alexametrics
28.2 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Kuliah di Tiongkok dan Taiwan Jadi Motivasi

PAMEKASAN – Bahasa Mandarin cukup diperhitungkan di tingkat internasional. Santri di pondok pesantren (ponpes) tak ketinggalan menyiapkan diri untuk menguasai bahasa tersebut. Apa motivasi mereka?

Puluhan santri memadati aula Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba), Pamekasan, Jumat (23/2). Di ruangan itu santri berkomunikasi menggunakan bahasa Mandarin yang mereka pelajari di lembaga pengembangan bahasa ponpes tersebut.

Di aula, santri menyambut kedatangan pengelola Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC). Pertemuan ITCC dengan santri Ponpes Muba dilakukan secara bertahap. Pukul 09.00–11.00 pertemuan bersama santri putra dan pukul 13.30–16.00 bersama santri putri.

ITCC membina dan menyosialisasikan pentingnya santri belajar bahasa Mandarin. ITCC memberikan peluang kepada santri untuk kuliah di luar nengeri, khususnya Tiongkok. Sebab, ITCC menjalin kerja sama dengan pemerintah negara itu.

Santri Muba memiliki peluang besar karena telah banyak yang memahami bahasa Mandarin. Mendapatkan peluang kuliah di luar negeri, santri kelas akhir tingkat MA semringah. Mereka tidak membuang kesempatan untuk bertanya tentang persyaratan dan ketentuan-ketentuannya.

Saat berinteraksi dengan ITCC, santri langsung menggunakan bahasa Mandarin. ”ITCC didirikan pada 2001. Lembaga ini konsen di bidang pendidikan dan kebudayaan antara Indonesia-Cina,” kata Muhammad Tadjuddin Muslim selaku Education Consultant ITCC.

Baca Juga :  Menunggu Tanamkan Kesabaran

Program ini diharapkan bisa dimanfaatkan Ponpes Muba. Sebab, selama ini yang dikirim kuliah ke Tiongkok banyak dari luar Madura. Dia menilai, santri Muba memiliki peluang yang cukup besar karena telah memiliki kemampuan berkomunikasi bahasa Mandarin. ”Dari pesantren di Madura belum, baru pertama ini di Pondok Bata-Bata,” terangnya.

Selama ini, lanjut Muhammad Tadjuddin Muslim, ITCC telah mengirim ratusan siswa untuk kuliah ke Cina. Setiap tahun sekitar 350 siswa diberangkatkan. Banyak program yang bisa dipilih. ”Bisa program beasiswa, kuliah mandiri, kuliah kedokteran bersubsidi, dan kuliah magang bergaji di Cina dan Taiwan. Jadi siswa kita selama ini ada dari seluruh Indonesia. Ada dari Kalimantan, Papua, dan Madura,” bebernya.

Siswa yang akan kuliah ke luar negeri terlebih dahulu mengikuti kursus selama minimal lima bulan di ITCC. Sebab, ITCC yang merekomendasi untuk bisa masuk ke universitas di Cina. ”Mudah-mudahan kedatangan kita ke Bata-Bata ada siswa yang akan melanjutkan kuliah ke Cina. Paling tidak ketika belajar bahasa Mandarin dapat ditularkan kepada adik-adik kelas,” ujar dia.

Dengan motivasi itu diharapkan wawasan santri terbuka. Bahwa belajar di luar negeri bukan hanya mimpi, namun bisa digapai. Asalkan ada kemauan dan tekad, tinggal dukungan orang tua dan pesantren untuk mendukung siswa belajar di luar negeri.

Baca Juga :  Sudarsono Tetap Eksis Bersama Sanggar Seni Tarara

”Selama ini pesantren identik hanya belajar kitab. Selain agama, harus memiliki kemampuan iptek dan keahlian berkomunikasi bahasa asing,” tambah Beni Wijaksono yang juga sebagai Education  Consultant ITCC.

Ketua Pengurus Ponpes Muba Achmad Khusairi berterima kasih atas kunjungan ITCC. Dengan sosialisasi itu akan meningkatkan gairah belajar santri melanjutkan pendidikan ke luar negeri. ”ITCC memberikan banyak peluang bagi santri untuk bisa kuliah di Cina,” katanya.

”Apalagi kita selama ini memang membekali santri dengan bahasa Mandarin. Jadi ini sejalan  dengan kegiatan pesantren dan ini peluang bagi kita,” imbuh dia.

Karena itu, lanjut pria kelahiran Siuobondo tersebut, pesantren akan memfasilitasi santri yang siap kuliah di Cina. Sebab santri yang memiliki kemampuan dalam berbahasa Mandarin cukup banyak.  Geliat untuk mengikuti pengembangan bahasa asing terus meningkat.

”Selama ini sudah banyak kita sebar santri ke luar negeri. Ada di Mesir, Madinah, dan negara-negara lain,” tuturnya.

 

PAMEKASAN – Bahasa Mandarin cukup diperhitungkan di tingkat internasional. Santri di pondok pesantren (ponpes) tak ketinggalan menyiapkan diri untuk menguasai bahasa tersebut. Apa motivasi mereka?

Puluhan santri memadati aula Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba), Pamekasan, Jumat (23/2). Di ruangan itu santri berkomunikasi menggunakan bahasa Mandarin yang mereka pelajari di lembaga pengembangan bahasa ponpes tersebut.

Di aula, santri menyambut kedatangan pengelola Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC). Pertemuan ITCC dengan santri Ponpes Muba dilakukan secara bertahap. Pukul 09.00–11.00 pertemuan bersama santri putra dan pukul 13.30–16.00 bersama santri putri.


ITCC membina dan menyosialisasikan pentingnya santri belajar bahasa Mandarin. ITCC memberikan peluang kepada santri untuk kuliah di luar nengeri, khususnya Tiongkok. Sebab, ITCC menjalin kerja sama dengan pemerintah negara itu.

Santri Muba memiliki peluang besar karena telah banyak yang memahami bahasa Mandarin. Mendapatkan peluang kuliah di luar negeri, santri kelas akhir tingkat MA semringah. Mereka tidak membuang kesempatan untuk bertanya tentang persyaratan dan ketentuan-ketentuannya.

Saat berinteraksi dengan ITCC, santri langsung menggunakan bahasa Mandarin. ”ITCC didirikan pada 2001. Lembaga ini konsen di bidang pendidikan dan kebudayaan antara Indonesia-Cina,” kata Muhammad Tadjuddin Muslim selaku Education Consultant ITCC.

Baca Juga :  Menunggu Tanamkan Kesabaran

Program ini diharapkan bisa dimanfaatkan Ponpes Muba. Sebab, selama ini yang dikirim kuliah ke Tiongkok banyak dari luar Madura. Dia menilai, santri Muba memiliki peluang yang cukup besar karena telah memiliki kemampuan berkomunikasi bahasa Mandarin. ”Dari pesantren di Madura belum, baru pertama ini di Pondok Bata-Bata,” terangnya.

Selama ini, lanjut Muhammad Tadjuddin Muslim, ITCC telah mengirim ratusan siswa untuk kuliah ke Cina. Setiap tahun sekitar 350 siswa diberangkatkan. Banyak program yang bisa dipilih. ”Bisa program beasiswa, kuliah mandiri, kuliah kedokteran bersubsidi, dan kuliah magang bergaji di Cina dan Taiwan. Jadi siswa kita selama ini ada dari seluruh Indonesia. Ada dari Kalimantan, Papua, dan Madura,” bebernya.

Siswa yang akan kuliah ke luar negeri terlebih dahulu mengikuti kursus selama minimal lima bulan di ITCC. Sebab, ITCC yang merekomendasi untuk bisa masuk ke universitas di Cina. ”Mudah-mudahan kedatangan kita ke Bata-Bata ada siswa yang akan melanjutkan kuliah ke Cina. Paling tidak ketika belajar bahasa Mandarin dapat ditularkan kepada adik-adik kelas,” ujar dia.

Dengan motivasi itu diharapkan wawasan santri terbuka. Bahwa belajar di luar negeri bukan hanya mimpi, namun bisa digapai. Asalkan ada kemauan dan tekad, tinggal dukungan orang tua dan pesantren untuk mendukung siswa belajar di luar negeri.

Baca Juga :  Antusiasme Siswa MA An-Najah I Belajar Jurnalistik Bersama JPRM

”Selama ini pesantren identik hanya belajar kitab. Selain agama, harus memiliki kemampuan iptek dan keahlian berkomunikasi bahasa asing,” tambah Beni Wijaksono yang juga sebagai Education  Consultant ITCC.

Ketua Pengurus Ponpes Muba Achmad Khusairi berterima kasih atas kunjungan ITCC. Dengan sosialisasi itu akan meningkatkan gairah belajar santri melanjutkan pendidikan ke luar negeri. ”ITCC memberikan banyak peluang bagi santri untuk bisa kuliah di Cina,” katanya.

”Apalagi kita selama ini memang membekali santri dengan bahasa Mandarin. Jadi ini sejalan  dengan kegiatan pesantren dan ini peluang bagi kita,” imbuh dia.

Karena itu, lanjut pria kelahiran Siuobondo tersebut, pesantren akan memfasilitasi santri yang siap kuliah di Cina. Sebab santri yang memiliki kemampuan dalam berbahasa Mandarin cukup banyak.  Geliat untuk mengikuti pengembangan bahasa asing terus meningkat.

”Selama ini sudah banyak kita sebar santri ke luar negeri. Ada di Mesir, Madinah, dan negara-negara lain,” tuturnya.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/