alexametrics
20.3 C
Madura
Tuesday, July 5, 2022

Hidup  Sebatang Kara, Tempati Rumah Runtuh

SUMENEP – Rumah Mariyani terletak di Dusun Sempangan, Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget. Waktu tempuh dari Kota Sumenep sekitar 20 menggunakan sepeda motor. Jawa Pos Radar Madura berkesempatan mengunjunginya Selasa (22/5).

Kondisi rumah yang ditempati Mariyani sangat memprihatinkan. Luas bangunan sekitar 3 x 5 meter. Bangunan tersebut sangat tidak layak ditempati. Atapnya sudah runtuh. Di beberapa bagian dindingnya miring.

Rumah yang lebih tepat disebut  gubuk itu juga bukan miliknya, tapi milik Marwiyah. Namun, Marwiyah meninggal dua tahun lalu. Nasibnya sama  dengan Mariyani. Marwiyah juga tidak memiliki keturunan.

Mariyani tinggal sebatang kara. Dia bertahan hidup karena dibantu tetangganya, Rahyani. Setiap hari Rahyani mengantarkan makanan dan minuman. Dia juga yang memperbaiki bangunan tersebut supaya tidak kehujanan dan kepanasan.

”Kalau nasi setiap hari saya yang ngasih. Sehari dua sampai tiga kali,” ucap Rahyani saat ditemui di kediamannya yang tidak jauh dari tempat tinggal Mariyani.

Rahyani menjelaskan, Mariyani awalnya memiliki rumah. Lokasinya di belakang kediamannya. Namun, pada 2008 rumah tersebut roboh. ”Karena saya kasihan, diajak tinggal ke rumah saya. Saya juga yang merawatnya,” tuturnya.

Baca Juga :  Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan Berhasil Tempa Siswa Berprestasi

Namun, Mariyani tidak lama tinggal di rumahnya. Kurang lebih setahun setengah dia keluar dan tinggal di rumah Marwiyah. Rahyani tidak mengetahui alasan kepindahan tersebut. Apakah merasa sungkan atau bagaimana.

Marwiyah memiliki dua rumah yang bersebelahan. Sejak meninggal, rumah tersebut tidak ditempati. ”Bangunan yang sebelah barat itu ditempati Mariyani. Saya sebenarnya khawatir. Sebab, bangunannya sudah miring dan atapnya ambruk,” ucapnya lirih.

Mahmudi, 39, tetangga yang lain, juga mengaku kasihan dengan nasib Mariyani. Selama puluhan tahun Mariyani tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Baik rastra, bantuan rumah tidak layak huni (RTLH), bantuan lansia, dan semacamnya.

”Seharusnya, pemerintah peduli, terutama pemerintah desa. Sebab, sudah puluhan tahun tidak pernah mendapatkan bantuan,” tuturnya.

Pria bertubuh gemuk itu menjelaskan, kondisi kesehatan Mariyani juga terganggu. Dia mengalami cacat hidung. Bahkan, kurang lebih setahun Mariyani stres. Kemungkinan karena tekanan hidup.

Baca Juga :  Masalah Lama Berlarut-larut

”Memang belum pernah menikah. Jadi, tidak memiliki keturunan. Hidupnya sebatang kara, apalagi tambah sepuh. Mungkin terlalu banyak pikiran jadi ngelantur dan stres,” paparnya.

Pihaknya berharap kepada pemerintah supaya memberikan bantuan. Terlebih kondisinya semakin memburuk. ”Bicaranya kadang membuat saya teriris. Misalnya, saya kepikiran kalau saya sudah meninggal. Siapa yang mau mengirimkan saya tahlil. Seperti itu,” pungkasnya.

Kades Kalianget Barat Suharto mengaku, pihaknya tidak mengetahui secara pasti kondisinya. Selain baru menjabat sebagai Kades, tidak ada laporan dari masyarakat dan bawahannya. Pihaknya akan berupaya agar Mariyani mendapat bantuan dari pemerintah. ”Dari desa sendiri dapat perhatian khusus pastinya,” tegasnya.

Dia menjelaskan, bantuan ke desa rata-rata berasal dari pemerintah pusat. Dengan demikian, pihaknya tidak bisa banyak membantu. ”Karena kondisinya sangat layak dibantu, bahkan lebih layak untuk mendapatkan bantuan. Itu yang seharusnya diupayakan,” jelasnya.

 

 

 

SUMENEP – Rumah Mariyani terletak di Dusun Sempangan, Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget. Waktu tempuh dari Kota Sumenep sekitar 20 menggunakan sepeda motor. Jawa Pos Radar Madura berkesempatan mengunjunginya Selasa (22/5).

Kondisi rumah yang ditempati Mariyani sangat memprihatinkan. Luas bangunan sekitar 3 x 5 meter. Bangunan tersebut sangat tidak layak ditempati. Atapnya sudah runtuh. Di beberapa bagian dindingnya miring.

Rumah yang lebih tepat disebut  gubuk itu juga bukan miliknya, tapi milik Marwiyah. Namun, Marwiyah meninggal dua tahun lalu. Nasibnya sama  dengan Mariyani. Marwiyah juga tidak memiliki keturunan.


Mariyani tinggal sebatang kara. Dia bertahan hidup karena dibantu tetangganya, Rahyani. Setiap hari Rahyani mengantarkan makanan dan minuman. Dia juga yang memperbaiki bangunan tersebut supaya tidak kehujanan dan kepanasan.

”Kalau nasi setiap hari saya yang ngasih. Sehari dua sampai tiga kali,” ucap Rahyani saat ditemui di kediamannya yang tidak jauh dari tempat tinggal Mariyani.

Rahyani menjelaskan, Mariyani awalnya memiliki rumah. Lokasinya di belakang kediamannya. Namun, pada 2008 rumah tersebut roboh. ”Karena saya kasihan, diajak tinggal ke rumah saya. Saya juga yang merawatnya,” tuturnya.

Baca Juga :  Bakal Labelisasi Rumah Penerima PKH

Namun, Mariyani tidak lama tinggal di rumahnya. Kurang lebih setahun setengah dia keluar dan tinggal di rumah Marwiyah. Rahyani tidak mengetahui alasan kepindahan tersebut. Apakah merasa sungkan atau bagaimana.

Marwiyah memiliki dua rumah yang bersebelahan. Sejak meninggal, rumah tersebut tidak ditempati. ”Bangunan yang sebelah barat itu ditempati Mariyani. Saya sebenarnya khawatir. Sebab, bangunannya sudah miring dan atapnya ambruk,” ucapnya lirih.

Mahmudi, 39, tetangga yang lain, juga mengaku kasihan dengan nasib Mariyani. Selama puluhan tahun Mariyani tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Baik rastra, bantuan rumah tidak layak huni (RTLH), bantuan lansia, dan semacamnya.

”Seharusnya, pemerintah peduli, terutama pemerintah desa. Sebab, sudah puluhan tahun tidak pernah mendapatkan bantuan,” tuturnya.

Pria bertubuh gemuk itu menjelaskan, kondisi kesehatan Mariyani juga terganggu. Dia mengalami cacat hidung. Bahkan, kurang lebih setahun Mariyani stres. Kemungkinan karena tekanan hidup.

Baca Juga :  Masalah Lama Berlarut-larut

”Memang belum pernah menikah. Jadi, tidak memiliki keturunan. Hidupnya sebatang kara, apalagi tambah sepuh. Mungkin terlalu banyak pikiran jadi ngelantur dan stres,” paparnya.

Pihaknya berharap kepada pemerintah supaya memberikan bantuan. Terlebih kondisinya semakin memburuk. ”Bicaranya kadang membuat saya teriris. Misalnya, saya kepikiran kalau saya sudah meninggal. Siapa yang mau mengirimkan saya tahlil. Seperti itu,” pungkasnya.

Kades Kalianget Barat Suharto mengaku, pihaknya tidak mengetahui secara pasti kondisinya. Selain baru menjabat sebagai Kades, tidak ada laporan dari masyarakat dan bawahannya. Pihaknya akan berupaya agar Mariyani mendapat bantuan dari pemerintah. ”Dari desa sendiri dapat perhatian khusus pastinya,” tegasnya.

Dia menjelaskan, bantuan ke desa rata-rata berasal dari pemerintah pusat. Dengan demikian, pihaknya tidak bisa banyak membantu. ”Karena kondisinya sangat layak dibantu, bahkan lebih layak untuk mendapatkan bantuan. Itu yang seharusnya diupayakan,” jelasnya.

 

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/