alexametrics
29.4 C
Madura
Friday, August 12, 2022

Ulama Ini Dapat Gelar Syekh Al-Kabir Al-Alim dari Raja Sumenep

Syekh Abdurrahman merupakan ulama terkemuka. Namun, masih ada masyarakat yang belum tahu kiprahnya. Seperti apa jejak ulama yang akrab disapa Agung Rabah itu?

MOH. ALI MUHSIN, Pamekasan

SEJARAH Syekh Abdurrahman dibahas secara serius oleh sejumlah komunitas dan pemerhati sejarah Minggu (27/1). Pembahasan itu dikemas dengan bedah buku Kiai Agung Rabah di kompleks Pondok Pesantren Syekh Abdurrahman, Pademawu, Pamekasan.

Pemaparan sejarah itu dipimpin K Hamid selaku penulis buku.Materi sejarah juga disampaikan oleh dosen IAIN Madura Moh. Masyhur Abadi selaku pembedah.Sementara pemerhati sejarah dari Sumenep RB Moh. Farhan Muzammily dihadirkan selaku pembanding.

Pembahasan sejarah Agung Rabah secara detail itu membuka pengetahuan peserta. Lebih-lebih terhadap perannya pada masa Pangeran Ronggosukowati. Agung Rabah merupakan ulama yang mampu mengatasi masa paceklik. Tokoh asal Desa Sendir, Kecamatan Lenteng, Sumenep, itu sangat disegani sang pangeran dan masyarakat saat itu.

”Agung Rabah merupakan sosok yang hebat. Dia memiliki kejunilan dan doa-doanya cepat di-istijabah,” kata Kiai Hamid. Dalam penelusurannya, Agung Rabah mendapatkan gelar dari Raja Sumenep Temenggung Notokusomo sebagai Syeh Al-Kabir Al-Alim.

Gelar atau julukan itu melekat dalam batu nisan asta Agung Rabah yang merupakan persembahan raja Sumenep tersebut. ”Beliau mendapatkan penghargaan luar biasa dari raja Sumenep,” terangnya.

Baca Juga :  Bio Farma Produksi Vaksin untuk Dunia

Menurut dia, Agung Rabah hidup sekitar abad 16 atau 17 atau sekitar 1500 akhir atau 1600 awal. Hal itu merujuk pada wafatnya Pangeran Ronggosukowati pada 1624. ”Di beberapa manuskrip memang tidak dikatakan Ronggosukowati, tapi rato Pamekasan. Namun di masa rato Ronggosukowati itu Pamekasan mengalami paceklik dan hal itu berhubungan dengan Agung Rabah,” terangnya.

Karena itu, dengan penyusunan sejarah biografi tersebut, masyarakat diharapkan mengetahui dan memahami Buju’ Rabah. Profilnya disebut-sebut sebagai sosok waskita-wicaksana dalam catatan-catatan kesejarahan Madura dan referensi kratonikal Sumenep.

”Agar masyarakat tahu dan keturunannya paham siapa itu Buju’ Rabah dan kita semua dapat mengelilingi Buju’ Rabah dengan kebaikan-kebaikan,” terangnya.

Sementara Mashur Abadi membahas posisi Agung Rabah dalam spektrum Islam awal di Madura dan Nusantara. Dia menganalisis keterkaitan Buju’ Rabah yang berasal dari Sendir, Lenteng, Sumenep, dengan Pasean.

”Ada alasan yang kuat untuk menyebut Pasean Pamekasan di pantura sebagai koloni orang-orang dari kerajaan Islam Samudera Pasai (Pase) yang membawa Islam awal mula ke Madura. Namun analisis keterkaitan ini jauh dari konklusi karena tidak cukup data,” terangnya.

Baca Juga :  Selangkah Lagi Menjadi IAIN

Dia menilai, buku biografi Buju’ Rabah sah sebagai referensi sejarah karena disusun berdasarkan dua bukti arkeologis, arsitektur makam, dan penamaan beberapa tempat terkait dengan Buju’ Rabah. ”Di samping juga ada dukungan manuskrip dan folklor tentang Buju’ Rabah,” terangnya.

Apresiasi serupa juga disampaikan Moh. Farhan Muzammily. Dia menyatakan, buku karya K Abd. Hamid itu pantas dijadikan referensi sejarah. ”Apalagi dalam penulisan buku ini didukung oleh keterangan-keterangan yang kuat,” terangnya.

Pemerhati sejarah Madura KH Ilzamuddin menegaskan, selayaknya buku tersebut menjadi rujukan pakar sejarah di Madura. Buku itu ditulis berdasarkan data empiris di lapangan. Bahkan, bisa merevisi catatan-catatan terdahulu.

Hal yang lebih penting, lanjut Ilzam, sosok Agung Rabah harus menjadi inspirasi dan teladan masyarakat. ”Beliau berkepribadian baik, ahli ibadah, dan taat kepada guru,” tuturnya.

Sementara itu, Zainal Abidin, peserta bedah buku, mengaku tercerahkan dengan pemaparan sejarah Agung Rabah. Menurut dia, Agung Rabah merupakan tokoh yang memiliki jasa besar bagi masyarkaat. ”Pemkab harus mempromosikan asta ini sebagai wisata religi. Sebab, asta ini ada kaitannya dengan sejarah Pamekasan,” katanya.

Syekh Abdurrahman merupakan ulama terkemuka. Namun, masih ada masyarakat yang belum tahu kiprahnya. Seperti apa jejak ulama yang akrab disapa Agung Rabah itu?

MOH. ALI MUHSIN, Pamekasan

SEJARAH Syekh Abdurrahman dibahas secara serius oleh sejumlah komunitas dan pemerhati sejarah Minggu (27/1). Pembahasan itu dikemas dengan bedah buku Kiai Agung Rabah di kompleks Pondok Pesantren Syekh Abdurrahman, Pademawu, Pamekasan.


Pemaparan sejarah itu dipimpin K Hamid selaku penulis buku.Materi sejarah juga disampaikan oleh dosen IAIN Madura Moh. Masyhur Abadi selaku pembedah.Sementara pemerhati sejarah dari Sumenep RB Moh. Farhan Muzammily dihadirkan selaku pembanding.

Pembahasan sejarah Agung Rabah secara detail itu membuka pengetahuan peserta. Lebih-lebih terhadap perannya pada masa Pangeran Ronggosukowati. Agung Rabah merupakan ulama yang mampu mengatasi masa paceklik. Tokoh asal Desa Sendir, Kecamatan Lenteng, Sumenep, itu sangat disegani sang pangeran dan masyarakat saat itu.

”Agung Rabah merupakan sosok yang hebat. Dia memiliki kejunilan dan doa-doanya cepat di-istijabah,” kata Kiai Hamid. Dalam penelusurannya, Agung Rabah mendapatkan gelar dari Raja Sumenep Temenggung Notokusomo sebagai Syeh Al-Kabir Al-Alim.

Gelar atau julukan itu melekat dalam batu nisan asta Agung Rabah yang merupakan persembahan raja Sumenep tersebut. ”Beliau mendapatkan penghargaan luar biasa dari raja Sumenep,” terangnya.

Baca Juga :  Syaikhona Kholil Didik Santri Ilmu Agama dan Cinta Tanah Air (3–Habis)

Menurut dia, Agung Rabah hidup sekitar abad 16 atau 17 atau sekitar 1500 akhir atau 1600 awal. Hal itu merujuk pada wafatnya Pangeran Ronggosukowati pada 1624. ”Di beberapa manuskrip memang tidak dikatakan Ronggosukowati, tapi rato Pamekasan. Namun di masa rato Ronggosukowati itu Pamekasan mengalami paceklik dan hal itu berhubungan dengan Agung Rabah,” terangnya.

Karena itu, dengan penyusunan sejarah biografi tersebut, masyarakat diharapkan mengetahui dan memahami Buju’ Rabah. Profilnya disebut-sebut sebagai sosok waskita-wicaksana dalam catatan-catatan kesejarahan Madura dan referensi kratonikal Sumenep.

”Agar masyarakat tahu dan keturunannya paham siapa itu Buju’ Rabah dan kita semua dapat mengelilingi Buju’ Rabah dengan kebaikan-kebaikan,” terangnya.

Sementara Mashur Abadi membahas posisi Agung Rabah dalam spektrum Islam awal di Madura dan Nusantara. Dia menganalisis keterkaitan Buju’ Rabah yang berasal dari Sendir, Lenteng, Sumenep, dengan Pasean.

”Ada alasan yang kuat untuk menyebut Pasean Pamekasan di pantura sebagai koloni orang-orang dari kerajaan Islam Samudera Pasai (Pase) yang membawa Islam awal mula ke Madura. Namun analisis keterkaitan ini jauh dari konklusi karena tidak cukup data,” terangnya.

Baca Juga :  Bio Farma Produksi Vaksin untuk Dunia

Dia menilai, buku biografi Buju’ Rabah sah sebagai referensi sejarah karena disusun berdasarkan dua bukti arkeologis, arsitektur makam, dan penamaan beberapa tempat terkait dengan Buju’ Rabah. ”Di samping juga ada dukungan manuskrip dan folklor tentang Buju’ Rabah,” terangnya.

Apresiasi serupa juga disampaikan Moh. Farhan Muzammily. Dia menyatakan, buku karya K Abd. Hamid itu pantas dijadikan referensi sejarah. ”Apalagi dalam penulisan buku ini didukung oleh keterangan-keterangan yang kuat,” terangnya.

Pemerhati sejarah Madura KH Ilzamuddin menegaskan, selayaknya buku tersebut menjadi rujukan pakar sejarah di Madura. Buku itu ditulis berdasarkan data empiris di lapangan. Bahkan, bisa merevisi catatan-catatan terdahulu.

Hal yang lebih penting, lanjut Ilzam, sosok Agung Rabah harus menjadi inspirasi dan teladan masyarakat. ”Beliau berkepribadian baik, ahli ibadah, dan taat kepada guru,” tuturnya.

Sementara itu, Zainal Abidin, peserta bedah buku, mengaku tercerahkan dengan pemaparan sejarah Agung Rabah. Menurut dia, Agung Rabah merupakan tokoh yang memiliki jasa besar bagi masyarkaat. ”Pemkab harus mempromosikan asta ini sebagai wisata religi. Sebab, asta ini ada kaitannya dengan sejarah Pamekasan,” katanya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/