alexametrics
29 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Anjurkan Berbahasa Madura dan Pakai Baju ala Sakera-Marlena

Perkantoran di lingkungan Pemkab Sampang tampak berbeda dari biasanya. Sebab, seluruh aparatur sipil negara (ASN) mengenakan konstum kebesaran masyarakat Madura, yakni Sakera dan Marlena. Nuansa itu berlangsung mulai kemarin (22/12) hingga Jumat (24/12).

JUNAIDI PONDIYANTO, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

KOSTUM tradisional atasan kebaya merah dipadukan dengan batik, lalu loreng merah-putih dan hitam mewarnai di setiap aktivitas perkantoran. Para abdi negara di lingkungan Pemkab Sampang tampak gagah dan cantik dengan balutan baju pesa’ gombor ala Sakera-Marlena. 

Pemandangan berbeda akan dijumpai masyarakat selama tiga hari ke depan. Seolah kembali ke tempo dulu, zaman Pak Sakera dan istrinya, Marlena.

Kebijakan tersebut merupakan salah satu upaya nyata Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang dalam melestarikan budaya Madura. Sekaligus dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Ke-398 Kabupaten Sampang.

”Seluruh ASN wajib pakai baju ala Sakera dan Marlena selama tiga hari. Dimulai hari ini (kemarin) sampai Jumat (24/12) mendatang,” kata Sekkab Sampang Yuliadi Setiyawan kemarin (22/12).

Baca Juga :  Mereka Harus Diberi Ruang Diskusi dan Berkreasi untuk Mewarnai Negeri

Kepala OPD beserta staf, kepala instansi vertikal, camat se-Kabupaten Sampang, kepala desa, dan lurah diminta untuk kompak mengenakan kostum kebesaran orang Madura tersebut. Tak berhenti di situ, pemerintah Kota Bahari menganjurkan penggunaan bahasa Madura halus dalam sepekan.

Kegiatan dan pelayanan harus menggunakan bahasa Madura. Sebab, itu warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Budaya dan bahasa Madura tidak boleh tergerus oleh pesatnya zaman.

Generasi muda tidak boleh lupa dan harus bangga terhadap budaya dan bahasa Madura sebagai identitas diri. Pak Sakera, sosok yang dikenal pemberani dan sangat tersohor itu lahir di bumi Madura.

”Kebijakan ini sama sekali tidak rasis kepada orang luar Madura. Tetapi, sebagai edukasi untuk saling toleran, menerima keberagaman di negeri ini. Apalagi, ASN di Sampang tidak semuanya asli orang Madura,” jelas Yuliadi Setiyawan.

Dia menambahkan, penggunaan bahasa Madura dan kostum Sakera-Marlena rutin diprogramkan setiap perayaan hari jadi Kabupaten Sampang. ”Ketentuan ini bersifat sementara. Ini cara kami melestarikan budaya Madura. Dan kebijakan ini berlaku pula kepada ASN yang berasal dari luar Madura,” terangnya.

Baca Juga :  AKP Musihram Berbagi Pengalaman pada HUT┬áKe-74 Brigade Mobil

Begitu juga dengan penggunaan bahasa Madura santun dalam setiap kegiatan kepemerintahan. Menurut dia, tidak bersifat wajib dan mengikat, terutama kapada ASN dari luar Madura.

”Tidak diberlakukan sanksi bagi yang tidak bisa berbahasa Madura dalam kegiatan pemerintahan,” ungkapnya.

Anjuran penggunaan bahasa Madura sebenarnya sudah dimulai. Yakni, sejak tanggal 1 hingga 31 Desember. Menurutnya, pemerintah terpanggil untuk terus melestarikan bahasa Madura.

Penggunaan bahasa Madura mulai ditinggalkan oleh masyarakat masa kini. Maka dari itu, perlu ada promotor agar kekayaan budaya Madura bisa terus eksis dan tidak ditelan modernisasi.

”Sekarang ini mungkin sudah banyak dijumpai orang Madura kesulitan berbahasa Madura secara baik. Itulah yang menjadi salah satu pertimbangan kami menganjurkan penggunaan bahasa Madura pada kegiatan pemerintah,” pungkasnya. 

- Advertisement -

Perkantoran di lingkungan Pemkab Sampang tampak berbeda dari biasanya. Sebab, seluruh aparatur sipil negara (ASN) mengenakan konstum kebesaran masyarakat Madura, yakni Sakera dan Marlena. Nuansa itu berlangsung mulai kemarin (22/12) hingga Jumat (24/12).

JUNAIDI PONDIYANTO, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

KOSTUM tradisional atasan kebaya merah dipadukan dengan batik, lalu loreng merah-putih dan hitam mewarnai di setiap aktivitas perkantoran. Para abdi negara di lingkungan Pemkab Sampang tampak gagah dan cantik dengan balutan baju pesa’ gombor ala Sakera-Marlena. 


Pemandangan berbeda akan dijumpai masyarakat selama tiga hari ke depan. Seolah kembali ke tempo dulu, zaman Pak Sakera dan istrinya, Marlena.

Kebijakan tersebut merupakan salah satu upaya nyata Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang dalam melestarikan budaya Madura. Sekaligus dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Ke-398 Kabupaten Sampang.

”Seluruh ASN wajib pakai baju ala Sakera dan Marlena selama tiga hari. Dimulai hari ini (kemarin) sampai Jumat (24/12) mendatang,” kata Sekkab Sampang Yuliadi Setiyawan kemarin (22/12).

Baca Juga :  Berkunjung ke Makam Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin

Kepala OPD beserta staf, kepala instansi vertikal, camat se-Kabupaten Sampang, kepala desa, dan lurah diminta untuk kompak mengenakan kostum kebesaran orang Madura tersebut. Tak berhenti di situ, pemerintah Kota Bahari menganjurkan penggunaan bahasa Madura halus dalam sepekan.

Kegiatan dan pelayanan harus menggunakan bahasa Madura. Sebab, itu warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Budaya dan bahasa Madura tidak boleh tergerus oleh pesatnya zaman.

Generasi muda tidak boleh lupa dan harus bangga terhadap budaya dan bahasa Madura sebagai identitas diri. Pak Sakera, sosok yang dikenal pemberani dan sangat tersohor itu lahir di bumi Madura.

”Kebijakan ini sama sekali tidak rasis kepada orang luar Madura. Tetapi, sebagai edukasi untuk saling toleran, menerima keberagaman di negeri ini. Apalagi, ASN di Sampang tidak semuanya asli orang Madura,” jelas Yuliadi Setiyawan.

Dia menambahkan, penggunaan bahasa Madura dan kostum Sakera-Marlena rutin diprogramkan setiap perayaan hari jadi Kabupaten Sampang. ”Ketentuan ini bersifat sementara. Ini cara kami melestarikan budaya Madura. Dan kebijakan ini berlaku pula kepada ASN yang berasal dari luar Madura,” terangnya.

Baca Juga :  Kepedulian Berbahasa Madura Rendah

Begitu juga dengan penggunaan bahasa Madura santun dalam setiap kegiatan kepemerintahan. Menurut dia, tidak bersifat wajib dan mengikat, terutama kapada ASN dari luar Madura.

”Tidak diberlakukan sanksi bagi yang tidak bisa berbahasa Madura dalam kegiatan pemerintahan,” ungkapnya.

Anjuran penggunaan bahasa Madura sebenarnya sudah dimulai. Yakni, sejak tanggal 1 hingga 31 Desember. Menurutnya, pemerintah terpanggil untuk terus melestarikan bahasa Madura.

Penggunaan bahasa Madura mulai ditinggalkan oleh masyarakat masa kini. Maka dari itu, perlu ada promotor agar kekayaan budaya Madura bisa terus eksis dan tidak ditelan modernisasi.

”Sekarang ini mungkin sudah banyak dijumpai orang Madura kesulitan berbahasa Madura secara baik. Itulah yang menjadi salah satu pertimbangan kami menganjurkan penggunaan bahasa Madura pada kegiatan pemerintah,” pungkasnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/