21.6 C
Madura
Friday, December 9, 2022

Hasil Menjanjikan dan Tak Ganggu Pekerjaan Utama

Abdul Aziz Laksanakan Amanah NU dengan Menggembala Kambing

Di tengah virus kerja kantoran, Aziz justru tertarik mengurus kandang dan isinya. Bagi sebagian orang, memelihara kambing dianggap kurang menggiurkan. Itu justru menjadi daya tarik Aziz untuk mengembangkan.

UBAIDILLAHIR RA’IE, Jawa Pos Radar Madura, Bangkalan

SEBAGAI warga nahdliyin, Abdul Aziz sami’na wa atha’na kepada pemimpin. Lebih-lebih kepada pemimpin di Nahdlatul Ulama (NU). Ketaatan itu dia implementasikan dengan beternak kambing.

Pandemi Covid-19 melahirkan berbagai aturan dan kebijakan. Mulai wajib bermasker, rajin cuci tangan, jaga jarak, beraktivitas di rumah, dan lain-lain. Di tengah kewajiban untuk beraktivitas di rumah itulah Aziz mendapat amanah dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan.

Dia diberi amanah membantu masyarakat dalam kebangkitan ekonomi umat. ”Khususnya di bidang peternakan,” ucapnya sembari menikmati secangkir teh hangat di rumahnya kemarin (26/9).

Warga Desa Baipajung, Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan, itu langsung mengiyakan amanah tersebut. Dia memulai dengan memelihara dua ekor kambing jantan. Sistem atau cara dia dalam memelihara kambing berbeda dengan para peternak pada umumnya. Yang biasanya pakan ternak menggunakan pakan hijau (daun), dirinya mencoba menggunakan cara modern. ”Yaitu, berupa pakan kering, bukan pakan hijau murni daun,” ungkap wakil sekretaris PC Pergunu Bangkalan itu.

Dengan cara itu, dia mengharapkan masyarakat bisa beternak lebih banyak. Tidak lagi kebingungan mencari rumput untuk pakan ternaknya. Biasanya, masyarakat kalau menggembala kambing pagi dan sore masih cari rumput.

Baca Juga :  Berharap Dilibatkan dalam Promosi Dagang

”Alhamdulillah meskipun sangat sulit, saya berusaha mengubah dengan cara modern. Dari pakan hijau beralih pada pakan kering,” terangnya.

Siang itu, JPRM bertemu Aziz ketika dia sedang bersantai menikmati secangkir teh di depan musalanya. Awal merintis usaha ternak kambing, suami Siti Muzayyanah itu murni berangkat dari nol. Tidak tahu apa-apa. Pengalaman dalam dunia ternak pun tidak pernah mengalaminya.

”Awalnya ternak itu susah karena tidak tahu caranya. Akhirnya, dengan belajar autodidak melalui pola modern itu, setelah satu bulan sudah paham formulanya,” ungkap pria berpeci hitam tersebut.

Dengan formula itu, dia mulai berani beternak dua kambing. Dua hewan memamah itu dipelihara untuk digemukkan. Kemudian, berkembang hingga memelihara 40 ekor kambing. Saat ini kambing di kandangnya tersisa 15 ekor setelah beberapa bulan lalu sebagian dijual.

Belasan kambing itu terdiri atas tiga jantan dan 12 betina. Kambing-kambing tersebut diperlihara dalam kandang masing-masing berukuran 100 sentimeter x 120 sentimeter. Tiap kotak berisi dua kambing.

Dalam peternakan modern, ada juga kandang koloni. Luas 200 sentimeter x 125 sentimeter. Diisi lima karena kecil. Standarnya 1 jantan 4 betina. Selain itu, ada kandang baterai. Luas 1 meter x 50 sentimeter.

”Di kelompok ternak kami, se-Bangkalan populasinya hampir 1.000 ekor kambing,” sebut ketua Kelompok Ternak (Konter) NU Bangkalan itu.

Baca Juga :  Cara PC NU Kurangi Beban Warga yang Terdampak Covid-19

Populasi kambing yang diperlihara kelompok ternaknya bermacam-macam. Terdiri atas penggemukan dan pengembangbiakan. Kambing-kambing itu diperlihara peternak di Kecamatan Modung, Labang, Kamal, dan Kota Bangkalan.

”Sekarang untuk ternak 10 ekor kambing itu sudah tidak repot lagi. Enaknya juga tidak mengganggu pekerjaan utama. Namun, hasilnya menjanjikan,” jelas guru matematika MAN Bangkalan itu.

Kambing-kambing itu dia beri pakan dua kali sehari. Saat pagi sebelum berangkat bekerja dan sore saat pulang kerja. ”Biayanya per hari satu ekor cuma Rp 2.000 sampai Rp 3.000 dengan pola pakan kering itu,” terangnya.

Kini, setelah berpengalaman, Aziz merasa mudah beternak kambing. Termasuk saat musim kering tidak kewalahan mencari pakan. ”Dalam 100 hari sudah siap jual,” ujar pria yang berprofesi sebagai guru itu.

Air minum kambing harus benar-benar dijaga. Jangan sampai kehabisan. Dalam merawat kesehatan kambingnya, Aziz dibantu dokter hewan. Tapi, saat-saat ada penyakit saja. Vitamin dan obat cacing bisa diberikan sendiri setiap dua bulan sekali.

Perbedaan menggunakan cara modern dengan pakan hijau sangat jauh. Di samping mudah, bau kotoran tidak terlalu menyengat. ”Karena antara kotoran basah dan kotoran kering juga didesain terpisah pada kandang kambing itu,” tutupnya di akhir perjumpaan. (*/luq)

Di tengah virus kerja kantoran, Aziz justru tertarik mengurus kandang dan isinya. Bagi sebagian orang, memelihara kambing dianggap kurang menggiurkan. Itu justru menjadi daya tarik Aziz untuk mengembangkan.

UBAIDILLAHIR RA’IE, Jawa Pos Radar Madura, Bangkalan

SEBAGAI warga nahdliyin, Abdul Aziz sami’na wa atha’na kepada pemimpin. Lebih-lebih kepada pemimpin di Nahdlatul Ulama (NU). Ketaatan itu dia implementasikan dengan beternak kambing.


Pandemi Covid-19 melahirkan berbagai aturan dan kebijakan. Mulai wajib bermasker, rajin cuci tangan, jaga jarak, beraktivitas di rumah, dan lain-lain. Di tengah kewajiban untuk beraktivitas di rumah itulah Aziz mendapat amanah dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan.

Dia diberi amanah membantu masyarakat dalam kebangkitan ekonomi umat. ”Khususnya di bidang peternakan,” ucapnya sembari menikmati secangkir teh hangat di rumahnya kemarin (26/9).

Warga Desa Baipajung, Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan, itu langsung mengiyakan amanah tersebut. Dia memulai dengan memelihara dua ekor kambing jantan. Sistem atau cara dia dalam memelihara kambing berbeda dengan para peternak pada umumnya. Yang biasanya pakan ternak menggunakan pakan hijau (daun), dirinya mencoba menggunakan cara modern. ”Yaitu, berupa pakan kering, bukan pakan hijau murni daun,” ungkap wakil sekretaris PC Pergunu Bangkalan itu.

Dengan cara itu, dia mengharapkan masyarakat bisa beternak lebih banyak. Tidak lagi kebingungan mencari rumput untuk pakan ternaknya. Biasanya, masyarakat kalau menggembala kambing pagi dan sore masih cari rumput.

Baca Juga :  Harga Capai Jutaan, Pernah Ngirim ke Tiga Negara
- Advertisement -

”Alhamdulillah meskipun sangat sulit, saya berusaha mengubah dengan cara modern. Dari pakan hijau beralih pada pakan kering,” terangnya.

Siang itu, JPRM bertemu Aziz ketika dia sedang bersantai menikmati secangkir teh di depan musalanya. Awal merintis usaha ternak kambing, suami Siti Muzayyanah itu murni berangkat dari nol. Tidak tahu apa-apa. Pengalaman dalam dunia ternak pun tidak pernah mengalaminya.

”Awalnya ternak itu susah karena tidak tahu caranya. Akhirnya, dengan belajar autodidak melalui pola modern itu, setelah satu bulan sudah paham formulanya,” ungkap pria berpeci hitam tersebut.

Dengan formula itu, dia mulai berani beternak dua kambing. Dua hewan memamah itu dipelihara untuk digemukkan. Kemudian, berkembang hingga memelihara 40 ekor kambing. Saat ini kambing di kandangnya tersisa 15 ekor setelah beberapa bulan lalu sebagian dijual.

Belasan kambing itu terdiri atas tiga jantan dan 12 betina. Kambing-kambing tersebut diperlihara dalam kandang masing-masing berukuran 100 sentimeter x 120 sentimeter. Tiap kotak berisi dua kambing.

Dalam peternakan modern, ada juga kandang koloni. Luas 200 sentimeter x 125 sentimeter. Diisi lima karena kecil. Standarnya 1 jantan 4 betina. Selain itu, ada kandang baterai. Luas 1 meter x 50 sentimeter.

”Di kelompok ternak kami, se-Bangkalan populasinya hampir 1.000 ekor kambing,” sebut ketua Kelompok Ternak (Konter) NU Bangkalan itu.

Baca Juga :  4 Manfaat Rutin Minum Kopi bagi Kesehatan

Populasi kambing yang diperlihara kelompok ternaknya bermacam-macam. Terdiri atas penggemukan dan pengembangbiakan. Kambing-kambing itu diperlihara peternak di Kecamatan Modung, Labang, Kamal, dan Kota Bangkalan.

”Sekarang untuk ternak 10 ekor kambing itu sudah tidak repot lagi. Enaknya juga tidak mengganggu pekerjaan utama. Namun, hasilnya menjanjikan,” jelas guru matematika MAN Bangkalan itu.

Kambing-kambing itu dia beri pakan dua kali sehari. Saat pagi sebelum berangkat bekerja dan sore saat pulang kerja. ”Biayanya per hari satu ekor cuma Rp 2.000 sampai Rp 3.000 dengan pola pakan kering itu,” terangnya.

Kini, setelah berpengalaman, Aziz merasa mudah beternak kambing. Termasuk saat musim kering tidak kewalahan mencari pakan. ”Dalam 100 hari sudah siap jual,” ujar pria yang berprofesi sebagai guru itu.

Air minum kambing harus benar-benar dijaga. Jangan sampai kehabisan. Dalam merawat kesehatan kambingnya, Aziz dibantu dokter hewan. Tapi, saat-saat ada penyakit saja. Vitamin dan obat cacing bisa diberikan sendiri setiap dua bulan sekali.

Perbedaan menggunakan cara modern dengan pakan hijau sangat jauh. Di samping mudah, bau kotoran tidak terlalu menyengat. ”Karena antara kotoran basah dan kotoran kering juga didesain terpisah pada kandang kambing itu,” tutupnya di akhir perjumpaan. (*/luq)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/