alexametrics
19.6 C
Madura
Tuesday, June 28, 2022

Subaida, Janda Miskin Empat Anak Tak Punya Rumah

SAMPANG – Subaida, 38, warga Dusun Nandih, Desa Kamoning, Kota Sampang, sudah hampir dua tahun menjanda. Dia kini hidup bersama empat anaknya. Subaida bersama anak-anaknya numpang tinggal di rumah gedek milik kakak iparnya. Rumah itu hanya berukuran 3 x 6 meter.

Jarum jam menunjukkan pukul 10.15 Selasa (27/3). Jawa Pos Radar Madura sampai di halaman rumah yang ditempati Subaida. Perjalanan dari Kota Sampang menuju rumah janda yang dikaruniai empat anak itu hanya butuh waktu lebih kurang 15 menit.

Itu pun karena jalan dengan jarak lebih kurang 2 kilometer menuju rumah Subaida tidak beraspal. Dengan demikian, kecepatan kendaraan maksimal 30 kilometer per jam.

Munawar, kakak ipar Subaida, saat itu duduk di halaman rumah. Dia mengiris bambu. Munawar yang hanya menggunakan celana pendek lusuh bergegas mengambil kaus yang ditaruh tak jauh dari tempat duduknya.

Rupanya, Subaida tidak ada di rumah. Sejak pukul 07.30, dia berangkat ke sawah untuk menanam bibit padi milik tetangga. Biasanya, Subaida mendapatkan upah Rp 20 ribu–Rp 25 ribu sebagai buruh tani selama setengah hari.

Baca Juga :  Kamariyah, Janda Dua Anak Tak Pernah Mencicipi Bantuan Pemerintah

Satu jam kemudian, tepatnya pukul 11.20, sosok ibu yang bertahan hidup di gubuk kecil bersama empat anaknya itu muncul dengan wajah lesu dan kusam akibat terik matahari. Subaida langsung masuk ke rumah untuk berganti pakaian.

Kemudian, dia bergegas menuju SDN Kamoning III untuk menjemput dua anak kembarnya. Yaitu, Muniri dan Mat Niri yang duduk di bangku kelas II. Sementara kakaknya, yakni Moh. Rahmad, duduk di bangku kelas IV dan Moh. Syarif kelas VI.

Subaida dan dua anak kembarnya kembali ke rumah yang isinya hanya tempat tidur bambu. Ada tumpukan baju yang disusun di pojok rumah. Dia lalu bercerita.

Dia bersama suaminya, yakni Mat Daki, hidup dalam satu rumah bambu di sebelah timur tempat tinggalnya sekarang. Namun, tak lama ditempati, rumah itu roboh. Sejak itu, dia bersama suaminya menumpang di belakang rumah kakak iparnya tersebut.

Menurut Subaida, dia bersama suaminya hidup dalam satu rumah berukuran 3 x 6 sudah belasan tahun. ”Empat anak saya dilahirkan di sini dan dibesarkan di rumah ini,” tuturnya.

Baca Juga :  7 Tahun Tak Mudik, Cuek Dicap Sombong Kerabat

Kehidupan terasa semakin berat setelah suami tercintanya meninggal pada 2016 akibat kecelakaan saat perjalanan mencari rongsokan. ”Saya menumpang ke kakak ipar. Sudah 14 tahun saya tidak punya rumah,” katanya.

Beberapa tahun lalu Subaida pernah mendapat bantuan rehab rumah meski sedikit. Dia mengaku menerima bantuan beras sejahtera (rastra). ”Saya hidupi anak dengan upah sebagai buruh tani dan dari pemberian orang,” tuturnya.

Janda yang rumahnya tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Sampang itu akan terus berjuang untuk bisa menyekolahkan keempat anaknya. Dia rela mencari pinjaman uang kepada tetangga jika uang jajan untuk anaknya tidak cukup.

Subaida berharap memiliki rumah untuk bisa ditempati bersama keempat anaknya. Sebab, pada malam hari dua anaknya biasa tidur di langgar kakak iparnya. Menurut dia, kakak iparnya juga hidup pas-pasan. Bahkan bertahan hidup dengan hasil penjualan lincak dan tangga dari bambu yang dibuatnya sendiri.

SAMPANG – Subaida, 38, warga Dusun Nandih, Desa Kamoning, Kota Sampang, sudah hampir dua tahun menjanda. Dia kini hidup bersama empat anaknya. Subaida bersama anak-anaknya numpang tinggal di rumah gedek milik kakak iparnya. Rumah itu hanya berukuran 3 x 6 meter.

Jarum jam menunjukkan pukul 10.15 Selasa (27/3). Jawa Pos Radar Madura sampai di halaman rumah yang ditempati Subaida. Perjalanan dari Kota Sampang menuju rumah janda yang dikaruniai empat anak itu hanya butuh waktu lebih kurang 15 menit.

Itu pun karena jalan dengan jarak lebih kurang 2 kilometer menuju rumah Subaida tidak beraspal. Dengan demikian, kecepatan kendaraan maksimal 30 kilometer per jam.


Munawar, kakak ipar Subaida, saat itu duduk di halaman rumah. Dia mengiris bambu. Munawar yang hanya menggunakan celana pendek lusuh bergegas mengambil kaus yang ditaruh tak jauh dari tempat duduknya.

Rupanya, Subaida tidak ada di rumah. Sejak pukul 07.30, dia berangkat ke sawah untuk menanam bibit padi milik tetangga. Biasanya, Subaida mendapatkan upah Rp 20 ribu–Rp 25 ribu sebagai buruh tani selama setengah hari.

Baca Juga :  Rumah sekaligus Dapur dan Kandang Ayam

Satu jam kemudian, tepatnya pukul 11.20, sosok ibu yang bertahan hidup di gubuk kecil bersama empat anaknya itu muncul dengan wajah lesu dan kusam akibat terik matahari. Subaida langsung masuk ke rumah untuk berganti pakaian.

Kemudian, dia bergegas menuju SDN Kamoning III untuk menjemput dua anak kembarnya. Yaitu, Muniri dan Mat Niri yang duduk di bangku kelas II. Sementara kakaknya, yakni Moh. Rahmad, duduk di bangku kelas IV dan Moh. Syarif kelas VI.

Subaida dan dua anak kembarnya kembali ke rumah yang isinya hanya tempat tidur bambu. Ada tumpukan baju yang disusun di pojok rumah. Dia lalu bercerita.

Dia bersama suaminya, yakni Mat Daki, hidup dalam satu rumah bambu di sebelah timur tempat tinggalnya sekarang. Namun, tak lama ditempati, rumah itu roboh. Sejak itu, dia bersama suaminya menumpang di belakang rumah kakak iparnya tersebut.

Menurut Subaida, dia bersama suaminya hidup dalam satu rumah berukuran 3 x 6 sudah belasan tahun. ”Empat anak saya dilahirkan di sini dan dibesarkan di rumah ini,” tuturnya.

Baca Juga :  Dilema Petani Garam di Tengah Anomali Cuaca

Kehidupan terasa semakin berat setelah suami tercintanya meninggal pada 2016 akibat kecelakaan saat perjalanan mencari rongsokan. ”Saya menumpang ke kakak ipar. Sudah 14 tahun saya tidak punya rumah,” katanya.

Beberapa tahun lalu Subaida pernah mendapat bantuan rehab rumah meski sedikit. Dia mengaku menerima bantuan beras sejahtera (rastra). ”Saya hidupi anak dengan upah sebagai buruh tani dan dari pemberian orang,” tuturnya.

Janda yang rumahnya tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Sampang itu akan terus berjuang untuk bisa menyekolahkan keempat anaknya. Dia rela mencari pinjaman uang kepada tetangga jika uang jajan untuk anaknya tidak cukup.

Subaida berharap memiliki rumah untuk bisa ditempati bersama keempat anaknya. Sebab, pada malam hari dua anaknya biasa tidur di langgar kakak iparnya. Menurut dia, kakak iparnya juga hidup pas-pasan. Bahkan bertahan hidup dengan hasil penjualan lincak dan tangga dari bambu yang dibuatnya sendiri.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/