alexametrics
28.2 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Dari Seminar Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Syaikhona Kholil (3)

Jejak dan ketokohan Syaikhona Muhammad Kholil tak terbantahkan. Seminar nasional di Pendapa Agung Bangkalan, Senin (25/1), semakin memperjelas kiprah dan sepak terjang guru Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari itu.

 

PENGAJUAN gelar pahlawan nasional untuk Syaikhona Muhammad Kholil tidak lepas dari kontribusinya dalam gerakan nasionalisme. Dia aktif memberdayakan masyarakat dalam bidang agama, pendidikan, sosial kemasyarakatan, politik, dan sebagainya.

Demikian diungkapkan Dr Muhaimin selaku ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Muhammad Kholil ketika menjadi narasumber seminar Senin (25/1). Muhaimin menjelaskan, Syaikhona Muhammad Kholil mampu menggerakkan semangat nasionalisme santri melalui jalur pendidikan.

Selain itu, dia juga berperan besar dalam melakukan perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia. Terutama yang digerakkan oleh ulama dan santri di berbagai wilayah di Indonesia. ”Simpul-simpul perlawanan, utamanya di Tapal Kuda, diinisiasi oleh santri-santri Syaikhona,” paparnya.

Dari hasil kajian akademik dan penelusuran biografi kronologi, Syaikhona Muhammad Kholil itu menjadi titik sentral penempaan dan pembibitan para calon pejuang dan pahlawan. Hampir semua santri-santri menjadi pejuang dan gigih melawan kolonialisme. ”Terbukti, tiga santrinya terlebih dahulu sudah menjadi pahlawan nasional,” sebutnya.

Baca Juga :  Bisa Jadi Pilot Project Nasional

Untuk itu, tidak ada alasan untuk Syaikhona Muhammad Kholil tidak dijadikan pahlawan nasional. Apalagi, prosedur administrasi sudah dilalui. Empat syarat atau dokumen yang sudah ditempuh. Pertama, kajian akademik. Kedua, biografi. Ketiga, riwayat hidup dan perjuangan secara kronologis. Keempat, dokumen pendukung.

”Untuk tiga dokumen ini, alhamdulillah sudah kami selesaikan, tinggal dokumen pendukung lainnya. Tapi, insyaallah akan segera kami lengkapi,” katanya.

Dokumen pendukung itu memuat tentang jejak manuskrip, nama jalan, jurnal, buku ilmiah yang menulis tentang Syaikhona Muhammad Kholil. ”Itu terus kami lengkapi,” tuturnya.

Muhaimin mengakui, tim kajian akademik belum menemukan jejak ibu kandung Syaikhona Muhammad Kholil. Tetapi, pihaknya sengaja kosongkan data itu karena bukan hal krusial dalam pengajuan gelar pahlawan nasional.

Baca Juga :  Murini, Janda Penjual Ikan Keliling, Sukses Kuliahkan Putri

”Untuk yang krusial-krusial yang menjadi syarat, sudah kami kumpulkan. Semisal, makam beliau, kebetulan sudah ada,” jelasnya.

Penulisan nama dan tanggal lahir banyak versi. Tetapi, tim berpatokan pada manuskrip yang ditulis Syaikhona Muhammad Kholil sendiri. Lahir di Bangkalan pada 25 Mei 1835 dan wafat 23 April 1925.

Manuskrip tentang kitab yang ditulis juga berhasil ditemukan. Berdasarkan manuskrip, Syaikhona Kholil menulis 21 kitab. Tapi, itu data pada usia 70 tahun. ”Pada usia produktif, bisa jadi banyak kitab yang ditulis oleh beliau,” paparnya.

Dokumen lain yang menjadi kontroversi tentang foto. Terdapat tiga versi. Namun yang paling mirip itu versi kedua dan ketiga. ”Foto itu menjadi syarat wajib. Tapi, pakai sketsa tidak masalah,” jelasnya.

Jika foto itu benar-benar dibutuhkan, tim meminta Pemkab Bangkalan menyediakan anggaran untuk menelesuri ke Belanda. Sebab, dugaan paling kuat, dokumen perjalanan hidup Syaikhona Muhammad Kholil ada di Belanda.

Jejak dan ketokohan Syaikhona Muhammad Kholil tak terbantahkan. Seminar nasional di Pendapa Agung Bangkalan, Senin (25/1), semakin memperjelas kiprah dan sepak terjang guru Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari itu.

 

PENGAJUAN gelar pahlawan nasional untuk Syaikhona Muhammad Kholil tidak lepas dari kontribusinya dalam gerakan nasionalisme. Dia aktif memberdayakan masyarakat dalam bidang agama, pendidikan, sosial kemasyarakatan, politik, dan sebagainya.


Demikian diungkapkan Dr Muhaimin selaku ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Muhammad Kholil ketika menjadi narasumber seminar Senin (25/1). Muhaimin menjelaskan, Syaikhona Muhammad Kholil mampu menggerakkan semangat nasionalisme santri melalui jalur pendidikan.

Selain itu, dia juga berperan besar dalam melakukan perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia. Terutama yang digerakkan oleh ulama dan santri di berbagai wilayah di Indonesia. ”Simpul-simpul perlawanan, utamanya di Tapal Kuda, diinisiasi oleh santri-santri Syaikhona,” paparnya.

Dari hasil kajian akademik dan penelusuran biografi kronologi, Syaikhona Muhammad Kholil itu menjadi titik sentral penempaan dan pembibitan para calon pejuang dan pahlawan. Hampir semua santri-santri menjadi pejuang dan gigih melawan kolonialisme. ”Terbukti, tiga santrinya terlebih dahulu sudah menjadi pahlawan nasional,” sebutnya.

Baca Juga :  Dari Seminar Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Syaikhona Kholil (2)

Untuk itu, tidak ada alasan untuk Syaikhona Muhammad Kholil tidak dijadikan pahlawan nasional. Apalagi, prosedur administrasi sudah dilalui. Empat syarat atau dokumen yang sudah ditempuh. Pertama, kajian akademik. Kedua, biografi. Ketiga, riwayat hidup dan perjuangan secara kronologis. Keempat, dokumen pendukung.

”Untuk tiga dokumen ini, alhamdulillah sudah kami selesaikan, tinggal dokumen pendukung lainnya. Tapi, insyaallah akan segera kami lengkapi,” katanya.

Dokumen pendukung itu memuat tentang jejak manuskrip, nama jalan, jurnal, buku ilmiah yang menulis tentang Syaikhona Muhammad Kholil. ”Itu terus kami lengkapi,” tuturnya.

Muhaimin mengakui, tim kajian akademik belum menemukan jejak ibu kandung Syaikhona Muhammad Kholil. Tetapi, pihaknya sengaja kosongkan data itu karena bukan hal krusial dalam pengajuan gelar pahlawan nasional.

Baca Juga :  Cara Warga Kelurahan Gladak Anyar Lawan Wabah Virus Korona

”Untuk yang krusial-krusial yang menjadi syarat, sudah kami kumpulkan. Semisal, makam beliau, kebetulan sudah ada,” jelasnya.

Penulisan nama dan tanggal lahir banyak versi. Tetapi, tim berpatokan pada manuskrip yang ditulis Syaikhona Muhammad Kholil sendiri. Lahir di Bangkalan pada 25 Mei 1835 dan wafat 23 April 1925.

Manuskrip tentang kitab yang ditulis juga berhasil ditemukan. Berdasarkan manuskrip, Syaikhona Kholil menulis 21 kitab. Tapi, itu data pada usia 70 tahun. ”Pada usia produktif, bisa jadi banyak kitab yang ditulis oleh beliau,” paparnya.

Dokumen lain yang menjadi kontroversi tentang foto. Terdapat tiga versi. Namun yang paling mirip itu versi kedua dan ketiga. ”Foto itu menjadi syarat wajib. Tapi, pakai sketsa tidak masalah,” jelasnya.

Jika foto itu benar-benar dibutuhkan, tim meminta Pemkab Bangkalan menyediakan anggaran untuk menelesuri ke Belanda. Sebab, dugaan paling kuat, dokumen perjalanan hidup Syaikhona Muhammad Kholil ada di Belanda.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/