alexametrics
21.5 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

Libatkan Tim Multimedia, Sasar Jamaah hingga 4 Negara

KH. Moh. Khoiron Zaini tidak main-main mendirikan Majelis Pemuda Bersholawat atau yang kini bernama Majelis At-Taufiq. Bersamaan dengan deklarasi majelis ini pada 22 April 2015, Ra Khoiron langsung membentuk tim multimedia. Majelis tersebut kini memiliki 63 perwakilan di Indonesia serta pewakilan di tiga negara.

 

ENAM tahun lalu Ra Khoiron harus berkeliling dari langgar ke langgar untuk menggelar kegiatan Majelis At-Taufiq. Tentu saja pada masa awal mendirikan, jumlah jamaahnya tak seberapa. Mudah dihitung dengan jari.

Kala itu pesertanya hanya 20 orang. Kalaupun ada langgar yang daya tampungnya lebih besar, jamaah bisa mencapai 30 orang. ”Waktu itu pernah paling banyak sekitar seratus orang,” kenangnya saat ditemui di Hotel Panglima Sampang belum lama ini.

Namun, situasi tersebut tidak bertahan lama. Pelan tapi pasti jumlah jamaah terus bertambah. Karena itu, kegiatan majelis tersebut akhirnya dipusatkan di lingkungan Ponpes Miftahul Ulum Karangdurin. Beralamat di Desa Tlambah, Kecamatan Karang Penang, Sampang. Kini jumlah jamaah yang hadir bisa mencapai 5 ribu, bahkan 10 ribu jamaah.

”Kita tidak langsung besar. Awalnya dari langgar ke langgar. Dari rumah ke rumah,” ungkap Ra Khoiron yang juga menjabat ketua PC GP Ansor Sampang itu.

Strategi yang membuat Majelis At-Taufiq bisa cepat besar adalah pemanfaatan teknologi. Sebelum At-Taufiq matang, dia matangkan dulu tim multimedianya. ”Kami buatkan channel YouTube. Kami bentuk tim editing yang baik. Sebab, itu akan menjadi ajang promosi bagi pemuda,” terangnya.

Dengan adanya tim multimedia, bukan berarti majelis yang dia dirikan langsung dikenal. Ra Khoiron butuh kesabaran. Sebab, membangun majelis keagamaan seperti itu tak ubahnya dengan membangun merek.

Baca Juga :  Sosok Imam S.Arifin bagi Teman Dekatnya

”Ini tidak mudah. Karena yang sulit itu bagaimana kita menjual sebuah brand. Bagaimana brand At-Taufiq ini bisa laku di masyarakat,” paparnya.

Tim multimedia aktif setiap kali ada event pemuda bersalawat. Mereka aktif mendokumentasikan kegiatan. Tidak hanya mengambil foto para tokoh yang hadir. Tapi, jamaah yang hadir juga menjadi objek foto. Tujuannya, agar para pemuda yang hadir bangga dan ikut menyebarkan foto-foto kegiatan Majelis At-Taufiq.

Dari awal majelis berdiri, tim multimedia ini sudah berdiri. Tim ini dilatih ke mana-mana. Sekarang sudah matang dan profesional. Bahkan, sudah punya kantor sendiri. Namanya At-Taufiq Centre yang berada di Miftahul Ulum Karangdurin.

Melalui tim multimedia inilah Majelis Pemuda Bersholawat At-Taufiq dikenal di berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan, seiring waktu berjalan, kini sudah terbentuk cabang di beberapa negara. Baik itu di Arab Saudi, Malaysia, bahkan di Hongkong.

”Kami memiliki komunitas. Namanya Sahabat At-Taufiq Nusantara. Sekarang sudah terbentuk 63 kepengurusan se-Indonesia. Selain itu, ada pula di luar negeri. Ada Arab Saudi, Hongkong, dan Malaysia,” ungkap Gus Khoiron.

Meski sudah banyak cabang komunitasnya, kegiatan pemuda bersalawat tetap digelar di lingkungan Ponpes Miftahul Ulum Karangdurin. Jamaah yang berada di luar Madura bisa mengikuti kegiatan Majelis melalui kanal YouTube Majelis At-Taufiq Official. ”Kita live streaming melalui YouTube,” terangnya.

Selain memanfaatkan teknologi, upaya pendekatan kepada pemuda juga dilakukan melalui seni. Menurut Ra Khoiron, penyampaian dakwah tidak jarang menggunakan lagu-lagu yang saat ini sedang digandrungi pemuda. Namun, sebelum disajikan kepada jamaah, syair lagu digubah sesuai nilai-nilai keislaman.

Baca Juga :  Keluh Kesah Anggota Satpam Perempuan di HUT Ke-39

”Kami meniru dakwah Wali Sanga, di mana ada akulturasi agama dengan budaya. Bagaimana Wali Sanga memasukkan nilai-nilai agama pada budaya yang ada. Seperti wayang, gamelan, dan sebagainya. Sehingga, mudah diterima orang pribumi pada waktu itu,” jelasnya.

Ra Khoiron mengaku metode tersebut tidak begitu mulus. Kadang ada kritikan karena menggunakan musik dangdut sebagai sarana dakwah. Namun, dirinya yakin dengan begitu dakwah menjadi cocok kepada pemuda dan mudah diterima oleh mereka.

”Secara keseluruhan yang Allah berikan di luar dugaan kami. Kami tidak menyangka Majelis At-Taufiq ini bisa diterima hingga di luar Madura. Awalnya kami hanya ingin mengubah pemuda di sekitar daerah kami. Tapi di luar ekspektasi, kami bisa silaturahmi juga ke Malaysia, ke Hongkong hingga Saudi. Ini luar biasa,” ungkap suami Nyai Afia Ghozali itu.

Putra almarhum KH. Zaini Soleh itu punya harapan besar ke depan. Pertama, dia berharap Majelis At-Taufiq diterima oleh Allah serta bisa diterima pemuda dan masyarakat. Selain itu dirinya berharap Majelis At-Taufiq dapat memberikan manfaat. Dengan demikian, bisa mengubah perilaku pemuda dari perbuatan negatif menjadi positif.

”Yang tadinya jarang salat, tidak kenal Allah, tidak kenal Rasulullah, kemudian bisa kenal kepada kepada Allah dan rasulnya. Yang tadinya tidak kenal kepada ulama dan habaib, kemudian bisa cinta kepada ulama dan habaib,” terangnya.

Harapan lain, cita-cita membangun Pondok Pesantren At-Taufiq bisa segera terealisasi. Dengan demikian, manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. ”Kita bisa mendidik pemuda sejak kecil sampai besar agar manfaatnya bisa lebih dirasakan oleh bangsa, negara, dan agama,” pungkasnya.

- Advertisement -

KH. Moh. Khoiron Zaini tidak main-main mendirikan Majelis Pemuda Bersholawat atau yang kini bernama Majelis At-Taufiq. Bersamaan dengan deklarasi majelis ini pada 22 April 2015, Ra Khoiron langsung membentuk tim multimedia. Majelis tersebut kini memiliki 63 perwakilan di Indonesia serta pewakilan di tiga negara.

 

ENAM tahun lalu Ra Khoiron harus berkeliling dari langgar ke langgar untuk menggelar kegiatan Majelis At-Taufiq. Tentu saja pada masa awal mendirikan, jumlah jamaahnya tak seberapa. Mudah dihitung dengan jari.


Kala itu pesertanya hanya 20 orang. Kalaupun ada langgar yang daya tampungnya lebih besar, jamaah bisa mencapai 30 orang. ”Waktu itu pernah paling banyak sekitar seratus orang,” kenangnya saat ditemui di Hotel Panglima Sampang belum lama ini.

Namun, situasi tersebut tidak bertahan lama. Pelan tapi pasti jumlah jamaah terus bertambah. Karena itu, kegiatan majelis tersebut akhirnya dipusatkan di lingkungan Ponpes Miftahul Ulum Karangdurin. Beralamat di Desa Tlambah, Kecamatan Karang Penang, Sampang. Kini jumlah jamaah yang hadir bisa mencapai 5 ribu, bahkan 10 ribu jamaah.

”Kita tidak langsung besar. Awalnya dari langgar ke langgar. Dari rumah ke rumah,” ungkap Ra Khoiron yang juga menjabat ketua PC GP Ansor Sampang itu.

Strategi yang membuat Majelis At-Taufiq bisa cepat besar adalah pemanfaatan teknologi. Sebelum At-Taufiq matang, dia matangkan dulu tim multimedianya. ”Kami buatkan channel YouTube. Kami bentuk tim editing yang baik. Sebab, itu akan menjadi ajang promosi bagi pemuda,” terangnya.

Dengan adanya tim multimedia, bukan berarti majelis yang dia dirikan langsung dikenal. Ra Khoiron butuh kesabaran. Sebab, membangun majelis keagamaan seperti itu tak ubahnya dengan membangun merek.

Baca Juga :  Libatkan Akademisi, MA Apresiasi Pejuang Covid-19

”Ini tidak mudah. Karena yang sulit itu bagaimana kita menjual sebuah brand. Bagaimana brand At-Taufiq ini bisa laku di masyarakat,” paparnya.

Tim multimedia aktif setiap kali ada event pemuda bersalawat. Mereka aktif mendokumentasikan kegiatan. Tidak hanya mengambil foto para tokoh yang hadir. Tapi, jamaah yang hadir juga menjadi objek foto. Tujuannya, agar para pemuda yang hadir bangga dan ikut menyebarkan foto-foto kegiatan Majelis At-Taufiq.

Dari awal majelis berdiri, tim multimedia ini sudah berdiri. Tim ini dilatih ke mana-mana. Sekarang sudah matang dan profesional. Bahkan, sudah punya kantor sendiri. Namanya At-Taufiq Centre yang berada di Miftahul Ulum Karangdurin.

Melalui tim multimedia inilah Majelis Pemuda Bersholawat At-Taufiq dikenal di berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan, seiring waktu berjalan, kini sudah terbentuk cabang di beberapa negara. Baik itu di Arab Saudi, Malaysia, bahkan di Hongkong.

”Kami memiliki komunitas. Namanya Sahabat At-Taufiq Nusantara. Sekarang sudah terbentuk 63 kepengurusan se-Indonesia. Selain itu, ada pula di luar negeri. Ada Arab Saudi, Hongkong, dan Malaysia,” ungkap Gus Khoiron.

Meski sudah banyak cabang komunitasnya, kegiatan pemuda bersalawat tetap digelar di lingkungan Ponpes Miftahul Ulum Karangdurin. Jamaah yang berada di luar Madura bisa mengikuti kegiatan Majelis melalui kanal YouTube Majelis At-Taufiq Official. ”Kita live streaming melalui YouTube,” terangnya.

Selain memanfaatkan teknologi, upaya pendekatan kepada pemuda juga dilakukan melalui seni. Menurut Ra Khoiron, penyampaian dakwah tidak jarang menggunakan lagu-lagu yang saat ini sedang digandrungi pemuda. Namun, sebelum disajikan kepada jamaah, syair lagu digubah sesuai nilai-nilai keislaman.

Baca Juga :  Libatkan Pasukan Polda dan Kodam

”Kami meniru dakwah Wali Sanga, di mana ada akulturasi agama dengan budaya. Bagaimana Wali Sanga memasukkan nilai-nilai agama pada budaya yang ada. Seperti wayang, gamelan, dan sebagainya. Sehingga, mudah diterima orang pribumi pada waktu itu,” jelasnya.

Ra Khoiron mengaku metode tersebut tidak begitu mulus. Kadang ada kritikan karena menggunakan musik dangdut sebagai sarana dakwah. Namun, dirinya yakin dengan begitu dakwah menjadi cocok kepada pemuda dan mudah diterima oleh mereka.

”Secara keseluruhan yang Allah berikan di luar dugaan kami. Kami tidak menyangka Majelis At-Taufiq ini bisa diterima hingga di luar Madura. Awalnya kami hanya ingin mengubah pemuda di sekitar daerah kami. Tapi di luar ekspektasi, kami bisa silaturahmi juga ke Malaysia, ke Hongkong hingga Saudi. Ini luar biasa,” ungkap suami Nyai Afia Ghozali itu.

Putra almarhum KH. Zaini Soleh itu punya harapan besar ke depan. Pertama, dia berharap Majelis At-Taufiq diterima oleh Allah serta bisa diterima pemuda dan masyarakat. Selain itu dirinya berharap Majelis At-Taufiq dapat memberikan manfaat. Dengan demikian, bisa mengubah perilaku pemuda dari perbuatan negatif menjadi positif.

”Yang tadinya jarang salat, tidak kenal Allah, tidak kenal Rasulullah, kemudian bisa kenal kepada kepada Allah dan rasulnya. Yang tadinya tidak kenal kepada ulama dan habaib, kemudian bisa cinta kepada ulama dan habaib,” terangnya.

Harapan lain, cita-cita membangun Pondok Pesantren At-Taufiq bisa segera terealisasi. Dengan demikian, manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. ”Kita bisa mendidik pemuda sejak kecil sampai besar agar manfaatnya bisa lebih dirasakan oleh bangsa, negara, dan agama,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/