alexametrics
22.8 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Intan Retnosari dan Qim Aguinaldo, Keluarga Dokter yang Jarang Mudik

Nuansa Lebaran bersama keluarga mulai dirindukan dr Intan Retnosari. Begitu juga yang dirasakan dr Qim Aguinaldo. Sejak pandemi Covid-19, keluarga yang sama-sama berprofesi sebagai dokter itu tidak pernah berlebaran dengan keluarga.

ANIS BILLAH, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

JARUM jam menunjukkan angka 11.37. Situasi di Puskesmas Kamoning tidak seramai sehari sebelum puasa. Tidak ada pasien antre di ruang tunggu. Hanya suara petugas yang terdengar sedang mengobrol di beberapa sudut ruangan.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) naik melalui tangga menuju lantai dua ruangan Kepala Puskesmas Kamoning. Ruangannya tepat di sebelah utara tangga menghadap ke barat. Setelah pintu dibuka, terlihat sepasang kekasih berpakaian hitam putih duduk di sofa yang kebetulan juga berwarna hitam.

Di ruangan ber-AC itu keduanya duduk berdampingan menggunakan masker. Di tengah pandemi Covid-19 keduanya memang sangat waspada terhadap virus korona. Mereka sudah mengerti bahaya serta cara mengantisipasi virus korona. Wajar saja, profesi keduanya adalah dokter.

Dokter Qim Aguinaldo lebih dulu tinggal di Sampang (sejak 1999) ketimbang istrinya, dr Intan Retnosari. Pasangan suami istri tersebut bukan penduduk asli Kota Bahari. Keduanya sama-sama pendatang. Dokter Qim berasal dari Kabupaten Blitar, sementara dr Intan asal Kota Surabaya.

Mereka tidak menyangka bisa menjadi pasangan suami istri hingga dikaruniai dua anak. Dokter Qim dan dr Intan bertemu saat mengenyam pendidikan di satu almamater, yakni Universitas Brawijaya Malang.

Baca Juga :  Integrasi Digitalisasi Informasi Satu Data Vaksinasi, Gandeng Dua BUMN

Meski begitu, semasa kuliah keduanya tidak pernah bertemu. Maklum, jarak angkatan antara dr Qim dan dr Intan selisih empat tahun. Keduanya dipertemukan oleh takdir Tuhan melalui teman-temannya setelah dr Intan dinyatakan lulus.

”Kita kenalnya sekitar tiga bulan. Februari kita saling mengenal, Mei kita menikah,” kenang dr Intan.

Tidak lama setelah resmi berstatus pasutri, dr Qim membawa dr Intan ke Kabupaten Sampang. Tepatnya sekitar 2002 silam. Keduanya menikmati hidup seperti air mengalir. Sekarang mereka memiliki kesibukan masing-masing. Dr Intan diberi amanah sebagai kepala Puskesmas Kamoning, sementara dr Qim masuk dalam manajemen RSUD Sampang.

Tinggal di perantauan, terkadang membuat mereka rindu keluarga di kampung halaman masing-masing. Karena itu, dr Qim mengatur waktu untuk pulang ke rumah orang tua atau mertua. Jika bulan ini pulang ke Blitar, berarti bulan depan menjenguk mertua di Surabaya.

”Kalau dulu (manten baru, Red) pulangnya gantian, biar sama-sama diperhatikan,” tutur dr Intan.

Namun, kebiasaan tersebut mulai ada perubahan setelah ayah dr Intan meninggal pada 2016 lalu. Ibu dokter Intan lebih sering tinggal di Kuningan, Jawa Barat, bersama anak pertamanya. Sejak saat itu, pertemuan keluarga tidak sepadat saat ayah dr Intan masih ada.

Dokter Intan merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Anak pertama tinggal di Kuningan, anak kedua di Tulungagung, anak keempat di Malang tapi sudah meninggal.

Baca Juga :  Miris! Dinkes Akui Puskesmas di Sampang Kekurangan Perawat dan Dokter

Meski sudah berusia 75 tahun, ibu dr Intan paling suka bersilaturahmi ke anak-anak serta kerabatnya. Jika rindu, dia keliling menyambangi rumah anak-anaknya. ”Januari (2020) mama ke Malang dan Surabaya sampai Maret. Tapi saya belum ketemu karena kebetulan lagi umrah,” cerita dr Intan.

Di tengah kondisi pandemi Covid-19 semakin jarang bertemu ibunya. Dokter Intan mengaku terakhir bertemu ibunya pada Lebaran 2019. Lebaran 2020 dia tidak berani mudik karena dilarang oleh pemerintah. Selain itu, ibunya sudah lansia dan tergolong rentan terinfeksi virus korona.

Hampir dua tahun dia menahan rindu untuk bertemu dengan sang ibu. Selama pandemi Covid-19, komunikasi hanya melalui video call. Beruntung, sang ibu mengerti dengan profesi dr Intan dan suaminya.

”Orang tua kita sangat pengertian. Mereka mengerti kalau pekerjaan kita berisiko. Makanya sering mengingatkan agar memakai APD,” ungkapnya.

Begitu juga yang dirasakan dr Qim. Dia khawatir ketika pulang dan bertemu dengan orang tua akan memberikan beban. Sebab, banyak contoh kejadian yang dia pelajari. ”Ada maksa pulang, akhirnya menularkan (virus korona) ke keluarga,” ujarnya.

Dokter Qim tidak mengelak jika rindu kepada orang tua sudah membuncah. Dia sudah rindu makan oseng-oseng kepala kambing dan lodeh buatan orang tua. Biasanya dimasak pedas manis.

”Saya sudah masakin. Tapi, meski rasanya sama, pasti ada yang beda, terlebih buatan ibu,” timpal dr Intan. (bil)

- Advertisement -

Nuansa Lebaran bersama keluarga mulai dirindukan dr Intan Retnosari. Begitu juga yang dirasakan dr Qim Aguinaldo. Sejak pandemi Covid-19, keluarga yang sama-sama berprofesi sebagai dokter itu tidak pernah berlebaran dengan keluarga.

ANIS BILLAH, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

JARUM jam menunjukkan angka 11.37. Situasi di Puskesmas Kamoning tidak seramai sehari sebelum puasa. Tidak ada pasien antre di ruang tunggu. Hanya suara petugas yang terdengar sedang mengobrol di beberapa sudut ruangan.


Jawa Pos Radar Madura (JPRM) naik melalui tangga menuju lantai dua ruangan Kepala Puskesmas Kamoning. Ruangannya tepat di sebelah utara tangga menghadap ke barat. Setelah pintu dibuka, terlihat sepasang kekasih berpakaian hitam putih duduk di sofa yang kebetulan juga berwarna hitam.

Di ruangan ber-AC itu keduanya duduk berdampingan menggunakan masker. Di tengah pandemi Covid-19 keduanya memang sangat waspada terhadap virus korona. Mereka sudah mengerti bahaya serta cara mengantisipasi virus korona. Wajar saja, profesi keduanya adalah dokter.

Dokter Qim Aguinaldo lebih dulu tinggal di Sampang (sejak 1999) ketimbang istrinya, dr Intan Retnosari. Pasangan suami istri tersebut bukan penduduk asli Kota Bahari. Keduanya sama-sama pendatang. Dokter Qim berasal dari Kabupaten Blitar, sementara dr Intan asal Kota Surabaya.

Mereka tidak menyangka bisa menjadi pasangan suami istri hingga dikaruniai dua anak. Dokter Qim dan dr Intan bertemu saat mengenyam pendidikan di satu almamater, yakni Universitas Brawijaya Malang.

Baca Juga :  Dunia Kesehatan Sambut Positif Kehadiran Vaksin COVID-19

Meski begitu, semasa kuliah keduanya tidak pernah bertemu. Maklum, jarak angkatan antara dr Qim dan dr Intan selisih empat tahun. Keduanya dipertemukan oleh takdir Tuhan melalui teman-temannya setelah dr Intan dinyatakan lulus.

”Kita kenalnya sekitar tiga bulan. Februari kita saling mengenal, Mei kita menikah,” kenang dr Intan.

Tidak lama setelah resmi berstatus pasutri, dr Qim membawa dr Intan ke Kabupaten Sampang. Tepatnya sekitar 2002 silam. Keduanya menikmati hidup seperti air mengalir. Sekarang mereka memiliki kesibukan masing-masing. Dr Intan diberi amanah sebagai kepala Puskesmas Kamoning, sementara dr Qim masuk dalam manajemen RSUD Sampang.

Tinggal di perantauan, terkadang membuat mereka rindu keluarga di kampung halaman masing-masing. Karena itu, dr Qim mengatur waktu untuk pulang ke rumah orang tua atau mertua. Jika bulan ini pulang ke Blitar, berarti bulan depan menjenguk mertua di Surabaya.

”Kalau dulu (manten baru, Red) pulangnya gantian, biar sama-sama diperhatikan,” tutur dr Intan.

Namun, kebiasaan tersebut mulai ada perubahan setelah ayah dr Intan meninggal pada 2016 lalu. Ibu dokter Intan lebih sering tinggal di Kuningan, Jawa Barat, bersama anak pertamanya. Sejak saat itu, pertemuan keluarga tidak sepadat saat ayah dr Intan masih ada.

Dokter Intan merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Anak pertama tinggal di Kuningan, anak kedua di Tulungagung, anak keempat di Malang tapi sudah meninggal.

Baca Juga :  Dokter RSIA Glamour Minta Ruang Klarifikasi

Meski sudah berusia 75 tahun, ibu dr Intan paling suka bersilaturahmi ke anak-anak serta kerabatnya. Jika rindu, dia keliling menyambangi rumah anak-anaknya. ”Januari (2020) mama ke Malang dan Surabaya sampai Maret. Tapi saya belum ketemu karena kebetulan lagi umrah,” cerita dr Intan.

Di tengah kondisi pandemi Covid-19 semakin jarang bertemu ibunya. Dokter Intan mengaku terakhir bertemu ibunya pada Lebaran 2019. Lebaran 2020 dia tidak berani mudik karena dilarang oleh pemerintah. Selain itu, ibunya sudah lansia dan tergolong rentan terinfeksi virus korona.

Hampir dua tahun dia menahan rindu untuk bertemu dengan sang ibu. Selama pandemi Covid-19, komunikasi hanya melalui video call. Beruntung, sang ibu mengerti dengan profesi dr Intan dan suaminya.

”Orang tua kita sangat pengertian. Mereka mengerti kalau pekerjaan kita berisiko. Makanya sering mengingatkan agar memakai APD,” ungkapnya.

Begitu juga yang dirasakan dr Qim. Dia khawatir ketika pulang dan bertemu dengan orang tua akan memberikan beban. Sebab, banyak contoh kejadian yang dia pelajari. ”Ada maksa pulang, akhirnya menularkan (virus korona) ke keluarga,” ujarnya.

Dokter Qim tidak mengelak jika rindu kepada orang tua sudah membuncah. Dia sudah rindu makan oseng-oseng kepala kambing dan lodeh buatan orang tua. Biasanya dimasak pedas manis.

”Saya sudah masakin. Tapi, meski rasanya sama, pasti ada yang beda, terlebih buatan ibu,” timpal dr Intan. (bil)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Dua Kerabat Satpam Juga Positif

Pulau Sabuntan Terdampak Kekeringan

Artikel Terbaru

/