21.4 C
Madura
Saturday, December 3, 2022

Dikenal Pemalu, Tak Menyerah meski Sering Cedera

Eny Hilyana, Peraih Medali Emas di Kejuaraan Pencak Silat Nasional

Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Dengan tekad dan usaha yang kuat, Eny Hilyana bisa jadi juara nasional kejuaraan pencak silat.

AYU LATIFAH, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

SAAT mengikuti Kejuaraan Silat BNN Cup 3 antarpelajar SD, Eny Hilyana sangat percaya diri bakal tampil maksimal. Maklum, pesilat asal Dusun Kaseman, Desa Parseh, Kecamatan Socah, Bangkalan, itu melakukan persiapan dengan baik. Selama empat bulan penuh melakukan latihan.

Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Dalam kejuaraan level nasional yang digelar Agustus lalu itu, Eny Hilyana menjadi juara 1 dan berhak atas medali emas. Dia berasal dari Perguruan Pencak Silat Bambu Kuning Cabang Kaseman Parseh.

Menurut Agus Salim, 42, orang tua dari Eny Hilyana, putrinya memang tertarik pada dunia silat semenjak masih anak-anak. ”Dari PAUD dia suka, cuma saya tidak maksimalkan karena masih kecil. Baru setelah SD saya dukung masuk perguruan (pencak silat),” katanya kemarin (24/9).

Baca Juga :  Mohammad Ali, Bayi Mungil Lahir dengan Tempurung Kepala Tidak Sempurna

Saat di rumah, Hilya selalu melakukan latihan secara diam-diam di kamarnya dengan mengunci pintu. Agus mengakui bahwa putrinya memiliki sifat pemalu. Sebagai orang tua, Agus sangat bangga kepada putrinya karena bisa membawa nama baik Madura. ”Dia bisa mengharumkan nama baik kampung, kabupaten, dan pulau ini di kancah nasional,” tambahnya.

Perjuangan Hilya menjadi pesilat unggulan tentu tidak mudah. Dia harus menjalani latihan yang sangat ketat. Bahkan, dia sering mengalami cedera. Namun, dia tidak pernah menyerah. Dia tetap semangat dan gigih berlatih untuk mewujudkan cita-citanya.

”Waktu latihan memang selalu banyak ujian yang dilewati Hilyana. Bahkan, saat latihan juga pernah ada kendala (cedera). Tapi, masih terus latihan. Menjelang kejuaraan, latihan digelar tiap malam sampai pukul 12 malam,” tutur Muhaimin, 19, pelatih Bambu Kuning Cabang Kaseman, Parseh.

Selain dalam kejuaraan itu, Hilya pernah menjadi terbaik tiga Festival Pencak Silat Santri Nusantara 2017 dan peringkat 1 kejuaraan pencak silat se-Jawa Timur. Tetangga Hilya, Ishaq Syahid mengatakan, Hilya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Untuk berangkat ke kejuaraan di Jakarta, kerabat dan tokoh masyarakat bahu-membahu membantunya.

Baca Juga :  Dokter Zainal Abidin bagi Pengalaman saat Melawan Covid-19

”Adik ini kemauannya sangat besar. Dia juga orang tidak mampu sehingga ini juga berkat Kepala Desa Muh. Ilyas dan DPRD Bangkalan Pak Rokib yang memberikan bekal ke Hilya. Jadi lebih semangat berangkat ke Jakarta,” jelas pria 34 tahun itu.

Siswa yang duduk di bangku kelas VI di SDN Parseh IV mengatakan akan terus mencoba ikut di kejuaraan lain. Tujuannya, membanggakan kedua orang tua, perguruan silat, dan warga Madura. ”Saya senang, saya latihan terus untuk bisa tampil di kejuaraan ini. Demi untuk membanggakan orang tua dan Bambu Kuning,” kata siswi 11 tahun itu. (*/han)

Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Dengan tekad dan usaha yang kuat, Eny Hilyana bisa jadi juara nasional kejuaraan pencak silat.

AYU LATIFAH, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

SAAT mengikuti Kejuaraan Silat BNN Cup 3 antarpelajar SD, Eny Hilyana sangat percaya diri bakal tampil maksimal. Maklum, pesilat asal Dusun Kaseman, Desa Parseh, Kecamatan Socah, Bangkalan, itu melakukan persiapan dengan baik. Selama empat bulan penuh melakukan latihan.


Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Dalam kejuaraan level nasional yang digelar Agustus lalu itu, Eny Hilyana menjadi juara 1 dan berhak atas medali emas. Dia berasal dari Perguruan Pencak Silat Bambu Kuning Cabang Kaseman Parseh.

Menurut Agus Salim, 42, orang tua dari Eny Hilyana, putrinya memang tertarik pada dunia silat semenjak masih anak-anak. ”Dari PAUD dia suka, cuma saya tidak maksimalkan karena masih kecil. Baru setelah SD saya dukung masuk perguruan (pencak silat),” katanya kemarin (24/9).

Baca Juga :  Bintang Kecil Tempat Gembleng Calon Anggota

Saat di rumah, Hilya selalu melakukan latihan secara diam-diam di kamarnya dengan mengunci pintu. Agus mengakui bahwa putrinya memiliki sifat pemalu. Sebagai orang tua, Agus sangat bangga kepada putrinya karena bisa membawa nama baik Madura. ”Dia bisa mengharumkan nama baik kampung, kabupaten, dan pulau ini di kancah nasional,” tambahnya.

Perjuangan Hilya menjadi pesilat unggulan tentu tidak mudah. Dia harus menjalani latihan yang sangat ketat. Bahkan, dia sering mengalami cedera. Namun, dia tidak pernah menyerah. Dia tetap semangat dan gigih berlatih untuk mewujudkan cita-citanya.

- Advertisement -

”Waktu latihan memang selalu banyak ujian yang dilewati Hilyana. Bahkan, saat latihan juga pernah ada kendala (cedera). Tapi, masih terus latihan. Menjelang kejuaraan, latihan digelar tiap malam sampai pukul 12 malam,” tutur Muhaimin, 19, pelatih Bambu Kuning Cabang Kaseman, Parseh.

Selain dalam kejuaraan itu, Hilya pernah menjadi terbaik tiga Festival Pencak Silat Santri Nusantara 2017 dan peringkat 1 kejuaraan pencak silat se-Jawa Timur. Tetangga Hilya, Ishaq Syahid mengatakan, Hilya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Untuk berangkat ke kejuaraan di Jakarta, kerabat dan tokoh masyarakat bahu-membahu membantunya.

Baca Juga :  Penting Orang Tua Membekali Anak dengan Pendidikan Seks

”Adik ini kemauannya sangat besar. Dia juga orang tidak mampu sehingga ini juga berkat Kepala Desa Muh. Ilyas dan DPRD Bangkalan Pak Rokib yang memberikan bekal ke Hilya. Jadi lebih semangat berangkat ke Jakarta,” jelas pria 34 tahun itu.

Siswa yang duduk di bangku kelas VI di SDN Parseh IV mengatakan akan terus mencoba ikut di kejuaraan lain. Tujuannya, membanggakan kedua orang tua, perguruan silat, dan warga Madura. ”Saya senang, saya latihan terus untuk bisa tampil di kejuaraan ini. Demi untuk membanggakan orang tua dan Bambu Kuning,” kata siswi 11 tahun itu. (*/han)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/