alexametrics
24.6 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Sektor UKM dan IKM Terus Mengalami Pertumbuhan Signifikan

Usaha kecil menengah (UKM) dan industri kecil menengah (IKM) di Sampang terus mengalami pertumbuhan. Setiap tahun, jumlah pelaku UKM dan IKM bertambah minimal 53 pengusaha, dan mereka tergabung dalam kelompok.

ZAINAL ABIDIN, Sampang

MESKI UKM dan IKM terus mengalami pertumbuhan, Pemkab Sampang dinilai tidak maksimal menjalankan pembinaan. Hal itu diungkapkan Ketua Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sampang Daiman.

Pengusaha petis ikan itu menyampaikan, kelompok UKM dan IKM cukup banyak di Kota Bahari. Kurang lebih 750 usaha. Antara lain, kelompok usaha batik, makanan dan minuman (mamin), kerajinan tangan, dan lain-lain. Tiap kelompok memiliki anggota minimal 28 orang.

”Potensi UKM dan IKM di Sampang cukup besar. Banyak produk unggulan khas Sampang yang sudah dikenal dan diminati masyarakat. Tapi, pemkab tidak maksimal mengembangkan ekonomi kerakyatan,” kritiknya kemarin (26/3).

Menurut dia, pemkab kurang serius menjalankan program pembinaan dan pelatihan kepada kelompok UKM dan IKM. Usai pelatihan, tidak ada tindak lanjut dan kejelasan program. Jadi, meski sudah mengikuti pelatihan, pelaku UKM dan IKM masih sulit mengembangkan usaha.

”Seharusnya setelah pelatihan ada tindak lanjut berupa pengarahan dan pendampingan agar program yang dijalankan betul-betul bermanfaat bagi pelaku UKM dan IKM,” ucapnya.

Selain itu, program pelatihan dan pembinaan kurang progresif. Sebab, tidak semua kelompok bisa mengikuti pelatihan. ”Kelompok yang ikut pelatihan itu-itu saja. Tidak pernah berubah. Begitu juga dengan pemberian bantuan alat produksi, tidak banyak berubah,” bebernya.

Baca Juga :  Terinspirasi dari Ibunda, Kini Tertarik Membaca

Warga Jalan Mutiara, Kelurahan Banyuanyar, itu menilai, tidak maksimalnya pembinaan bagi kelompok usaha disebabkan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) serta Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja (Diskumnaker) Sampang kurang bersinergi. Sejatinya, kata Daiman, program pembinaan UKM dan IKM yang dijalankan disperdagprin dan diskumnaker cukup baik. Namun, sering terjadi ketidaksinkronan dan tumpang tindih program antardinas.

Misalnya, saat menentukan produk unggulan yang akan dipasarkan. Dinas sama-sama saling mengklaim bahwa produk tersebut merupakan hasil karya IKM dan UKM binaan. Padahal, tidak semua IKM dan UKM tersentuh pembinaan.

”Seharusnya, semua program mengenai IKM dan UKM itu ditangani satu dinas agar hasilnya lebih maskimal. Pengusaha kecil juga tidak bingung ketika ingin bekonsultasi dan mengajukan permohonan bantuan,” ujar pria 40 tahun itu.

Dia berharap, pemkab membentuk tim ekonomi kreatif yang bertugas memfasilitasi pelaku usaha. Mulai pengurusan izin, pengembangan usaha, pengemasan, hingga marketing atau penjualan produk.

”Tim ekonomi kreatif penting dibentuk. Ini sebagai tindak lanjut dari program pemerintah pusat untuk menciptakan ekosistem ekonomi kabupaten/kota kreatif,” katanya.

Daiman menyadari, tidak semua UMKM profesional meningkatkan kualitas dan kuantias produk. Karena itu, pemkab harus membantu mengembangkan usaha. ”Jumlah kelompok usaha di Sampang perlu ditambah. Agar ketika ada pesanan produk dengan jumlah banyak, pemkab tidak perlu membeli produk dari luar daerah,” usulnya.

Baca Juga :  Pameran Lukisan Pesona Indonesia Rajut Nasionalisme dari Bumi Sumekar

Kabid Perindustrian Disperdagprin Sampang Imam Rizali mengatakan, program pembinaan kepada kelompok usaha berjalan dengan baik. Pembinaan yang dilakukan berupa pelatihan peningkatan kualitas produk, pemasaran berbasis digital, dan bantuan alat produksi.

”Kami hanya membina kelompok IKM. Sementara pembinaan untuk kelompok UKM merupakan kewenangan diskumnaker,” ucapnya.

Plt Kepala Diskumnaker Sampang Chairul Anwar mengklaim, program pembinaan kepada semua kelompok usaha, baik UKM maupun IKM, sudah maskimal. Pihaknya membina semua kelompok usaha di Kota Bahari.

Pembinaan berupa peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM), peningkatan pengetahuan dan wawasan berwirausaha, serta bantuan permodalan usaha melalui pinjaman dana bargulir dan kredit usaha rakyat (KUR). Meskipun program pembinaan yang dijalankan sama dengan disperdagprin, hasil yang diharapkan tidak sama dan sesuai dengan perencanaan.

”Semua kelompok UKM dan IKM kami bina dan bantu. Mulai SDM, manajemen usaha, pengelolaan keuangan, kualitas produk, hingga pemasaran,” ujarnya.

Untuk membantu pemasaran, setiap tahun diskumnaker menggelar pameran produk unggulan. Semua produk unggulan khas Sampang dipajang dan dipromosikan di event tersebut. ”Kami sudah membentuk kelompok ekonomi kreatif dan tenaga konsultan bisnis (TKB). Di kecamatan, kelompok ekonomi kreatif dan TKB bertanggung jawab membantu kelompok usaha agar bisa berkembang,” tukasnya.

- Advertisement -

Usaha kecil menengah (UKM) dan industri kecil menengah (IKM) di Sampang terus mengalami pertumbuhan. Setiap tahun, jumlah pelaku UKM dan IKM bertambah minimal 53 pengusaha, dan mereka tergabung dalam kelompok.

ZAINAL ABIDIN, Sampang

MESKI UKM dan IKM terus mengalami pertumbuhan, Pemkab Sampang dinilai tidak maksimal menjalankan pembinaan. Hal itu diungkapkan Ketua Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sampang Daiman.


Pengusaha petis ikan itu menyampaikan, kelompok UKM dan IKM cukup banyak di Kota Bahari. Kurang lebih 750 usaha. Antara lain, kelompok usaha batik, makanan dan minuman (mamin), kerajinan tangan, dan lain-lain. Tiap kelompok memiliki anggota minimal 28 orang.

”Potensi UKM dan IKM di Sampang cukup besar. Banyak produk unggulan khas Sampang yang sudah dikenal dan diminati masyarakat. Tapi, pemkab tidak maksimal mengembangkan ekonomi kerakyatan,” kritiknya kemarin (26/3).

Menurut dia, pemkab kurang serius menjalankan program pembinaan dan pelatihan kepada kelompok UKM dan IKM. Usai pelatihan, tidak ada tindak lanjut dan kejelasan program. Jadi, meski sudah mengikuti pelatihan, pelaku UKM dan IKM masih sulit mengembangkan usaha.

”Seharusnya setelah pelatihan ada tindak lanjut berupa pengarahan dan pendampingan agar program yang dijalankan betul-betul bermanfaat bagi pelaku UKM dan IKM,” ucapnya.

Selain itu, program pelatihan dan pembinaan kurang progresif. Sebab, tidak semua kelompok bisa mengikuti pelatihan. ”Kelompok yang ikut pelatihan itu-itu saja. Tidak pernah berubah. Begitu juga dengan pemberian bantuan alat produksi, tidak banyak berubah,” bebernya.

Baca Juga :  Bupati Pamekasan: Ciptakan Pengusaha Baru

Warga Jalan Mutiara, Kelurahan Banyuanyar, itu menilai, tidak maksimalnya pembinaan bagi kelompok usaha disebabkan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) serta Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja (Diskumnaker) Sampang kurang bersinergi. Sejatinya, kata Daiman, program pembinaan UKM dan IKM yang dijalankan disperdagprin dan diskumnaker cukup baik. Namun, sering terjadi ketidaksinkronan dan tumpang tindih program antardinas.

Misalnya, saat menentukan produk unggulan yang akan dipasarkan. Dinas sama-sama saling mengklaim bahwa produk tersebut merupakan hasil karya IKM dan UKM binaan. Padahal, tidak semua IKM dan UKM tersentuh pembinaan.

”Seharusnya, semua program mengenai IKM dan UKM itu ditangani satu dinas agar hasilnya lebih maskimal. Pengusaha kecil juga tidak bingung ketika ingin bekonsultasi dan mengajukan permohonan bantuan,” ujar pria 40 tahun itu.

Dia berharap, pemkab membentuk tim ekonomi kreatif yang bertugas memfasilitasi pelaku usaha. Mulai pengurusan izin, pengembangan usaha, pengemasan, hingga marketing atau penjualan produk.

”Tim ekonomi kreatif penting dibentuk. Ini sebagai tindak lanjut dari program pemerintah pusat untuk menciptakan ekosistem ekonomi kabupaten/kota kreatif,” katanya.

Daiman menyadari, tidak semua UMKM profesional meningkatkan kualitas dan kuantias produk. Karena itu, pemkab harus membantu mengembangkan usaha. ”Jumlah kelompok usaha di Sampang perlu ditambah. Agar ketika ada pesanan produk dengan jumlah banyak, pemkab tidak perlu membeli produk dari luar daerah,” usulnya.

Baca Juga :  Pemkab Hanya Kembangkan Satu Gerai IKM

Kabid Perindustrian Disperdagprin Sampang Imam Rizali mengatakan, program pembinaan kepada kelompok usaha berjalan dengan baik. Pembinaan yang dilakukan berupa pelatihan peningkatan kualitas produk, pemasaran berbasis digital, dan bantuan alat produksi.

”Kami hanya membina kelompok IKM. Sementara pembinaan untuk kelompok UKM merupakan kewenangan diskumnaker,” ucapnya.

Plt Kepala Diskumnaker Sampang Chairul Anwar mengklaim, program pembinaan kepada semua kelompok usaha, baik UKM maupun IKM, sudah maskimal. Pihaknya membina semua kelompok usaha di Kota Bahari.

Pembinaan berupa peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM), peningkatan pengetahuan dan wawasan berwirausaha, serta bantuan permodalan usaha melalui pinjaman dana bargulir dan kredit usaha rakyat (KUR). Meskipun program pembinaan yang dijalankan sama dengan disperdagprin, hasil yang diharapkan tidak sama dan sesuai dengan perencanaan.

”Semua kelompok UKM dan IKM kami bina dan bantu. Mulai SDM, manajemen usaha, pengelolaan keuangan, kualitas produk, hingga pemasaran,” ujarnya.

Untuk membantu pemasaran, setiap tahun diskumnaker menggelar pameran produk unggulan. Semua produk unggulan khas Sampang dipajang dan dipromosikan di event tersebut. ”Kami sudah membentuk kelompok ekonomi kreatif dan tenaga konsultan bisnis (TKB). Di kecamatan, kelompok ekonomi kreatif dan TKB bertanggung jawab membantu kelompok usaha agar bisa berkembang,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/