alexametrics
21.5 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Kreativitas Warga Memanfaatkan Sampah Agar Lebih Bernilai Ekonomis

Gelas plastik bekas air mineral dalam kemasan (AMDK) memiliki nilai ekonomis jika dimanfaatkan dengan baik. Seperti dilakukan warga Desa Gili Barat. Mereka mendaur ulang sampah hingga bisa menghasilkan uang.

DAFIR FALAH, Bangkalan, RadarMadura.id

JARAK Desa Gili Barat, Kecamatan Kamal, tidak terlalu jauh. Dengan mengendarai kendaraan roda dua hanya butuh 15 menit dari Kota Bangkalan. Akses jalannya pun tidak sulit. Sangat mudah. Hanya masuk perkampungan rumah-rumah warga.

Cuaca Minggu siang (25/8) memang cukup menyengat. Tetapi, tidak menyurutkan para perajin untuk terus berkarya. Karya bernilai ekonomis. Yakni, daur ulang limbah plastik bekas air mineral dalam kemasan gelas.

Terlihat mereka sangat bersemangat. Bahkan, beberapa perajin masih sibuk menggunting gelas plastik bekas AMDK yang baru saja dipungut dari tong-tong sampah.

Sebagian yang lain menunjukkan hasil kerajinannya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Mulai tas, dompet hingga bantal. Hasil aneka kerajinan itu tidak lantas dijadikan pajangan. Tetapi, diperjualbelikan. Sebab, banyak pesanan.

Sepintas melihat proses pembuatannya cukup sulit. Butuh keahlian dan ketelatenan. Terlebih, yang diproduksi bukan barang jadi. Tetapi sampah bekas air mineral dalam kemasan gelas.

Halimatus Sakdiyah mengutarakan, awal mula bikin kerajinan daur ulang ini tidak tiba-tiba. Sebelumnya ikut pelatihan selama dua minggu di home industry di Malang. Setelah bisa, lalu menularkan ilmu ke perajin yang lain. ”Saya dipercaya Kepala Desa Gili Barat Maksum ikut pelatihan ke Malang. Akhirnya, ketika tahu ilmunya, saya bikin kerajinan begini,” katanya.

Baca Juga :  Saran Kepala Dinas KB dan PPPA Bangkalan Amina Rachmawati

Menurut dia, daur ulang limbah gelas plastik bekas AMDK ini bisa disulap menjadi tas, dompet, dan bantal yang bagus. Jadi banyak orang yang memesan, bahkan hingga kewalahan. ”Harganya dari Rp 60 ribu hingga Rp 200 ribu. Alhamdulillah banyak yang pesan,” ujarnya.

Perempuan kelahiran 1999 itu mengaku sangat terbantu dengan membuat kerajinan dari gelas plastik bekas air mieral dalam kemasan. Sebab, bisa mendatangkan duit. ”Kebetulan Pak Klebun memfasilitasinya,” terangnya.

Kepala Desa Gili Barat Maksum menyampaikan, semula memang mengutus satu orang untuk ikut pelatihan ke Malang. Setelah bisa, dipulangkan untuk mengajari warga yang lain. ”Digelutilah dengan serius. Karena sangat membantu. Awalnya pengangguran, bisa dapat pemasukan meski tidak seberapa,” jelasnya.

Kepala desa dua periode itu menyatakan, dengan kerajinan begini, sedikitnya bisa memberikan lapangan pekerjaan kepada warga. Memberdayakan yang bisa dilakukan. ”Daripada menganggur, mending kan geluti kerajinan ini,” tuturnya.

Baca Juga :  Bubuk Jahe Merah, Kunyit, dan Temulawak ini Tembus Pasar Modern

Maksum menyebutkan, saat ini terdapat delapan orang yang membuat kerajinan dari barang bekas. Dalam sepekan bisa menghasilkan dua hingga tiga produksi tas, dompet, dan bantal. ”Yang pesan memang baru orang Bangkalan sendiri. Tapi, kewalahan juga. Karena cukup banyak yang pesan,” ucapnya.

Maksum mengatakan, hasil kerajinan ini promosinya masih sebatas media sosial (medsos). Pemerintah diharapkan bisa memasarkan produk kerajinan ini. ”Kalau kualitas tidak perlu diragukan. Apalagi, kami dapat juara 1 lomba daur ulang limbah plastik tingkat kabupaten,” paparnya.

Maksum menambahkan, sepanjang proses kreativitas ini berjalan, pihaknya akan terus memberikan pendampingan. Sebab, manfaatnya sangat banyak. Selain bisa memberikan lapangan pekerjaan, juga bisa jadi kebanggaan Bangkalan.

”Karena tidak banyak yang menggeluti proses kreativitas ini. Mungkin yang ada seperti hiasan-hiasan bunga. Tapi ini bisa produksi tas, dompet, dan bantal dari sampah,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron mengapresiasi kreativitas warga Desa Gili Barat. Pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memberikan pendampingan. ”Saya koordinasikan dengan dinas terkait nanti,” janjnya.

- Advertisement -

Gelas plastik bekas air mineral dalam kemasan (AMDK) memiliki nilai ekonomis jika dimanfaatkan dengan baik. Seperti dilakukan warga Desa Gili Barat. Mereka mendaur ulang sampah hingga bisa menghasilkan uang.

DAFIR FALAH, Bangkalan, RadarMadura.id

JARAK Desa Gili Barat, Kecamatan Kamal, tidak terlalu jauh. Dengan mengendarai kendaraan roda dua hanya butuh 15 menit dari Kota Bangkalan. Akses jalannya pun tidak sulit. Sangat mudah. Hanya masuk perkampungan rumah-rumah warga.


Cuaca Minggu siang (25/8) memang cukup menyengat. Tetapi, tidak menyurutkan para perajin untuk terus berkarya. Karya bernilai ekonomis. Yakni, daur ulang limbah plastik bekas air mineral dalam kemasan gelas.

Terlihat mereka sangat bersemangat. Bahkan, beberapa perajin masih sibuk menggunting gelas plastik bekas AMDK yang baru saja dipungut dari tong-tong sampah.

Sebagian yang lain menunjukkan hasil kerajinannya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Mulai tas, dompet hingga bantal. Hasil aneka kerajinan itu tidak lantas dijadikan pajangan. Tetapi, diperjualbelikan. Sebab, banyak pesanan.

Sepintas melihat proses pembuatannya cukup sulit. Butuh keahlian dan ketelatenan. Terlebih, yang diproduksi bukan barang jadi. Tetapi sampah bekas air mineral dalam kemasan gelas.

Halimatus Sakdiyah mengutarakan, awal mula bikin kerajinan daur ulang ini tidak tiba-tiba. Sebelumnya ikut pelatihan selama dua minggu di home industry di Malang. Setelah bisa, lalu menularkan ilmu ke perajin yang lain. ”Saya dipercaya Kepala Desa Gili Barat Maksum ikut pelatihan ke Malang. Akhirnya, ketika tahu ilmunya, saya bikin kerajinan begini,” katanya.

Baca Juga :  Perusakan Situs Pilar Pintu Gerbang Parsanga Menuai Protes

Menurut dia, daur ulang limbah gelas plastik bekas AMDK ini bisa disulap menjadi tas, dompet, dan bantal yang bagus. Jadi banyak orang yang memesan, bahkan hingga kewalahan. ”Harganya dari Rp 60 ribu hingga Rp 200 ribu. Alhamdulillah banyak yang pesan,” ujarnya.

Perempuan kelahiran 1999 itu mengaku sangat terbantu dengan membuat kerajinan dari gelas plastik bekas air mieral dalam kemasan. Sebab, bisa mendatangkan duit. ”Kebetulan Pak Klebun memfasilitasinya,” terangnya.

Kepala Desa Gili Barat Maksum menyampaikan, semula memang mengutus satu orang untuk ikut pelatihan ke Malang. Setelah bisa, dipulangkan untuk mengajari warga yang lain. ”Digelutilah dengan serius. Karena sangat membantu. Awalnya pengangguran, bisa dapat pemasukan meski tidak seberapa,” jelasnya.

Kepala desa dua periode itu menyatakan, dengan kerajinan begini, sedikitnya bisa memberikan lapangan pekerjaan kepada warga. Memberdayakan yang bisa dilakukan. ”Daripada menganggur, mending kan geluti kerajinan ini,” tuturnya.

Baca Juga :  Mengunjungi Kampung Kelir yang Dipermak Pramuka

Maksum menyebutkan, saat ini terdapat delapan orang yang membuat kerajinan dari barang bekas. Dalam sepekan bisa menghasilkan dua hingga tiga produksi tas, dompet, dan bantal. ”Yang pesan memang baru orang Bangkalan sendiri. Tapi, kewalahan juga. Karena cukup banyak yang pesan,” ucapnya.

Maksum mengatakan, hasil kerajinan ini promosinya masih sebatas media sosial (medsos). Pemerintah diharapkan bisa memasarkan produk kerajinan ini. ”Kalau kualitas tidak perlu diragukan. Apalagi, kami dapat juara 1 lomba daur ulang limbah plastik tingkat kabupaten,” paparnya.

Maksum menambahkan, sepanjang proses kreativitas ini berjalan, pihaknya akan terus memberikan pendampingan. Sebab, manfaatnya sangat banyak. Selain bisa memberikan lapangan pekerjaan, juga bisa jadi kebanggaan Bangkalan.

”Karena tidak banyak yang menggeluti proses kreativitas ini. Mungkin yang ada seperti hiasan-hiasan bunga. Tapi ini bisa produksi tas, dompet, dan bantal dari sampah,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron mengapresiasi kreativitas warga Desa Gili Barat. Pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memberikan pendampingan. ”Saya koordinasikan dengan dinas terkait nanti,” janjnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/