alexametrics
22.8 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Mun’im Sirry, Anak Petani Lulusan Pesantren Jadi Dosen di Amerika

Harapan adalah mimpi dari seseorang yang terjaga. Demikian Aristoteles (384–322 SM) berkata. Mun’im Sirry merupakan satu bagian dari apa yang dikatakan filsuf besar asal Yunani itu.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

MUN’IM Sirry termotivasi untuk mewujudkan mimpi besar ayahnya. Mimpi seorang petani agar anaknya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.

Mun’im merupakan putra seorang petani di Desa Bataal Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep, bernama Ahmad Sirri. Meskipun petani, cita-citanya mulia dan tinggi. Betapa tidak, Ahmad Sirri menginginkan Mun’im kuliah. Bahkan, sampai ke luar negeri sekalipun.

”Ayah saya petani, tapi mimpinya sangat luar biasa. Meski mungkin, itu tidak biasa di kalangan petani,” kata Mun’im saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (25/10). Tetapi, bukankah siapa pun berhak bermimpi? Sebab, mimpi adalah batu loncatan untuk melakukan apa saja dalam hidup ini. ”Dan cita-citanya menginspirasi saya,” lanjutnya.

Dari situlah perjalanan dimulai. Lulus SD, Mun’im diantarkan ke pesantren untuk menimba ilmu agama. Yaitu, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Di sana, Mun’im menempa diri dengan pengetahuan agama.

Dari mimpi ayah, kadang Mun’im membayangkan benar-benar ada di luar negeri, seperti Kairo dan lainnya. Tapi kemudian sadar, dia masih di Prenduan.

Akhirnya, Mun’im Sirry dengan berbekal cita-cita sang ayah, dia terbang ke Pakistan pada 1990. Saat itu, dia hanya meminta uang tiket kepada orang tua. Meski demikian, permintaan itu tidak mudah dipenuhi. ”Saya tahu betul, betapa susahnya bapak saya cari dana untuk tiket pesawat,” kenang suami Nunung Nursanah itu.

Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Sesulit apa pun, pasti berjumpa dengan jalan keluar. Mun’im pun sampai ke Negeri Seribu Cahaya. Sesampainya di Pakistan, uang Mun’im dari ayah tersisa 20 dolar.

Baca Juga :  Peran Alumni Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Tarate

Tekad Mun’im untuk kuliah benar-benar kuat. Seperti apa pun kondisi yang dialami, dia berjanji harus mencari solusi sendiri. Tidak membebani ayah dan ibunya lagi.

Bahkan, Mun’im berkomitmen untuk menyambung hidup dan biaya kuliah dengan usahanya sendiri. ”Saya ingat bagaimana susahnya orang tua saya. Saya bertekad tidak minta kiriman dari orang rumah,” tegas ayah Kemal Ananda Perdana ini.

Usaha lain yang dilakukan Mun’im agar sedikit mengurangi beban dengan mencari informasi mengenai beasiswa. Tentunya, melalui jalur prestasi. Dia tak lelah untuk terus belajar, menghabiskan waktu di perpustakaan, dan merangkum apa yang dibaca.

Pada waktu yang tak terduga, di pertengahan semester, Mun’im mendapat apa yang diinginkan. Dia menerima beasiswa tidak hanya dari kampusnya. Tetapi, juga dari International Institute of Islamic Thought (IIIT). Tidak hanya pada program sarjana, beasiswa itu berlanjut hingga program magister (S-2).

Mun’im mampu menyelesaikan S-1 dan S-2 pada Faculty of Shari’ah and Law International Islamic University Islamabad, Pakistan (1990–1996). Sebuah perguruan tinggi riset negeri di kawasan perkotaan Islamabad, Pakistan.

”Itu merupakan satu institusi terbaik untuk bidang studi Islam, teologi, perbandingan agama dan ilmu agama Islam,” lanjut Mun’im.

Minat Mun’im untuk melanjutkan studinya semakin tinggi. Apalagi, didukung oleh keinginan besar dan cita-cita kedua orang tuanya, Ahmad Sirri dan Samsumi, jauh di kampung halaman. Ditambah, Mun’im sendiri sangat pandai menulis. Karya-karyanya tersiar di berbagai media penting, baik koran di Indonesia, bahkan jurnal internasional.

Baca Juga :  Komitmen AKBP Didit Bambang Wibowo Saputro Jaga Kondisivitas

Di kemudian hari, dari karya-karya yang ditulisnya, Mun’im dipanggil Kedutaan Amerika. Mereka tertarik setelah membaca tulisan-tulisannya. Mereka senang dengan penjelasan Mun’im atas apa yang dia tulis.

Dari situ, Mun’im ditawarkan terbang ke Amerika. Meskipun awalnya bukan tujuan studi, melainkan hanya jalan-jalan. ”Tentu saya tidak bisa menolak itu. Saya terima, dan saya berangkat,” jelasnya.

Setelah sebulan tinggal di Amerika, Mun’im langsung mendapat tawaran beasiswa pascasarjana dari Fulbright dan S-3 dari kampusnya di kemudian hari. Hal itu dia dapatkan usai ditanyai kesan apa yang didapat mengenai orang-orang Amerika. ”Waktu itu saya jawab, orang Amerika sangat religius,” tuturnya sembari bercanda.

Di Negeri Paman Sam inilah mimpi besarnya semakin jelas. Sehabis lulus dari University of California Los Angeles, program Ph.D-nya dia selesaikan di University of Chicago. Salah satu kampus besar di dunia.

Jadilah Mun’im yang alumnus pesantren kemudian menjadi asisten Profesor Bidang Teologi di departemen Teologi dan Penelitian pada Korc Institute for International Peace Studies, University of Notre Dame, Amerika Serikat.

Dikutip dari id.wikipedia.org, Universitas Notre Dame merupakan satu perguruan tinggi Katolik Roma paling terkemuka. Terletak di Notre Dame, Indiana, timur laut dari South Bend, Indiana, Amerika Serikat. ”Mungkin kontras. Di satu sisi saya alumnus pesantren. Di sisi yang lain saya dosen di perguruan tinggi Katolik,” imbuhnya.

Mun’im berharap, siapa pun orangnya, jangan berhenti bermimpi dan belajar. Semua hal bisa diraih jika mau berusaha. ”Semoga perjalanan saya ini menginspirasi mereka yang mau belajar, terutama anak muda. Jangan berhenti belajar,” pungkas Mun’im.

- Advertisement -

Harapan adalah mimpi dari seseorang yang terjaga. Demikian Aristoteles (384–322 SM) berkata. Mun’im Sirry merupakan satu bagian dari apa yang dikatakan filsuf besar asal Yunani itu.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

MUN’IM Sirry termotivasi untuk mewujudkan mimpi besar ayahnya. Mimpi seorang petani agar anaknya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.


Mun’im merupakan putra seorang petani di Desa Bataal Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep, bernama Ahmad Sirri. Meskipun petani, cita-citanya mulia dan tinggi. Betapa tidak, Ahmad Sirri menginginkan Mun’im kuliah. Bahkan, sampai ke luar negeri sekalipun.

”Ayah saya petani, tapi mimpinya sangat luar biasa. Meski mungkin, itu tidak biasa di kalangan petani,” kata Mun’im saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (25/10). Tetapi, bukankah siapa pun berhak bermimpi? Sebab, mimpi adalah batu loncatan untuk melakukan apa saja dalam hidup ini. ”Dan cita-citanya menginspirasi saya,” lanjutnya.

Dari situlah perjalanan dimulai. Lulus SD, Mun’im diantarkan ke pesantren untuk menimba ilmu agama. Yaitu, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Di sana, Mun’im menempa diri dengan pengetahuan agama.

Dari mimpi ayah, kadang Mun’im membayangkan benar-benar ada di luar negeri, seperti Kairo dan lainnya. Tapi kemudian sadar, dia masih di Prenduan.

Akhirnya, Mun’im Sirry dengan berbekal cita-cita sang ayah, dia terbang ke Pakistan pada 1990. Saat itu, dia hanya meminta uang tiket kepada orang tua. Meski demikian, permintaan itu tidak mudah dipenuhi. ”Saya tahu betul, betapa susahnya bapak saya cari dana untuk tiket pesawat,” kenang suami Nunung Nursanah itu.

Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Sesulit apa pun, pasti berjumpa dengan jalan keluar. Mun’im pun sampai ke Negeri Seribu Cahaya. Sesampainya di Pakistan, uang Mun’im dari ayah tersisa 20 dolar.

Baca Juga :  Junna, Perempuan 148 Tahun Serba Kekurangan

Tekad Mun’im untuk kuliah benar-benar kuat. Seperti apa pun kondisi yang dialami, dia berjanji harus mencari solusi sendiri. Tidak membebani ayah dan ibunya lagi.

Bahkan, Mun’im berkomitmen untuk menyambung hidup dan biaya kuliah dengan usahanya sendiri. ”Saya ingat bagaimana susahnya orang tua saya. Saya bertekad tidak minta kiriman dari orang rumah,” tegas ayah Kemal Ananda Perdana ini.

Usaha lain yang dilakukan Mun’im agar sedikit mengurangi beban dengan mencari informasi mengenai beasiswa. Tentunya, melalui jalur prestasi. Dia tak lelah untuk terus belajar, menghabiskan waktu di perpustakaan, dan merangkum apa yang dibaca.

Pada waktu yang tak terduga, di pertengahan semester, Mun’im mendapat apa yang diinginkan. Dia menerima beasiswa tidak hanya dari kampusnya. Tetapi, juga dari International Institute of Islamic Thought (IIIT). Tidak hanya pada program sarjana, beasiswa itu berlanjut hingga program magister (S-2).

Mun’im mampu menyelesaikan S-1 dan S-2 pada Faculty of Shari’ah and Law International Islamic University Islamabad, Pakistan (1990–1996). Sebuah perguruan tinggi riset negeri di kawasan perkotaan Islamabad, Pakistan.

”Itu merupakan satu institusi terbaik untuk bidang studi Islam, teologi, perbandingan agama dan ilmu agama Islam,” lanjut Mun’im.

Minat Mun’im untuk melanjutkan studinya semakin tinggi. Apalagi, didukung oleh keinginan besar dan cita-cita kedua orang tuanya, Ahmad Sirri dan Samsumi, jauh di kampung halaman. Ditambah, Mun’im sendiri sangat pandai menulis. Karya-karyanya tersiar di berbagai media penting, baik koran di Indonesia, bahkan jurnal internasional.

Baca Juga :  UMM Kukuhkan Elfi Jadi Guru Besar Baru

Di kemudian hari, dari karya-karya yang ditulisnya, Mun’im dipanggil Kedutaan Amerika. Mereka tertarik setelah membaca tulisan-tulisannya. Mereka senang dengan penjelasan Mun’im atas apa yang dia tulis.

Dari situ, Mun’im ditawarkan terbang ke Amerika. Meskipun awalnya bukan tujuan studi, melainkan hanya jalan-jalan. ”Tentu saya tidak bisa menolak itu. Saya terima, dan saya berangkat,” jelasnya.

Setelah sebulan tinggal di Amerika, Mun’im langsung mendapat tawaran beasiswa pascasarjana dari Fulbright dan S-3 dari kampusnya di kemudian hari. Hal itu dia dapatkan usai ditanyai kesan apa yang didapat mengenai orang-orang Amerika. ”Waktu itu saya jawab, orang Amerika sangat religius,” tuturnya sembari bercanda.

Di Negeri Paman Sam inilah mimpi besarnya semakin jelas. Sehabis lulus dari University of California Los Angeles, program Ph.D-nya dia selesaikan di University of Chicago. Salah satu kampus besar di dunia.

Jadilah Mun’im yang alumnus pesantren kemudian menjadi asisten Profesor Bidang Teologi di departemen Teologi dan Penelitian pada Korc Institute for International Peace Studies, University of Notre Dame, Amerika Serikat.

Dikutip dari id.wikipedia.org, Universitas Notre Dame merupakan satu perguruan tinggi Katolik Roma paling terkemuka. Terletak di Notre Dame, Indiana, timur laut dari South Bend, Indiana, Amerika Serikat. ”Mungkin kontras. Di satu sisi saya alumnus pesantren. Di sisi yang lain saya dosen di perguruan tinggi Katolik,” imbuhnya.

Mun’im berharap, siapa pun orangnya, jangan berhenti bermimpi dan belajar. Semua hal bisa diraih jika mau berusaha. ”Semoga perjalanan saya ini menginspirasi mereka yang mau belajar, terutama anak muda. Jangan berhenti belajar,” pungkas Mun’im.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/