alexametrics
22.2 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Mendapat Keberkahan dari Aksi Mahasiswa

AKSI ribuan mahasiswa itu dimulai dari pukul 08.30 hingga 13.15. Kaum intelektual itu turun ke jalan tidak berorasi di depan kantor wakil rakyat. Massa terlebih dahulu long march dari beberapa sudut Kota Sumenep.

Long march yang dilakukan juga tidak seperti orang berjalan biasanya. Sesekali mereka berhenti untuk menyampaikan aspirasi ke hkalayak umum. Terik matahari cukup menguras tenaga bagi massa demonstrasi. Rasa dahaga menjadi pasti dirasakan.

Di kala massa diperkenankan masuk ke halaman kantor parlemen, tidak sedikit yang duduk di bawah pohon. Saat semua demonstran berteduh, terlihat seorang laki-laki renta menghampiri satu per satu massa.

Dua sisi kardus diikat untuk bisa dijadikan tas seperti yang banyak dibawa mahasiswa. Namun, berbeda isi di dalamnya. Kardus itu hanya berisi air mineral.

Baca Juga :  Tuding Penertiban tanpa Perencanaan

Laki-laki itu adalah Buna, warga Desa Kolpo, Kecamatan Batang-Batang. Kakek 62 tahun itu menjajakan air mineral kepada mahasiswa yang ikut demonstrasi. Banyak mahasiswa melambaikan tangan untuk memanggil Buna.

Dengan penuh semangat Buna menghampirinya dan mengeluarkan air mineral yang diambilkan dari dalam tasnya. Kepada  RadarMadura.id mengaku dirinya setiap hari ke Kota Keris. Namun, bukan sebagai penjual air mineral. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai penarik becak.

Menjual air mineral sering dia lakukan. Tetapi hanya ketika melihat keramaian. ”Kalau sudah ada ramai-ramai, saya jual air. Becak saya titipkan di Desa Bangselok,” ucapnya sembari membuka topi yang dikenakan.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan air mineral yang dijual itu. Pria itu menyebut tidak lebih dari 30 menit untuk menghabiskan 2 kardus air mineral.

Baca Juga :  Tim Gabungan Temukan Mamin Kedaluwarsa

Air mineral 600 mililiter yang dijual itu dibeli Rp 33 ribu per kardus. Setiap kardus berisi 24 botol. Kemudian, Buna jual dengan harga Rp 2.000–Rp 2.500 per botol. ”Ini hasilnya belum saya hitung,” ungkapnya.

Hasil dari kerja kerasnya sebagai tukang becak dia belikan jajan sang cucu di rumah. Begitu pula hasil penjualan air mineral itu. Dia mengaku sangat bersyukur penghasilan dari menjual air mineral menjadi tambahan untuk keluarga. ”Semua orang sudah ada rezekinya masing-masing,” katanya. (jup)

- Advertisement -

AKSI ribuan mahasiswa itu dimulai dari pukul 08.30 hingga 13.15. Kaum intelektual itu turun ke jalan tidak berorasi di depan kantor wakil rakyat. Massa terlebih dahulu long march dari beberapa sudut Kota Sumenep.

Long march yang dilakukan juga tidak seperti orang berjalan biasanya. Sesekali mereka berhenti untuk menyampaikan aspirasi ke hkalayak umum. Terik matahari cukup menguras tenaga bagi massa demonstrasi. Rasa dahaga menjadi pasti dirasakan.

Di kala massa diperkenankan masuk ke halaman kantor parlemen, tidak sedikit yang duduk di bawah pohon. Saat semua demonstran berteduh, terlihat seorang laki-laki renta menghampiri satu per satu massa.


Dua sisi kardus diikat untuk bisa dijadikan tas seperti yang banyak dibawa mahasiswa. Namun, berbeda isi di dalamnya. Kardus itu hanya berisi air mineral.

Baca Juga :  Cara UTD PMI Penuhi Kebutuhan Darah Selama Pandemi Covid -19

Laki-laki itu adalah Buna, warga Desa Kolpo, Kecamatan Batang-Batang. Kakek 62 tahun itu menjajakan air mineral kepada mahasiswa yang ikut demonstrasi. Banyak mahasiswa melambaikan tangan untuk memanggil Buna.

Dengan penuh semangat Buna menghampirinya dan mengeluarkan air mineral yang diambilkan dari dalam tasnya. Kepada  RadarMadura.id mengaku dirinya setiap hari ke Kota Keris. Namun, bukan sebagai penjual air mineral. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai penarik becak.

Menjual air mineral sering dia lakukan. Tetapi hanya ketika melihat keramaian. ”Kalau sudah ada ramai-ramai, saya jual air. Becak saya titipkan di Desa Bangselok,” ucapnya sembari membuka topi yang dikenakan.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan air mineral yang dijual itu. Pria itu menyebut tidak lebih dari 30 menit untuk menghabiskan 2 kardus air mineral.

Baca Juga :  Batik Sampang Tampil Memukau di Even Muslim Fashion Festival Indonesia

Air mineral 600 mililiter yang dijual itu dibeli Rp 33 ribu per kardus. Setiap kardus berisi 24 botol. Kemudian, Buna jual dengan harga Rp 2.000–Rp 2.500 per botol. ”Ini hasilnya belum saya hitung,” ungkapnya.

Hasil dari kerja kerasnya sebagai tukang becak dia belikan jajan sang cucu di rumah. Begitu pula hasil penjualan air mineral itu. Dia mengaku sangat bersyukur penghasilan dari menjual air mineral menjadi tambahan untuk keluarga. ”Semua orang sudah ada rezekinya masing-masing,” katanya. (jup)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/