alexametrics
21.2 C
Madura
Sunday, May 29, 2022

Berbincang tentang Wayang Kulit Pamekasan dengan Ki Sudirman

PAMEKASAN – Kesenian wayang kulit sempat eksis di Pamekasan. Akan tetapi, lambat laun warisan budaya leluhur ini mulai lenyap akibat ditinggal oleh masyarakat. Bahkan saat ini hanya Ki Sudirman satu-satunya dalang yang masih setia memainkan wayang kulit.

Ki Sudirman memainkan wayang kulit dengan tokoh Prabu Suyadana. Gerak-gerik tangannya mencerminkan dia begitu menguasai alur cerita dari penggalan kisah Mahabarata itu. Sesekali dia menunjukkan cara menembang dan bercerita pewayangan.

Pertunjukan singkat itu dilakukan khusus di hadapan Jawa Pos Radar Madura. Sengaja koran ini meminta waktu usai si empu dalang tersebut mengisi diskusi di Pendapa Budaya, Jalan Jokotole, Pamekasan, Senin malam (22/1). Diskusi yang digelar Civitas Kotheka itu mengambil tema Misteri Wayang Kulit Pamekasan.

Diskusi malam itu merupakan kali pertama Ki Sudirman mementaskan wayang di kantor pemerintah Pamekasan. Kali terakhir dia mentas yaitu pada 2007 silam waktu mengisi acara Hari Jadi Kabupaten Pamekasan. ”Pernah diundang ke pendopo pada 2007. Setelah itu tidak pernah diundang lagi,” kata Ki Sudirman.

Saat ini wayang kulit Pamekasan sudah hampir punah. Satu-satunya orang yang bisa memainkan wayang kulit hanyalah dia. Bahkan di Madura pun, menurut dia, tidak ada yang lagi menjadi dalang wayang kulit.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan era 1980-an. Pada saat itu, wayang kulit masih digandrungi. Dalam sepekan, pentas wayang kulit bisa empat sampai lima hari. Bahkan para dalang dan pemain gamelan juga harus menginap di rumah-rumah warga karena tak sempat pulang ke rumah sendiri.

Baca Juga :  Diberi Tempat Khusus, Anggota Berprestasi Diganjar Penghargaan

”Era 1980-an masih bisa pentas lima sampai enam malam berturut-turut. Sampai penabuhnya tidur di sana,” tuturnya. Hal sebaliknya terjadi mulai era 1990-an. Formalisasi syariat mulai kuat di Pamekasan. Wayang kulit lambat laun dianggap sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam.

”Kan gini, wayang itu perkembangannya ada di klenteng sehingga masyarakat Pamekasan menilai wayang identik dengan klenteng. Padahal tidak begitu,” jelasnya. ”Kebetulan saja yang mengelola klenteng senang wayang sehingga tradisi wayang kulit hidup di sana,” tambahnya.

Perkembangan teknologi juga menjadi penyebab ditinggalkannya wayang oleh generasi muda. Abad 21 yang ditandai dengan munculnya handphone pintar membuat masyarakat tidak perlu lagi keluar rumah untuk mendapatkan tontonan. Berbeda dengan era 1980-an yang mengharuskan masyarakat keluar rumah agar bisa menikmati hiburan.

”Sekarang tinggal buka HP sudah banyak tontonan di dalamnya. Jadi, masyarakat tidak perlu lagi cari hiburan di luar rumah,” ucapnya.

Faktor lain yang membuat ditinggal generasi muda adalah sulitnya memainkan wayang kulit. Dia menjelaskan, ada empat hal yang harus dikuasai calon dalang. Yakni, dia harus menguasai gending, bisa memainkan wayang, paham alur cerita dan pakem, serta bisa menembangkan cerita dengan baik.

”Ada yang bisa sabet (memainkan wayang, Red), tapi tidak bisa mendalang. Kadang suaranya fals. Kadang bisa sabet, bisa vokal, tapi dalam membawakan cerita dia tidak bisa,” jelasnya. ”Jadi, tidak mudah menjadi dalang,” tegasnya.

Namun, dia tetap berharap wayang kulit bisa dilestarikan. Sebab, wayang kulit memiliki makna mendalam dalam kehidupan. Ada aspek tontonan, tuntutan, dan tatanan yang tersimpan dalam cerita-cerita pewayang.

Baca Juga :  Bupati Ajak Jaga Ciri Khas Ukiran Karduluk

”Sebagai tontonan, wayang kulit menghibur. Sebagai tuntutan, wayang memiliki misi. Baik tentang kehidupan keluarga melalui kisah Ramayana atau pemerintahan seperti di kisah Mahabarata,” urainya.

”Sebagai tatanan, wayang kulit hadir untuk menciptakan tananan kehidupan yang lebih baik. Bagaimana pemimpin harus berlaku bijak dan adil dan bagaimana pula bawahan tidak melangkahi kewenangan-kewenangan pimpinan,” imbuhnya.

Peneliti wayang Hamzah Fansuri menambahkan, ada beberapa faktor yang mengakibatkan kurangnya minat masyarakat untuk pertunjukan wayang. Dari segi cerita, pertunjukan wayang memang berat. Untuk konsumsi, masyarakat awam agak berat karena menangkap isi di dalamnya butuh pemikiran.

”Berbeda dengan cerita ketoprak. Ketoprak itu kita melihat saja sudah bisa menangkap. Sementara dalam wayang banyak sekali pesan-pesan yang tersirat dari pertunjukan lakonnya itu,” katanya.

Kemudian secara bentuk estetik, lebih ringan dan menarik ketoprak daripada wayang. Pada ketoprak, semua pemain berdialog. Sedangkan pada wayang kulit, hanya wayang yang bergerak.

Berdasar penelitian yang dia lakukan, formalisasi syariat Islam juga berpengaruh terhadap kepunahan wayang. ”Anak-anak pada saat itu banyak yang dilarang menonton wayang. Sebab, wayang kulit banyak yang bersinggungan dengan mistik dan ajaran Hindu-Budha,” jelasnya.

”Secara filosifi, wayang tidak bertentangan dengan aspek kemanusiaan. Hanya pelaksanannya, wayang itu selalu berkaitan dengan ritual. Itulah yang menyebabkan wayang mulai ditinggalkan,” tukasnya.

PAMEKASAN – Kesenian wayang kulit sempat eksis di Pamekasan. Akan tetapi, lambat laun warisan budaya leluhur ini mulai lenyap akibat ditinggal oleh masyarakat. Bahkan saat ini hanya Ki Sudirman satu-satunya dalang yang masih setia memainkan wayang kulit.

Ki Sudirman memainkan wayang kulit dengan tokoh Prabu Suyadana. Gerak-gerik tangannya mencerminkan dia begitu menguasai alur cerita dari penggalan kisah Mahabarata itu. Sesekali dia menunjukkan cara menembang dan bercerita pewayangan.

Pertunjukan singkat itu dilakukan khusus di hadapan Jawa Pos Radar Madura. Sengaja koran ini meminta waktu usai si empu dalang tersebut mengisi diskusi di Pendapa Budaya, Jalan Jokotole, Pamekasan, Senin malam (22/1). Diskusi yang digelar Civitas Kotheka itu mengambil tema Misteri Wayang Kulit Pamekasan.


Diskusi malam itu merupakan kali pertama Ki Sudirman mementaskan wayang di kantor pemerintah Pamekasan. Kali terakhir dia mentas yaitu pada 2007 silam waktu mengisi acara Hari Jadi Kabupaten Pamekasan. ”Pernah diundang ke pendopo pada 2007. Setelah itu tidak pernah diundang lagi,” kata Ki Sudirman.

Saat ini wayang kulit Pamekasan sudah hampir punah. Satu-satunya orang yang bisa memainkan wayang kulit hanyalah dia. Bahkan di Madura pun, menurut dia, tidak ada yang lagi menjadi dalang wayang kulit.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan era 1980-an. Pada saat itu, wayang kulit masih digandrungi. Dalam sepekan, pentas wayang kulit bisa empat sampai lima hari. Bahkan para dalang dan pemain gamelan juga harus menginap di rumah-rumah warga karena tak sempat pulang ke rumah sendiri.

Baca Juga :  Satu Jam Bersama Pengurus Ikatan Alumni Darussyahid Sampang

”Era 1980-an masih bisa pentas lima sampai enam malam berturut-turut. Sampai penabuhnya tidur di sana,” tuturnya. Hal sebaliknya terjadi mulai era 1990-an. Formalisasi syariat mulai kuat di Pamekasan. Wayang kulit lambat laun dianggap sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam.

”Kan gini, wayang itu perkembangannya ada di klenteng sehingga masyarakat Pamekasan menilai wayang identik dengan klenteng. Padahal tidak begitu,” jelasnya. ”Kebetulan saja yang mengelola klenteng senang wayang sehingga tradisi wayang kulit hidup di sana,” tambahnya.

Perkembangan teknologi juga menjadi penyebab ditinggalkannya wayang oleh generasi muda. Abad 21 yang ditandai dengan munculnya handphone pintar membuat masyarakat tidak perlu lagi keluar rumah untuk mendapatkan tontonan. Berbeda dengan era 1980-an yang mengharuskan masyarakat keluar rumah agar bisa menikmati hiburan.

”Sekarang tinggal buka HP sudah banyak tontonan di dalamnya. Jadi, masyarakat tidak perlu lagi cari hiburan di luar rumah,” ucapnya.

Faktor lain yang membuat ditinggal generasi muda adalah sulitnya memainkan wayang kulit. Dia menjelaskan, ada empat hal yang harus dikuasai calon dalang. Yakni, dia harus menguasai gending, bisa memainkan wayang, paham alur cerita dan pakem, serta bisa menembangkan cerita dengan baik.

”Ada yang bisa sabet (memainkan wayang, Red), tapi tidak bisa mendalang. Kadang suaranya fals. Kadang bisa sabet, bisa vokal, tapi dalam membawakan cerita dia tidak bisa,” jelasnya. ”Jadi, tidak mudah menjadi dalang,” tegasnya.

Namun, dia tetap berharap wayang kulit bisa dilestarikan. Sebab, wayang kulit memiliki makna mendalam dalam kehidupan. Ada aspek tontonan, tuntutan, dan tatanan yang tersimpan dalam cerita-cerita pewayang.

Baca Juga :  Lesbumi MWCNU Pasongsongan Rayakan Maulid Nabi

”Sebagai tontonan, wayang kulit menghibur. Sebagai tuntutan, wayang memiliki misi. Baik tentang kehidupan keluarga melalui kisah Ramayana atau pemerintahan seperti di kisah Mahabarata,” urainya.

”Sebagai tatanan, wayang kulit hadir untuk menciptakan tananan kehidupan yang lebih baik. Bagaimana pemimpin harus berlaku bijak dan adil dan bagaimana pula bawahan tidak melangkahi kewenangan-kewenangan pimpinan,” imbuhnya.

Peneliti wayang Hamzah Fansuri menambahkan, ada beberapa faktor yang mengakibatkan kurangnya minat masyarakat untuk pertunjukan wayang. Dari segi cerita, pertunjukan wayang memang berat. Untuk konsumsi, masyarakat awam agak berat karena menangkap isi di dalamnya butuh pemikiran.

”Berbeda dengan cerita ketoprak. Ketoprak itu kita melihat saja sudah bisa menangkap. Sementara dalam wayang banyak sekali pesan-pesan yang tersirat dari pertunjukan lakonnya itu,” katanya.

Kemudian secara bentuk estetik, lebih ringan dan menarik ketoprak daripada wayang. Pada ketoprak, semua pemain berdialog. Sedangkan pada wayang kulit, hanya wayang yang bergerak.

Berdasar penelitian yang dia lakukan, formalisasi syariat Islam juga berpengaruh terhadap kepunahan wayang. ”Anak-anak pada saat itu banyak yang dilarang menonton wayang. Sebab, wayang kulit banyak yang bersinggungan dengan mistik dan ajaran Hindu-Budha,” jelasnya.

”Secara filosifi, wayang tidak bertentangan dengan aspek kemanusiaan. Hanya pelaksanannya, wayang itu selalu berkaitan dengan ritual. Itulah yang menyebabkan wayang mulai ditinggalkan,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/