 14 di bulan Syakban. Sebab, tanggal itu diyakini sebagai tanggal wafatnya Agung Ambaroh. Karena itu, diselenggarakan rokat kampung sekaligus haul Agung Ambaroh.

Baca Juga :  Atlet Pencak Silat Peraih Medali Emas Porprov VI Jatim (4-Habis)

Ada dua kotak sesajen atau ancak yang digantung di pohon bambu dan pohon mangga yang terletak di sisi timur utara sendi. Isinya ayam, hati kambing, bubur lima macam, air campur daun pandan, serabi, dan ketan.

Mustar bin Raksan sebagai salah satu keturunan Agung Ambaroh, yang dipercaya menjadi ketua Rokat Sendi Agung Taman Sare mengatakan, rokat hanya diikuti oleh keturunan Agung Ambaroh. Dikatakan, tidak ada paksaan untuk mengikuti rokat. Karena itu, tidak semua keturunan dari Agung Ambaroh hadir.

Mustar mengatakan, peninggalan Agung Ambaroh di Dusun Pancor saat ini hanya tinggal sendi. Sebab, bangunan langgar dikabarkan pindah ke Desa Lembung, Kecamatan Lenteng. ”Jadi ini namanya Rokat Sendi Agung Taman Sare, sekarang sudah tinggal sendinya. Menurut cerita orang tua saya, langgar pindah ke Lembung,” katanya.

Dijelaskan, hingga saat ini ada pohon jambu yang tumbuh di sisi timur laut sendi tersebut. Menurut dia, buah jambu tersebut tidak dipatuk burung meski sudah matang. ”Kami juga tidak berani memakan buah jambu yang tumbuh di area sendi itu. Burung saja tidak berani makan meski sudah matang,” ucapnya.

Baca Juga :  Komitmen Tomy Prambana, Kasatreskrim Termuda di Madura

Mustar menerangkan, posisi empat sendi sejak dulu tidak pernah berubah. Dia hanya merawat dan membersihkannya. Sendi tersebut kini diberi pagar bambu. ”Pernah ada orang naik kuda lewat di sisi barat sendi dan tidak turun. Setelah beberapa meter, jatuh dari kudanya,” tuturnya.

Menurut Mustar, jasad dari Agung Ambaroh konon dikubur di Desa Dempo Timur, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan. ”Kalau makamnya Agung ini ada di utara sungai, sudah masuk Desa Dempo Timur, Pasean, Pamekasan,” ulasnya.

Agung Ambaroh atau kesohor dengan sebutan Agung Ambar itu memiliki istri bernama Palgunah dan dikarunia keturunan sebanyak empat orang. Mereka bernama Agung Sokah, Agung Penia, Agung Sengsengan, dan Agung Gibe.

”Al-Qur’an ini adalah seratan tangan peninggalan Agung Sabenah, putranya Agung Sagereh yang merupakan putra dari Agung Sokah. Saya tidak tahu pasti siapa yang menyerat Al-Qur’an ini,” terangnya.

Mustar mengungkapkan, satu petak tanah yang ada di sisi timur sendi Agung Taman Sare memang dijadikan tempat rokat. Jika sudah waktunya rokat, sepetak tanah tersebut tidak ditanami apa pun. ”Kalau ada tanamannya, maka saya babat meski belum waktunya panen. Itu sebagai bentuk penghormatan kami kepada leluhur,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/