Minggu, 05 Dec 2021
Radar Madura
Home / Features
icon featured
Features
Di Balik Capaian Vaksinasi Pulau Gili Genting

Kapuskesmas Rela Bermalam hingga Jarang Antar Anak ke Sekolah

25 Oktober 2021, 19: 45: 16 WIB | editor : Abdul Basri

Kapuskesmas Rela Bermalam hingga Jarang Antar Anak ke Sekolah

DEMI TUGAS: Kepala Puskesmas Gili Genting Adi Mulyono (masker kuning) saat menaiki perahu yang akan ditumpangi. (DAFIR FALAH/RadarMadura.id)

Share this      

Risiko seorang pejabat bertugas di kepulauan, banyak hal yang harus dikorbankan. Terutama keluarga. Adi Mulyono, salah satunya. Kepala Puskesmas Gili Genting itu terpaksa menerima situasi tersebut. Terlebih, saat kegiatan vaksinasi kian digenjot.

DAFIR FALAH, Gili Genting, Jawa Pos Radar Madura

Kecamatan Gili Genting termasuk wilayah kepulauan yang dimiliki Kabupaten Sumenep. Ada delapan desa di kecamatan tersebut.

Baca juga: Cara Berterima Kasih Penerima Beasiswa Bidikmisi

Namun, dari delapan desa itu, tidak semua bertumpuk di Pulau Gili Genting, melainkan empat desanya lagi menyebar ke Pulau Gili Raja.            

Kecamatan yang terpecah jadi dua pulau itu membuat Kepala Puskesmas Adi Mulyono harus kerja ekstra. Terutama, dalam hal pelaksanaan vaksinasi kepada masyarakat.

Rutinitas menyeberang laut sudah menjadi santapan tiap hari. Cuaca buruk dan ombak besar tidak lagi menjadi sesuatu yang harus ditakutkan. Dari saking terbiasanya lewat jalur laut.

Jarak tempuh dari dermaga Pelabuhan Cangkarman ke Gili Genting itu berkisar 45 menit. Mencebur ke laut, itu biasa dijalani. Bahkan, tidak jarang harus berbasah-basah ketika air laut surut.

Itu terjadi karena perahu tidak bisa merapat ke dermaga. Dengan demikian, pilihannya harus berbasah-basah dulu agar bisa menuju perahu yang akan ditumpangi.

Adi mengatakan, risiko jadi Kapuskesmas Gili Genting harus selesai dengan diri sendiri dan keluarga. Sebab, tempat tugas yang akan dituju mau tidak mau harus menyeberang laut. ”Karena ini menyangkut tugas, ya harus kami laksanakan,” katanya.

Apalagi, di masa pandemi dan kegiatan vaksinasi. Tentu rutinitas kian gencar dilakukan. Sesekali harus bermalam di Pulau Gili Raja ketika ada jadwal vaksinasi di sana.

Sementara, Gili Genting itu terbagi menjadi dua pulau. Artinya, saat pagi ada kegiatan vaksinasi di Gili Genting. Kemudian, siang dan malam ada pelaksanaan vaksinasi di Gili Raja, mau tidak mau pihaknya bersama nakes yang lain harus menginap.

”Ketika sudah tiba di Gili Genting, tidak bisa langsung nyeberang ke Gili Raja. Tapi, harus balik lagi ke darat, baru meluncur ke Gili Raja,” ujarnya.

Kondisi semacam itu bukan hal baru bagi siapa pun pejabat yang bertugas di Gili Genting. Harus bisa berkompromi dengan keluarga. Sebab, kenyataannya memang demikian. ”Saya kan domisili di Dasuk. Jadi, berangkatnya harus pagi, yakni pukul 5 pagi menuju dermaga,” terangnya.

Saat berangkat pagi, anak-anak masih pulas tidur. Selama bertugas di Gili Genting, dirinya mengaku jarang mengantarkan anak-anak ke sekolah. ”Gimana lagi, ini sudah tugas saya,” sebutnya.

Dengan begitu, dirinya menyerahkan urusan anak-anak pada istri. Mulai persiapannya hingga menuju sekolah. ”Kebetulan saya punya anak lima. Paling kecil itu masih kelas 3 SD,” tuturnya.

Adi menyampaikan, quality time dengan anak-anak tentu tidak seperti keluarga pada umumnya. Sebab, ketika pulang dari Gili Genting, terkadang baru tiba habis magrib dan isya. ”Karena saya biasanya salat Magrib di kota, habis Magrib baru melanjutkan perjalanan ke Dasuk,” tuturnya.

Sementara, waktu untuk bersenda gurau dengan anak-anak tidak bisa semaksimal pada saat sebelum bertugas di Gili Genting. Sebab, badan sudah lelah. ”Ibaratnya capek duluan. Tidak maksimal menemani anak-anak,” ucapnya.

Apalagi dengan situasi sekarang, kegiatan vaksinasi kian intens. Dengan demikian, ketika tidak memungkinkan untuk pulang ke Dasuk, terpaksa bermalam di Puskesmas Gili Genting. ”Sering mengalami begitu,” katanya.

Sebab, vaksin bagi masyarakat Gili Genting masih kontroversial. Kesadaran masyarakat setempat masih rendah. Perlu pemahaman ekstra agar vaksin itu diterima. ”Karena itu, setiap ada kegiatan di sana, kami coba masuk memberikan pemahaman bahwa vaksin itu aman dan halal,” sebutnya.

Awal-awal vaksin, masyarakat banyak yang melakukan penolakan. Jangankan masyarakat umum, para nakes di sana juga kurang percaya. ”Perjuangan kami awal-awal berat, butuh penyadaran ekstra,” jelasnya.

Pria kelahiran 1975 itu menyatakan, saat ini capaian vaksin di Kecamatan Gili Genting tembus 6.563. Sedangkan sasaran vaksin berkisar 13 ribu lebih. ”Kendala kami itu. Masyarakat di sana banyak yang merantau. Akhirnya, banyak yang belum menjalani vaksin,” pungkasnya. 

(mr/*/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia