alexametrics
25.6 C
Madura
Friday, July 1, 2022

Keliling Eropa berkat Saran Sang Ayah Studi di UMM

RIDA Allah berawal dari rida orang tua. Keyakinan inilah yang ditanamkan Ivana Nabilah Qoriroh Mujahidah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), atas semua pencapaiannya selama ini. Termasuk mendapat kesempatan berkeliling Eropa dan merasakan kuliah selama enam bulan di Benua Biru itu.

Cerita itu dimulai berkat dorongan sang ayah, Dr. Zainul Mujahid, M.Hum. yang menyarankannya berkuliah di Kampus Putih UMM. Sebab, kampus tersebut banyak memberikan kesempatan belajar ke luar negeri.

Pada 2019, selama enam bulan, dara pencinta puisi ini beruntung bisa mengonversi sejumlah mata kuliah yang ditempuhnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM di Universidad de Murcia, Spanyol. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Ivana juga berkeliling ke 14 negara di Eropa sambil menapak tilas sejarah kejayaan Islam di sana.

Cerita perjalannya itu ia rangkum ke dalam sebuah buku yang bakal diterbitkannya dalam waktu dekat. Putri Mariya Ulfa, S.E. ini terpilih menjadi salah satu mahasiswi UMM yang berhasil mendapat beasiswa Erasmus + Programme.

”Awalnya saat baru lulus dari SMA Islamic Boarding School Ar-Rohmah Putri, saya sudah diterima di salah satu perguruan tinggi di Malaysia,” cerita Ivana, Sabtu (17/10).

Baca Juga :  UMM Kampus Swasta Terunggul Jawa Timur 13 Kali Berturut-turut

”Itu kehendak ayah. Tiba-tiba, H-4 keberangkatan, Ayah nggak mengizinkan. Alasannya, waktu itu karena saya baru keluar dari pondok (setelah 6 tahun mondok), juga saya anak perempuan. Ayah selalu bilang: banyak jalan menuju Roma. Singkat cerita, ayah mendaftarkan saya di UMM. Inginnya mengambil jurusan bahasa Arab, tapi ayah berkehendak saya ambil jurusan pendidikan bahasa Inggris,” sambungnya.

Tekad Zainul menguliahkan sang putri di Kampus Putih UMM bukannya tanpa alasan. Ia coba meyakinkan Ivana bahwa UMM adalah World Class University yang pada saatnya akan mengantarkan anaknya terbang ke luar negeri, terlebih Eropa. Impian Zainul pun terwujud.

Sebelumnya, bahkan selama berkuliah, UMM sudah sempat mengantarkan Ivana untuk berlaga debat dan menjadi 20 besar di ajang Bilingual Speech of South-east ASIA of PT Ihtifal ASEAN, Malaysia. Ivana juga sempat mengikuti ajang yang sama di Singapura. Tentunya dengan sokongan dana dari universitas.

Di sisi lain, lulusan terbaik FKIP UMM pada wisuda Selasa, 20 Oktober 2020, ini, dipesankan sang ayah dan ibunya untuk selalu dekat dengan Al-Qur’an. Tak sekadar menunaikan amanah, Ivana bahkan menyeriusi harapan kedua orang tuanya itu dengan menghafal Al-Qur’an dan mengikuti banyak kompetisi Al-Qur’an.

Baca Juga :  Puluhan Tahun Jadi Pemulung, ACT Bantu Guru Honorer di Malang

Tak sedikit lomba yang dia menangi. Dia juga mengaku sebagai pencinta puisi. Hobi ini diturunkan dari sang ibu. Tak hanya menjadikannya hobi, dia juga sampai memenangi banyak perlombaan. Misalnya, menjadi Juara 1 Cipta Puisi dalam rangka Malam Puisi Airlangga Surabaya.

Ivana saat ini tercatat sebagai salah satu staf pengajar di MI Manarul Islam, Kota Malang. Ada prinsip yang dia pegang hingga saat ini tentang bagaimana seorang guru seharusnya. Ivana menyebutnya sebagai tiga kunci ideal yang harus terinternalisasi dalam diri seorang guru.

Pertama, metode lebih penting daripada materi; kedua, guru lebih penting daripada metode; dan ketiga, roh seorang guru lebih penting daripada guru itu sendiri. ”Guru harus memiliki invisible touch atau sentuhan tak terlihat. Yakni, seorang guru harus ikhlas dalam mengajar,” pungkas Ivana. (*)

RIDA Allah berawal dari rida orang tua. Keyakinan inilah yang ditanamkan Ivana Nabilah Qoriroh Mujahidah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), atas semua pencapaiannya selama ini. Termasuk mendapat kesempatan berkeliling Eropa dan merasakan kuliah selama enam bulan di Benua Biru itu.

Cerita itu dimulai berkat dorongan sang ayah, Dr. Zainul Mujahid, M.Hum. yang menyarankannya berkuliah di Kampus Putih UMM. Sebab, kampus tersebut banyak memberikan kesempatan belajar ke luar negeri.

Pada 2019, selama enam bulan, dara pencinta puisi ini beruntung bisa mengonversi sejumlah mata kuliah yang ditempuhnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM di Universidad de Murcia, Spanyol. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Ivana juga berkeliling ke 14 negara di Eropa sambil menapak tilas sejarah kejayaan Islam di sana.


Cerita perjalannya itu ia rangkum ke dalam sebuah buku yang bakal diterbitkannya dalam waktu dekat. Putri Mariya Ulfa, S.E. ini terpilih menjadi salah satu mahasiswi UMM yang berhasil mendapat beasiswa Erasmus + Programme.

”Awalnya saat baru lulus dari SMA Islamic Boarding School Ar-Rohmah Putri, saya sudah diterima di salah satu perguruan tinggi di Malaysia,” cerita Ivana, Sabtu (17/10).

Baca Juga :  UMM Kembangkan RS Darurat Penanganan Covid-19

”Itu kehendak ayah. Tiba-tiba, H-4 keberangkatan, Ayah nggak mengizinkan. Alasannya, waktu itu karena saya baru keluar dari pondok (setelah 6 tahun mondok), juga saya anak perempuan. Ayah selalu bilang: banyak jalan menuju Roma. Singkat cerita, ayah mendaftarkan saya di UMM. Inginnya mengambil jurusan bahasa Arab, tapi ayah berkehendak saya ambil jurusan pendidikan bahasa Inggris,” sambungnya.

Tekad Zainul menguliahkan sang putri di Kampus Putih UMM bukannya tanpa alasan. Ia coba meyakinkan Ivana bahwa UMM adalah World Class University yang pada saatnya akan mengantarkan anaknya terbang ke luar negeri, terlebih Eropa. Impian Zainul pun terwujud.

Sebelumnya, bahkan selama berkuliah, UMM sudah sempat mengantarkan Ivana untuk berlaga debat dan menjadi 20 besar di ajang Bilingual Speech of South-east ASIA of PT Ihtifal ASEAN, Malaysia. Ivana juga sempat mengikuti ajang yang sama di Singapura. Tentunya dengan sokongan dana dari universitas.

Di sisi lain, lulusan terbaik FKIP UMM pada wisuda Selasa, 20 Oktober 2020, ini, dipesankan sang ayah dan ibunya untuk selalu dekat dengan Al-Qur’an. Tak sekadar menunaikan amanah, Ivana bahkan menyeriusi harapan kedua orang tuanya itu dengan menghafal Al-Qur’an dan mengikuti banyak kompetisi Al-Qur’an.

Baca Juga :  Miftahur Rozaq, Kiai yang Lebih Dikenal sebagai Komisioner KPU

Tak sedikit lomba yang dia menangi. Dia juga mengaku sebagai pencinta puisi. Hobi ini diturunkan dari sang ibu. Tak hanya menjadikannya hobi, dia juga sampai memenangi banyak perlombaan. Misalnya, menjadi Juara 1 Cipta Puisi dalam rangka Malam Puisi Airlangga Surabaya.

Ivana saat ini tercatat sebagai salah satu staf pengajar di MI Manarul Islam, Kota Malang. Ada prinsip yang dia pegang hingga saat ini tentang bagaimana seorang guru seharusnya. Ivana menyebutnya sebagai tiga kunci ideal yang harus terinternalisasi dalam diri seorang guru.

Pertama, metode lebih penting daripada materi; kedua, guru lebih penting daripada metode; dan ketiga, roh seorang guru lebih penting daripada guru itu sendiri. ”Guru harus memiliki invisible touch atau sentuhan tak terlihat. Yakni, seorang guru harus ikhlas dalam mengajar,” pungkas Ivana. (*)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/