alexametrics
20.6 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Suka Duka Moh. Suhri Menjadi Juru Kunci Pesarean Aer Mata Ebu

BANGKALAN – Terik matahari siang itu tak membuat Moh. Suhri meninggalkan makam. Sudah menjadi tanggung jawab pria 59 tahun tersebut untuk merawat dan menjaga Pesarean Aer Mata Ebu.

Pesarean  Aer Mata Ebu menjadi salah satu ikon wisata religi di Bangkalan. Peziarah dari berbagai daerah datang. ”Banyak yang datang ke sini. Peziarah dari Jawa Timur mendominasi. Kedua, peziarah dari Jawa Barat,” ujar Suhri.

Jam menunjukkah pukul 12.00, Kamis (21/6). Peziarah tak henti-hentinya keluar masuk area pemakaman. Sebelum masuk, peziarah menaiki anak tangga yang cukup tinggi.

Penjual makanan ringan bersahutan menawarkan jualannya. Tak jarang peziarah berhenti sekadar membeli air mineral.

Papan peringatan berwarna dasar putih dengan tulisan hitam terpampang di samping pintu pertama area Pesarean Aer Mata Ebu. Papan itu bertuliskan ”Pengemis dan Peminta-minta Dilarang Masuk”.

Baca Juga :  HBC Madura Lawan Covid-19 dengan Bagi-Bagi Masker dan Sembako

Seakan tak mengindahkannya, terdapat dua pengemis di pintu masuk kedua makam. Seorang pengemis laki-laki buta dan pengemis lainnya perempuan paro baya. Mereka bersandar pada tiang gazebo sebelum masuk pintu kedua pesarean .

Mereka menyambut peziarah sejak pukul 06.00. Pesarean ini dibuka untuk umum. Moh. Suhri menghitung pengunjung yang menandatangani buku tamu, 700 peziarah. ”Hari ini lebih sedikit dibanding kemarin,” ungkapnya. Pada masa libur hari raya Idul Fitri, peziarah membeludak hingga mencapai ribuan.

Itulah bagian dari susah senang sebagai juru kunci makam. ”Saya bekerja dengan ikhlas sebagai juru kunci, tanpa dibayar. Kami bukan pegawai,” jelas Suhri.

Terdapat 11 juru kunci lainnya yang bertugas. Suhri merupakan ketua juru kunci di Pesarean  Aer Mata Ebu. ”Kerjanya ya bersih-bersih dan memandu peziarah jika tidak mengerti,” tuturnya.

Baca Juga :  Logistik untuk Kepulauan Dikirim Tengah Malam

Suhri sudah memiliki keluarga. Dia memiliki dua anak. Keseharian Suhri berada di area makam. ”Saya senang di sini. Ini tanggung jawab saya menjaga pesarean,” jelas pria asli Kampung Makam, Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, tersebut.

Aktivitas juru kunci setiap pagi berzikir di Makam Rato Ebu. Setiap hari terdapat dua juru kunci yang bergantian menjaga makam. ”Dari buyut saya sudah jadi juru kunci. Jadi turun-temurun menjadi juru kunci,” ucap Suhri.

Meski sedang tidak menjaga makam, jika ada tamu yang mau bertemu, Suhri menemui walau tengah malam. ”Jangan punya sifat mencari kaya atau keuntungan sebagai juru kunci. Harus ikhlas” tukasnya. 

 

BANGKALAN – Terik matahari siang itu tak membuat Moh. Suhri meninggalkan makam. Sudah menjadi tanggung jawab pria 59 tahun tersebut untuk merawat dan menjaga Pesarean Aer Mata Ebu.

Pesarean  Aer Mata Ebu menjadi salah satu ikon wisata religi di Bangkalan. Peziarah dari berbagai daerah datang. ”Banyak yang datang ke sini. Peziarah dari Jawa Timur mendominasi. Kedua, peziarah dari Jawa Barat,” ujar Suhri.

Jam menunjukkah pukul 12.00, Kamis (21/6). Peziarah tak henti-hentinya keluar masuk area pemakaman. Sebelum masuk, peziarah menaiki anak tangga yang cukup tinggi.


Penjual makanan ringan bersahutan menawarkan jualannya. Tak jarang peziarah berhenti sekadar membeli air mineral.

Papan peringatan berwarna dasar putih dengan tulisan hitam terpampang di samping pintu pertama area Pesarean Aer Mata Ebu. Papan itu bertuliskan ”Pengemis dan Peminta-minta Dilarang Masuk”.

Baca Juga :  Kuliah di Tiongkok dan Taiwan Jadi Motivasi

Seakan tak mengindahkannya, terdapat dua pengemis di pintu masuk kedua makam. Seorang pengemis laki-laki buta dan pengemis lainnya perempuan paro baya. Mereka bersandar pada tiang gazebo sebelum masuk pintu kedua pesarean .

Mereka menyambut peziarah sejak pukul 06.00. Pesarean ini dibuka untuk umum. Moh. Suhri menghitung pengunjung yang menandatangani buku tamu, 700 peziarah. ”Hari ini lebih sedikit dibanding kemarin,” ungkapnya. Pada masa libur hari raya Idul Fitri, peziarah membeludak hingga mencapai ribuan.

Itulah bagian dari susah senang sebagai juru kunci makam. ”Saya bekerja dengan ikhlas sebagai juru kunci, tanpa dibayar. Kami bukan pegawai,” jelas Suhri.

Terdapat 11 juru kunci lainnya yang bertugas. Suhri merupakan ketua juru kunci di Pesarean  Aer Mata Ebu. ”Kerjanya ya bersih-bersih dan memandu peziarah jika tidak mengerti,” tuturnya.

Baca Juga :  Pintu Depan Disegel, Siswa SMKN 1 Blega Lewat Belakang

Suhri sudah memiliki keluarga. Dia memiliki dua anak. Keseharian Suhri berada di area makam. ”Saya senang di sini. Ini tanggung jawab saya menjaga pesarean,” jelas pria asli Kampung Makam, Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, tersebut.

Aktivitas juru kunci setiap pagi berzikir di Makam Rato Ebu. Setiap hari terdapat dua juru kunci yang bergantian menjaga makam. ”Dari buyut saya sudah jadi juru kunci. Jadi turun-temurun menjadi juru kunci,” ucap Suhri.

Meski sedang tidak menjaga makam, jika ada tamu yang mau bertemu, Suhri menemui walau tengah malam. ”Jangan punya sifat mencari kaya atau keuntungan sebagai juru kunci. Harus ikhlas” tukasnya. 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/