Cinta Jurnalistik Tak Pernah Padam, Kisah Kepsek Basid yang Menekuni Dunia Pers sejak 1995

MOH. IQBAL AFGANI, Pakong, RadarMadura.id
Kesibukan memimpin sekolah tak membuat Abd. Basid Muslim meninggalkan dunia jurnalistik. Kepala SMPN 1 Pakong, Pamekasan, itu tetap menulis di sela-sela tugasnya sebagai pendidik.
Baginya, jurnalistik bukan sekadar profesi, melainkan kecintaan yang bertahan sejak 1995. Minat Basid terhadap dunia tulis-menulis tumbuh sejak masih sekolah. Kebiasaan membaca membuatnya tertarik menuangkan gagasan melalui tulisan.
Ketertarikan itu semakin kuat ketika dia kuliah di IKIP PGRI Malang dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Penulis (HMP).
”Sejak sekolah saya memang senang membaca dan menulis. Ketika kuliah, saya makin senang menulis,” kenangnya.
Kecintaan tersebut membawanya memilih jalan yang berbeda dari harapan orang tua. Setelah lulus kuliah pada 1995, Basid mengikuti tes wartawan di Harian Bhirawa dan dinyatakan lulus. Dia kemudian menekuni profesi tersebut di Malang hingga 1999.
Pada 1996, Basid mengikuti uji kompetensi wartawan (UKW) di Surabaya. Pengalaman di dunia pers terus bertambah, sementara jaringan pertemanannya semakin luas. Namun, orang tuanya tetap berharap dia kembali ke jalur pendidikan.
”Pada masa-masa itu, orang tua sering mengingatkan bahwa saya ini calon guru. Sering diminta untuk pulang dan melanjutkan pengabdian sebagai seorang guru. Saya lulusan bahasa Indonesia,” kata pria berkacamata itu.
Sebagai seorang wartawan yang tumbuh di masa krisis moneter, Basid turut merasakan langsung dampaknya. Kondisi itu mengguncang kehidupan ekonomi masyarakat. Situasi tersebut juga memengaruhi penghasilannya sebagai wartawan.
Saat itu, gaji Basid hanya Rp 300 ribu per bulan. Kenaikan harga kebutuhan hidup membuat penghasilannya semakin terbatas, sedangkan tuntutan pekerjaan tetap berjalan. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam perjalanan kariernya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



