Rabu, 08 Dec 2021
Radar Madura
Home / Features
icon featured
Features

Musahram, Pemeran Pak Tawi dalam Film Basiyat

Tokoh Bajing yang Berlatar Belakang Petani

23 September 2021, 20: 31: 04 WIB | editor : Abdul Basri

Musahram, Pemeran Pak Tawi dalam Film Basiyat

RUTINITAS SEHARI-HARI: Musahram saat ditemui di rumahnya di Dusun Kombung Timur, Desa Ellak Daya, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, kemarin. (MOH. JUNAIDI/RadarMadura.id)

Share this      

Menjadi aktor dalam sebuah film tidak mudah. Apalagi, jika tidak pernah berkecimpung di dunia seni peran. Begitulah kalimat pertama yang disampaikan Musahram, pemeran utama film pendek Basiyat (2021) garapan sutradara muda Ahmad Faiz.

MOH. JUNAIDI, Sumenep Jawa Pos Radar Madura

KONTRAS. Itulah pemandangan yang terlihat setelah koran ini mengetahui kehidupan sehari-hari Musahram, pemeran Pak Tawi dalam film Basiyat (2021). Sebab, pria berusia 56 tahun itu banyak menghabiskan waktunya di sawah. Sehari-hari, warga Dusun Kombung Timur, Desa Ellak Daya, Kecamatan Lenteng, itu memang bertani.

Baca juga: Carock Reborn; Dari Generasi untuk Generasi

Saat ditemui Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di rumahnya, Musahram bercerita tentang keterlibatannya dalam film Basiyat (2021). Dikatakan, Pak Tawi dicitrakan sebagai seorang bajing. Wataknya keras, angkuh, dan punya kebiasaan buruk minum-minuman keras.

Menurut Musahram, Basiyat film yang bagus. Karena itu, sejak awal dia mempersiapkan diri dengan matang dan berusaha tampil profesional. Meskipun, mulanya dia khawatir tidak bisa tampil maksimal seperti kehendak sang sutradara. Sebab, dia hanya petani. ”Khawatir banyak salah dan tidak sesuai dengan naskah yang diberikan sutradara,” tuturnya.

Tahun 1988 hingga 1996, Musahram pernah bergabung dengan komunitas drama Al-Badar Mahajaya. ”Dulu, waktu masih muda, saya memang aktif di komunitas drama Al-Badar Mahajaya. Kami pentas di panggung. Ditonton langsung oleh masyarakat. Drama-drama yang kami garap biasanya bertema percintaan dan sejarah nabi,” lanjutnya.

Musahram tidak menyangka akan diajak bergabung dalam film Basiyat. Sebab, hal itu bertolak belakang dengan pekerjaannya sebagai petani. ”Saya kaget, sangat kaget. Ketika Faiz dan krunya datang bertamu dan meminta saya menjadi aktor utama dalam filmnya,” ungkapnya.

Pengamatan Musahram, film yang digarap Faiz sangat kompleks. Selain berpijak pada tradisi, juga tidak mengabaikan cara berpikir masyarakat Madura. Film Basiyat seolah menjadi gambaran sosial-politik masyarakat Madura. Jika kontennya benar-benar dikaji, memang tidak biasa dalam kehidupan orang-orang Madura.

”Manusia kalau mati biasanya berwasiat yang baik-baik. Lah.. di film ini justru nggak. Kan yang berperan jadi bajingan itu saya. Berwasiat, kalau mati, mayatnya dimandikan dengan arak. Proses pemakamannya juga harus diringi saronen. Aneh, tapi menarik,” paparnya.

Sementara itu, sutradara film Basiyat, Ahmad Faiz, mengomentari peran yang dimainkan Musahram. Dikatakan, Musahram cukup mudah dieksplorasi. Sebab, aktornya sudah memiliki bekal dasar. ”Terutama dalam membentuk karakternya,” sambung Faiz.

Secara keseluruhan, terang sutradara asal Kecamatan Ganding itu, memang ada beberapa karakter yang jauh dari sosok Pak Tawi.  Sebab, dalam film ini, Pak Tawi dicitrakan sebagai pribadi yang keras, tegas, tapi humoris. Untungnya, Musahram sering bergaul dengan bajing. ”Karena itu, dia tahu karakter seperti apa yang dibutuhkan dalam film ini,” ulasnya.

Faiz menceritakan, Musahram sosok yang sangat terbuka dan bisa memperbaiki kekurangannya ketika dievaluasi. ”Waktu yang dibutuhkan Musahram untuk melakukan penyesuaian memang cukup lama. Tapi, bagi saya itu sebuah keberhasilan. Sebab, kami berhasil mengubah Musahram menjadi Pak Tawi dalam film Basiyat (2021),” pungkasnya.

(mr/yan/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia