alexametrics
28.5 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Kesaksian Korban Kaki Melepuh, Berjam-jam di Tengah Laut

Mereka  mengingat dengan jelas detik-detik paling mendebarkan dan menakutkan saat petaka itu tiba-tiba datang di tengah laut. Berikut kesaksian sebagian korban selamat dari kebakaran KM Santika Nusantara di Perairan Pulau Masalembu.      

BADRI STIAWAN, Sumenep, RadarMadura.id

KORBAN selamat tidak henti-hentinya mengucurkan air mata. Anggota keluarga yang menjemput juga ikut menangis. Bersyukur bisa selamat dari musibah terbakarnya KM Santika Nusantara di perairan Pulau Masalembu, Kamis (22/8).

Ruliana, warga asal Sangatta, Balikpapan, mengaku bersyukur selamat dari musibah kebakaran kapal. Perempuan 36 tahun itu naik KM Santika Nusantara bersama kedua anaknya, Firdaus, 2, dan Fernanda, 6.

Sebelum kejadian, dia datang ke Kota Pahlawan untuk menghadiri pernikahan saudaranya.

Setelah itu, Ruliana hendak kembali ke Balikpapan dengan menaiki KM Santika Nusantara yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Kamis (22/8) sekitar pukul 08.00.

Ruliana tidak menyangka jika kapal yang ditumpanginya akan mengalami musibah. Dia baru menyadari kapal tersebut terbakar sekitar pukul 23.00.

”Bangun tidur sudah ada asap. Kami panik. Lari terbirit-birit. Saya sampai lupa tidak pakai sandal. Kaki saya melepuh. Anak saya selamatkan,” ceritanya kepada RadarMadura.id saat berada di Rumah Perlindungan Sementara (RPS) Dinsos Sumenep kemarin (24/8).

Saat berusaha menyelamatkan diri, dia melihat seorang anak yang ada di depannya tenggelam. Beruntung, penumpang lain langsung sigap melakukan penyelamatan. Kondisi malam hari dan gelombang laut yang tinggi menambah kepanikan para penumpang. Ditambah lantai kapal yang panas akibat terpanggang si jago merah.

”Lantai kapal sudah panas. Asap dari samping. Dari dek kendaraan. Kemungkinan ada kendaraan yang mengalami korsleting,” terang perempuan berhijab itu.

Asap yang keluar kian tebal. Dia kemudian membawa kedua anaknya lari ke tangga darurat pada bagian samping kapal. Menunggu kedatangan bantuan sembari berteriak minta tolong. Sekitar dua jam menunggu, akhirnya dia dievakuasi salah satu kapal nelayan setempat.

Baca Juga :  Isak Tangis Keluarga Iringi Evakuasi 89 Korban KM Santika Nusantara

Selama menunggu pertolongan, Ferdian dan Fernanda tetap dalam dekapnnya. Diikat menggunakan gendongan agar tidak terpisah. Ruliana mengaku beruntung bantuan segera datang. Jika tidak, entah seperti apa nasibnya jika tetap berada di kapal yang terbakar ataupun jika memilih terjun ke laut.

”Untung ada yang membantu. Kalau tidak, sudah habis kami. Tidak sampai membawa barang yang lain,” kenangnya.

Hal serupa juga dialami Warsudi, 45, warga asal Tuban. Awalnya dia bersama istri dan tiga anaknya terlelap. Namun, tiba-tiba ada asap yang mengepul. Sontak, dia membawa keluarganya lari. Naik turun tangga kapal. Sebab, tak tahu harus menyelamatkan diri ke mana dan pada siapa harus meminta pertolongan.

Kemudian beberapa petugas menurunkan tali tambang dari kapal. Warsudi bersama anak-anaknya turun menggunakan tali darurat tersebut. Tidak dengan sang istri, ibu dari tiga anaknya itu terpisah.

”Karena memang saya suruh lari duluan. Anak-anak saya setelah itu ikut turun dan saya terakhir. Alhamdulillah ternyata sudah diselamatkan duluan sama kapal yang bantu,” kata pria yang masih mengenakan jaket keselamatan ketika ditemui di RPS Dinsos Sumenep itu.

Warsudi mengaku sekitar empat jam terkatung-katung di lautan hingga mendapat pertolongan dari nelayan setempat. Setelah itu dia bersama ketiga anaknya dinaikkan ke KM Tunggal Putra. Di kapal inilah Warsudi kembali dipertemukan dengan sang istri.

Sampai mendapat pertolongan, dia mengaku belum mengetahui penyebab kebakaran. Dia juga tidak menyangka kapal yang sudah ditumpanginya tiga kali itu terbakar. ”Kaki saya dan istri sampai melepuh. Tahu kalau ada kebakaran, saya tarik semua. Barang-barang tidak ada yang selamat. Yang penting orangnya selamat,” terangnya.

Sementara itu, terkatung-katung di laut selama sekitar enam jam dirasakan Tarwiyatul Hasanah. Perempuan 34 tahun asal Banjarnegara itu baru ditarik dari air bersama kedua anaknya sekitar pukul 03.00, Jumat (23/8). Seingatnya, dia terjun ke laut sekitar pukul 21.00, Kamis (22/8).

Baca Juga :  Profil Atlet KONI Jawa Timur Peraih Medali Emas

”Anak-anak saya juga ikut. Sempat terjatuh tapi ada yang menolong. Banyak yang terjun ke air. Alhamdulillah banyak yang selamat. Tapi barang-barang ikut terbakar di kapal,” jelasnya.

Menurut Hasanah, saat terjadi kebakaran, tidak terpikir dalam benaknya untuk menyelamatkan barang bawaan. Sempat berdesak-desakan dengan penumpang lain. Sebab berebut untuk keluar dari ruangan kapal. Kakinya yang tidak menggunakan alas saat itu juga melepuh akibat panas besi kapal. Kepanikan para penumpang juga membuat kakinya terinjak-injak. Pada saat kebakaran petugas langsung memandu para penumpang untuk proses evakuasi.

Setelah itu, KM Tunggal Putra datang memberikan bantuan. Selama proses evakuasi, tidak ada makanan maupun minuman yang masuk ke perutnya. Termasuk bagi anak-anaknya. Lapar dan haus selama perjalanan dari perairan Masalembu menuju Kalianget jelas terasa.

”Karena kapal yang menolong jelas tidak membawa bekal banyak. Tidak ada makanan. Baru di sini (RPS, Red) diberi minum dan makan,” ungkap Hasanah.

Petugas Poliklinik Polres Sumenep dr. Ahmad Basri yang menangani para korban di RPS Dinsos Sumenep menerangkan, korban rata-rata mengalami kedinginan. Sesampainya di Kalianget pakaian korban yang masih basah karena menceburkan diri ke laut.

Selain itu, sejumlah korban mengalami luka lecet, nyeri karena benturan, dan sesak napas. Sebagian korban yang membutuhkan penanganan lebih serius dibawa ke rumah sakit.

Di RPS, lanjut dia, petugas memberikan penanganan berupa pemeriksaan kesehatan kepada korban. Perawatan diberikan kepada korban yang mengalami luka bakar. Tim Dokpol Polres Sumenep juga melakukan pemeriksaan tensi dan pemberian obat seperti antibiotik, nyeri, obat panas, dan vitamin kepada para korban.

”Rata-rata korban mengalami hipotermia dan mag. Kemudian, luka lecet dan nyeri. Sudah mendapat penanganan,” pungkasnya.

Mereka  mengingat dengan jelas detik-detik paling mendebarkan dan menakutkan saat petaka itu tiba-tiba datang di tengah laut. Berikut kesaksian sebagian korban selamat dari kebakaran KM Santika Nusantara di Perairan Pulau Masalembu.      

BADRI STIAWAN, Sumenep, RadarMadura.id

KORBAN selamat tidak henti-hentinya mengucurkan air mata. Anggota keluarga yang menjemput juga ikut menangis. Bersyukur bisa selamat dari musibah terbakarnya KM Santika Nusantara di perairan Pulau Masalembu, Kamis (22/8).


Ruliana, warga asal Sangatta, Balikpapan, mengaku bersyukur selamat dari musibah kebakaran kapal. Perempuan 36 tahun itu naik KM Santika Nusantara bersama kedua anaknya, Firdaus, 2, dan Fernanda, 6.

Sebelum kejadian, dia datang ke Kota Pahlawan untuk menghadiri pernikahan saudaranya.

Setelah itu, Ruliana hendak kembali ke Balikpapan dengan menaiki KM Santika Nusantara yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Kamis (22/8) sekitar pukul 08.00.

Ruliana tidak menyangka jika kapal yang ditumpanginya akan mengalami musibah. Dia baru menyadari kapal tersebut terbakar sekitar pukul 23.00.

”Bangun tidur sudah ada asap. Kami panik. Lari terbirit-birit. Saya sampai lupa tidak pakai sandal. Kaki saya melepuh. Anak saya selamatkan,” ceritanya kepada RadarMadura.id saat berada di Rumah Perlindungan Sementara (RPS) Dinsos Sumenep kemarin (24/8).

Saat berusaha menyelamatkan diri, dia melihat seorang anak yang ada di depannya tenggelam. Beruntung, penumpang lain langsung sigap melakukan penyelamatan. Kondisi malam hari dan gelombang laut yang tinggi menambah kepanikan para penumpang. Ditambah lantai kapal yang panas akibat terpanggang si jago merah.

”Lantai kapal sudah panas. Asap dari samping. Dari dek kendaraan. Kemungkinan ada kendaraan yang mengalami korsleting,” terang perempuan berhijab itu.

Asap yang keluar kian tebal. Dia kemudian membawa kedua anaknya lari ke tangga darurat pada bagian samping kapal. Menunggu kedatangan bantuan sembari berteriak minta tolong. Sekitar dua jam menunggu, akhirnya dia dievakuasi salah satu kapal nelayan setempat.

Baca Juga :  Isak Tangis Keluarga Iringi Evakuasi 89 Korban KM Santika Nusantara

Selama menunggu pertolongan, Ferdian dan Fernanda tetap dalam dekapnnya. Diikat menggunakan gendongan agar tidak terpisah. Ruliana mengaku beruntung bantuan segera datang. Jika tidak, entah seperti apa nasibnya jika tetap berada di kapal yang terbakar ataupun jika memilih terjun ke laut.

”Untung ada yang membantu. Kalau tidak, sudah habis kami. Tidak sampai membawa barang yang lain,” kenangnya.

Hal serupa juga dialami Warsudi, 45, warga asal Tuban. Awalnya dia bersama istri dan tiga anaknya terlelap. Namun, tiba-tiba ada asap yang mengepul. Sontak, dia membawa keluarganya lari. Naik turun tangga kapal. Sebab, tak tahu harus menyelamatkan diri ke mana dan pada siapa harus meminta pertolongan.

Kemudian beberapa petugas menurunkan tali tambang dari kapal. Warsudi bersama anak-anaknya turun menggunakan tali darurat tersebut. Tidak dengan sang istri, ibu dari tiga anaknya itu terpisah.

”Karena memang saya suruh lari duluan. Anak-anak saya setelah itu ikut turun dan saya terakhir. Alhamdulillah ternyata sudah diselamatkan duluan sama kapal yang bantu,” kata pria yang masih mengenakan jaket keselamatan ketika ditemui di RPS Dinsos Sumenep itu.

Warsudi mengaku sekitar empat jam terkatung-katung di lautan hingga mendapat pertolongan dari nelayan setempat. Setelah itu dia bersama ketiga anaknya dinaikkan ke KM Tunggal Putra. Di kapal inilah Warsudi kembali dipertemukan dengan sang istri.

Sampai mendapat pertolongan, dia mengaku belum mengetahui penyebab kebakaran. Dia juga tidak menyangka kapal yang sudah ditumpanginya tiga kali itu terbakar. ”Kaki saya dan istri sampai melepuh. Tahu kalau ada kebakaran, saya tarik semua. Barang-barang tidak ada yang selamat. Yang penting orangnya selamat,” terangnya.

Sementara itu, terkatung-katung di laut selama sekitar enam jam dirasakan Tarwiyatul Hasanah. Perempuan 34 tahun asal Banjarnegara itu baru ditarik dari air bersama kedua anaknya sekitar pukul 03.00, Jumat (23/8). Seingatnya, dia terjun ke laut sekitar pukul 21.00, Kamis (22/8).

Baca Juga :  Lima Korban Kebakaran Kapal Dibawa ke Surabaya

”Anak-anak saya juga ikut. Sempat terjatuh tapi ada yang menolong. Banyak yang terjun ke air. Alhamdulillah banyak yang selamat. Tapi barang-barang ikut terbakar di kapal,” jelasnya.

Menurut Hasanah, saat terjadi kebakaran, tidak terpikir dalam benaknya untuk menyelamatkan barang bawaan. Sempat berdesak-desakan dengan penumpang lain. Sebab berebut untuk keluar dari ruangan kapal. Kakinya yang tidak menggunakan alas saat itu juga melepuh akibat panas besi kapal. Kepanikan para penumpang juga membuat kakinya terinjak-injak. Pada saat kebakaran petugas langsung memandu para penumpang untuk proses evakuasi.

Setelah itu, KM Tunggal Putra datang memberikan bantuan. Selama proses evakuasi, tidak ada makanan maupun minuman yang masuk ke perutnya. Termasuk bagi anak-anaknya. Lapar dan haus selama perjalanan dari perairan Masalembu menuju Kalianget jelas terasa.

”Karena kapal yang menolong jelas tidak membawa bekal banyak. Tidak ada makanan. Baru di sini (RPS, Red) diberi minum dan makan,” ungkap Hasanah.

Petugas Poliklinik Polres Sumenep dr. Ahmad Basri yang menangani para korban di RPS Dinsos Sumenep menerangkan, korban rata-rata mengalami kedinginan. Sesampainya di Kalianget pakaian korban yang masih basah karena menceburkan diri ke laut.

Selain itu, sejumlah korban mengalami luka lecet, nyeri karena benturan, dan sesak napas. Sebagian korban yang membutuhkan penanganan lebih serius dibawa ke rumah sakit.

Di RPS, lanjut dia, petugas memberikan penanganan berupa pemeriksaan kesehatan kepada korban. Perawatan diberikan kepada korban yang mengalami luka bakar. Tim Dokpol Polres Sumenep juga melakukan pemeriksaan tensi dan pemberian obat seperti antibiotik, nyeri, obat panas, dan vitamin kepada para korban.

”Rata-rata korban mengalami hipotermia dan mag. Kemudian, luka lecet dan nyeri. Sudah mendapat penanganan,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/