Kamis, 09 Dec 2021
Radar Madura
Home / Features
icon featured
Features
Hesbul Hannan Lestarikan Kesenian Sintong

Sebelum Dibukukan, Banyak Salawat Salah Pengucapan

22 Oktober 2021, 18: 43: 27 WIB | editor : Abdul Basri

Sebelum Dibukukan, Banyak Salawat Salah Pengucapan

SAUDARA: Abdul Halim (kiri) dan Zaini, kakak beradik pelaku kesenian sintong yang sama-sama jadi vokalis saat ditemui Rabu (20/10). (MOH. JUNAIDI/RadarMadura.id)

Share this      

Keluarga ini jantung kesenian sintong. Sang ayah merupakan satu-satunya sesepuh sintong yang masih ada. Dua dari empat buah hatinya mengikuti jejaknya. Sama-sama menjadi vokalis. Kini, cucunya yang masih SD juga mulai dibina untuk regenerasi.

MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura 

SEKITAR pukul 11.30 WIB, saya berangkat dari Kota Sumenep menuju kediaman Zaini dan Abdul Halim. Mereka ini kakak beradik yang sama-sama vokalis utama kesenian sintong. Mereka tinggal di Dusun Batang, Desa Ambunten Tengah, Kecamatan Ambunten.

Baca juga: Borong Juara Tingkat Kabupaten, Antarkan Dua Murid ke Level Nasional

Terik matahari di atas kepala menyengat. Sesekali panas terpantul dari sepanjang jalan beraspal disertai hamburan debu jalanan. Tapi, rasa penasaran saya pada sosok vokalis sintong mengalahkan segalanya.

Setelah melewati jalan raya Kecamatan Ambunten–Pasongsongan, saya mengambil arah kiri di Dusun Pandan. Memasuki jalan kecil. Di kanan-kirinya tersaji pemandangan indah. Hamparan sawah dan pohon-pohon melambai sedikit mengobati lelahnya perjalanan yang saya tempuh.

Dengan tujuan menyapa petani di Dusun Paleyan, sesekali saya pura-pura bertanya rumah Zaini. Meskipun, sebenarnya saya sudah tahu arah jalan menuju rumahnya.

Tepat pukul 12.08, saya sampai. Di rumah kecil sederhana yang berjejer memanjang itu dia tinggal. Secara tata letak, bangunan mirip sekali dengan taneyan lanjang. Di depan pintu, sosok Zaini dan Abdul Halim sudah menunggu. Senyum kecilnya yang tipis, menandakan bahwa ia memang sudah lama menunggu. Kami pun langsung berjabat tangan.

Ya, Zaini, 46, dan Abdul Halim, 37, adik-kakak sama-sama aktif dalam kesenian sintong. Sama-sama sebagai vokalis. Di samping, kesehariannya bekerja sebagai petani di sawah sendiri. ”Saya jadi vokalis itu sejak 2015-an. Masih baru,” ujar Zaini sembari menyeduh teh hangat di atas lincak ditemani adiknya, Abdul Halim, Rabu (20/10).

Sebelum ditunjuk sebagai vokalis, keduanya lebih dulu menjadi penari. Dari bekal itulah, keduanya belajar dan banyak menghafal teks salawat yang dilagukan dalam sintong. ”Vokalis itu kan disebut hadi, penarinya itu juga harus bisa menjawab salawat-salawat dalam sintong. Itu yang membuat saya cepat hafal dan tahu,” lanjut pria kelahiran 1975 itu.

Zaini aktif dalam kesenian sintong ini sudah sejak 1980-an. Sebagaimana dituturkan, saat itu tidak lantas langsung menjadi vokalis. ”Dulu, waktu masih ngaji di langgar, saya sambil lalu menghafal,” terang alumnus Pondok Pesantren Assalafi Tenggina, asuhan almarhum KH Junaid Imam, Ambunten, itu.

Lirik dan nama salawat yang dibacakan dalam sintong ada beberapa macam. Mulai salatun wa taslimun, hingga shollu ’ala. Semua penari harus bergerak mengikuti irama. Diiringi barzanji Syaraful Anam dan musik yang menghentak.

”Salawat-salawat itu kadang juga dinyanyikan ketika bulan Ramadan. Terutama untuk membangunkan orang-orang yang hendak sahur,” timpal Abdul Halim.

Zaini dan Halim adalah putra Hesbul Hannan, 73. Mereka bisa dibilang sebagai jantung kesenian sintong. Hesbul Hannan satu-satunya sesepuh sintong yang masih ada. Pria kelahiran 1948 itu merupakan generasi ketiga. Dia yang tahu persis bagaimana keberlangsungan sintong. Sementara Zaini dan Halim adalah generasi pelestari saat ini.

Vokalis atau hadi adalah yang utama. Meskipun sintong juga tidak bisa dipisahkan dari penari dan penabuh musik tong-tong dan jidornya. Bahkan, kata Zaini, dia dipercaya untuk mengkaji dan meneliti ulang teks-teks salawat dalam sintong.

”Dulu tidak ada catatannya, jadi kami meneliti ulang. Itu atas perintah almarhum KH Suhail Imam, ulama Ambunten yang perhatiannya terhadap kesenian Islam sangat tinggi,” jelas ayah dari dua anak itu.

Menurut keterangan Halim, sebelum teks salawat sintong dibukukan, ternyata banyak salah pengucapan. Satu contoh, yang seharusnya ya khatimul anbiya’, dibaca ya hastimal amriya’. ”Jadi begitu, setelah dicek di barzanji, ternyata salah. Maklum, dulu tidak dicatat.”

Selain fokus sebagai vokalis utama, Zaini dan Halim tengah melatih dan membina beberapa pemuda untuk regenerasi. Putra Zaini yang masih kelas IV SD kini juga mulai kepincut dengan kesenian ini.

Menurut mereka, tradisi dan kesenian yang ditinggalkan oleh para ulama tetap harus dilestarikan. ”Kesenian Islam yang ditinggalkan mereka sebenarnya kan sebagai media dalam berdakwah. Agar, orang Islam merasa indah dalam beragama,” tandasnya.

Pada kesempatan berbeda, Faiqul Khair Al-Kudus menuturkan, kesenian sintong ini bercerita tentang rahmat Allah yang turun ketika Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan. Sintong menyampaikan risalah-risalah yang dibawa Rasulullah dalam bentuk gerakan tari dan salawat.

Sintong masuk ke Sumenep abad ke-17. Terbentuk dari percampuran budaya masyarakat Aceh dan budaya masyarakat Sumenep pesisir. Sintong ini, kata dia, adalah puji-pujian atau mungkin bisa disebut tarekat dalam bentuk yang berbeda. ”Sintong juga bisa digolongkan sebagai tasawuf kultural,” ungkap putra pengasuh Pondok Pesantren Nurut Tawwabin, Prongprong, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, itu.

Setiap gerakan dalam sintong memiliki makna tersendiri. Misalnya, gerakan tari dengan tangan menengadah sembari bersujud dimaksudkan sebagai rasa syukur atas kelahiran baginda Rasul Muhammad SAW. Gerakan tangan yang dinamis digambarkan sebagai arah gerak angin.

Jumlah pegiat sintong di Sumenep 71 orang. Itu data pertengahan Desember 2017. Jumlah tersebut lebih banyak dari dua bulan sebelumnya yang hanya 20 orang. Sintong terdiri dari 26 tarian. Terdapat 28 jenis nazam yang berbeda. Dipisah dengan kalimat ya ’asyiqannabi. Kemudian dijawab husny, shollu ’alaihi dijawab shallallahu ’alaihi. Salah satu nazam adalah sholla robbuna.

Catatan Faiq di JPRM edisi Minggu (1/12/2017) menyebut ada lagu khas yang wajib didendangkan. Yakni, Lailatul Iqni yang menceritakan Tuhan menurunkan rahmat, menurunkan kekasih pada malam cahaya. Kisah tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW yang begitu mulia.

(mr/luq/bas/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia