alexametrics
21.5 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Uswatun Hasanah Berdayakan Perajin Batik dengan Sistem Bagi Hasil

BANGKALAN – Perempuan tidak hanya berkutat di dapur. Potensi mereka bisa dikembangkan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Uswatun Hasanah ingin perajin batik lebih berdaya. Terutama kaum hawa.

Penghasilan kecil perajin batik menjadi inspirasi. Pada 2014 Uswatun Hasanah mendapat informasi program wirausaha Bank Indonesia (BI). Kompetisi itu diikuti dengan harapan bisa mendapat akses pemasaran.

Agustus 2014 dia mulai membangun bisnis untuk memasarkan produk batik tradisional. Awalnya alumnus pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) itu hanya memiliki dua perajin. Uus terpanggil untuk mencari cara agar pendapatan perajin bertambah.

Salah satu cara dengan menerapkan sistem bagi hasil. Bukan upah. ”Sekarang saya sudah punya 100 lebih perajin di Tanjungbumi,” kata Owner Jokotole Collection itu di rumahnya Jalan Anggrek, Kelurahan Kemayoran, Bangkalan, Rabu (28/3).

Mulanya perajin batik memiliki pendapatan rata-rata Rp 1,5 juta sampai Rp 1,8 juta per bulan dengan sistem upah. Dengan sistem bagi hasil ini, setiap perajin bisa mendapat penghasilan minimal Rp 2 juta. Bahkan, ada satu perajin mendapat Rp 7 juta sebulan.

”Saya tidak memberlakukan mereka sebagai pekerja, tapi sebagai mitra. Hasil ini atas kerja keras mereka. Saya hanya membantu memasarkan,” ucap Ketua Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi) Bangkalan ini.

Saat ini penjualan sudah merambah Malaysia, Singapura, Thailand, India, dan UK. Produk yang difokuskan untuk penjualan yakni batik premium atau lebih dikenal dengan batik gentongan. Segmentasi pasar yang disasar yakni konsumen kelas ekonomi menengah ke atas.

”Pasar strategis dalam negeri itu Jakarta. Pameran dua hari saja sudah bisa meraup sekitar Rp 100 juta,” jelas istri Wirantono Adi Putra itu.

Satu lembar batik premium ada yang seharga Rp 18 juta. Ada juga kisaran Rp 4 juta–Rp 5 juta. Semakin sulit pembuatannya, akan memengaruhi harga. Sebab, batik terdapat nilai filosofi. Setiap detail dan warna memiliki cerita.

Anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan H Kholili dan Sahidah itu juga sedang proses membangun galeri budaya. Isinya batik dan proses pembuatan batik. Bagi perempuan asal Desa Klampis Barat, Kecamatan Klampis itu, industri batik sangat menjanjikan.

Baca Juga :  Bincang-Bincang Bersama Kades Pujon Kidul, Malang, Udi Hartoko

”Kalau menggunakan sistem upah, saya banyak untung. Tapi saya tidak mau kaya sendiri. Kunci usaha ini ada pada perajin. Mereka berhak untuk mendapat manfaat yang sama,” ujar ibu kandung Muhammad Faqih Safa Haidir A. dan Muhammad Abid Baqir Nafi A. itu.

Prinsip bisnis yang dijalankan ekonomi berkeadilan. Perajin dan dirinya memiliki keuntungan yang sama. Perajin jadi termotivasi memberikan karya terbaik dalam membatik. ”Semakin bagus karyanya, akan berpengaruh pada nilai,” terangnya.

Perempuan penyuka kopi itu menceritakan, awal merintis 2014, omzet per bulan bisa Rp 10 juta sampai Rp 20 juta. Hasil itu dibagi dua dengan perajin. Setahun kemudian, prospek bisnis semakin bagus. Omzet per bulan antara Rp 70 juta sampai Rp 80 juta.

Tahun 2016, karya para pembatik yang terjual atas kelihaian pemasarannya mampu mencapai Rp 100 juta lebih. Bahkan, 2017 tembus Rp 200 juta lebih. Perputaran uang dari keuntungan yang didapatkan 2017 bisa mencapai Rp 1,5 miliar setahun. ”Januari sampai Maret biasanya agak sepi. April itu sudah mulai (ramai),” papar salah satu duta pelayaran Indonesia 2007 itu.

Dia bangga bisa membantu perekonomian masyarakat perempuan. Baginya, perempuan tidak hanya bertugas di dapur, melainkan memberikan manfaat bagi perempuan lain. ”Rencananya memang akan membantu para pembatik di luar Bangkalan,” ungkapnya.

Produk batik yang dikelola dijadwalkan mengikuti dipamerkan di Washington DC pada 18–21 April 2018. Alasan lain membuatnya semangat, tegar, dan bekerja keras, yakni setelah almarhum suami pertamanya meninggal dunia Januari 2013. Saat itu dia masih berusia 26 tahun dan dalam kondisi hamil. Sementara anak pertamanya masih berusia 1,5 tahun.

Desember 2014, dia mendapat penghargaan BI Awards dari KPW BI Jatim sebagai pengusaha yang memberikan dampak sosial. Kemudian, 2015 meraih juara II stand dan omzet pengusaha pemula terbaik kedua ajang Indonesia Shari’a Economic Festival tingkat internasional.

Baca Juga :  Empu Ika Arista Usung Pameran Bertajuk Sekep di Biennale Jogja XVI

Kemudian 2017 menjadi juara kedua ajang serupa. Tahun 2016 kembali meraih penghargaan BI Awards sebagai penggerak usaha mikro kecil menengah (UMKM) berbasis gender tingkat nasional.

Uus kemudian disunting Wirantono Adi Putra pada 14 Februari 2018. Maret 2018 menjadi satu-satunya peraih special recognition pada Asian Youth Women Netizen Marketing Excellence Award. Penghargaan dari Asia Marketing Federation (AMF) diraih untuk kategori women marketer di The Grand Copthorne Waterfront Hotel Singapore.

”Ada kategori women, youth, dan netizen. Saya kategori women. Itu penghargaan khusus,” ungkap perempuan anak nelayan itu. Hanya lima negara yang mendapat penghargaan. Uus mewakili Indonesia bersama seorang pengusaha asal Surabaya.

Event ini diikuti Indonesia, Malaysia, Singapura, Banglades, Kamboja, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Vietnam, Cina, Hongkong, Jepang, Korea, Mongolia, Myanmar, dan Filipina. ”Teman dari Surabaya mendapat penghargaan kategori youth,” tutur perempuan kelahiran Bangkalan, 15 Oktober 1986 itu.

Awalnya dia mengikuti seleksi dalam negeri. Dari sekian banyak peserta, diambil 20 orang. Kemudian, diseleksi kembali menjadi delapan orang. Seleksi berlanjut hingga terpilih dua orang mewakili Indonesia.

Kompetisi dimulai Oktober 2017. Prestasi yang diraih ini berangkat dari keprihatinan terhadap penghasilan perajin batik tradisional di Bangkalan. Uus kerap diundang menjadi pemateri seminar maupun workshop. Pernah satu panggung dengan Dahlan Iskan, Bupati Bojonegoro Suyoto (Kang Yoto), dan Misbahul Munir, komisi VII DPR RI.

”Saya menjelaskan pengembangan industri kreatif dengan melibatkan perempuan,” kenang perempuan berkerudung itu.

Dia berharap niatnya untuk tetap berbakti dan bermanfaat bagi orang lain tetap teguh. Sehingga bisa terus membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ”Semoga tetap diberkahi Tuhan,” harap dosen Prodi Manajemen dan Entrepreneurship Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu.

BANGKALAN – Perempuan tidak hanya berkutat di dapur. Potensi mereka bisa dikembangkan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Uswatun Hasanah ingin perajin batik lebih berdaya. Terutama kaum hawa.

Penghasilan kecil perajin batik menjadi inspirasi. Pada 2014 Uswatun Hasanah mendapat informasi program wirausaha Bank Indonesia (BI). Kompetisi itu diikuti dengan harapan bisa mendapat akses pemasaran.

Agustus 2014 dia mulai membangun bisnis untuk memasarkan produk batik tradisional. Awalnya alumnus pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) itu hanya memiliki dua perajin. Uus terpanggil untuk mencari cara agar pendapatan perajin bertambah.


Salah satu cara dengan menerapkan sistem bagi hasil. Bukan upah. ”Sekarang saya sudah punya 100 lebih perajin di Tanjungbumi,” kata Owner Jokotole Collection itu di rumahnya Jalan Anggrek, Kelurahan Kemayoran, Bangkalan, Rabu (28/3).

Mulanya perajin batik memiliki pendapatan rata-rata Rp 1,5 juta sampai Rp 1,8 juta per bulan dengan sistem upah. Dengan sistem bagi hasil ini, setiap perajin bisa mendapat penghasilan minimal Rp 2 juta. Bahkan, ada satu perajin mendapat Rp 7 juta sebulan.

”Saya tidak memberlakukan mereka sebagai pekerja, tapi sebagai mitra. Hasil ini atas kerja keras mereka. Saya hanya membantu memasarkan,” ucap Ketua Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi) Bangkalan ini.

Saat ini penjualan sudah merambah Malaysia, Singapura, Thailand, India, dan UK. Produk yang difokuskan untuk penjualan yakni batik premium atau lebih dikenal dengan batik gentongan. Segmentasi pasar yang disasar yakni konsumen kelas ekonomi menengah ke atas.

”Pasar strategis dalam negeri itu Jakarta. Pameran dua hari saja sudah bisa meraup sekitar Rp 100 juta,” jelas istri Wirantono Adi Putra itu.

Satu lembar batik premium ada yang seharga Rp 18 juta. Ada juga kisaran Rp 4 juta–Rp 5 juta. Semakin sulit pembuatannya, akan memengaruhi harga. Sebab, batik terdapat nilai filosofi. Setiap detail dan warna memiliki cerita.

Anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan H Kholili dan Sahidah itu juga sedang proses membangun galeri budaya. Isinya batik dan proses pembuatan batik. Bagi perempuan asal Desa Klampis Barat, Kecamatan Klampis itu, industri batik sangat menjanjikan.

Baca Juga :  Menangkap Pesan Pertunjukan Teater ”Perempuan dan Kapal yang Hilang”

”Kalau menggunakan sistem upah, saya banyak untung. Tapi saya tidak mau kaya sendiri. Kunci usaha ini ada pada perajin. Mereka berhak untuk mendapat manfaat yang sama,” ujar ibu kandung Muhammad Faqih Safa Haidir A. dan Muhammad Abid Baqir Nafi A. itu.

Prinsip bisnis yang dijalankan ekonomi berkeadilan. Perajin dan dirinya memiliki keuntungan yang sama. Perajin jadi termotivasi memberikan karya terbaik dalam membatik. ”Semakin bagus karyanya, akan berpengaruh pada nilai,” terangnya.

Perempuan penyuka kopi itu menceritakan, awal merintis 2014, omzet per bulan bisa Rp 10 juta sampai Rp 20 juta. Hasil itu dibagi dua dengan perajin. Setahun kemudian, prospek bisnis semakin bagus. Omzet per bulan antara Rp 70 juta sampai Rp 80 juta.

Tahun 2016, karya para pembatik yang terjual atas kelihaian pemasarannya mampu mencapai Rp 100 juta lebih. Bahkan, 2017 tembus Rp 200 juta lebih. Perputaran uang dari keuntungan yang didapatkan 2017 bisa mencapai Rp 1,5 miliar setahun. ”Januari sampai Maret biasanya agak sepi. April itu sudah mulai (ramai),” papar salah satu duta pelayaran Indonesia 2007 itu.

Dia bangga bisa membantu perekonomian masyarakat perempuan. Baginya, perempuan tidak hanya bertugas di dapur, melainkan memberikan manfaat bagi perempuan lain. ”Rencananya memang akan membantu para pembatik di luar Bangkalan,” ungkapnya.

Produk batik yang dikelola dijadwalkan mengikuti dipamerkan di Washington DC pada 18–21 April 2018. Alasan lain membuatnya semangat, tegar, dan bekerja keras, yakni setelah almarhum suami pertamanya meninggal dunia Januari 2013. Saat itu dia masih berusia 26 tahun dan dalam kondisi hamil. Sementara anak pertamanya masih berusia 1,5 tahun.

Desember 2014, dia mendapat penghargaan BI Awards dari KPW BI Jatim sebagai pengusaha yang memberikan dampak sosial. Kemudian, 2015 meraih juara II stand dan omzet pengusaha pemula terbaik kedua ajang Indonesia Shari’a Economic Festival tingkat internasional.

Baca Juga :  Jika Ingin Maju, Sumenep Harus Jadi Ibu Kota

Kemudian 2017 menjadi juara kedua ajang serupa. Tahun 2016 kembali meraih penghargaan BI Awards sebagai penggerak usaha mikro kecil menengah (UMKM) berbasis gender tingkat nasional.

Uus kemudian disunting Wirantono Adi Putra pada 14 Februari 2018. Maret 2018 menjadi satu-satunya peraih special recognition pada Asian Youth Women Netizen Marketing Excellence Award. Penghargaan dari Asia Marketing Federation (AMF) diraih untuk kategori women marketer di The Grand Copthorne Waterfront Hotel Singapore.

”Ada kategori women, youth, dan netizen. Saya kategori women. Itu penghargaan khusus,” ungkap perempuan anak nelayan itu. Hanya lima negara yang mendapat penghargaan. Uus mewakili Indonesia bersama seorang pengusaha asal Surabaya.

Event ini diikuti Indonesia, Malaysia, Singapura, Banglades, Kamboja, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Vietnam, Cina, Hongkong, Jepang, Korea, Mongolia, Myanmar, dan Filipina. ”Teman dari Surabaya mendapat penghargaan kategori youth,” tutur perempuan kelahiran Bangkalan, 15 Oktober 1986 itu.

Awalnya dia mengikuti seleksi dalam negeri. Dari sekian banyak peserta, diambil 20 orang. Kemudian, diseleksi kembali menjadi delapan orang. Seleksi berlanjut hingga terpilih dua orang mewakili Indonesia.

Kompetisi dimulai Oktober 2017. Prestasi yang diraih ini berangkat dari keprihatinan terhadap penghasilan perajin batik tradisional di Bangkalan. Uus kerap diundang menjadi pemateri seminar maupun workshop. Pernah satu panggung dengan Dahlan Iskan, Bupati Bojonegoro Suyoto (Kang Yoto), dan Misbahul Munir, komisi VII DPR RI.

”Saya menjelaskan pengembangan industri kreatif dengan melibatkan perempuan,” kenang perempuan berkerudung itu.

Dia berharap niatnya untuk tetap berbakti dan bermanfaat bagi orang lain tetap teguh. Sehingga bisa terus membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ”Semoga tetap diberkahi Tuhan,” harap dosen Prodi Manajemen dan Entrepreneurship Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/