alexametrics
19 C
Madura
Tuesday, August 9, 2022

Keprihatinan KH. Taufik Hasyim atas Merebaknya Radikalisme Agama

PAMEKASAN – Kajian tentang agama dan negara seakan tak pernah tuntas. Selalu saja ada kelompok yang ingin memisahkan antara agama dengan negara. Bahkan ada yang memaksakan dengan cara-cara destruktif hingga menghalalkan kekerasan atas nama agama.

Madura selama ini dikenal sebagai pulau dengan penduduk mayoritas muslim. Ketaatan beribadah masyarakat di Pulau Garam ini tidaklah diragukan. Bahkan Madura disebut-sebut sebagai serambi Madinah karena pola keberagamaannya yang damai.

Tetapi belakangan, ada kabar bahwa Madura akan dijadikan pusat radikalisasi agama. Meski belum tampak ke permukaan, indikasi itu mulai terlihat. Itulah yang membuat Ketua PC NU Pamekasan KH Taufik Hasyim prihatin.

Keprihatinan Taufik disampaikan saat mengisi pelatihan GP Ansor di Pondok Pesantren Al-Huda, Sumber Nangka, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Sabtu (25/11). Di hadapan puluhan santri dan pemuda, dia menjelaskan bahwa kelompok garis keras ingin menanamkan akar ideologi di Madura.

Bahkan ada dana besar yang disiapkan untuk memuluskan misi tersebut. ”Inilah yang perlu kita waspadai bersama,” kata Taufik Hasyim.

Menurut dia, bukan gerakan Islam yang dipersoalkan. Tetapi metode dakwah yang mereka gunakan dinilai dapat merusak tatanan yang ada. Bahkan akan lenyap kedamaian manakala cara-cara kekerasan dalam berdakwah diterapkan.

Baca Juga :  Luncurkan BERISI, ACT Bantu Pesantren di 22 Provinsi 55 Ton Beras

Di samping itu, mereka cenderung ingin membenturkan agama dengan negara. Seakan-akan agama dan negara merupakan hal yang terpisah. Akibatnya, negara dengan dasar Pancasila dianggap salah dan harus diperangi. ”Mereka ingin menjadikan Indonesia negara khilafah,” tegasnya.

Untuk melancarkan misi ini, ada tiga hal yang mereka lakukan. Pertama, membuat umat ragu dan jauh dari ulama. Mereka tidak lagi menimba ilmu kepada para ulama yang sudah jelas sanad keilmuannya. Bahkan anak anak-anak muda ikut mencaci maki ulama.

Cara kedua, membangun gerakan penyesatan alias sesat pikir. Saat ini banyak orang yang sudah tidak logis dalam beragama. Umat Islam belajar agama tidak kepada ahlinya. Melainkan kepada ustad-ustad karbitan atau bahkan melalui media sosial, seperti Facebook dan Youtube.

”Banyak ustad karbitan disulap menjadi ustad populer di televisi. Mereka yang tidak jelas sanad keilmuannya tapi digandrungi,” jelas Taufik.

Baca Juga :  Puluhan Tahun Jalan Kabupaten Dibiarkan Rusak

Sebalikya, ulama-ulama dari pesantren besar seperti Sidogiri, Lirboyo, Sarang, dan lainnya tidak lagi digandrungi. Padahal merekalah yang sebenarnya memiliki sanad keilmuan yang jelas, yang terhubung dengan pembawa risalah Islam.

Strategi ketiga, pengafiran. Awalnya, kelompok tersebut mengafirkan kegiatan kelompok atau perorangan. Tetapi lama-lama, bukan hanya perorangan yang dikafirkan, melainkan institusi. Termasuk negara Indonesia dikafirkan.

”Negara yang tidak menerapkan syariat islam adalah kafir, negara Indonesia adalah thaghut,” ujarnya. ”Negara dianggap musuh agama. Akhirnya mereka kerjanya hanya mengkritik semua kebijakan pemerintah. Kalau ini yang terjadi, lama-kelamaan negara akan panas, chaos,” imbuhnya.

Tiga gerakan itulah yang menurutnya perlu diwaspadai oleh umat Islam dan para ulama pesantren. Nilai-nilai kebangsaan perlu direvitalisasi, khususnya bagi generasi muda. Setidaknya umat Islam perlu belajar dari ulama-ulama terdahulu. Seperti KH. Hasyim Asy’ari yang turut berperang melawan penjajah.

Bagi NU, agama dan negara harus sejalan. Agama adalah bagian dari negara dan negara harus mengayomi agama. Keislaman dan keindonesiaan harus dipertahankan,” pungkasnya.

PAMEKASAN – Kajian tentang agama dan negara seakan tak pernah tuntas. Selalu saja ada kelompok yang ingin memisahkan antara agama dengan negara. Bahkan ada yang memaksakan dengan cara-cara destruktif hingga menghalalkan kekerasan atas nama agama.

Madura selama ini dikenal sebagai pulau dengan penduduk mayoritas muslim. Ketaatan beribadah masyarakat di Pulau Garam ini tidaklah diragukan. Bahkan Madura disebut-sebut sebagai serambi Madinah karena pola keberagamaannya yang damai.

Tetapi belakangan, ada kabar bahwa Madura akan dijadikan pusat radikalisasi agama. Meski belum tampak ke permukaan, indikasi itu mulai terlihat. Itulah yang membuat Ketua PC NU Pamekasan KH Taufik Hasyim prihatin.


Keprihatinan Taufik disampaikan saat mengisi pelatihan GP Ansor di Pondok Pesantren Al-Huda, Sumber Nangka, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Sabtu (25/11). Di hadapan puluhan santri dan pemuda, dia menjelaskan bahwa kelompok garis keras ingin menanamkan akar ideologi di Madura.

Bahkan ada dana besar yang disiapkan untuk memuluskan misi tersebut. ”Inilah yang perlu kita waspadai bersama,” kata Taufik Hasyim.

Menurut dia, bukan gerakan Islam yang dipersoalkan. Tetapi metode dakwah yang mereka gunakan dinilai dapat merusak tatanan yang ada. Bahkan akan lenyap kedamaian manakala cara-cara kekerasan dalam berdakwah diterapkan.

Baca Juga :  Menikmati Sensasi Ketinggian di Tempat Wisata Bukit Puncak Ratu

Di samping itu, mereka cenderung ingin membenturkan agama dengan negara. Seakan-akan agama dan negara merupakan hal yang terpisah. Akibatnya, negara dengan dasar Pancasila dianggap salah dan harus diperangi. ”Mereka ingin menjadikan Indonesia negara khilafah,” tegasnya.

Untuk melancarkan misi ini, ada tiga hal yang mereka lakukan. Pertama, membuat umat ragu dan jauh dari ulama. Mereka tidak lagi menimba ilmu kepada para ulama yang sudah jelas sanad keilmuannya. Bahkan anak anak-anak muda ikut mencaci maki ulama.

Cara kedua, membangun gerakan penyesatan alias sesat pikir. Saat ini banyak orang yang sudah tidak logis dalam beragama. Umat Islam belajar agama tidak kepada ahlinya. Melainkan kepada ustad-ustad karbitan atau bahkan melalui media sosial, seperti Facebook dan Youtube.

”Banyak ustad karbitan disulap menjadi ustad populer di televisi. Mereka yang tidak jelas sanad keilmuannya tapi digandrungi,” jelas Taufik.

Baca Juga :  Luncurkan BERISI, ACT Bantu Pesantren di 22 Provinsi 55 Ton Beras

Sebalikya, ulama-ulama dari pesantren besar seperti Sidogiri, Lirboyo, Sarang, dan lainnya tidak lagi digandrungi. Padahal merekalah yang sebenarnya memiliki sanad keilmuan yang jelas, yang terhubung dengan pembawa risalah Islam.

Strategi ketiga, pengafiran. Awalnya, kelompok tersebut mengafirkan kegiatan kelompok atau perorangan. Tetapi lama-lama, bukan hanya perorangan yang dikafirkan, melainkan institusi. Termasuk negara Indonesia dikafirkan.

”Negara yang tidak menerapkan syariat islam adalah kafir, negara Indonesia adalah thaghut,” ujarnya. ”Negara dianggap musuh agama. Akhirnya mereka kerjanya hanya mengkritik semua kebijakan pemerintah. Kalau ini yang terjadi, lama-kelamaan negara akan panas, chaos,” imbuhnya.

Tiga gerakan itulah yang menurutnya perlu diwaspadai oleh umat Islam dan para ulama pesantren. Nilai-nilai kebangsaan perlu direvitalisasi, khususnya bagi generasi muda. Setidaknya umat Islam perlu belajar dari ulama-ulama terdahulu. Seperti KH. Hasyim Asy’ari yang turut berperang melawan penjajah.

Bagi NU, agama dan negara harus sejalan. Agama adalah bagian dari negara dan negara harus mengayomi agama. Keislaman dan keindonesiaan harus dipertahankan,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/