Senin, 06 Dec 2021
Radar Madura
Home / Features
icon featured
Features

Perjuangan Mahfudi, Guru Honorer Pulau Giligenting, Sumenep

Bukan Soal Penghasilan, tapi Pengabdian

25 November 2021, 21: 14: 22 WIB | editor : Abdul Basri

Perjuangan Mahfudi, Guru Honorer Pulau Giligenting, Sumenep

PEJUANG PENDIDIKAN: Mahfudi, salah satu guru honorer di Pulau Giligenting berfoto bersama siswanya dalam sebuah kegiatan. (ISTIMEWA)

Share this      

Guru tak cukup memiliki profesionalitas. Sebagai pendidik, semestinyalah punya jiwa pengabdian dan dedikasi yang tinggi. Hal itu nampaknya terlihat dari sosok Mahfudi, salah satu guru honorer yang mengajar di MA An-Nur, Dusun Somber, Desa Gedugan, Kecamatan Giligenting, Sumenep.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

GURU honorer punya tantangan tersendiri. Sebab, penghasilan tenaga pendidik dengan status itu sangat rendah. Jika melulu soal gaji dan penghasilan, bukan tidak mungkin, pendidikan di Indonesia akan kekurangan tenaga pengajar.

Baca juga: Maratus Soleha, Mahasiswi UTM Asal Jakarta

Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Mahfudi. Bapak dua anak asal Desa Kebundadap Timur, Kecamatan Saronggi, itu terbukti tetap mengajar dan bertahan hingga saat ini meski gaji yang diterima tiap bulannya sangat kecil.

Jiwa pengabdian Mahfudi untuk dunia pendidikan cukup tinggi. Lebih kurang sudah tiga tahun dia menjalani rutinitas menantang ombak. Apalagi, jika cuaca sedang buruk. Sebab, tempat dia mengajar berada di Pulau Giligenting.

Dia mengajar di salah MA An-Nur, Dusun Somber, Desa Gedugan, Kecamatan Giligenting. Berangkat pagi dan pulang sore. Ketinggalan perahu saat hendak berangkat sudah menjadi hal biasa bagi guru yang bertugas mengajar di kepulauan, begitu pula ketika akan pulang.

”Guru bukanlah soal penghasilan, tapi pengabdian,” katanya.

Mahfudi mengabdi sebagai guru honorer sejak 2009. Dia pernah menetap di pulau yang terkenal memiliki wisata Pantai Sembilan itu. Karena tuntutan keluarga, hal itu tidak dilakukan lagi.

”Suka dukanya itu yang tak terbeli. Dulu memang pernah menetap. Sejak tiga tahun terakhir sudah tidak lagi,” katanya kemarin (24/11).

Sebelum mengajar, Mahfudi pernah merantau ke Jakarta. Namun, dia merasa tidak cocok tinggal dan bekerja di Ibu Kota. Akhirnya, memilih pulang. Latar belakangnya sebagai santrilah yang mendorong Mahfudi memutuskan untuk mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan. Meskipun, gajinya tidak seberapa.

”Kalau full dengan tunjangannya, saya bisa terima sampai enam ratus ribu. Itu sudah dengan ongkos transportasi,” katanya.

Jika direnungi dengan akal sehat, nominal itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Yakni, satu istri dan dua anak. Namun, dia sangat percaya bahwa Tuhan kadang memberi rezeki dengan cara tak terduga.

”Tiap bulan saya juga punya kewajiban untuk membiayai pendidikan anak,” terangnya.

Menurut alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Putra, mengajar dan mengamalkan ilmu yang paling penting. Sebab dia yakin, urusan rezeki sudah ada yang menjamin. Meski penghasilan pas-pasan, yang penting berkah.

Mahfudi membuktikan itu, dia mampu menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. ”Ya, itu berkahnya,” tegas Mahmudi.

Bagi dia, secara hakiki menjadi tenaga pengajar sangat mulia. Sebenarnya, Mahhfudi tidak berniat menjadi guru. Akan tetapi, jiwa santrinya terpanggil saat diminta salah satu kiai mengajar di sana. ”Itu yang buat saya mau mengajar. Saya percaya barokah,” ujarnya.

Oleh karena itu, komitmennya terhadap pendidikan sangat tinggi. Dia punya cita-cita besar memajukan anak-anak pulau di Kabupaten Sumenep. Baginya, pendidikan adalah dasar utama dalam menata dan membangun kehidupan yang sejahtera.

”Sulit memang, tapi kalau sudah komitmen dan janji saya bagi pendidikan, mau tidak mau saya harus menjalaninya,” pungkas guru PKN itu.

(mr/rus/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia