alexametrics
21 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Cerita Suhairi Tinggal di Gedek Pinggir Tambak Garam Bersama Keluarga

Suhairi meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib di Pamekasan sebagai petani garam. Warga asal Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep, ini tinggal di rumah gedek pinggir tambak bersama keluarganya.   

HILIR mudik kendaraan menghiasai jalan Desa Pagagan, Kecamatan Pademawu, pada Minggu siang (20/10) yang panas terik. Di sisi selatan, tersaji pemandangan berlatar laut dan tambak garam.

Petani sedang mengolah garam di tambak tersebut. Salah satunya Suhairi. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya itu, lalu kembali ke rumah gedek di pinggir tambak garam. Di tempat itu dia tinggal sementara bersama keluarganya.

Di sanalah RadarMadura.id ditemui lelaki bertubuh tegap tersebut. Suhairi bercerita bahwa sudah sembilan tahun bekerja sebagai petani garam.

Dia dan keluarganya berasal dari Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep. Setiap musim garam, dia pergi ke Pamekasan, tepatnya di Desa Pagagan.

Tambak garam yang dikerjakan Suhairi merupakan milik warga setempat. Luas lahan yang dikerjakan 2 hektare lebih. Jika pendapatan menjual garam Rp 3 juta, maka dia hanya mendapat jatah Rp 1 juta.

Di sana dia berusaha keras dan memeras keringat di atas lahan kristal putih. Sejak pagi hingga senja hampir tenggelam. Bahkan bisa sampai malam benar-benar datang.

Baca Juga :  Petani Garam Geruduk Dinas PUPR

Pengolahan lahan garam umumnya dimulai antara Mei dan Juni. Berakhir ketika musim hujan. Sekitar akhir November. Sepanjang bulan itu pula Suhairi bersama istri, anak, dan menantunya tinggal di gedek dekat tambak garam yang dikelolanya.

”Di Sumenep tidak ada rezeki pekerjaan, barangkali ini bisa jadi pekerjaan saya, di Pamekasan ini saya menekuninya hingga bertahun-tahun,” ceritanya.

Suhairi dulunya seorang kuli. Bayaran kerjanya harian. Namun setelah menjadi petani garam di Pamekasan, dia berhenti dan melanjutkan jadi petani garam karena hasilnya lumayan.

”Saya suka saja dan menekuni jadi petani. Alhamdulillah. Kalau musim hujan saya cari ikan, kan tidak ke Pamekasan,” ungkap pria kelahiran 1961 itu.

Sepanjang lima sampai enam bulan musim garam itu, dia tinggal di gedek pinggir tambak. Hal itu tidak membuat dia terbebani. Sebab, dia bisa meraup untung hingga Rp 30 juta pada musim garam 2017 dan Rp 40 juta pada musim garam 2018.

”Itu pada musim panen garam 2017–2018, hingga puluhan juta hasilnya. Saya semakin semangat bekerja meski tinggal di gedek pinggir tambak,” tuturnya.

Baca Juga :  Upaya Dinkes Sampang Tangani Pasien Covid-19

Uang yang dihasilkannya sudah digunakan untuk membangun rumah, membahagiakan istri dan anaknya. Juga sudah dipergunakan untuk biaya umrah pada 2018. ”Alhamdulillah, saya hanya menekuni, rezeki tetap dari Yang Maha Kuasa,” terangnya.

Suhairi dan tiga anggota keluarganya itu sengaja tidak tinggal di area permukiman warga. ”Kalau tinggal di pinggir tambak enak, kalau ada pekerjaan malam-malam bisa langsung keluar rumah,” ujarnya.

Dia akan tetap melanjutkan pekerjaan kendati harus meninggalkan anak yang masih usia sekolah di rumah bersama ibunya di Desa Karanganyar. ”Rumah saya juga tidak ditempati di Sumenep,” sambungnya.

Bagi Suhairi, bekerja di mana pun tidak jadi masalah asal ditekuni dan disyukuri. Sebab kalau tidak ditekuni bisa tidak ketahuan hasilnya. Kalau tidak disyukuri akan selalu merasa kurang.

”Saya jalani saja. Kalaupun harga garam rendah seperti tahun ini, saya terima,” terangnya.

Dia berharap pemerintah segera menstabilkan harga garam. Sebab, garam rakyat adalah komoditas petani kecil. ”Semoga pemerintah bisa membantu,” harapnya. (c2)

Suhairi meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib di Pamekasan sebagai petani garam. Warga asal Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep, ini tinggal di rumah gedek pinggir tambak bersama keluarganya.   

HILIR mudik kendaraan menghiasai jalan Desa Pagagan, Kecamatan Pademawu, pada Minggu siang (20/10) yang panas terik. Di sisi selatan, tersaji pemandangan berlatar laut dan tambak garam.

Petani sedang mengolah garam di tambak tersebut. Salah satunya Suhairi. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya itu, lalu kembali ke rumah gedek di pinggir tambak garam. Di tempat itu dia tinggal sementara bersama keluarganya.

Di sanalah RadarMadura.id ditemui lelaki bertubuh tegap tersebut. Suhairi bercerita bahwa sudah sembilan tahun bekerja sebagai petani garam.

Dia dan keluarganya berasal dari Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep. Setiap musim garam, dia pergi ke Pamekasan, tepatnya di Desa Pagagan.

Tambak garam yang dikerjakan Suhairi merupakan milik warga setempat. Luas lahan yang dikerjakan 2 hektare lebih. Jika pendapatan menjual garam Rp 3 juta, maka dia hanya mendapat jatah Rp 1 juta.

Di sana dia berusaha keras dan memeras keringat di atas lahan kristal putih. Sejak pagi hingga senja hampir tenggelam. Bahkan bisa sampai malam benar-benar datang.

Baca Juga :  Standar Penyerapan Terlalu Tinggi

Pengolahan lahan garam umumnya dimulai antara Mei dan Juni. Berakhir ketika musim hujan. Sekitar akhir November. Sepanjang bulan itu pula Suhairi bersama istri, anak, dan menantunya tinggal di gedek dekat tambak garam yang dikelolanya.

”Di Sumenep tidak ada rezeki pekerjaan, barangkali ini bisa jadi pekerjaan saya, di Pamekasan ini saya menekuninya hingga bertahun-tahun,” ceritanya.

Suhairi dulunya seorang kuli. Bayaran kerjanya harian. Namun setelah menjadi petani garam di Pamekasan, dia berhenti dan melanjutkan jadi petani garam karena hasilnya lumayan.

”Saya suka saja dan menekuni jadi petani. Alhamdulillah. Kalau musim hujan saya cari ikan, kan tidak ke Pamekasan,” ungkap pria kelahiran 1961 itu.

Sepanjang lima sampai enam bulan musim garam itu, dia tinggal di gedek pinggir tambak. Hal itu tidak membuat dia terbebani. Sebab, dia bisa meraup untung hingga Rp 30 juta pada musim garam 2017 dan Rp 40 juta pada musim garam 2018.

”Itu pada musim panen garam 2017–2018, hingga puluhan juta hasilnya. Saya semakin semangat bekerja meski tinggal di gedek pinggir tambak,” tuturnya.

Baca Juga :  Petani Garam Tuntut Pembelian dan Harga Maksimal

Uang yang dihasilkannya sudah digunakan untuk membangun rumah, membahagiakan istri dan anaknya. Juga sudah dipergunakan untuk biaya umrah pada 2018. ”Alhamdulillah, saya hanya menekuni, rezeki tetap dari Yang Maha Kuasa,” terangnya.

Suhairi dan tiga anggota keluarganya itu sengaja tidak tinggal di area permukiman warga. ”Kalau tinggal di pinggir tambak enak, kalau ada pekerjaan malam-malam bisa langsung keluar rumah,” ujarnya.

Dia akan tetap melanjutkan pekerjaan kendati harus meninggalkan anak yang masih usia sekolah di rumah bersama ibunya di Desa Karanganyar. ”Rumah saya juga tidak ditempati di Sumenep,” sambungnya.

Bagi Suhairi, bekerja di mana pun tidak jadi masalah asal ditekuni dan disyukuri. Sebab kalau tidak ditekuni bisa tidak ketahuan hasilnya. Kalau tidak disyukuri akan selalu merasa kurang.

”Saya jalani saja. Kalaupun harga garam rendah seperti tahun ini, saya terima,” terangnya.

Dia berharap pemerintah segera menstabilkan harga garam. Sebab, garam rakyat adalah komoditas petani kecil. ”Semoga pemerintah bisa membantu,” harapnya. (c2)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/