alexametrics
21.6 C
Madura
Thursday, May 26, 2022

Fazabinal Aliem, Penerjemah Karya Sastra Arab

Menerjemahkan sebuah karya sastra bukan perkara mudah. Pengetahuan sang penerjemah harus luas. Termasuk, menguasai tata bahasa dan gagasan penulis.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

SASTRA merupakan salah satu karya tulis yang menyimpan sejuta makna. Apalagi, karya sastra berbahasa Arab. Sebagian pakar berpandangan, karya sastra berbahasa Arab merupakan satu-satunya bahasa di mana satu kata bisa memiliki banyak makna.

Tapi, tidak selamanya sastra dari Barat atau Eropa harus dijadikan kiblat. Hal itu disampaikan Fazabinal Alim, penerjemah karya sastra berbahasa Arab. Mulai dari syair-syair Adonis (penyair Arab klasik), Nizar Qabbani (penyair Syuriah), Al-Hallaj (penyair Iran), hingga Faruq Juwaidah (penyair Mesir).

Pria yang akrab disapa Ra Faza itu menuturkan, modal utama seorang penerjemah adalah mengenali bahasanya. ”Bahasa Arab itu berbeda dengan bahasa-bahasa yang lain,” katanya saat menjamu Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di rumahnya, yang berada di area Ponpes Raudlah Najiyah, Dusun Lengkong Timur, Desa Bragung, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep.

Dijelaskan, perbedaan bahasa Arab dengan bahasa lainnya yakni terletak pada strukturnya. Jika dalam bahasa Indonesia dan Inggris lazim dengan susunan subjek (S), predikat (P), Objek (O), dan keterangan (K) atau SPOK. Dalam bahasa Arab beda, kadang PSOK. ”Kadang predikat dulu, baru subjek dan objek,” imbuhnya.

Selain itu, sambung Ra Faza, dalam dalam bahasa Arab juga ada pengelompokan untuk maskulin dan feminin (mudzakkar dan muannats). Karena itu, tidak bisa menganggap bahasa Arab itu tunggal.

Baca Juga :  Kopi Kelud Adakan Pemutaran Film “THE BAJAU”, Diskusi, dan Donasi

”Kadang kala ketika kita mempelajari satu mufradat (kosakata), ternyata kita banyak menemukan sinonimnya. Dalam bahasa Arab juga banyak mutaradif (perbedaan), yang justru mengganggu kita. Contoh dla-ra-ba, yang kita tahu artinya memukul. Padahal, di kamus memiliki lebih dari 100 arti,” tegasnya.

Sebagai penerjemah karya sastra berbahasa Arab, Ra Faza mengakui kadang kala menemui kesulitan. Mengingat, secara gramatikal, bahasa Arab berbeda dengan bahasa yang lain. Bagi Ra Faza, tugas seorang penerjemah bukan hanya memindahkan teks belaka. Tapi, juga harus mampu memahami corak kebudayaannya.

Jika melakukan perbandingan antara sastra Arab dengan sastra Indonesia, menurut Ra Faza, sastra sedikit lebih unggul. ”Tahun 2000-an, terutama akhir-akhir ini, orang Indonesia banyak membahas Nizar Qabbani, Kahlil Gibran, dan lainnya. Padahal mereka itu penyair Arab modern, dan kita baru mengenalnya, kan?” tanyanya.

Padahal, kata Faza, periodisasi penyair Arab itu lintasannya dari masa ke masa. Contohnya, penyair jahiliah. Ada yang bilang, masa penyair jahiliah, sekitar 150 tahun sebelum Islam. ”Bahkan, ada yang menerangkan sebelumnya lagi. Hanya saja, yang bisa dilacak itu 10 penyair. Misalnya, penyair yang dikenal dengan sebutan mu’allaqat, yang puisi-puisinya ditempelkan di dinding Kakbah,” ujarnya.

”Jadi, orang mengenal Nizar Qabbani itu tanpa menyentuh penyair pada masa-masa sebelumnya. Sebenarnya, secara pengungkapan, lebih dalam puisi-puisi penyair lama. Perbedaannya pada bentuk. Yang lama itu bersajak,” ungkap Ra Faza.

Baca Juga :  Jejak Intelektual Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan (1)

Ditambahkan, untuk menerjemahkan karya sastra Arab klasik membutuhkan banyak pengetahuan, ilmu Arudh misalnya. Karena itu, karya sastra Arab modern lebih diminati. Salah satu alasannya, bentuknya lebih mudah dan cenderung bebas.

Sebagai orang yang juga menggandrungi karya-karya sastra, Ra Faza berharap karya sastra Arab yang diterjemahkannya memiliki sumbangsih kecil bagi kesusastraan Indonesia di masa depan. Utamanya, dalam khazanah penerjamahan sastra luar negeri ke bahasa Indonesia.

”Sebenarnya, kalau disadari, sastra Arab itu sangat dekat secara emosional dengan orang-orang Indonesia. Sebab, kita kan bagian dari peradaban Timur. Maka, tidak keliru jika kita sajikan dengan sastra Arab. Orang Indonesia yang mayoritas beragama Islam pasti dekat dengan teks-teks berbahasa Arab,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, hingga saat ini, pria asal Kecamatan Pragaan tersebut sudah berhasil menerbitkan tiga karya terjemahannya. Sebut saja, Panggung dan Cermin karya Adonis (Diva Press, 2018), Pecinta dari Palestina karya Mahmoud Darwish (Diva Press, 2020), dan Nestapa Cinta Lebih Manis Ketimbang Seribu Kenikmatan; Puisi-Puisi Ilahiyat karya Al-Hallaj (Penerbit Circa, 2020).

Ra Faza diketahui juga merintis salah satu platform studi yang memfokuskan diri pada karya sastra berbahasa Arab. Karya pria berusia 28 tahun itu biasanya disebar di instagram melalui laman sastraarab.com.

Menerjemahkan sebuah karya sastra bukan perkara mudah. Pengetahuan sang penerjemah harus luas. Termasuk, menguasai tata bahasa dan gagasan penulis.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

SASTRA merupakan salah satu karya tulis yang menyimpan sejuta makna. Apalagi, karya sastra berbahasa Arab. Sebagian pakar berpandangan, karya sastra berbahasa Arab merupakan satu-satunya bahasa di mana satu kata bisa memiliki banyak makna.


Tapi, tidak selamanya sastra dari Barat atau Eropa harus dijadikan kiblat. Hal itu disampaikan Fazabinal Alim, penerjemah karya sastra berbahasa Arab. Mulai dari syair-syair Adonis (penyair Arab klasik), Nizar Qabbani (penyair Syuriah), Al-Hallaj (penyair Iran), hingga Faruq Juwaidah (penyair Mesir).

Pria yang akrab disapa Ra Faza itu menuturkan, modal utama seorang penerjemah adalah mengenali bahasanya. ”Bahasa Arab itu berbeda dengan bahasa-bahasa yang lain,” katanya saat menjamu Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di rumahnya, yang berada di area Ponpes Raudlah Najiyah, Dusun Lengkong Timur, Desa Bragung, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep.

Dijelaskan, perbedaan bahasa Arab dengan bahasa lainnya yakni terletak pada strukturnya. Jika dalam bahasa Indonesia dan Inggris lazim dengan susunan subjek (S), predikat (P), Objek (O), dan keterangan (K) atau SPOK. Dalam bahasa Arab beda, kadang PSOK. ”Kadang predikat dulu, baru subjek dan objek,” imbuhnya.

Selain itu, sambung Ra Faza, dalam dalam bahasa Arab juga ada pengelompokan untuk maskulin dan feminin (mudzakkar dan muannats). Karena itu, tidak bisa menganggap bahasa Arab itu tunggal.

Baca Juga :  Bendera Setengah Tiang untuk Achmad Budi Cahyanto

”Kadang kala ketika kita mempelajari satu mufradat (kosakata), ternyata kita banyak menemukan sinonimnya. Dalam bahasa Arab juga banyak mutaradif (perbedaan), yang justru mengganggu kita. Contoh dla-ra-ba, yang kita tahu artinya memukul. Padahal, di kamus memiliki lebih dari 100 arti,” tegasnya.

Sebagai penerjemah karya sastra berbahasa Arab, Ra Faza mengakui kadang kala menemui kesulitan. Mengingat, secara gramatikal, bahasa Arab berbeda dengan bahasa yang lain. Bagi Ra Faza, tugas seorang penerjemah bukan hanya memindahkan teks belaka. Tapi, juga harus mampu memahami corak kebudayaannya.

Jika melakukan perbandingan antara sastra Arab dengan sastra Indonesia, menurut Ra Faza, sastra sedikit lebih unggul. ”Tahun 2000-an, terutama akhir-akhir ini, orang Indonesia banyak membahas Nizar Qabbani, Kahlil Gibran, dan lainnya. Padahal mereka itu penyair Arab modern, dan kita baru mengenalnya, kan?” tanyanya.

Padahal, kata Faza, periodisasi penyair Arab itu lintasannya dari masa ke masa. Contohnya, penyair jahiliah. Ada yang bilang, masa penyair jahiliah, sekitar 150 tahun sebelum Islam. ”Bahkan, ada yang menerangkan sebelumnya lagi. Hanya saja, yang bisa dilacak itu 10 penyair. Misalnya, penyair yang dikenal dengan sebutan mu’allaqat, yang puisi-puisinya ditempelkan di dinding Kakbah,” ujarnya.

”Jadi, orang mengenal Nizar Qabbani itu tanpa menyentuh penyair pada masa-masa sebelumnya. Sebenarnya, secara pengungkapan, lebih dalam puisi-puisi penyair lama. Perbedaannya pada bentuk. Yang lama itu bersajak,” ungkap Ra Faza.

Baca Juga :  Angkat Ekonomi Umat, ACT-Global Wakaf dan PMI Dea Malela Dirikan Ritel

Ditambahkan, untuk menerjemahkan karya sastra Arab klasik membutuhkan banyak pengetahuan, ilmu Arudh misalnya. Karena itu, karya sastra Arab modern lebih diminati. Salah satu alasannya, bentuknya lebih mudah dan cenderung bebas.

Sebagai orang yang juga menggandrungi karya-karya sastra, Ra Faza berharap karya sastra Arab yang diterjemahkannya memiliki sumbangsih kecil bagi kesusastraan Indonesia di masa depan. Utamanya, dalam khazanah penerjamahan sastra luar negeri ke bahasa Indonesia.

”Sebenarnya, kalau disadari, sastra Arab itu sangat dekat secara emosional dengan orang-orang Indonesia. Sebab, kita kan bagian dari peradaban Timur. Maka, tidak keliru jika kita sajikan dengan sastra Arab. Orang Indonesia yang mayoritas beragama Islam pasti dekat dengan teks-teks berbahasa Arab,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, hingga saat ini, pria asal Kecamatan Pragaan tersebut sudah berhasil menerbitkan tiga karya terjemahannya. Sebut saja, Panggung dan Cermin karya Adonis (Diva Press, 2018), Pecinta dari Palestina karya Mahmoud Darwish (Diva Press, 2020), dan Nestapa Cinta Lebih Manis Ketimbang Seribu Kenikmatan; Puisi-Puisi Ilahiyat karya Al-Hallaj (Penerbit Circa, 2020).

Ra Faza diketahui juga merintis salah satu platform studi yang memfokuskan diri pada karya sastra berbahasa Arab. Karya pria berusia 28 tahun itu biasanya disebar di instagram melalui laman sastraarab.com.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/