Minggu, 05 Dec 2021
Radar Madura
Home / Features
icon featured
Features

Mereka Harus Diberi Ruang Diskusi dan Berkreasi untuk Mewarnai Negeri

25 Oktober 2021, 19: 11: 10 WIB | editor : Abdul Basri

Mereka Harus Diberi Ruang Diskusi dan Berkreasi untuk Mewarnai Negeri

VISIONER: Dari kiri, Wakil Ketua STKIP PGRI Sumenep Moh. Fauzi, Direktur Utama Hotel Kaberaz Hilmy Gauzan, Kaisar Kiasa Kasih Said Putra, Direktur JPRM Abdul Aziz, Feri Ferdiansyah berbincang santai di Hotel Kaberaz Sumenep, Sabtu malam (23/10). (HENDRIYANTO/RadarMadura.id)

Share this      

Masa remaja adalah penentu kesuksesan seseorang. Butuh sentuhan agar mereka bisa berkreasi dan terhindarkan dari sikap individualis. Berikut petikan bincang santai Kaisar Kiasa Kasih Said Putra, salah seorang pemuda sukses asal Madura, dengan Direktur Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Abdul Aziz.

FERI FERDIANSYAH, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

UDARA malam itu, Sabtu (23/10) terasa sejuk. Sesekali dedaunan di sekeliling lobi Hotel Kaberaz bergoyang disisir angin. Suasana semakin nyaman dengan adanya alunan musik yang terdengar sayup-sayup dari beberapa sudut hotel.

Baca juga: Aprila Dwi Rahayu, Peraih Juara 3 Poomsae Beregu Putri PON Papua

Lobi hotel itu menjadi tempat pertama pertemuan Direktur JPRM Abdul Aziz dengan Kaisar Kiasa Kasih Said Putra. Putra pertama Ketua Banggar DPR RI MH. Said Abdullah itu tampak ramah menyambut kedatangan Abdul Aziz.

Kepalan tangan pengganti salam di masa pandemi dari Kaisar langsung disambut Abdul Aziz. Dua kepalan tangan pun saling beradu dan menjadi awal keakraban dua orang berbeda generasi itu. Kaisar kemudian mempersilakan Abdul Aziz untuk duduk.

”Kemarin malam saya tidur di kamar itu,” ucap Abdul Aziz membuka percakapan sambil menunjuk kamar nomor 108 sesaat setelah duduk di samping Kaisar.

Abdul Aziz mengungkapkan, dirinya merasa nyaman menginap di Hotel Kaberaz. Itu sebabnya, setiap kali berkunjung ke Sumenep, dia memilih hotel tersebut sebagai tempat beristirahat.

Pernyataan Abdul Aziz itu diamini oleh Kaisar. Pria yang menggeluti bisnis properti di Bekasi itu juga merasa nyaman nongkrong di Kaberaz. ”Di sini memang homey. Jadi seperti sedang di rumah kalau nginap di sini,” jelasnya.

Bincang santai pun berlanjut membahas tentang remaja. Kaisar tampak semangat membahas tema tersebut. Menurut dia, usia 17 sampai 21 tahun adalah masa-masa penentu kesuksesan seseorang.

Di negara-negara maju, kata dia, pada usia tersebut remaja sudah dikenalkan dengan dunia industri. Mereka akan disibukkan dengan pengalaman-pengalaman di lapangan. Sehingga, pelajar di negara maju tidak hanya dijejali teori, melainkan langsung praktik.

”Di Amerika, usia 17 tahun sampai 21 tahun adalah usia penentu. Kalau di usia tersebut mereka struggle, mau berjuang, maka itu menjadi indikasi kesuksesan. Tapi kalau di usia tersebut hanya having fun, ya ke depannya tetap begitu,” ucapnya.

Jebolan salah satu perguruan tinggi di Australia itu mengatakan, permainan remaja saat ini sudah menggiring mereka menjadi manusia yang individualis. Berbeda dengan permainan zaman dahulu yang selalu melibatkan banyak teman. Bertemu dan bersosial. Sekarang lebih banyak menyendiri sambil memegang gadget.

Kaisar mengingatkan agar gejala individualistis ini dapat dicegah. Individualistis ini harus dikikis dengan cara disentuh. Ajak remaja untuk berkreasi. Tentu sesuai dengan bidang yang mereka sukai. ”Termasuk e-sport yang sekarang digandrungi remaja,” jelasnya.

Bagi Kaisar, remaja adalah penerus bangsa. Tidak boleh dibiarkan. Harus diajak berpikir dan bertindak bagaimana bangsa ini ke depan bisa lebih maju. ”Mereka harus diberi ruang untuk berdiskusi, berkreasi sehingga bisa mewarnai laju negeri ini,” yakinnya sambil menatap wajah Abdul Aziz.

”Pak, silakan kopinya diminum,” ucap Kaisar kepada Abdul Aziz dan dua orang yang lebih awal menemaninya di lobi hotel. Kedua orang tersebut adalah Direktur Utama Hotel Kaberaz Hilmy Gauzan dan Wakil Ketua STKIP PGRI Sumenep Moh. Fauzi.

Seperti Abdul Aziz, Kaisar pun mengangkat gelas dan meneguk kopinya. Perlahan dia letakkan gelasnya di atas meja. Matanya kemudian menatap tanaman yang berjejer mengelilingi lobi hotel dan kembali berbincang.

”Remaja memang harus mengikuti perkembangan teknologi. Harus belajar IT. Tapi, jangan lupakan konservasi alam. Komunitas-komunitas pencinta alam harus dihidupkan. Alam tetap harus dijaga. Keduanya harus seimbang,” pesannya.

Bincang-bincang pun terus berlanjut. Obrolan berisi dari Kaisar dan suasana tenang di Hotel Kaberaz membuat semua orang yang ada di sana terhanyut. Dari tema remaja, teknologi, pelestarian alam, serta situasi internasional.

Pria yang tergabung dalam alumni Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia ini pun kemudian melihat jarum jam di tangannya. Tak terasa sudah 2,5 jam berbincang malam itu. Sambil menundukkan tubuhnya, Kaisar memohon izin untuk pamit lebih dulu.

”Pak Direktur, saya pamit duluan. Sampai Desember saya masih banyak pekerjaan. Insyaallah  Januari saya kembali ke Madura. Nanti kita bertemu lagi bulan Januari,” ujarnya sebelum beranjak meninggalkan hotel.

(mr/luq/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia